LOGINDESI GERAM
Setelah kedua orang tuanya Yudi dan juga kakaknya sepakat memberikan uang untuk tambahan beli rumah kepada Yudi. Akhirnya Desi dan Yudi pun berlalu pulang karena hari sudah larut malam dan rencana beli rumah di tunda esok hari. Kebetulan Bapaknya Yudi akan mencarikan rumah di sekitar rumahnya. Tiba di rumah Desi, nampak mobil Nia sudah nampak terparkir di halaman. Sepertinya keluarga Desi sudah pulang dari restoran. "Des ini Nia belikan kamu baju tidur. Harganya lumayan loh belum tentu kamu bisa beli." sindir sang Ibu dengan pandangan sulit di artikan. Nampak Desi dan Yudi tertegun seakan tidak suka dengan ucapan sang Ibu karena ucapan tersebut terasa merendahkan. "Des dari mana dulu,pulangnya kok larut malam," sambung sang Bapak. Desi dan Yudi pun akhirnya duduk walau mereka terlihat kesal kepada sang Ibu yang baru saja menyindirnya. "Saya dan Desi ada rencana mau pindah dari sini dan beli rumah." HENING Beberapa saat kemudian di ruangan keluarga nampak menjadi sepi. Tidak ada obrolan lagi. Kedua orang tuanya Desi saling berpandangan seakan dalam diri mereka dihinggapi rasa tanya masing-masing. "Iya, Desi dan Yudi mau pindah karena ada rencana mau beli rumah." sambung Desi. "Uang dari mana? Mau beli rumah." ejek sang Ibu dengan tersenyum sinis. Sontak Desi matanya terbuka dengan lebar, sindiran demi sindiran selama ini yang terlontar dari sang Ibu coba dia pendam. Tapi kali ini Desi seakan tidak terima dan sepertinya dia sudah tidak tahan membendung emosinya. "Bu kenapa Ibu selalu merendahkan Desi! Apa karena Desi miskin dan tidak pernah mencukupi Ibu? Sementara Nia mendapatkan pasangan yang kaya dan bisa mencukupi kebutuhan Ibu jadi Ibu seenaknya selalu menyindir Desi," dengan mata yang berembun Desi berucap. Sontak Yudi pandangan matanya mengarah kepada Desi dengan cepat dia mengelus pundak sang istri dengan lembut. Sementara Ibunya Desi terlihat terkesiap juga sang Bapak. Mereka tidak menyangka kalau Desi akan bicara seperti itu. "Nak Yudi sebaiknya bawa Desi istirahat di kamarnya, maafkan ucapan Ibu ya," Bapaknya Desi terlihat gugup dengan keadaan tersebut. Yudi pun membawa sang istri ke dalam kamar dengan wajah terlihat khawatir. °°°° Desi merebahkan badannya di atas ranjang dengan kasar. Air mata pun terlihat berhamburan menetes. Yudi pun seakan tidak tega melihat kondisi Desi yang terlihat sedih dan kecewa karena ejekan dari Ibunya Desi. "Des yang sabar ya, ini semua salahku. Aku belum bisa memberikan kamu yang terbaik. Pokoknya secepatnya aku akan bawa kamu dari sini agar kamu tidak banyak pikiran. Mungkin kamu banyak pikiran Des makannya belum juga di kasih keturunan," ucap Yudi sambil membuka bajunya kemudian dia berlalu ke arah pintu dan menyambar handuk yang ada di belakang pintu.o, setelah itu dia berlalu memasuki kamar mandi. Setelah Yudi memasuki kamar mandi, Desi nampak tengah memikirkan apa yang baru saja di ucapkan oleh Yudi kalau dia banyak pikiran jadi tidak kunjung hamil. "Apa benar yang di ucapkan Yudi? Tapi..." Desi pun seakan tidak mau jika dia yang di salahkan karena siklus menstruasinya pun lancar dan ketika di ranjang dia yang berg4ir4h dan jarang mencapai k3pu4s4n. Sementara Yudi selalu kelelahan dan pada akhirnya