LOGINSetiap langkah yang diambil Sari untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.
Lorong rumah mewah itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.
Kamar utama itu terletak di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati besar yang tampak seperti gerbang menuju ruang kehancuran hidupnya.
Sari tidak ingin melangkah lebih jauh, namun ia sadar bahwa ia tidak memiliki jalan untuk kembali. Di belakangnya hanya ada kemiskinan dan pengusiran, sementara di depan sana adalah takdir yang harus ia tebus.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Sari mendorong pintu jati besar itu. Suara engsel yang bergeser halus terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya.
Begitu pintu terbuka, aroma sandalwood yang pekat dan maskulin langsung menyergap, menguasai seluruh rongga paru-parunya.
Sari mematung. Di sana, di atas ranjang king size yang tertutup sprei sutra abu-abu, Arya sudah menunggu. Pria itu bersandar pada kepala ranjang dengan santai, kedua kakinya ber selonjor dengan angkuh. Ia mengenakan piyama satin berwarna biru dongker yang berkilat mewah di bawah temaram lampu tidur.
Mata Arya yang tajam dan kelam segera menghujam sosok Sari, seolah sedang menelanjangi setiap inci ketakutan yang terpampang di wajah gadis itu. Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya. Jenis senyum yang biasa diberikan seorang kolektor saat menatap barang antik yang baru saja dimenangkannya dalam sebuah lelang.
"Masuk, Sari. Kenapa masih berdiri di sana? Kamu terlihat seperti pencuri yang ketakutan di rumah sendiri," ucap Arya. Suaranya bariton, tenang, namun mengandung otoritas yang mampu membuat bulu kuduk Sari meremang.
"Sa—saya..." Sari terbata, suaranya tercekat di kerongkongan. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia takut Arya bisa mendengarnya dari kejauhan.
"Masuk," ulang Arya, kali ini dengan penekanan yang tak terbantahkan.
Sari melangkah ragu, kakinya terasa lemas seperti jeli. Begitu ia mencapai tengah ruangan, perintah Arya kembali memecah kesunyian.
"Berhenti di situ. Berbaliklah, belakangi aku... lalu menunduk."
Sari membelalak. Tubuhnya bergetar, namun ia tidak punya kuasa untuk membantah. Ia membalikkan badan, memunggungi Arya, lalu perlahan membungkukkan tubuhnya. Kedua tangannya bertumpu pada lutut.
Karena posisi itu, kemeja putih milik Arya yang ia kenakan, yang memang terlalu besar dan longgar, terangkat tinggi. Kain itu tersingkap ke atas, memamerkan jenjang paha Sari yang mulus hingga hampir mengekspos area sensitif di pangkal pahanya.
Di belakang sana, mata Arya menjelajahi lekuk tubuh Sari dengan lapar. Ia menyesap pemandangan itu seolah itu adalah minuman paling nikmat di dunia. Sebuah tawa kecil, kering, dan penuh kepuasan lolos dari bibir Arya.
"Barang bagus," gumam Arya, suaranya kini terdengar lebih dekat. "Sepertinya aku tidak salah beli. Harga yang aku bayar ternyata sepadan dengan apa yang aku dapatkan."
Air mata Sari menetes, jatuh membasahi lantai marmer yang dingin. Ia merasa hancur. Ia bukan lagi Sari si mahasiswi berprestasi. Ia hanyalah sebuah benda yang baru saja dinilai kelayakannya. Harga dirinya terasa sudah habis tak bersisa, lumat di bawah tatapan pria yang kini menjadi tuannya.
"Naik ke ranjang," perintah Arya lagi.
Sari merangkak naik dengan gerakan rapuh. Arya menarik pinggangnya, memaksa Sari duduk tepat di atas pahanya yang ber selonjor.
Arya memajukan tubuhnya, mengunci Sari dalam jarak yang begitu tipis hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Sari bisa merasakan hembusan napas Arya yang hangat dan beraroma mint menyapu kulit wajahnya, mengirimkan gelenyar aneh yang menakutkan sekaligus membingungkan.
