Home / Romansa / PAID LOVE / SI MESUM GAVIN

Share

PAID LOVE
PAID LOVE
Author: TISYAMAN

SI MESUM GAVIN

Author: TISYAMAN
last update publish date: 2021-04-08 13:38:34

“Buka seragam mu, sekarang!” titah Gavin. Menatap sayup wajah Aletta yang tengah sibuk mencumbu lehernya penuh gairah di sudut perpustakaan.

“Ok, babe.” Aletta menuruti permintaan lelaki itu dan membuka perlahan kancing seragam sekolah yang masih melekat di jam pulang sekolah.

Gavin yang tengah menikmati permainan lidah Aleta, tiba-tiba melihat sosok wanita yang tengah mengintip aktifitas nakalnya bersama Aletta dari celah rak buku.

Brak!!

Sebuah buku terjatuh tiba-tiba. Suara buku yang terjatuh, membuat kenikmatan dua sejoli itu harus terhenti seketika.

Sontak Aletta terkejut dan membalikkan badan. Aletta keluar dari balik rak buku perpustakaan, dan menangkap si cupu Raline. Benar saja, Raline merusak suasana intim antara dirinya bersama Gavin. 

“Kamu ngintip ya?!” tanya Aletta mencekal kencang tangan Raline kasar.

“A-aku tidak bermaksud mengintip. Ini perpustakaan, k-kenapa kalian melakukan itu disini?” Raline gemetaran dengan wajah pucat pasi.

“Awas saja kalau kamu bocor! Aku tidak menjamin beasiswa mu akan lanjut!” ancam Aletta pergi meninggalkan perpustakaan, sambil merapikan seragamnya yang berantakan. 

Raline kembali menyibukkan diri dengan merapikan buku yang terjatuh ke lantai. Lalu, meletakkan buku lainnya ke dalam rak buku. Tubuh gadis itu gemetaran.

Gavin menghampiri Raline yang berpura-pura acuh dengan keberadaannya. Gadis itu berusaha untuk tetap tenang dan melanjutkan aktivitasnya menyusun buku-buku yang berserakan. 

“Karena kamu sudah mengganggu dan merusak momen tadi, berarti kamu harus bertanggung jawab sekarang!" gertak Gavin sambil menarik lengan Raline, hingga membuat perempuan itu berada sejengkal lebih dekat.

Memiliki dua bola mata berwarna coklat yang indah dengan alis tipis dan bentuk wajah tirus. Cantik.

Namun kecantikan Raline sepertinya sengaja ditutupi menggunakan kacamata tebal dan bintik-bintik merah menyerupai jerawat dengan alis yang dibikin tebal agar terlihat buruk rupa. Terutama dari Mami Monalisa, yang terus mencari wanita berparas cantik untuk dijadikan budak.

Raline memejamkan mata rapat-rapat. Tubuh Raline seketika lemas saat Gavin mendekatinya. Gadis itu tak mampu lari dari cengkraman erat Gavin saat ini. Perpustakaan yang tengah kosong, semakin membuat Gavin lebih leluasa menggertak Raline. Dimana hanya ada mereka berdua di perpustakaan yang sangat luas.

Semakin Raline terlihat ketakutan, semakin membuat Gavin bertindak liar. Jari-jarinya menyentuh lembut, wajah perempuan polos yang sering dipanggil si cupu, oleh murid lain yang suka membully Raline. 

Gavin mencermati seluk beluk wajah Raline. Tangannya mulai menyentuh sesuatu, “Rupanya, ini hanya make-up?” Gavin menebak dengan tepat.

“Apa-apaan kamu, Vin! Dasar mesum!" Raline menyentak tangan Gavin dari wajahnya. 

Perempuan itu beranjak pergi. Tetapi dihalau oleh Gavin dengan cepat. Gavin mengamati dengan jelas dari jarak dekat wajah si cupu Raline. Body gadis remaja yang baru berusia enam belas tahun itu, terlalu menggoda lawan jenis untuk seusianya yang tergolong muda.

"Kamu ternyata cantik juga, ya?” puji Gavin sambil menyeringai nakal. “Kamu tengah menyamar di sekolah rupanya. Ada rahasia besar sepertinya dibalik wajah ini?” tebak Gavin masih penasaran.