hubungan suami istri pun tidak di lanjutkan dengan maksimal seperti yang di harapkannya. Pikiran Desi seakan bertraveling. °°°°°° CEKLEK Yudi terlihat keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggang. Badannya nampak terlihat segar setelah air shower mengguyurnya. Yudi menatap Desi yang terlihat mengerucutkan bibirnya. Yudi pun berpikir kalau Desi tengah memikirkan sindiran dari Ibunya. "Sudah Des jangan terlalu di pikirkan, namanya juga seorang Ibu pasti ingin melihat anaknya bahagia," ucapnya sambil memakai baju dan menggantungkan handuk kembali di belakang pintu. "Iya, memang ucapan Ibu benar adanya. Aku belum bahagia hidup bersama kamu," sindir Desi seakan termakan omongan. Sontak Yudi terkejut dengan ucapan Desi. Dia pun terlihat menghampiri Desi dan duduk di tepi ranjang. "Kita harus berobat ke dokter Mas, siapa tahu kamu yang bermasalah. Kamu selama hubungan sama aku selalu menyudahi permainan. Sementara aku belum terpuaskan," sindir Desi. Yudi melotot ke arah Desi dan sepertinya dia tidak terima dengan apa yang di ucapkan dari bibir mungil istrinya itu. "Kenapa kamu jadi mempermasalahkan itu Des!" terdengar Yudi seakan tidak terima. Desi terlihat beranjak dari ranjang, kemudian berlalu pergi memasuki kamar mandi. Yudi terlihat meremas rambutnya dengan kasar. °°°°°° Keesokan harinya Desi hanya mengurung diri di dalam kamarnya. Yudi hari ini mengajak kembali Desi untuk mengunjungi rumah kedua orang tuanya karena tadi subuh dapat kabar dari Bapaknya Yudi ada rumah yang akan di jual. "Aku kurang enak badan Mas, kamu saja sendiri yang pergi," titah Desi sambil matanya berselancar di layar ponsel. "Kemarin kamu yang berambisi untuk segera keluar dari rumah ini. Kenapa sekarang seakan tidak bersemangat," Yudi menatap lekat ke arah sang istri. "Sudahlah Mas, aku malas berdebat, kepalaku pusing dan aku ingin istirahat," jawab Desi memberikan sebuah alasan. Secepat kilat Yudi menyambar ponsel yang tengah dipegang oleh Desi, kemudian oleh Yudi di simpan nya di atas nakas. Sontak Desi melirik ke arah Yudi dengan pandangan kesal. "Kenapa sih, Mas!" "Kalau kurang enak badan istirahat bukannya mainin ponsel. Itu malah tambah pusing," sindir Yudi. Desi pun terlihat menutup wajahnya dengan bantal. Rasa kesal terhadap suami dan juga Ibunya seakan dia coba tahan. "Aku pamit kalau begitu." ucap Yudi. Desi hanya diam seakan malas untuk bicara. Setelah terdengar Yudi menutup pintu kamar, Desi pun membuka bantalnya yang menutupi penuh wajahnya. Terlihat Desi membuang napas kasar. Suara motor yang melaju dengan kecepatan sedang terdengar lekat ke kuping Desi dan sepertinya Desi sudah tidak asing lagi dengan bunyi suara motor itu. Pemilik motor tersebut adalah suaminya sendiri. °°°°°° TOKK--- TOKK--- TOKK--- Pintu kamar Desi ada yang mengetuk beberapa kali.di luar sana. Terdengar suara Nia sang adik dari Desi memanggil-manggilnya. "Masuk-!" teriak Desi. CEKLEK Setelah pintu terbuka dengan lebar terlihat sosok adiknya tersebut. Nia terlihat beda dari penampilan sebelumnya karena kini adiknya tersebut semakin cantik dan anggun dengan memakai baju baru yang terlihat harganya pasti sangatlah mahal sekali. "Kak sebentar lagi Nia mau pergi sama Mas Hendra. Ibu dan