Share

6. TUGAS PERTAMA

Author: FWW
last update publish date: 2026-05-06 05:26:07

Arya tidak menunggu jawaban dari Sari. Pria itu berbalik dan menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah tenang namun berwibawa.

Sari hanya bisa mematung di ruang tengah, menatap punggung tegap itu menghilang di balik pintu kamar utama. Kesunyian rumah itu kembali menghimpitnya, membuatnya merasa seperti partikel debu yang tersesat di istana kaca.

Beberapa menit kemudian, Arya kembali turun. Di tangannya tersampir selembar kemeja putih polos yang tampak sangat kontras dengan kaus hitam yang ia kenakan. Ia melemparkan kemeja itu ke arah Sari.

"Bersihkan dirimu," perintah Arya, suaranya dingin tak tersentuh. "Kamar mandi tamu ada di sebelah sana. Pakai apa pun yang ada di dalamnya. Sabun, sampo, parfum, apa pun. Saya ingin kamu terlihat bersih, segar, dan wangi."

Sari menangkap kemeja itu dengan tangan gemetar. Bahannya terasa sangat halus dan mahal di kulitnya yang kasar.

"Saya juga sudah memesankan makanan," lanjut Arya sembari melirik jam tangannya yang mewah. "Setelah mandi, makanlah. Saya tidak ingin melihat wajah pucat seperti mayat di rumah ini."

Sari hanya bisa mengangguk patuh. Kakinya yang lemas melangkah menuju kamar mandi yang ditunjuk Arya.

Di dalam, ia terpaku melihat kemewahan yang ada. Dinding marmer, pencahayaan yang lembut, dan aroma aromaterapi yang menenangkan.

Sari segera menyalakan pancuran air hangat. Saat air itu menyentuh kulitnya, ia memejamkan mata. Rasa perih di sikunya perlahan memudar tersiram air, dan semua debu serta keringat yang menempel seharian luruh ke lantai.

Ia menggunakan semua sabun dan sampo bermerek yang tersedia. Ia ingin sejenak melupakan kenyataan bahwa ia sedang berada di rumah seorang pria yang baru saja membelinya.

Setelah mengeringkan tubuh, ia mengenakan kemeja putih pemberian Arya. Kemeja itu sangat kebesaran. Kerahnya merosot memperlihatkan tulang selangkanya yang menonjol, dan ujung kemejanya jatuh hingga ke pertengahan pahanya, menutupi lekuk tubuhnya dengan cara yang justru terlihat menggoda.

Rambutnya yang basah ia biarkan tergerai, memberikan kesan alami yang liar namun polos.

Saat Sari keluar dari kamar mandi, Arya sedang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Pria itu berbalik, dan untuk pertama kalinya, Sari melihat kilat yang berbeda di mata Arya.

Pria itu tertegun. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan melihat sosok di depannya. Sari terlihat jauh lebih cantik dari ekspetasinya.

Kemeja putih yang longgar itu justru membuat kecantikan Sari yang rapuh terpancar berkali-kali lipat lebih kuat.

Momen kekaguman itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum suara bel rumah berbunyi nyaring, memecah keheningan.

"Makananmu sudah sampai," ucap Arya, segera mengalihkan pandangan dan kembali ke wajah dinginnya yang biasa.

Seorang kurir mengantarkan beberapa kantong makanan yang aromanya sangat menggugah selera.

Arya memberi isyarat agar Sari duduk di meja makan yang luas.

Tanpa perlu disuruh dua kali, Sari mulai makan. Rasa lapar yang tadinya melilit perih kini mulai terobati. Setiap suapan nasi hangat dan lauk yang lezat terasa seperti surga di lidahnya.

Di sela-sela makannya, Sari merasakan perubahan aneh pada dirinya. Perutnya tidak lagi perih. Badannya terasa bersih, segar, dan harum. Kemeja halus yang ia kenakan memberikan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Untuk sekejap, hanya sekejap, ia lupa pada harga yang harus ia bayar. Ia lupa pada kontrak harga diri yang baru saja ia setujui.

Tanpa sadar, sudut bibir Sari terangkat. Ia tersenyum kecil, merasa sedikit manusiawi kembali setelah seharian diinjak-injak oleh nasib.

Arya, yang sejak tadi duduk diam memperhatikannya dengan mata menyipit, bertanya dengan nada rendah, "Kenapa kamu tersenyum?"

Sari menoleh, matanya yang jernih menatap Arya dengan tulus. "Terima kasih, Pak. Terima kasih atas kebaikan Bapak... sudah memberi saya makan dan tempat untuk mandi."

