LOGINKESAL
"Mas, kita mendingan cari rumah saja dan pindah dari rumah kedua orang-tuaku," ajak Desi kepada Yudi tatkala mereka sedang menikmati makan di sebuah kafe yang cukup sederhana. Yudi terlihat tersedak ketika minum kopi karena ucapan dari sang istri buat dia heran di buatnya karena secara tiba-tiba istrinya ingin pindah rumah. "Des sabar ya, uang kita belum cukup untuk beli rumah. Kalau sudah tiba waktunya pasti aku akan ajak kamu pindah," Yudi terdengar menyabarkan hati sang istri. Desi hanya terdiam dan menghela napas secara perlahan. Desi pun dengan segera mengajak Yudi untuk pulang dengan hati yang tidak karuan. ••••• Di sepanjang jalan tatkala di bonceng oleh Yudi di kendaraan beroda dua. Desi hanya terdiam seakan tidak banyak kata dan Yudi pun seakan menyadari hal tersebut. Yudi berpikir dalam hatinya. Apakah dia harus mencari rumah walau ukurannya kecil dengan satu atau dua kamar saja. Yudi pun seakan menyadari jika istrinya tersebut sangat ingin pindah keluar dari rumah orang-tuany Tidak bisa di pungkiri selalu datang keluarga besar untuk mampir ke rumah kedua-orang tuanya Desi dan hal tersebut membuat Desi canggung karena Desi selalu jadi bahan obrolan yang menanyakan tentang kehamilan dirinya yang tidak kunjung datang. "Des besok kan hari libur, aku akan ajak kamu cari rumah. Tapi mungkin beli rumahnya tidak ukuran yang besar tapi yang sederhana saja ya, tidak apa-apa kan." Yudi mengusap paha Desi yang tengah melamun duduk di belakang. Sontak Desi terkesiap dengan usapan lembut dari Yudi dan dia dengan cepat berucap "Mas mau cari rumah buat kita tinggal?" tanya Desi terdengar bahagia. "Iya, besok kita cari ya, semoga uangku cukup untuk membeli rumah yang sederhana," jawab Yudi sambil melajukan motornya dengan kecepatan sedang. °°°°°° Tiba di rumah. Nampak di sana sudah ada mobil Hendra dan juga mobil sedan berwarna putih. Desi dan juga Hendra menatap heran ke arah mobil baru tersebut. Terlihat sang Ibu sudah berdiri di pintu rumah dan dengan cepat sang Ibu menghampiri kedatangan Desi dan juga Yudi dengan senyum yang merekah. "Des pasti kamu heran dengan melihat mobil sedan warna putih ini," telunjuk sang Ibu mengarah ke mobil putih yang warnanya masih mengkilat dan sepertinya baru beli dari dealer. "Mobil siapa Bu?" tanya Desi menatap penuh ke arah mobil tersebut. "Tebak mobil siapa?" tanya kembali sang Ibu. "Mungkin temannya Mas Hendra," sambung Yudi. "Bukan, itu mobilnya Nia." sang Ibu tertawa puas dan mendelik ke arah Yudi seakan membuktikan kalau Nia di berikan barang mewah oleh calon suaminya sedangkan Desi tidak di belikan oleh Yudi suaminya. Seketika Desi menatap Yudi dan membuang napas kasar. Tidak bisa di pungkiri hatinya merasa dihinggapi rasa cemburu karena dia sebagai istri Yudi belum juga di berikan barang mewah. "Wah, alhamdulilah kalau begitu," Desi berusaha menampakkan senyum bahagia. "Beruntung sekali adikmu itu, dia belum saja nikah sudah di belikan mobil dan rumah pun sudah ada, tinggal dia tempati nanti setelah menikah. Nah kamu Des rumah saja masih numpang sama Ibu," sindir sang Ibu dengan pandangan mendelik ke arah Yudi. DEG Dada Yudi seketika bergemuruh hebat dengan sindiran yang di berikan oleh sang Ibu mertua. Yudi terlihat gugup dan Desi pun seakan menyadari hal itu. Desi pun dengan secepat kilat menarik tangan Yudi menuju ke dalam rumah dengan hati yang tidak karuan. Sementara sang Ibu tertawa terkekeh. °°°°°° Ketika memasuki ruang tamu nampak terlihat Pak Hasan dan juga Hendra tengah mengobrol dengan