Share

KESAL

Author: Rini Alnabil
last update publish date: 2026-03-28 20:57:23

KESAL

"Mas, kita mendingan cari rumah saja dan pindah dari rumah kedua orang-tuaku," ajak Desi kepada Yudi tatkala mereka sedang menikmati makan di sebuah kafe yang cukup sederhana.

Yudi terlihat tersedak ketika minum kopi karena ucapan dari sang istri buat dia heran di buatnya karena secara tiba-tiba istrinya ingin pindah rumah.

"Des sabar ya, uang kita belum cukup untuk beli rumah. Kalau sudah tiba waktunya pasti aku akan ajak kamu pindah," Yudi terdengar menyabarkan hati sang istri.

Desi hanya terdiam dan menghela napas secara perlahan. Desi pun dengan segera mengajak Yudi untuk pulang dengan hati yang tidak karuan.

•••••

Di sepanjang jalan tatkala di bonceng oleh Yudi di kendaraan beroda dua. Desi hanya terdiam seakan tidak banyak kata dan Yudi pun seakan menyadari hal tersebut.

Yudi berpikir dalam hatinya. Apakah dia harus mencari rumah walau ukurannya kecil dengan satu atau dua kamar saja. Yudi pun seakan menyadari jika istrinya tersebut sangat ingin pindah keluar dari rumah orang-tuany

Tidak bisa di pungkiri selalu datang keluarga besar untuk mampir ke rumah kedua-orang tuanya Desi dan hal tersebut membuat Desi canggung karena Desi selalu jadi bahan obrolan yang menanyakan tentang kehamilan dirinya yang tidak kunjung datang.

"Des besok kan hari libur, aku akan ajak kamu cari rumah. Tapi mungkin beli rumahnya tidak ukuran yang besar tapi yang sederhana saja ya, tidak apa-apa kan." Yudi mengusap paha Desi yang tengah melamun duduk di belakang.

Sontak Desi terkesiap dengan usapan lembut dari Yudi dan dia dengan cepat berucap

"Mas mau cari rumah buat kita tinggal?" tanya Desi terdengar bahagia.

"Iya, besok kita cari ya, semoga uangku cukup untuk membeli rumah yang sederhana," jawab Yudi sambil melajukan motornya dengan kecepatan sedang.

°°°°°°

Tiba di rumah.

Nampak di sana sudah ada mobil Hendra dan juga mobil sedan berwarna putih. Desi dan juga Hendra menatap heran ke arah mobil baru tersebut. Terlihat sang Ibu sudah berdiri di pintu rumah dan dengan cepat sang Ibu menghampiri kedatangan Desi dan juga Yudi dengan senyum yang merekah.

"Des pasti kamu heran dengan melihat mobil sedan warna putih ini," telunjuk sang Ibu mengarah ke mobil putih yang warnanya masih mengkilat dan sepertinya baru beli dari dealer.

"Mobil siapa Bu?" tanya Desi menatap penuh ke arah mobil tersebut.

"Tebak mobil siapa?" tanya kembali sang Ibu.

"Mungkin temannya Mas Hendra," sambung Yudi.

"Bukan, itu mobilnya Nia." sang Ibu tertawa puas dan mendelik ke arah Yudi seakan membuktikan kalau Nia di berikan barang mewah oleh calon suaminya sedangkan Desi tidak di belikan oleh Yudi suaminya.

Seketika Desi menatap Yudi dan membuang napas kasar. Tidak bisa di pungkiri hatinya merasa dihinggapi rasa cemburu karena dia sebagai istri Yudi belum juga di berikan barang mewah.

"Wah, alhamdulilah kalau begitu," Desi berusaha menampakkan senyum bahagia.

"Beruntung sekali adikmu itu, dia belum saja nikah sudah di belikan mobil dan rumah pun sudah ada, tinggal dia tempati nanti setelah menikah. Nah kamu Des rumah saja masih numpang sama Ibu," sindir sang Ibu dengan pandangan mendelik ke arah Yudi.

DEG

Dada Yudi seketika bergemuruh hebat dengan sindiran yang di berikan oleh sang Ibu mertua. Yudi terlihat gugup dan Desi pun seakan menyadari hal itu.

