LOGINReagen berpikir sebentar.
"Aku janji, aku akan mencari tahu maksimal dalam waktu 1 bulan. Aku akan bongkar semua. Siapa Vincent, siapa Venetta itu, siapa wanita di mimpi kamu, dan kenapa keluarga kamu tutup semua akses masa lalu kamu. Dalam satu bulan, aku akan kasih laporan lengkap ke kamu. Dengan foto, dengan alamat, dengan bukti."
"Satu bulan kelamaan. Tidak bisa lebih cepat?" Gerard rasanya sudah susah menahan untuk mendapatkan informasi. Dia haus akan informasi yang selama
Monitor jantung di Bed 3 berbunyi keras. Tututututut!Nadi Gerard naik ke 185, tidak teratur."Mr. Winston! Mr. Winston! Tarik napas! Tenang!" kata dokter, panik.Tapi Gerard tidak bisa tenang. Kepalanya sakit luar biasa, seperti ada film yang diputar cepat di dalam kepalanya. Bayangan wanita hamil baju pengantin seperti menghantui dirinya sendiri. Rasanya seperti terus berputar dan tak mau diam saja."Rachel... Venetta... wanita hamil... baju pengantin..." gumam Gerard dengan mata setengah terbuka, menatap tirai biru tipis di sebelahnya yang bergoyang karena angin AC."Rachel itu siapa... siapa..."Gerard sangat berpikir keras. Ia mencoba mengingat semuanya. Tapi sulit. Ingatannya seperti tak bisa berkompromi dengan keadaannya sekarang. Yang ada, dia hanya sakit kepala dan dadanya sakit karena denyut jantungnya semakin kencang
Di waktu yang sama - Di jalan raya yang berbeda - 30 menit sebelumnyaDi dalam mobil SUV hitam W-Hotel yang melaju kencang dari Newport menuju New York, Gerard duduk di kursi belakang bersama Elena. Tamara ada di mobil lain di belakang, bersama Dr. Arasto.Gerard sudah dijemput jam delapan pagi tadi sesuai janji, setelah kabur ke Millfield pagi-pagi. Ia sudah kembali ke hotel, sudah mandi, sudah ganti baju. Tapi wajahnya masih pucat, kepalanya masih berdenyut sejak melihat Rachel, eh Venetta, di Kara Farm pagi tadi."Sayang, kamu pucat banget, kamu kenapa?" tanya Elena sambil memegang tangan Gerard.Gerard tidak menjawab. Ia menatap jendela mobil, menatap hutan yang sama yang tadi pagi ia lewati dengan truk pickup petani. Hutan tempat bus Greyhound itu sekarang terguling.Tiba-tiba saja, tepat di perba
Suara benturan keras memecah keheningan hutan malam. Bus Greyhound yang besar ditabrak dari depan samping oleh sedan hitam yang melaju 100 km/jam. Kaca depan bus pecah berhamburan. Badan bus oleng ke kanan, menabrak pembatas jalan, lalu terguling miring ke parit kecil di pinggir jalan pegunungan.Jeritan penumpang terdengar."Aaaaaa!!!"Rachel yang sedang bersandar di bahu Vincent, langsung terlempar ke depan, kepalanya membentur bangku depan. Tapi kedua tangannya langsung refleks memegangi terus perutnya, melindungi perutnya dengan seluruh tenaga. Entah bisa atau tidak, yang pasti Rachel berusaha melindungi anak di dalam kandungannya."Bayi aku... bayi aku..." teriak Rachel dengan suara kesakitan, memegangi perutnya erat, tidak peduli lututnya berdarah karena tergores besi bangku.Bus berhenti terguling miring, mesin masih menyala, asap keluar
"Rae, Nak... kamu hati-hati ya di jalan, Nak. Jaga bayi kamu, Nak. Jangan banyak pikiran. Kalau sudah lahir, kasih tahu Ibu ya. Ibu kangen." kata Ibu Kara yang lembut dan menyejukkan bagi Rachel yang sudah kehilangan sosok ibu di hidupnya."Iya, Bu. Pasti aku kasih tahu." Rachel mengangguk perlahan.Pak Osborn memeluk Vincent dan Rachel bergantian."Vincent, jaga Rachel ya. Dia titipan kami. Jaga baik-baik. Jangan sampai kenapa-kenapa di jalan." tukas Pak Osborn yang sudah seperti ayah bagi dua orang itu.Ibu Kara dan Pak Osborn adalah sosok orang tua yang mereka butuhkan. Yang selalu mendukung mereka."Iya, Pak. Aku jaga Rae." janji Vincent dengan sepenuh hati.Lalu mereka berdua diantarkan oleh dua orang itu ke stasiun terdekat. Stasiun bus kecil di Newport, bukan stasiun kereta. Stasiun yang hanya ada satu loket dan dua bangku kayu.Mobil pickup tua Pak Osborn melaju pelan di jalan gelap Route 7 yang h
"Saya dari W-Hotel, tim legal. Kami ingin membatalkan perjanjian kerja sama dengan Kara Farm?"Vincent kaget, menatap Rachel."Iya baiklah. Tolong dibatalkan.""Kami akan mengirimkan surat pembatalannya, Pak.""Terima kasih."Sebenarnya, Rachel tak enak. Harusnya ini menjadi keuntungan untuk Ibu Kara dan Pak Osborn. Tapi karena dirinya, kerja sama itu pun dibatalkan.Rachel menatap ke arah Bu Kara."Bu, maaf ya. Karena aku ... perjanjian kerja itu menjadi batal.""Tak apa, Rae. Kamu sudah aku anggap sebagai anakku sendiri. Perjanjian kerja sama bisa dengna perusahaan lain. Kami tak masalah." balas Bu Kara.Rachel memeluk wanita paruh baya itu sambil menangis."Maafkan aku, Bu.""Tak apa, Nak. Jangan menangis.""Lebih baik ... kalian bersiap untuk pergi dulu dari sini. Sudah ... masalah pembatalan ini bukan akhir dari segalanya. Tak perlu minta maaf lagi, Rae." tegas Pak Osborn.Rachel me
Reagen berpikir sebentar."Aku janji, aku akan mencari tahu maksimal dalam waktu 1 bulan. Aku akan bongkar semua. Siapa Vincent, siapa Venetta itu, siapa wanita di mimpi kamu, dan kenapa keluarga kamu tutup semua akses masa lalu kamu. Dalam satu bulan, aku akan kasih laporan lengkap ke kamu. Dengan foto, dengan alamat, dengan bukti.""Satu bulan kelamaan. Tidak bisa lebih cepat?" Gerard rasanya sudah susah menahan untuk mendapatkan informasi. Dia haus akan informasi yang selama ini ditutupi oleh keluarganya sendiri. Mimpi buruk itu harusnya sudah bisa dihempaskan kalau dia tahu siapa sebenarnya wanita yang ada di dalam mimpinya.Kalau tidak, Gerard akan semakin sulit untuk tidur. Dan kesehatannya bisa semakin buruk saja."Mr. Winston, kalau mau cepat, bayar detektif biasa. Kalau mau tembus tembok yang dibangun oleh keluargamu yang sangat kaya itu, maka tetap saja aku membutuh waktu."Gerard terdiam."Keluargamu itu bukan keluarga sembara