Saking penasarannya lelaki itu mengamati dengan posisi yang makin dekat. Pandangan Gavin malah tertuju, ke leher jenjang nan putih mulus milik Raline. Semakin di tatap, membuat Gavin menelan saliva dengan kasar. Adam apple-nya bergerak sempurna.  

Pandangan Gavin terhenti di sebuah tanda lahir berukuran kecil berwarna coklat samar. 

"M-mau apa kamu… ?" tanya Raline gemetar ketakutan begitu Gavin menghimpit tubuhnya. 

"Ganti kan posisi Aletta barusan!" desak Gavin dengan nada memaksa. 

PLAK!   

Raline memberanikan diri melawan Gavin dan menampar wajah lelaki yang kurang ajar kepadanya.

Tap!!

Gavin mencengkram hebat kedua tangan Raline setelah tangan gadis itu menamparnya. Gadis bertubuh mungil itu meringis kesakitan.

“Lepaskan aku, Vin!” Bentak Raline berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman lelaki itu, “Kamu tidak bisa melakukan itu kepada semua perempuan. Dan maaf aku bukan gadis seperti itu! Please, biarkan aku pergi,” maki Raline menolak mentah-mentah, perlakuan Gavin.

Melihat wajah Raline yang ketakutan, Gavin pun melepaskan tangannya. Setelah Gavin melepaskan cengkramannya gadis itu pun berlari sekencang-kencangnya. Raline pergi begitu saja meninggalkan Gavin yang tak henti menatap kepergiannya. Rasa penasaran di benak Gavin mulai bergejolak.

"Ck … Gadis itu. Bisa-bisanya menolakku seperti tadi." Gerutu Gavin. 

“Sayang sekali, padahal kamu sudah tegang sekali pasti.” Ajak Gavin berbicara ke bawah. Menatap ke arah mahkota lelakinya. "Apa kamu mesum?" tanya Gavin sambil terkekeh, mengingat ucapan Raline yang membuatnya terngiang.

***

Di dalam bus menuju pulang ...

Duduk di dalam bus menatap ke arah jalan yang sedang macet membuat Raline teringat akan kelakuan Gavin di perpustakaan tadi. Lelaki yang dicap Raline mesum karena memintanya untuk melakukan hal gila di sekolah. 

"Argh! Dasar lelaki mesum. Bisa-bisanya dia melakukan itu, dan mengira semua perempuan mau dengannya?!?” Raline menggerutu sendiri saat memikirkannya. 

Raline mencoba melupakan kejadian tadi, dengan cara menyandarkan kepalanya di kaca bus yang tertutup. Memejamkan sejenak matanya, dari bayang-bayang Gavin.

Brum … Brum … Brum!! 

Suara nyaring dari knalpot motor, trdengar di telinga Raline. Mengganggu, dan memekakkan telinga siapapun yang berada di dekatnya. Apalagi, motor sport itu berhenti tepat di samping bus. Mood Raline yang sudah buruk, menjadi semakin parah. 

"Suara motor siapa, sih?!" seru Raline sambil mencari-cari asal suara bising. "Argh! Bising banget, sih!" Raline semakin gusar mendengar suara knalpot motor sport yang berada di samping bus. 

Seketika muncul ide Raline untuk mengambil tutup bolpoin dari dalam tas. Rencana untuk mengerjai pemilik motor yang sudah mengganggu pengguna jalan lain, terutama dirinya karena membuat kebisingan di jalan. Gadis itu mengambil ancang-ancang untuk melemparkan tutup bolpoin.

Tuk!! tutup bolpoin itu tepat mengenai helm si pengguna motor besar. Yes, kena!” seru Raline puas. 

Pengguna motor itu akhirnya sadar dan mencari siapa pelaku pelemparan tutup bolpoin. Apalagi benda kecil itu mengenai helm mahal kesayangannya. Lelaki pengguna motor sport itu membuka kaca helmnya.

Ternyata pengguna motor itu adalah Gavin. Sampai akhirnya, lelaki itu menatap ke jendela dalam bus yang berada di samping motornya. 

Raline yang tidak sadar jika pengguna motor itu adalah Gavin, menatap dengan berani si pengguna motor dengan wajah kesal.

“Astaga, Gavin?!” pekik Raline tidak menyangka jika yang ditimpuknya adalah Gavin.

Bola mata Raline membulat penuh dan langsung membuang jauh pandangan dari Gavin. Seolah-olah buka dirinya pelaku yang dicari si korban pelemparan tutup bolpoin.