Desi pun dengan secepat kilat menarik tangan Yudi menuju ke dalam rumah dengan hati yang tidak karuan. Sementara sang Ibu tertawa terkekeh.

°°°°°°

Ketika memasuki ruang tamu nampak terlihat Pak Hasan dan juga Hendra tengah mengobrol dengan serius. Tapi tidak bisa di pungkiri raut wajah dari Pak Hasan terlihat bahagia mungkin karena Nia sang anak sudah mendapatkan mobil dari calon suaminya.

Hendra menyalami Yudi dan juga Desi. Terlihat Desi seakan memberikan sebuah kode bahwa suaminya tersebut jangan terlalu lama bicara dengan Hendra.

"Mas Hendra maaf saya masuk dulu ke dalam kamar," ucap Yudi tersenyum ramah. Sementara Hendra menganggukkan kepalanya dan membalas dengan senyum renyah.

°°°°°

BRUK

Desi merebahkan badannya dengan kasar di atas kasur. Sepertinya dia masih kesal dengan ucapan sang Ibu yang selalu menyudutkan dirinya. Terlihat bulir putih pun menetes di ujung matanya.

Yudi hanya menghela napas berat tatkala melihat sang istri sedih. Dia terlihat duduk di kursi meja rias sambil meremas rambutnya dengan kasar.

"Des maafkan aku, mungkin aku belum menjadi lelaki yang sempurna dan mencukupi semua keinginan kamu." ucap Yudi dengan serak.

Sementara Desi hanya terdiam dan dia pun beranjak dari ranjang kemudian dia melewati Yudi yang sedang terlihat gelisah. Desi kemudian memasuki kamar mandi untuk membersihkan badannya.

Guyuran shower terdengar membasahi badannya. Isakan tangisnya pun seakan reda karena suara bunyi air yang mengguyur.

Desi menumpahkan rasa sedih dan gundahnya di bawah air shower. Dalam benaknya berpikir pokoknya besok dia harus segera pergi dari rumah orang tuanya untuk mencari rumah, walau pun nanti tidak menemukan rumah yang murah tapi dia akan berusaha mencari rumah untuk sementara bisa di sewa.

°°°°°

TOK--

TOK--

TOK--

"Des jangan lama-lama berada di kamar mandinya nanti kamu masuk angin," ucap Yudi yang tengah mematung di pintu kamar mandi.

CEKLEK

Pintu terbuka dengan lebar dan terlihat Desi tengah memakai handuk yang melilit di dadanya sampai lutut.

Yudi hanya menelan saliva-nya, tatkala melihat tubuh mulus Desi seakan tanpa ada celah sedikitpun.

Sebagai lelaki normal Yudi pun secepat kilat mencium bibir Desi. Tapi nampak Desi melepaskan ciuman tersebut dan sepertinya dia sedang dihinggapi rasa kesal dalam diri.

"Des, kamu marah?" tanya Yudi menatap heran.

Desi terlihat hanya melengos seakan tidak peduli dengan apa yang di ucapkan oleh Yudi yang sedang menahan hasratnya.

"Sudah Mas! Aku sedang kurang bersemangat dan banyak pikiran," jawabnya sambil membuka lemari baju lalu Desi mengambil baju daster.

Yudi pun dengan segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

°°°°°°

Setelah selesai mandi nampak Desi sudah tidur dengan membelakangi tubuh suaminya itu. Yudi pun nampak terlihat memeluk Desi dari arah belakang namun dengan cepat Desi melepaskannya. Pikiran Desi seakan melayang jauh. Dia berpikir percuma dia bersemangat melakukan kewajibannya sebagai seorang istri tapi nyatanya belum di karuniai seorang anak.

"Des, kamu menolaknya," dengan lirih Yudi berucap lekat ke kuping Desi.

"Percuma Mas, kita lakukan setiap hari. Kita tetap sampai sekarang belum juga di karuniai keturunan" Desi seakan frustasi.

Dengan cepat Yudi bangkit dari tidurnya, kemudian dia menatap sempurna ke arah wajah sang istri dengan tatapan kesal.