serius. Tapi tidak bisa di pungkiri raut wajah dari Pak Hasan terlihat bahagia mungkin karena Nia sang anak sudah mendapatkan mobil dari calon suaminya. Hendra menyalami Yudi dan juga Desi. Terlihat Desi seakan memberikan sebuah kode bahwa suaminya tersebut jangan terlalu lama bicara dengan Hendra. "Mas Hendra maaf saya masuk dulu ke dalam kamar," ucap Yudi tersenyum ramah. Sementara Hendra menganggukkan kepalanya dan membalas dengan senyum renyah. °°°°° BRUK Desi merebahkan badannya dengan kasar di atas kasur. Sepertinya dia masih kesal dengan ucapan sang Ibu yang selalu menyudutkan dirinya. Terlihat bulir putih pun menetes di ujung matanya. Yudi hanya menghela napas berat tatkala melihat sang istri sedih. Dia terlihat duduk di kursi meja rias sambil meremas rambutnya dengan kasar. "Des maafkan aku, mungkin aku belum menjadi lelaki yang sempurna dan mencukupi semua keinginan kamu." ucap Yudi dengan serak. Sementara Desi hanya terdiam dan dia pun beranjak dari ranjang kemudian dia melewati Yudi yang sedang terlihat gelisah. Desi kemudian memasuki kamar mandi untuk membersihkan badannya. Guyuran shower terdengar membasahi badannya. Isakan tangisnya pun seakan reda karena suara bunyi air yang mengguyur. Desi menumpahkan rasa sedih dan gundahnya di bawah air shower. Dalam benaknya berpikir pokoknya besok dia harus segera pergi dari rumah orang tuanya untuk mencari rumah, walau pun nanti tidak menemukan rumah yang murah tapi dia akan berusaha mencari rumah untuk sementara bisa di sewa. °°°°° TOK-- TOK-- TOK-- "Des jangan lama-lama berada di kamar mandinya nanti kamu masuk angin," ucap Yudi yang tengah mematung di pintu kamar mandi. CEKLEK Pintu terbuka dengan lebar dan terlihat Desi tengah memakai handuk yang melilit di dadanya sampai lutut. Yudi hanya menelan saliva-nya, tatkala melihat tubuh mulus Desi seakan tanpa ada celah sedikitpun. Sebagai lelaki normal Yudi pun secepat kilat mencium bibir Desi. Tapi nampak Desi melepaskan ciuman tersebut dan sepertinya dia sedang dihinggapi rasa kesal dalam diri. "Des, kamu marah?" tanya Yudi menatap heran. Desi terlihat hanya melengos seakan tidak peduli dengan apa yang di ucapkan oleh Yudi yang sedang menahan hasratnya. "Sudah Mas! Aku sedang kurang bersemangat dan banyak pikiran," jawabnya sambil membuka lemari baju lalu Desi mengambil baju daster. Yudi pun dengan segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. °°°°°° Setelah selesai mandi nampak Desi sudah tidur dengan membelakangi tubuh suaminya itu. Yudi pun nampak terlihat memeluk Desi dari arah belakang namun dengan cepat Desi melepaskannya. Pikiran Desi seakan melayang jauh. Dia berpikir percuma dia bersemangat melakukan kewajibannya sebagai seorang istri tapi nyatanya belum di karuniai seorang anak. "Des, kamu menolaknya," dengan lirih Yudi berucap lekat ke kuping Desi. "Percuma Mas, kita lakukan setiap hari. Kita tetap sampai sekarang belum juga di karuniai keturunan" Desi seakan frustasi. Dengan cepat Yudi bangkit dari tidurnya, kemudian dia menatap sempurna ke arah wajah sang istri dengan tatapan kesal. "Kamu kenapa bicara seperti itu, tidak baik! Itu yang maha kuasa yang bertindak atas segalanya jadi kamu jangan ngomong sembarangan. Kita kan saat ini sedang berusaha. Kamu harus sabar Des, mungkin kamu terlalu termakan omongan keluarga," ucap Yudi terdengar kecewa. Bersambung...CURIGA Helmi menyipitkan matanya tatkala membaca pesan yang datang dari temannya dan dia pun seakan tidak percaya dengan kabar tersebut. "Hendra sekarang