Malah Gavin malah terlihat acuh saat sadar pelaku usil itu adalah Raline dari dalam bus. Bahkan ia seperti tidak mengenali gadis di dalam bus. 

Saat lampu hijau menyala, Gavin langsung menancap gas motornya dengan laju cepat.

***

Sesampainya di rumah Raline. 

Dengan langkah lesu Raline memasuki rumahnya. "Raline pulang, Ma ...."

Mendengar suara sang putri semata wayang pulang, Laura langsung beranjak dari dapur. Kemudian langsung menemui anak gadisnya.

"Hai cantiknya Mama … " Sapa Laura bahagia melihat anaknya pulang dari sekolah. “Baru, pulang?” tanya Laura sambil merentangkan tangannya meminta pelukan.

Raline memberikan kecupan kepada sang Mama yang on point dengan riasan di wajah. "Ih, kok anak gadis mama bau keringat sih? Pulang naik bus lagi?" tanya Laura menutup hidungnya.

"Daripada naik taksi, buang-buang duit? Mending uangnya ditabung buat kita kabur dari sini." Jawab Raline sambil masuk ke dalam kamarnya. 

“Hush ... Jangan bilang gitu dong? Nanti kalau ada yang dengar kita bisa kena denda lagi. Nambah denda dan hutang aja, kamu.” Tegur Laura halus. Laura langsung mengamati keadaan sekitar. Lalu kemudian menutup pintu kamar.

Raline hanya terdiam sambil melepaskan seragam sekolahnya. Merebahkan sejenak tubuhnya, Raline mulai kelelahan setelah seharian sekolah. Belum lagi, ia harus mengambil tugas paruh waktu untuk merapikan perpustakaan dan dibayar oleh pihak sekolah. 

Laura tidak tahu jika anak gadisnya itu mengambil pekerjaan sampingan untuk menabung. Raline bekerja keras, agar bisa cepat lulus sekolah dan bekerja tetap untuk membebaskan keluarganya dari cengkraman Mami Monalisa. Serta bisa meninggalkan kampung seksi

Dimana kampung seksi adalah sebuah nama sebuah komplek yang diubah menjadi hunian para pekerja seks komersial kelas atas. Bahkan penguasa kampung seksi, itu adalah seorang germo wanita bernama Monalisa. Atau lebih dikenal dengan panggilan, Mami Lisa.  

"Raline, ingat ya? Jangan lupa wajahmu saat keluar dari rumah. Mama pergi dulu, makanan kesukaanmu sudah mama sediakan di atas meja ya …," pamit Laura. 

"Ma, tunggu!" panggil Raline. 

Raline beranjak dari tempat tidur dan memeluk Laura erat.

"Maafin Raline, belum bisa membawa Mama dan Tante Maria keluar dari sini. Raline janji akan lulus sekolah dengan nilai terbaik. Raline akan langsung mencari pekerjaan agar bisa membawa kalian berdua pergi dari kampung sialan ini," ujar Raline dengan yakin. 

"Sudahlah jangan terlalu membebani pikiranmu lagi. Jangan buat pengorbanan Mama menjadi sia-sia. Masa depanmu jauh lebih penting, kamu cukup belajar yang rajin. Raih cita-citamu sendiri," bujuk Laura sambil memeluk Raline.  “Kalau begitu, Mama pergi dulu. Jangan lupa makan dan belajar. Ingat, wajah cantikmu ini harus terus kamu tutupi. Demi kebaikanmu dan masa depanmu.” Laura mengecup pucuk kepala Raline penuh kasih sayang.

Laura keluar dari rumah meninggalkan Raline untuk bekerja. Pekerjaan yang dibenci oleh Raline. Menemani para lelaki hidung belang. Laura akan menggantikan shift Maria. Sahabat terbaik, sekaligus wanita yang sudah dianggap Tante oleh Raline.