Arya tidak bergeming. Wajahnya tetap datar seperti pahatan batu. Ia meletakkan tangan di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Sari hingga jarak mereka kembali menyempit.

"Jangan salah paham, Sari. Tidak perlu berterima kasih," jawab Arya, suaranya terdengar seperti vonis. "Ini memang yang sudah seharusnya kamu dapatkan. Aku tidak mau menyentuh wanita yang kotor dan lusuh. Jadi sudah seharusnya kamu membersihkan diri agar layak untukku."

Senyum Sari membeku.

"Dan kamu memang harus makan," lanjut Arya, matanya kini menatap bibir Sari yang sedikit basah. "Jika tidak makan, bagaimana kamu akan melayaniku nanti? Melakukan hal itu juga membutuhkan tenaga yang besar, Sari. Jadi jangan senang dulu."

Suasana di meja makan itu mendadak mendingin. Rasa lezat dari makanan yang baru saja ditelan Sari seolah berubah menjadi tumpukan pasir yang menyumbat tenggorokannya.

"Malam ini adalah tugas pertamamu," ucap Arya sembari bangkit berdiri. Ia merapikan pakaiannya dan menatap Sari dengan tatapan penuh kepemilikan. "Setelah selesai makan, persiapkan dirimu. Naik ke atas, dan masuk ke kamar saya. Jangan terlambat."

Arya berbalik dan berjalan pergi menuju lantai dua, meninggalkan Sari sendirian di ruang makan yang mewah itu.

Sari mematung. Sendok di tangannya terasa sangat berat hingga akhirnya terjatuh ke atas piring dengan suara berdenting yang menyakitkan.

Kehangatan yang baru saja ia rasakan seketika lenyap, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang.

Nikmatnya makanan di lidahnya kini terasa hambar, tertutup oleh rasa takut yang luar biasa.

Ia melihat ke arah tangga yang menuju kamar Arya. Tangga itu kini tampak seperti jalan menuju tempat penjagalan, dan ia adalah domba yang baru saja diberi makan enak sebelum disembelih.

Sari meremat ujung kemeja putih milik Arya, menyadari bahwa mulai

malam ini, ia akan kehilangan tubuhnya dan atau mungkin juga jiwanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   7. PERINTAH PERTAMA

    Setiap langkah yang diambil Sari untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.Lorong rumah mewah itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.Kamar utama itu terletak di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati besar yang tampak seperti gerbang menuju ruang kehancuran hidupnya.Sari tidak ingin melangkah lebih jauh, namun ia sadar bahwa ia tidak memiliki jalan untuk kembali. Di belakangnya hanya ada kemiskinan dan pengusiran, sementara di depan sana adalah takdir yang harus ia tebus.Dengan jemari yang gemetar hebat, Sari mendorong pintu jati besar itu. Suara engsel yang bergeser halus terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya.Begitu pintu terbuka, aroma sandalwood yang pekat dan maskulin langsung menyergap, menguasai seluruh rongga paru-parunya.Sari mematung. Di sana, di atas ranjang king size yang tertutup sprei sutra abu-abu, Arya sudah menung

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   6. TUGAS PERTAMA

    Arya tidak menunggu jawaban dari Sari. Pria itu berbalik dan menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah tenang namun berwibawa.Sari hanya bisa mematung di ruang tengah, menatap punggung tegap itu menghilang di balik pintu kamar utama. Kesunyian rumah itu kembali menghimpitnya, membuatnya merasa seperti partikel debu yang tersesat di istana kaca.Beberapa menit kemudian, Arya kembali turun. Di tangannya tersampir selembar kemeja putih polos yang tampak sangat kontras dengan kaus hitam yang ia kenakan. Ia melemparkan kemeja itu ke arah Sari."Bersihkan dirimu," perintah Arya, suaranya dingin tak tersentuh. "Kamar mandi tamu ada di sebelah sana. Pakai apa pun yang ada di dalamnya. Sabun, sampo, parfum, apa pun. Saya ingin kamu terlihat bersih, segar, dan wangi."Sari menangkap kemeja itu dengan tangan gemetar. Bahannya terasa sangat halus dan mahal di kulitnya yang kasar."Saya juga sudah memesankan makanan," lanjut Arya sembari melirik jam tangannya yang mewah. "Setelah mandi

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   5. HARGA SEBUAH KEHORMATAN