punya wanita lain, kasihan adik dari istrimu itu ternyata dikhianati oleh suaminya." pesan tersebut buat Helmi dihinggapi rasa penasaran dan tanda tanya besar karena dia berpikir tidak mungkin kalau Hendra punya wanita lain selain Nia adik dari istrinya.Helmi pun seakan ingin mengadu kabar tersebut kepada sang istri yaitu Desi.Tapi Helmi terlihat ragu untuk mengabarkan berita tersebut kepada sang istri karena dia pun dulu pernah mengkhianati istrinya dan nantinya dia takut di salahkan oleh Desi dan mungkin Desi akan memojokkan dirinya mungkin sama saja Helmi dan Hendra suka mempermainkan hati perempuan atau selingkuh."Kamu jangan ngomong sembarangan," Helmi membalaskan pesan. Helmi pun seakan tidak mau gegabah dia tidak mau memberikan kabar tersebut kepada Desi sebelum ada buktinya karena Hendra di mata keluarga Desi adalah ses
ADA WANITA LAIN Hiks, Hiks...Tiba-tiba Nia datang tersedu menangis mendatangi rumah Bu Sani.Sang Ibu merasa heran dan terkejut dengan kedatangan sang anak yang tiba-tiba datang dengan berderai air mata. "Nak kenapa?" tanya Bu Sani dihinggapi rasa khawatir."Mas Hendra-" jawabnya tercekat"Ada apa dengan Hendra?" tanya Bu Sani terlihat heran."Punya simp4nan," Nia semakin tersedu menangis.Bu Sani membulatkan matanya seakan tidak percaya dengan kabar berita yang dia dengar."Maksud kamu Hendra punya wanita lain?" Bu Sani hatinya begitu gelisah dan menatap lekat ke arah Nia. Nia menganggukkan kepalanya. Nampak seketika wajah Bu Sani pucat tatkala mendengar kabar tersebut dan badannya terasa lemas karena Hendra adalah menantu yang sangat dia sayangi dan selalu dia sanjung. Dalam hati Bu Sani berpikir apa mungkin ini adalah karma kepada dirinya karena dulu suka membanggakan Hendra dan selalu memandang sebelah mata kepada Yudi mantan menantunya.Bu Sani selalu membanggakan menantunya
PENYESALANPak Hasan mencoba menenangkan hati Desi yang kini tengah terluka karena sudah tersindir oleh mantan Ibu mertuanya. Sementara Bu Sani Ibu dari Desi hanya terdiam seakan tidak mau ikut campur. Tapi dalam hati Bu Sani sebenarnya dihinggapi rasa malu oleh Yudi dan keluarga dari Yudi karena Bu Sani yang berperan penting untuk memisahkan Desi dan Yudi dengan alasan Yudi lah pria mandul. Bu Sani hanya menghela napas panjang dan menyesali diri dengan tingkahnya yang selalu memojokkan Yudi saat itu. Bu Sani terlihat berlalu dari hadapan sang suami dan anaknya itu. Terlihat Bu Sani duduk di teras rumah dan menatap lekat ke arah anak angkatnya dari Desi. Bu Sani mengusap lembut rambut sang anak."Bagaimanapun juga aku harus menyayangi anak ini. Meskipun bukan darah daging Desi. Aku harus belajar ikhlas dan tidak menyakiti perasaan orang lain," batin Bu Sani. Terlihat sang anak tersenyum renyah ke arah Bu Sani dan memeluk erat kemudian mengecup sekilas pipi Bu Sani. Dalam hati Bu San
MELAHIRKANMirna istri dari Yudi akhirnya melahirkan anak pertamanya buah cinta dari Yudi. Anak mereka berjenis kelamin laki-laki dan diberi nama Satria. Mirna dan juga Yudi begitu gembira karena bayi mereka lahir dengan selamat dan sehat. Satria sangat ganteng dan berkulit putih sama dengan Yudi. "Sayang terima kasih ya, kamu sudah memberikan aku anak yang gagah dan ganteng," Yudi mengecup lembut kening Mirna dengan penuh kelembutan.Nampak Mirna menatap Yudi dan matanya berkaca-kaca. Mirna sangat senang dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Yudi terhadap dirinya. Baginya perhatian yang diberikan oleh suaminya itu sangat tulus dan juga buat hatinya nyaman. "Beruntung kamu menikah dengan Mirna karena dia wanita subur dan tidak mandul seperti mantan kamu Desi," ucap Ibu dari Yudi. Nampak Mirna tersipu malu dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah tatkala mendengar ucapan dari ibu mertuanya itu. Mirna berpikir kalau ibu mertuanya itu tengah menjelekkan mantan dari Y