******

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Yulia Lia
bappor hadeeh...
goodnovel comment avatar
Bibbledump
mesum sekali
goodnovel comment avatar
Bibbledump
Gedeg macam cwek gini, udh kegep songong lg!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PAID LOVE   BEGINNING

    “Kita mau kemana? Kan aku cuma bilang 30 menit, gak lebih!” Tanya Raline saat menyadari arah mereka pergi. “Aku lapar, mau makan.” Gavin menyahut seadanya. “What!?!” Raline terheran dengan tingkah lelaki di sebelahnya itu. Laju kemudi mobil begitu santai, bahkan tergolong pelan bagi Raline. “Vin, kita sudah sepakat untuk tidak saling bertemu lagi!” Crrriiiitt! Gavin membanting stir mobilnya mendadak. Menghentikan laju mobil seketika. Sontak Raline menutup rapat kedua matanya. Memegangi kencang lengan Gavin reflek. “GAVIN GILA!!!” “Kata siapa kita tidak akan bertemu lagi? Bagaimana bisa aku tidak bertemu denganmu? Bahkan dengan keadaan seperti ini, aku tidak tenang membiarkanmu sendirian.” Deg! Jantung Raline seperti dihantam batu keras. Desir darahnya mengalir perlahan. Entah kata-kata bagian mana yang membuatnya seketika mematung. Menatap teguh Gavin yang terlihat sendu menatap wajahnya. Ia merasakan tangan itu memegangi pipinya yang memerah padam. “Sehari gak bikin orang khaw

  • PAID LOVE   ISU PERSELINGKUHAN

    “Buat Raline agar bisa bekerja denganku. Jadikan dia asisten pribadiku.” “Rupanya anda belum puas menyakiti orang yang begitu menghargai anda sebagai lelaki. Dia sudah cukup banyak berjuang untuk hidupnya. Setidaknya tinggalkan dia tanpa menyakiti perasaannya,” ungkap Gasari mencoba untuk tetap tenang. “Disisiku dia akan lebih aman. Lakukan saja perintahku.” “Hm! Tidak selamanya kehidupan ini bisa sesuai dengan keinginan dan ego sendiri Tuan Gavin. Permisi,” pamitnya meninggalkan ruangan. Huft! Gasari menahan segala emosinya. Sesaat meninggalkan gedung tinggi milik Gavin, Gasari bergegas pergi kembali ke rumahnya. Rumah dimana Jelita, tinggal setelah diusir oleh suaminya, Hardian. Dimana Gasari lah yang memegang rahasia keluarga Hardian tentang Raline yang merupakan anak kandung dari Jelita. ***“Buat anak itu kesulitan menghadapi semua bantuan dari Jelita. Jangan biarkan anak itu menerima semua bantuan apapun dari Jelita. Laporkan apa saja yang dia lakukan, tanpa terkecuali deng

  • PAID LOVE   RAHASIA BESAR KELUARGA

    “Katakan padaku, itu anak siapa!” Teriak Hardian kepada istrinya. “Bisa bisanya setelah puluhan tahun kamu bilang itu anak kita? MUSTAHIL!” Sanggah Hardian tidak menerima perkataan istrinya sendiri. “Maafkan aku, tapi dia memang anak kita. Aku memang salah, tapi kenyataannya memang begitu sayang. Raline adalah anak kandung kita,” ujar Jelita dengan isak tangis. “TIDAK MUNGKIN!” Tolak Hardian mentah-mentah. “Apa dia anak lelaki miskin itu? Lelaki yang kamu cintai dulu?” Tanyanya memastikan. “Tidak, Raline memang anak kandung kita. Bukan anak orang lain! Kamu harus percaya sayang.” Brugh! Hardian mendorong Jelita agar menjauh darinya. Dunianya serasa runtuh, setelah pernikahan mereka hampir 33 tahun. Seorang lelaki berusia 57 tahun itu sulit menerima kenyataan yang terjadi. “PERGI! PERGI DARI RUMAH INI SEKARANG JUGA JELITA!!!” ***** “Kenapa kalian amat sangat tidak profesional seperti ini? Bukankah aku tinggal tanda tangani kontrak kerja ini saja? Kenapa tiba-tiba kalian malah ca

  • PAID LOVE   FINAL DIVORCE

    Membencinya ternyata hanya membuatku semakin membuat hatiku semakin tergila gila olehnya. Aroma tubuh bahkan setiap titik tanda di tubuh serta bekas luka fisiknya pun aku mengetahui posisinya. Bahkan saat mencintainya pun membuat perasaan ini membuatku takut akan membuat hatinya kembali terluka. -Gavin Jika mimpi itu benar terjadi sekarang, maka aku anggap ini adalah hadiah bunga tidurku paling membahagiakan. Dianggap gila dan bodoh pun aku nikmati keduanya tanpa mencela kegilaanku ini. Aku menyukai setiap sentuhan dan menikmati hal tergila setelah luka paling sakit di dunia ini. Apa aku sanggup berjalan jika ini benar benar menjadi hal tergila terakhir bagi hidupku yang masih saja memikirkannya? -Raline “Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi berjanjilah dengan apa yang akan aku lakukan setelahnya, kamu tidak boleh menghindarinya apalagi menolak keberadaanku.” Gavin menyerahkan surat perceraian yang sudah diberikan tanda tangannya. “Apa lagi yang perlu harapkan dariku yang ingin

