Beranda / Romansa / PAK BOS MAU CLBK / 8 - Jabatan Baru!

Share

8 - Jabatan Baru!

Penulis: Siez
last update Tanggal publikasi: 2026-08-13 13:00:26

Dalam kegelapan kamarnya, berkali-kali Gerard mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Ia memang selalu terselamatkan oleh Pak Harun.

Pada setahun pertama setelah kepergian Rachel, waktu seolah berhenti berputar di dalam rumah besar itu. Tirai jendela kamar utamanya tidak pernah dibuka. Lampu kristal yang dulu dipesan Rachel dari Prancis dibiarkan mati. Hanya lampu kecil di sudut meja yang menyala temaram, menjadi saksi bisu betapa seorang lelaki yang memiliki segalanya bisa merasa tidak mem

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • PAK BOS MAU CLBK   9 - Gerard

    Ruang meeting utama di lantai 12 gedung Velvet & Co, sebuah perusahaan agensi kreatif marketing di Midtown Manhattan, terasa seperti sebuah ruang sidang yang akan menentukan hidup dan mati seseorang.Bukan karena ruangannya yang mewah — ruangan itu justru sangat sederhana, dengan dinding kaca, meja kayu panjang, dan aroma kopi murah yang diseduh terlalu lama. Namun, karena semua karyawan yang ada di dalam ruangan itu sedang berada di ujung tanduk kecemasan.Sudah tiga bulan gaji mereka terlambat. Investor menarik diri. Klien-klien besar satu per satu pergi. Velvet & Co, agensi kecil yang dibangun Rachel Vels dengan susah payah selama lima tahun terakhir dari nol di Boston hingga akhirnya pindah ke New York, kini berada di ambang kebangkrutan.Dan pagi ini, adalah hari penentuan."Rachel, kamu yakin kita akan diakuisisi?" bisik Neina, sahabat sekaligus rekan kerja Rachel sejak di Boston, dengan suara yang bergetar. "Katanya yang mengakuisisi

  • PAK BOS MAU CLBK   8 - Jabatan Baru!

    Dalam kegelapan kamarnya, berkali-kali Gerard mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Ia memang selalu terselamatkan oleh Pak Harun.Pada setahun pertama setelah kepergian Rachel, waktu seolah berhenti berputar di dalam rumah besar itu. Tirai jendela kamar utamanya tidak pernah dibuka. Lampu kristal yang dulu dipesan Rachel dari Prancis dibiarkan mati. Hanya lampu kecil di sudut meja yang menyala temaram, menjadi saksi bisu betapa seorang lelaki yang memiliki segalanya bisa merasa tidak memiliki apa-apa.Ia mencobanya beberapa kali. Setiap kali rasa sakit karena ditinggalkan Rachel terasa terlalu berat untuk ditanggung. Setiap kali pula upayanya selalu gagal. Entah karena ditemukan oleh kepala pelayan pribadinya yang khawatir, atau karena di detik terakhir, bayangan wajah Rachel justru melintas — senyumnya yang dulu, tawanya yang dulu — yang membuatnya merasa semakin bersalah, dan anehnya, semakin ingin hidup hanya untuk membuat Rachel menyesal telah meninggalka

  • PAK BOS MAU CLBK   7 - Dunia Tanpa Rachel

    Gerard Winston masih berlutut di tengah lantai kayu yang berdebu itu. Pakaian pasien rumah sakitnya yang tipis sudah kotor, darah dari bekas infus di lengannya menetes pelan ke lantai, dan pelipisnya yang diperban kembali mengeluarkan darah segar."Rachel..."Namanya ia bisikkan seperti sebuah doa yang tidak pernah dijawab.Di luar, suara ambulans dan suara teriakan para pengawal keluarga Winston semakin mendekat. Tamara Winston yang panik karena putranya kabur dari rumah sakit, menyusul ke sana dengan wajah yang pucat pasi."Gerard! Anakku!"Tamara berlari masuk ke dalam apartemen kosong itu dan memeluk putranya dari belakang. Tubuh Gerard yang tinggi dan dulu selalu hangat, kini dingin dan gemetar seperti es."Sayang, ayo pulang. Kita pulang, ya? Lupakan wanita itu. Dia sudah pergi. Dia tidak pantas untuk kamu." tukas Tamara.Gerard tidak menjawab. Ia membiarkan ibunya memeluknya, tetapi matanya tetap kosong menatap sudut ruangan tempat dulu meja belajar kecil Rachel berada. Di sudu