SEMUA TIDAK TERDUGA Setelah selesai urusan dengan dokter kandungan dan sementara waktu Mirna harus di rawat untuk beristirahat beberapa hari di rumah sakit. Yudi kemudian menghampiri Pak Hasan yang tengah duduk di luar. "Pak kita ke kantin," ajak Yudi kepada Pak Hasan sambil tersenyum ramah. Pak Hasan nampak terkesiap dengan suara dari Yudi, karena Pak Hasan tengah tidak fokus pikirannya sedang melamun. "Iya-iya," jawab Pak Hasan.Yudi pun sementara terlihat kembali duduk di pinggir Pak Hasan, kemudian Yudi bercerita kalau dia sudah menikah dan dia berucap syukur karena istrinya sekarang sedang hamil. Yudi seakan ingin membuktikan kepada mantan mertuanya kalau dirinya saat ini tengah berbahagia karena sang istri tengah hamil dan Yudi pun seakan ingin membuktikan kepada mantan Bapak mertuanya kalau dia bukanlah pria mandul yang dulu pernah hinggap dalam dirinya. Terlihat Pak Hasan seakan malu terhadap dirinya sendiri karena tidak bisa dipungkiri dia pun ketika dulu pernah menyind
PERTEMUAN DI RUMAH SAKIT Desi terlihat menangis sesungukkan tatkala melihat sang suami terbaring lemah tidak berdaya di rumah sakit. Terlihat Helmi sedang tertidur di ranjang dengan kondisi ada beberapa luka di bagian tubuhnya. Sementara Pak Hasan menatap lega terhadap Helmi karena keadaan sang menantu tidak seperti dia bayangkan. Kalau keadaan Helmi ternyata tidak parah namun hanya luka ringan saja. Tapi nampak terlihat Helmi merasa badannya sakit sekali karena sesekali dia meringis. "Mas mengapa bisa terjadi kecelakaan?" tanya Desi dengan berderai air mata. "Sudah Des, kamu jangan banyak tanya dulu kepada suamimu. Biarkan dia istirahat," Pak Hasan berusaha menenangkan hati sang anak. Nampak terlihat Helmi membuka matanya sedikit demi sedikit secara perlahan. Setelah matanya terbuka dengan sempurna Helmi pun nampak matanya berselancar ke ruangan sekitar. "Aku dimana," ucapnya dengan lirih. Terlihat Helmi akan bangun dari ranjang tersebut namun dengan cepat Pak Hasan mencoba me
PERSELISIHAN Setelah mengetahui bahwa Nia hamil, nampak terlihat Hendra begitu bahagia. Hari-harinya di lalui selalu bersama dengan Nia. Beruntung sekali Nia mendapatkan suami seperti Hendra karena Hendra begitu telaten dan sangat memanjakan pasangannya. Kedua orang-tuanya Nia dan Hendra pun serin
DESI TERSINGGUNGKeesokan harinya nampak terlihat Desi dan Yudi sudah berpakaian rapi. Mereka akan pergi untuk melihat rumah yang akan mereka beli.Bu Sani terlihat menampakkan wajah yang kurang gembira. Tidak bisa dipungkiri dalam hati kecilnya, dia takut dan merasa kesepian dengan ditinggal oleh
PERSELISIHAN Desi sepertinya hanya berpura-pura kurang enak badan karena setelah semuanya pergi dari rumah dan nampak di rumah sepi, Desi kembali berselancar di ponselnya. "Ay, aku mau ke rumah kamu. Pikiranku sedang pusing, kamu ada kan di rumah." Desi menghubungi Ayu sahabatnya yang jarak rumah
DESI GERAMSetelah kedua orang tuanya Yudi dan juga kakaknya sepakat memberikan uang untuk tambahan beli rumah kepada Yudi. Akhirnya Desi dan Yudi pun berlalu pulang karena hari sudah larut malam dan rencana beli rumah di tunda esok hari. Kebetulan Bapaknya Yudi akan mencarikan rumah di sekitar rum