  • PAID LOVE   21+ MIMPI GILA YANG JADI NYATA

    Hari dimana harusnya aku bahagia menjadi seorang wanita satu satunya milik Gavin, adalah waktu bersamaan dimana aku merasa dilecehkan oleh suamiku sendiri. Menjaga semua tubuh ini hanya untuk lelaki yang aku cintai, tapi malah dimakan habis oleh lelaki yang menyentuhku tanpa perasaan sama sekali. Dan, aku tidak akan pernah melupakan luka di hari itu. “Tidurlah bersamaku malam ini.” Wajah pasrah dan penuh harapan malam ini adalah kesempatan terakhir bagi Gavin untuk memperbaiki segalanya. “Aku akan memperbaiki segalanya, terutama sikap kasarku terakhir kali kita bersentuhan.” Aliran darah Raline seakan mengalir tanpa hambatan. Panas sekujur tubuh saat mendengar semua ucapan yang terdengar gampang sekali diucapkan oleh lelaki yang menoreh luka di hidupnya. “Gav, berhenti melakukan hal yang tidak bisa lagi untuk kita perbaiki. Aku sudah terlalu lama berdiam dan menunggu semua kejelasan status, bahkan hidupku selama ini tidak jelas arahnya akan kemana? Aku kesulitan Gav, kamu harusnya

  • PAID LOVE   21+ PERASAAN YANG BELUM SELESAI

    Wangi bunga bermekaran, lembut dan nyaman sekali untuk dihirup. Aroma tubuh yang masih sama dengan orang yang itu itu saja. Kulitnya yang sebelumnya putih bening, sekarang berubah lebih tan. Tampak glossy dan begitu menggoda. “Ah, sial! Berdirinya terlalu cepat!” Gavin membatin. “Aku lapar, boleh aku minta kamu memasak sesuatu untuk ku?” Pinta Gavin. “Tapi di depan tadi ada chef yang menyambut kita. Kenapa harus aku yang masak sih?” Gerutu Raline. “Aku maunya masakan dari tangan kamu, nanti aku bantu kamu memasak.” “Sakit bukannya istirahat, malah banyak minta request,” ocehnya tanpa sebab. “Aku bikin sup aja ya?” Gavin mengangguk manja. “Aku bantu ya?” “NGGAK PERLU YA, GAVIN MAHESWARI!” Dengan cekatan Raline mencoba mencari dapur yang cukup jauh dari kamar tempat Gavin beristirahat. “Ini rumah apa lapangan gold, sih? Terlalu luas untuk kami berdua.” Argh! “Raline stop! Jangan mikir hal hal gila disaat seperti ini. Aku sudah menyiapkan perceraian, jadi please otak! Berhenti b

  • PAID LOVE   IDOLA RALINE

    Gavin memiringkan senyumnya dengan tatapan tajam mengarah ke wajah Raline. Saat Gavin melangkahkan kakinya, sontak membuat Raline memundurkan posisinya menjauh. "K-kamu mau apa? Jangan macam-macam.

  • PAID LOVE   PLAYBOY KELAS KAKAP

    Ups! Decak Aletta sengaja menubruk tubuh Raline. “Hahaha!" Gelak tawa siswa-siswi lain riuh menertawakan si cupu nan malang Raline.

  • PAID LOVE   CLUB HOUSE MONALISA

    "Aku akan menjaga Raline segenap jiwa, bayi mungilku tumbuh dengan sangat cantik setiap harinya. Aku akan melakukan apa saja, untuk menjauhkan Raline dari Mami Lisa …. " ***

  • PAID LOVE   ONE NIGHT STAND

    Perawat membuka pintu yang bertuliskan nama Dr. Daniel Aksara. Laura mengangguk segan dan menebar senyum kepada perawat yang sudah membukakan pintu untuknya. Sikap urakan Laura masih kental, saat b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status