    "Tidak, Pak... saya tidak bisa. Saya bukan wanita seperti itu."Suara Sari pecah, nyaris tak terdengar di antara isak tangis yang menyesakkan dadanya. Ia menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan mengerikan dari tawaran yang baru saja keluar dari mulut Arya.Melayani kebutuhan seksual? Pikiran itu menghantamnya lebih keras daripada benturan aspal di parkiran tadi. Ia miskin, ia lapar, dan ia hampir diusir, tapi ia masih memiliki satu hal yang ia jaga setengah mati seumur hidup, kehormatannya.Arya tidak bergeming. Ia tidak tampak terkejut, apalagi merasa bersalah karena telah mengusulkan sesuatu yang merendahkan martabat seorang manusia. Alih-alih melunak melihat air mata Sari yang tumpah tak terbendung, pria itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sangat tenang.Ia menatap Sari seolah gadis itu hanyalah sebuah objek eksperimen yang sedang ia amati reaksinya di bawah mikroskop. Tidak ada belas kasihan di mata gelap itu, hanya ada perhitungan logis yang dingin dan tak

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   4. TAWARAN KONTRAK

    Langkah kaki Sari terasa berat saat mengikuti punggung tegap Arya masuk ke dalam rumah. Begitu pintu kayu besar itu tertutup dengan bunyi klik otomatis yang halus, Sari merasa seolah dunia luar baru saja terputus darinya.Rumah itu luas, namun terasa sangat sepi dan dingin. Minimalis, tanpa banyak hiasan, didominasi warna abu-abu gelap dan pencahayaan yang temaram.Tidak ada tanda-tanda kehidupan lain. Tidak ada suara asisten rumah tangga, tidak ada suara televisi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitung mundur nasibnya."Duduk," perintah Arya tanpa menoleh.Ia memandu Sari ke sebuah ruang tengah yang didominasi sofa kulit hitam besar. Arya duduk di kursi tunggalnya, sementara Sari memilih duduk di pinggiran sofa, menjaga jarak sejauh mungkin.Ia meremas tali tasnya hingga jari-jarinya memutih. Rasa lapar yang tadinya melilit seolah hilang, berganti dengan rasa mual akibat adrenalin yang terpompa cepat.Arya meletakkan gelasnya di atas meja kaca di depan mereka. Ia

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   3. TITIK TERENDAH

    Langkah kaki Sari terasa berat, seolah setiap jengkal aspal yang ia injak menempelkan beban berton-ton di pundaknya. Ia berjalan menyusuri trotoar yang mulai remang, tidak memedulikan tatapan orang-orang pada siku tangannya yang masih memerah dengan sisa darah kering.Pikirannya kosong, hanya ada bayangan spion mobil yang patah dan wajah dingin Pak Arya yang terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.Begitu sampai di depan pintu kamar kos bernomor 302, Sari merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Kunci itu berputar dengan bunyi klik yang kering, menyambutnya dengan hawa pengap ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang terasa seperti penjara.Ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang sprei-nya sudah mulai pudar.Perutnya berbunyi nyaring, melilit perih hingga membuat ulu hatinya terasa panas. Ia belum makan sejak pagi, dan gorengan dingin yang ia telan sebelum kelas tadi seolah tidak meninggalkan jejak apa pun di lambungnya.Sari bangkit, merangkak perlahan menuju su

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   2. SPION PECAH

    Arya turun dari mobilnya. Suara pintu mobil yang tertutup terdengar seperti dentuman palu hakim di telinga Sari.Dari posisi tersungkur di aspal, ia melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang berkilat sempurna melangkah mendekat.Perlahan, bayangan tubuh yang tinggi dan tegap mulai menutupi tubuh mungil Sari yang gemetar, merampas cahaya sore dan menggantinya dengan aura dingin yang menyesakkan.Sari masih terduduk lemas. Sikunya yang menghantam aspal terasa panas dan berdenyut, ada darah segar yang mulai merembes dari luka lecet di sana, bercampur dengan debu jalanan.Namun, rasa perih itu tidak sebanding dengan kengerian yang menjalar saat melihat Arya berdiri tepat di hadapannya.Arya tidak langsung bicara. Ia hanya berdiri di sana, memasukkan satu tangan ke saku celana kainnya yang tampak sangat halus, sementara tangan lainnya memegang kacamata hitam. Matanya menyapu spion mobil yang tergantung mengenaskan, lalu turun menatap Sari yang tampak kacau."Ma-maaf, Pak... saya benar-be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status