Bapak kebetulan sedang pergi ke rumah saudara jadi Nia pamit sama kakak mau pergi," ucap Nia tersenyum renyah ke arah kakaknya tersebut. Desi hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. "Beruntung sekali Nia, bisa mendapatkan Hendra." batinnya. Desi pun pikirannya berselancar jauh kalau saja dulu tidak menolak Hendra untuk di jodohkan dengannya. Mungkin hidupnya akan bahagia dengan Hendra yang kaya raya. Bersambung..MELAHIRKANMirna istri dari Yudi akhirnya melahirkan anak pertamanya buah cinta dari Yudi. Anak mereka berjenis kelamin laki-laki dan diberi nama Satria. Mirna dan juga Yudi begitu gembira karena bayi mereka lahir dengan selamat dan sehat. Satria sangat ganteng dan berkulit putih sama dengan Yudi. "Sayang terima kasih ya, kamu sudah memberikan aku anak yang gagah dan ganteng," Yudi mengecup lembut kening Mirna dengan penuh kelembutan.Nampak Mirna menatap Yudi dan matanya berkaca-kaca. Mirna sangat senang dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Yudi terhadap dirinya. Baginya perhatian yang diberikan oleh suaminya itu sangat tulus dan juga buat hatinya nyaman. "Beruntung kamu menikah dengan Mirna karena dia wanita subur dan tidak mandul seperti mantan kamu Desi," ucap Ibu dari Yudi. Nampak Mirna tersipu malu dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah tatkala mendengar ucapan dari ibu mertuanya itu. Mirna berpikir kalau ibu mertuanya itu tengah menjelekkan mantan dari Y
SEMUA TIDAK TERDUGA Setelah selesai urusan dengan dokter kandungan dan sementara waktu Mirna harus di rawat untuk beristirahat beberapa hari di rumah sakit. Yudi kemudian menghampiri Pak Hasan yang tengah duduk di luar. "Pak kita ke kantin," ajak Yudi kepada Pak Hasan sambil tersenyum ramah. Pak Hasan nampak terkesiap dengan suara dari Yudi, karena Pak Hasan tengah tidak fokus pikirannya sedang melamun. "Iya-iya," jawab Pak Hasan.Yudi pun sementara terlihat kembali duduk di pinggir Pak Hasan, kemudian Yudi bercerita kalau dia sudah menikah dan dia berucap syukur karena istrinya sekarang sedang hamil. Yudi seakan ingin membuktikan kepada mantan mertuanya kalau dirinya saat ini tengah berbahagia karena sang istri tengah hamil dan Yudi pun seakan ingin membuktikan kepada mantan Bapak mertuanya kalau dia bukanlah pria mandul yang dulu pernah hinggap dalam dirinya. Terlihat Pak Hasan seakan malu terhadap dirinya sendiri karena tidak bisa dipungkiri dia pun ketika dulu pernah menyind
PERTEMUAN DI RUMAH SAKIT Desi terlihat menangis sesungukkan tatkala melihat sang suami terbaring lemah tidak berdaya di rumah sakit. Terlihat Helmi sedang tertidur di ranjang dengan kondisi ada beberapa luka di bagian tubuhnya. Sementara Pak Hasan menatap lega terhadap Helmi karena keadaan sang menantu tidak seperti dia bayangkan. Kalau keadaan Helmi ternyata tidak parah namun hanya luka ringan saja. Tapi nampak terlihat Helmi merasa badannya sakit sekali karena sesekali dia meringis. "Mas mengapa bisa terjadi kecelakaan?" tanya Desi dengan berderai air mata. "Sudah Des, kamu jangan banyak tanya dulu kepada suamimu. Biarkan dia istirahat," Pak Hasan berusaha menenangkan hati sang anak. Nampak terlihat Helmi membuka matanya sedikit demi sedikit secara perlahan. Setelah matanya terbuka dengan sempurna Helmi pun nampak matanya berselancar ke ruangan sekitar. "Aku dimana," ucapnya dengan lirih. Terlihat Helmi akan bangun dari ranjang tersebut namun dengan cepat Pak Hasan mencoba me