Arya kembali tersenyum intim, senyum yang membuat Sari merasa kecil dan tidak berdaya. "Ini perintah pertamaku," bisik Arya serak. "Buka bajuku."
Mata Sari melotot terkejut. "Pa—Pak... saya..."
Arya justru semakin melebarkan senyumnya. Jenis senyum yang seolah berkata: Iya, ayo, cepat lakukan. Kamu tidak punya hak untuk menolak.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Sari mulai menyentuh kancing teratas piyama satin Arya. Ia sangat gugup, jemarinya terasa kaku.
Tanpa sengaja, ujung jarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit dada Arya yang hangat. Sensasi itu seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh saraf Sari, menimbulkan desiran aneh yang membuatnya semakin canggung.
Suara detak jantung Sari kini benar-benar berisik di telinganya sendiri. Peluh dingin mulai membasahi pelipisnya.
Satu demi satu kancing baju terlepas, hingga akhirnya piyama satin itu tanggal dari bahu Arya, memperlihatkan tubuh atletis pria itu. Otot-otot dadanya yang padat dan bentuk abdominis yang terpahat sempurna seperti karya seni mahal membuat Sari secara refleks menelan ludah.
Takut, gelisah, dan berdebar menjadi satu adonan yang menyesakkan dadanya.
Arya meraih telapak tangan Sari yang mungil, lalu mengarahkan tangan itu ke atas salah satu pundaknya yang kokoh. Ia kembali mencondongkan tubuh, kali ini begitu dekat hingga kulit wajah mereka benar-benar bersentuhan. Arya kemudian memiringkan kepalanya, menempelkan bibirnya di dekat daun telinga Sari.
"Pijat aku, Sari," bisik Arya, suaranya menggetarkan udara di sekitar mereka. "Aku sangat lelah hari ini. Pastikan tanganmu bisa menenangkan aku."
Setiap langkah yang diambil Sari untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.Lorong rumah mewah itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.Kamar utama itu terletak di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati besar yang tampak seperti gerbang menuju ruang kehancuran hidupnya.Sari tidak ingin melangkah lebih jauh, namun ia sadar bahwa ia tidak memiliki jalan untuk kembali. Di belakangnya hanya ada kemiskinan dan pengusiran, sementara di depan sana adalah takdir yang harus ia tebus.Dengan jemari yang gemetar hebat, Sari mendorong pintu jati besar itu. Suara engsel yang bergeser halus terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya.Begitu pintu terbuka, aroma sandalwood yang pekat dan maskulin langsung menyergap, menguasai seluruh rongga paru-parunya.Sari mematung. Di sana, di atas ranjang king size yang tertutup sprei sutra abu-abu, Arya sudah menung
Arya tidak menunggu jawaban dari Sari. Pria itu berbalik dan menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah tenang namun berwibawa.Sari hanya bisa mematung di ruang tengah, menatap punggung tegap itu menghilang di balik pintu kamar utama. Kesunyian rumah itu kembali menghimpitnya, membuatnya merasa seperti partikel debu yang tersesat di istana kaca.Beberapa menit kemudian, Arya kembali turun. Di tangannya tersampir selembar kemeja putih polos yang tampak sangat kontras dengan kaus hitam yang ia kenakan. Ia melemparkan kemeja itu ke arah Sari."Bersihkan dirimu," perintah Arya, suaranya dingin tak tersentuh. "Kamar mandi tamu ada di sebelah sana. Pakai apa pun yang ada di dalamnya. Sabun, sampo, parfum, apa pun. Saya ingin kamu terlihat bersih, segar, dan wangi."Sari menangkap kemeja itu dengan tangan gemetar. Bahannya terasa sangat halus dan mahal di kulitnya yang kasar."Saya juga sudah memesankan makanan," lanjut Arya sembari melirik jam tangannya yang mewah. "Setelah mandi