"Kamu kenapa bicara seperti itu, tidak baik! Itu yang maha kuasa yang bertindak atas segalanya jadi kamu jangan ngomong sembarangan. Kita kan saat ini sedang berusaha. Kamu harus sabar Des, mungkin kamu terlalu termakan omongan keluarga," ucap Yudi terdengar kecewa.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PASANGANKU MANDUL    MELAHIRKAN

    MELAHIRKANMirna istri dari Yudi akhirnya melahirkan anak pertamanya buah cinta dari Yudi. Anak mereka berjenis kelamin laki-laki dan diberi nama Satria. Mirna dan juga Yudi begitu gembira karena bayi mereka lahir dengan selamat dan sehat. Satria sangat ganteng dan berkulit putih sama dengan Yudi. "Sayang terima kasih ya, kamu sudah memberikan aku anak yang gagah dan ganteng," Yudi mengecup lembut kening Mirna dengan penuh kelembutan.Nampak Mirna menatap Yudi dan matanya berkaca-kaca. Mirna sangat senang dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Yudi terhadap dirinya. Baginya perhatian yang diberikan oleh suaminya itu sangat tulus dan juga buat hatinya nyaman. "Beruntung kamu menikah dengan Mirna karena dia wanita subur dan tidak mandul seperti mantan kamu Desi," ucap Ibu dari Yudi. Nampak Mirna tersipu malu dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah tatkala mendengar ucapan dari ibu mertuanya itu. Mirna berpikir kalau ibu mertuanya itu tengah menjelekkan mantan dari Y

  • PASANGANKU MANDUL    SEMUA TIDAK TERDUGA

    SEMUA TIDAK TERDUGA Setelah selesai urusan dengan dokter kandungan dan sementara waktu Mirna harus di rawat untuk beristirahat beberapa hari di rumah sakit. Yudi kemudian menghampiri Pak Hasan yang tengah duduk di luar. "Pak kita ke kantin," ajak Yudi kepada Pak Hasan sambil tersenyum ramah. Pak Hasan nampak terkesiap dengan suara dari Yudi, karena Pak Hasan tengah tidak fokus pikirannya sedang melamun. "Iya-iya," jawab Pak Hasan.Yudi pun sementara terlihat kembali duduk di pinggir Pak Hasan, kemudian Yudi bercerita kalau dia sudah menikah dan dia berucap syukur karena istrinya sekarang sedang hamil. Yudi seakan ingin membuktikan kepada mantan mertuanya kalau dirinya saat ini tengah berbahagia karena sang istri tengah hamil dan Yudi pun seakan ingin membuktikan kepada mantan Bapak mertuanya kalau dia bukanlah pria mandul yang dulu pernah hinggap dalam dirinya. Terlihat Pak Hasan seakan malu terhadap dirinya sendiri karena tidak bisa dipungkiri dia pun ketika dulu pernah menyind

  • PASANGANKU MANDUL    PERTEMUAN DI RUMAH SAKIT

    PERTEMUAN DI RUMAH SAKIT Desi terlihat menangis sesungukkan tatkala melihat sang suami terbaring lemah tidak berdaya di rumah sakit. Terlihat Helmi sedang tertidur di ranjang dengan kondisi ada beberapa luka di bagian tubuhnya. Sementara Pak Hasan menatap lega terhadap Helmi karena keadaan sang menantu tidak seperti dia bayangkan. Kalau keadaan Helmi ternyata tidak parah namun hanya luka ringan saja. Tapi nampak terlihat Helmi merasa badannya sakit sekali karena sesekali dia meringis. "Mas mengapa bisa terjadi kecelakaan?" tanya Desi dengan berderai air mata. "Sudah Des, kamu jangan banyak tanya dulu kepada suamimu. Biarkan dia istirahat," Pak Hasan berusaha menenangkan hati sang anak. Nampak terlihat Helmi membuka matanya sedikit demi sedikit secara perlahan. Setelah matanya terbuka dengan sempurna Helmi pun nampak matanya berselancar ke ruangan sekitar. "Aku dimana," ucapnya dengan lirih. Terlihat Helmi akan bangun dari ranjang tersebut namun dengan cepat Pak Hasan mencoba me