KECELAKAAN Percekcokan terjadi antara kedua orang tuanya Desi. Nampak meraka sedang membicarakan Yudi yang kini istrinya sedang hamil.Pak Hasan seolah-olah menyalahkan Bu Sani yang waktu dulu menyuruh Desi cepat-cepat menceraikan Yudi. "Pak kenapa jadi nyalahin Ibu. Bukannya Bapak juga dulu menyuruh anak kita agar segera berpisah dari Yudi?" tegas Bu Sani terlihat kesal. Memang tidak bisa di pungkiri ketika dulu Pak Hasan seakan ikut andil dalam memisahkan Desi dan Yudi. Tapi di dalam lubuk hati yang paling dalam sebenarnya Pak Hasan tidak mau sang anak berpisah dengan Yudi karena bagaimanapun Yudi adalah menantu yang baik dan perhatian."Bukan nyalahin tapi Yudi sebenarnya lelaki setia dan sabar beda dengan Helmi, dia lelaki yang tidak setia. Sampai-sampai Helmi tega-teganya nyakitin hati anak kita karena dia selingkuh dengan sekertaris pribadinya." ucap Pak Hasan seakan mengeluarkan unek-uneknya yang dia pendam selama ini. DegSontak Bu Sani matanya terbelalak saat mendengar ap
PERTEMUAN DESI DAN YUDINampak Yudi dan Desi terlihat gugup tatkala mereka beradu pandang di sebuah super market. Desi dan juga Yudi terlihat salah tingkah karena setelah perceraian keduanya, ini pertemuan baru pertama kalinya.Mirna terlihat menatap ke arah Yudi yang tengah salah tingkah ketika bertemu pandang dengan sosok Desi. Mirna pun terlihat menghampiri Yudi, lalu menepuk halus pundak suaminya itu yang terlihat dihinggapi rasa gelisah tatkala bertemu Desi. "Mas, kamu kenal dengan wanita ini?" tanya Mirna sambil melirik ke arah Desi."Iya, Mir, wanita ini mantan istri aku," jawab Yudi dengan perlahan.Desi nampak menatap lekat ke arah Mirna. Dadanya bergemuruh hebat tidak karuan dan dalam dirinya berpikir. Mungkinkah benar apa yang di katakan oleh temannya kemarin kalau dialah sesungguhnya yang mandul. Karena kini istri Yudi yang baru, tengah hamil dari pernikahan dengan Yudi. Desi nampak membuang napas kasar kemudian dia mengajak sang anak untuk segera pergi dari tempat ter
MANGGA MUDASementara Yudi bersama Mirna istri barunya sekarang sedang berbahagia, karena Mirna tengah hamil muda dan usia kandungannya sekitar satu bulan. Tentu saja Yudi sangat memanjakan sang istri, apapun kemauan istrinya pasti akan Yudi penuhi, apapun itu. Tapi Mirna tidak minta apapun dari suaminya dan ini membuat hati Yudi semakin bangga terhadap Mirna. Karena Mirna tidak menuntut yang lebih kepada suaminya tersebut."Hanya beli mangga muda saja? Selain itu kamu mau dibelikan apa Sayang," Yudi membelai rambut sang istri di tepi ranjang."Aku hanya ingin mangga muda saja Mas, tidak lebih dari itu." jawabnya lirih. Yudi terlihat mencubit gemas hidung Mirna yang mengakibatkan Mirna meringis manja kepada suaminya itu. "Maafkan Sayang," Yudi memeluk istrinya itu. "Beli mangga-nya ke super market saja, sekalian kita belanja bulanan," Mirna menatap Yudi. Terlihat Yudi menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar. "Aku ngikut apapun kemauan kamu Sayang," Yudi kemudian sekilas menciu