  • PAK BOS MAU CLBK   6 - Apartemen Yang Kosong

    Rachel tidak menjawab. Ia hanya duduk di genangan air hujan, basah kuyup, melihat ambulans yang membawa Gerard pergi menjauh dengan sirene yang meraung-raung.Pada saat itulah, Rachel tahu bahwa ia harus benar-benar pergi. Malam ini juga.Pukul empat pagi. Hujan sudah reda.Ambulans telah pergi. Mobil mewah keluarga Winston telah pergi. Gang sempit di Bronx itu kembali sepi.Rachel masuk ke dalam apartemennya dengan tubuh yang basah kuyup. Ia membangunkan ibu dan ayahnya yang masih tertidur karena mabuk."Bu, Ayah, kita pergi sekarang," kata Rachel dengan suara yang sangat tenang, tetapi matanya kosong."Rachel, kamu kenapa? Kamu basah kuyup, Nak ""Kita pergi dari New York malam ini juga, Bu. Aku sudah melunasi semua utang Ayah. Semua bunganya juga sudah aku lunasi. Aku masih punya sisa uang untuk kita menyewa apartemen kecil di Boston. Aku sudah diterima kerja sambilan di sana. Kita mulai hidup baru, ya, Bu? Tanpa utang, tanpa rentenir, tanpa kenangan di sini."Rachel menunjukkan bu

  • PAK BOS MAU CLBK   5 - Kamu Pembawa Sial

    Pukulan itu mengenai pelipis Gerard. Gerard terhuyung ke belakang, hampir jatuh ke genangan air hujan. Darah segar langsung mengalir dari pelipisnya, bercampur dengan air hujan yang dingin."AYAH! APA YANG AYAH LAKUKAN!" Rachel yang mendengar keributan itu langsung membuka pintu dan menjerit histeris. Melihat Gerard yang berdarah dan basah kuyup, hati Rachel hancur berkeping-keping untuk kedua kalinya malam itu."GERARD!"Rachel ingin berlari dan memeluk Gerard, ingin membersihkan darah di pelipisnya, tetapi Frank mendorong Rachel kembali masuk ke dalam."Masuk kamu! Jangan pernah bertemu dengan anak ini lagi! Keluarga mereka sudah menghina kita! Mereka pikir kita bisa dibeli dengan uang!""Pergi kamu! Pergi dari sini, anak manja!" teriak Frank kepada Gerard, lalu ia membanting pintu apartemen itu dengan keras hingga seluruh gedung bergetar.Suara kunci pintu yang dikunci dari dalam terdengar.Maria Vels yang melihat semuanya hanya bisa menangis dan memeluk Rachel yang sudah terduduk

  • PAK BOS MAU CLBK   4 - Gerard Ke Apartemen Rachel

    Hujan turun dengan sangat deras di Bronx malam itu.Langit New York yang biasanya dihiasi cahaya lampu gedung-gedung pencakar langit, malam itu hanya berwarna hitam pekat dan kelam. Air hujan menghantam atap-atap seng apartemen murah dengan suara yang keras, mengalir menjadi sungai kecil di jalanan yang berlubang.Di depan pintu Apartemen 3B, sebuah gedung petak yang catnya sudah mengelupas dan lampunya yang berkedip-kedip, berdiri seorang pemuda.Pemuda itu adalah Gerard Winston.Pakaian yang ia kenakan basah kuyup. Jaket varsity kesayangannya yang berwarna biru tua itu sudah tidak lagi terlihat biru, melainkan hitam karena air hujan. Rambutnya yang biasanya tertata rapi, kini menempel lepek di dahinya. Wajahnya pucat, bibirnya membiru karena kedinginan, tetapi matanya... matanya masih menyala dengan api yang sama. Api cinta yang terluka, api kebingungan yang mendalam, dan api penolakan yang tidak bisa ia terima.Sudah tiga jam ia berdiri di sana.Setelah menerima pesan putus yang ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status