  • PASANGANKU MANDUL    KECELAKAAN

    KECELAKAAN Percekcokan terjadi antara kedua orang tuanya Desi. Nampak meraka sedang membicarakan Yudi yang kini istrinya sedang hamil.Pak Hasan seolah-olah menyalahkan Bu Sani yang waktu dulu menyuruh Desi cepat-cepat menceraikan Yudi. "Pak kenapa jadi nyalahin Ibu. Bukannya Bapak juga dulu menyuruh anak kita agar segera berpisah dari Yudi?" tegas Bu Sani terlihat kesal. Memang tidak bisa di pungkiri ketika dulu Pak Hasan seakan ikut andil dalam memisahkan Desi dan Yudi. Tapi di dalam lubuk hati yang paling dalam sebenarnya Pak Hasan tidak mau sang anak berpisah dengan Yudi karena bagaimanapun Yudi adalah menantu yang baik dan perhatian."Bukan nyalahin tapi Yudi sebenarnya lelaki setia dan sabar beda dengan Helmi, dia lelaki yang tidak setia. Sampai-sampai Helmi tega-teganya nyakitin hati anak kita karena dia selingkuh dengan sekertaris pribadinya." ucap Pak Hasan seakan mengeluarkan unek-uneknya yang dia pendam selama ini. DegSontak Bu Sani matanya terbelalak saat mendengar ap

  • PASANGANKU MANDUL    PERTEMUAN DESI DAN YUDI

    PERTEMUAN DESI DAN YUDINampak Yudi dan Desi terlihat gugup tatkala mereka beradu pandang di sebuah super market. Desi dan juga Yudi terlihat salah tingkah karena setelah perceraian keduanya, ini pertemuan baru pertama kalinya.Mirna terlihat menatap ke arah Yudi yang tengah salah tingkah ketika bertemu pandang dengan sosok Desi. Mirna pun terlihat menghampiri Yudi, lalu menepuk halus pundak suaminya itu yang terlihat dihinggapi rasa gelisah tatkala bertemu Desi. "Mas, kamu kenal dengan wanita ini?" tanya Mirna sambil melirik ke arah Desi."Iya, Mir, wanita ini mantan istri aku," jawab Yudi dengan perlahan.Desi nampak menatap lekat ke arah Mirna. Dadanya bergemuruh hebat tidak karuan dan dalam dirinya berpikir. Mungkinkah benar apa yang di katakan oleh temannya kemarin kalau dialah sesungguhnya yang mandul. Karena kini istri Yudi yang baru, tengah hamil dari pernikahan dengan Yudi. Desi nampak membuang napas kasar kemudian dia mengajak sang anak untuk segera pergi dari tempat ter

  • PASANGANKU MANDUL    MANGGA MUDA

    MANGGA MUDASementara Yudi bersama Mirna istri barunya sekarang sedang berbahagia, karena Mirna tengah hamil muda dan usia kandungannya sekitar satu bulan. Tentu saja Yudi sangat memanjakan sang istri, apapun kemauan istrinya pasti akan Yudi penuhi, apapun itu. Tapi Mirna tidak minta apapun dari suaminya dan ini membuat hati Yudi semakin bangga terhadap Mirna. Karena Mirna tidak menuntut yang lebih kepada suaminya tersebut."Hanya beli mangga muda saja? Selain itu kamu mau dibelikan apa Sayang," Yudi membelai rambut sang istri di tepi ranjang."Aku hanya ingin mangga muda saja Mas, tidak lebih dari itu." jawabnya lirih. Yudi terlihat mencubit gemas hidung Mirna yang mengakibatkan Mirna meringis manja kepada suaminya itu. "Maafkan Sayang," Yudi memeluk istrinya itu. "Beli mangga-nya ke super market saja, sekalian kita belanja bulanan," Mirna menatap Yudi. Terlihat Yudi menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar. "Aku ngikut apapun kemauan kamu Sayang," Yudi kemudian sekilas menciu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status