"Tidak, Pak... saya tidak bisa. Saya bukan wanita seperti itu."Suara Sari pecah, nyaris tak terdengar di antara isak tangis yang menyesakkan dadanya. Ia menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan mengerikan dari tawaran yang baru saja keluar dari mulut Arya.Melayani kebutuhan seksual? Pikiran itu menghantamnya lebih keras daripada benturan aspal di parkiran tadi. Ia miskin, ia lapar, dan ia hampir diusir, tapi ia masih memiliki satu hal yang ia jaga setengah mati seumur hidup, kehormatannya.Arya tidak bergeming. Ia tidak tampak terkejut, apalagi merasa bersalah karena telah mengusulkan sesuatu yang merendahkan martabat seorang manusia. Alih-alih melunak melihat air mata Sari yang tumpah tak terbendung, pria itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sangat tenang.Ia menatap Sari seolah gadis itu hanyalah sebuah objek eksperimen yang sedang ia amati reaksinya di bawah mikroskop. Tidak ada belas kasihan di mata gelap itu, hanya ada perhitungan logis yang dingin dan tak
Langkah kaki Sari terasa berat saat mengikuti punggung tegap Arya masuk ke dalam rumah. Begitu pintu kayu besar itu tertutup dengan bunyi klik otomatis yang halus, Sari merasa seolah dunia luar baru saja terputus darinya.Rumah itu luas, namun terasa sangat sepi dan dingin. Minimalis, tanpa banyak hiasan, didominasi warna abu-abu gelap dan pencahayaan yang temaram.Tidak ada tanda-tanda kehidupan lain. Tidak ada suara asisten rumah tangga, tidak ada suara televisi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitung mundur nasibnya."Duduk," perintah Arya tanpa menoleh.Ia memandu Sari ke sebuah ruang tengah yang didominasi sofa kulit hitam besar. Arya duduk di kursi tunggalnya, sementara Sari memilih duduk di pinggiran sofa, menjaga jarak sejauh mungkin.Ia meremas tali tasnya hingga jari-jarinya memutih. Rasa lapar yang tadinya melilit seolah hilang, berganti dengan rasa mual akibat adrenalin yang terpompa cepat.Arya meletakkan gelasnya di atas meja kaca di depan mereka. Ia
Langkah kaki Sari terasa berat, seolah setiap jengkal aspal yang ia injak menempelkan beban berton-ton di pundaknya. Ia berjalan menyusuri trotoar yang mulai remang, tidak memedulikan tatapan orang-orang pada siku tangannya yang masih memerah dengan sisa darah kering.Pikirannya kosong, hanya ada bayangan spion mobil yang patah dan wajah dingin Pak Arya yang terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.Begitu sampai di depan pintu kamar kos bernomor 302, Sari merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Kunci itu berputar dengan bunyi klik yang kering, menyambutnya dengan hawa pengap ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang terasa seperti penjara.Ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang sprei-nya sudah mulai pudar.Perutnya berbunyi nyaring, melilit perih hingga membuat ulu hatinya terasa panas. Ia belum makan sejak pagi, dan gorengan dingin yang ia telan sebelum kelas tadi seolah tidak meninggalkan jejak apa pun di lambungnya.Sari bangkit, merangkak perlahan menuju su
Arya turun dari mobilnya. Suara pintu mobil yang tertutup terdengar seperti dentuman palu hakim di telinga Sari.Dari posisi tersungkur di aspal, ia melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang berkilat sempurna melangkah mendekat.Perlahan, bayangan tubuh yang tinggi dan tegap mulai menutupi tubuh mungil Sari yang gemetar, merampas cahaya sore dan menggantinya dengan aura dingin yang menyesakkan.Sari masih terduduk lemas. Sikunya yang menghantam aspal terasa panas dan berdenyut, ada darah segar yang mulai merembes dari luka lecet di sana, bercampur dengan debu jalanan.Namun, rasa perih itu tidak sebanding dengan kengerian yang menjalar saat melihat Arya berdiri tepat di hadapannya.Arya tidak langsung bicara. Ia hanya berdiri di sana, memasukkan satu tangan ke saku celana kainnya yang tampak sangat halus, sementara tangan lainnya memegang kacamata hitam. Matanya menyapu spion mobil yang tergantung mengenaskan, lalu turun menatap Sari yang tampak kacau."Ma-maaf, Pak... saya benar-be







