Home / Romansa / PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA / 5. HARGA SEBUAH KEHORMATAN

Share

5. HARGA SEBUAH KEHORMATAN

Author: FWW
last update publish date: 2026-05-06 05:21:25

"Tidak, Pak... saya tidak bisa. Saya bukan wanita seperti itu."

Suara Sari pecah, nyaris tak terdengar di antara isak tangis yang menyesakkan dadanya. Ia menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan mengerikan dari tawaran yang baru saja keluar dari mulut Arya.

Melayani kebutuhan seksual? Pikiran itu menghantamnya lebih keras daripada benturan aspal di parkiran tadi. Ia miskin, ia lapar, dan ia hampir diusir, tapi ia masih memiliki satu hal yang ia jaga setengah mati seumur hidup, kehormatannya.

Arya tidak bergeming. Ia tidak tampak terkejut, apalagi merasa bersalah karena telah mengusulkan sesuatu yang merendahkan martabat seorang manusia. Alih-alih melunak melihat air mata Sari yang tumpah tak terbendung, pria itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sangat tenang.

Ia menatap Sari seolah gadis itu hanyalah sebuah objek eksperimen yang sedang ia amati reaksinya di bawah mikroskop. Tidak ada belas kasihan di mata gelap itu, hanya ada perhitungan logis yang dingin dan tak tersentuh.

"Jangan berlagak suci di depanku, Sari," ucap Arya. Suaranya datar, namun nadanya setajam sembilu yang menyayat kulit. "Mari kita bicara angka sekali lagi, agar otakmu yang sedang emosional itu bisa mulai berfungsi secara realistis."

Arya bangkit dari duduknya. Langkah kakinya yang berat dan berirama mulai mengelilingi sofa tempat Sari meringkuk tak berdaya. Setiap langkah sepatunya yang beradu dengan lantai granit seolah-olah sedang mengunci setiap jalan keluar yang dimiliki Sari. Ruangan itu terasa semakin sempit, seolah dinding-dindingnya perlahan bergerak merapat untuk menghimpit Sari.

"Tenang sebentar, mari kita hitung bersama," Arya berhenti tepat di belakang Sari. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran sofa, memerangkap Sari di tengah-tengah jangkauan tubuhnya.

Aroma parfum sandalwood yang maskulin, mahal, dan dingin menyerbu indra penciuman Sari, membuatnya merasa pening dan sesak secara bersamaan. Sari bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh tegap pria di belakangnya.

"Tunggakan kosmu tiga bulan. Biaya spion mobil saya yang harganya bisa membeli motor baru. Dan melihat wajahmu yang hampir seperti mayat. Saya yakin kamu bahkan tidak memiliki uang hanya untuk sekedar membeli makan."

Sari meremas jemarinya sendiri sampai buku-buku jarinya memutih, mencoba mencari kekuatan yang sebenarnya sudah tidak ada. Setiap kata yang keluar dari mulut Arya terasa seperti pukulan palu godam yang menghancurkan benteng pertahanannya satu per satu.

"Jika kamu setuju," bisik Arya tepat di telinga Sari. Hembusan napasnya yang hangat berbau mint membuat gadis itu merinding ketakutan sekaligus merasakan getaran asing yang membakar kulit tengkuknya.

"Malam ini juga, kamu pindah dari kosan pengap itu ke sini. Kamu tidak perlu lagi memikirkan perutmu yang melilit lapar. Dan yang paling penting... biaya kuliahmu sampai lulus, saya yang tanggung. Semuanya. Tanpa kecuali. Kamu hanya perlu fokus... melayani saya."

Sari menunduk dalam, air matanya jatuh membasahi telapak tangannya yang gemetar. Ia terjepit dalam dilema yang mematikan. Logikanya membenarkan semua ucapan Arya.

Tanpa bantuan ini, ia akan hancur dan menjadi gelandangan. Namun, jiwanya menjerit menolak. Menjual tubuhnya? Tubuh yang selama ini ia jaga kehormatannya dengan susah payah di tengah kemiskinan yang mencekik?

"Saya masih punya harga diri, Pak," isak Sari parau, mencoba melawan meski suaranya bergetar hebat.

"Harga diri tidak bisa dipakai untuk membayar uang kuliah, Sari," potong Arya dengan nada mengejek yang sangat kasar. "Harga diri juga tidak bisa membuat perutmu kenyang. Berhentilah bersikap dramatis seolah kamu punya pilihan lain."

Di tengah pergulatan batin yang menyiksa itu, ponsel di dalam tas Sari bergetar panjang. Sebuah getaran yang terasa seperti lonceng kematian.

Sari merogohnya dengan tangan lemas yang tak lagi bertenaga. Sebuah notifikasi muncul di layar yang retak seribu, memancarkan cahaya redup yang menyakitkan mata.

Pesan Peringatan Universitas:

Batas akhir pelunasan UKT adalah besok pukul 16.00 WIB. Jika tidak dilakukan pembayaran, status kemahasiswaan Anda akan dinonaktifkan secara otomatis dan Anda dianggap mengundurkan diri dari Universitas.

Sari mematung. Darahnya seolah berhenti mengalir dan jantungnya terasa berhenti berdetak sesaat. Ini adalah pukulan terakhir yang menghancurkan segalanya.

Kuliah adalah satu-satunya tiketnya untuk keluar dari kubangan kemiskinan ini, satu-satunya harapan yang ia janjikan pada ayahnya yang sakit-sakitan di kampung.

Jika ia berhenti sekarang, semua keringat dan air mata selama tiga tahun terakhir akan hangus menjadi abu yang tak berharga.

Arya yang berdiri cukup dekat untuk melirik layar ponsel itu, menyadari apa yang sedang terjadi. Sebuah seringai puas muncul di wajah tampannya yang dingin.

Ia tidak perlu lagi bersusah payah membujuk atau mengancam. Takdir seolah sedang bekerja sama dengannya untuk menyeret Sari ke dalam jeratan yang telah ia siapkan dengan rapi.

"Sepertinya waktumu benar-benar sudah habis, Sari," ucap Arya rendah.

Ia berjalan kembali ke depan Sari, berdiri menjulang dengan tangan yang masuk ke saku celana, menatap rendah gadis yang sedang hancur itu.

"Pilihannya sekarang hanya dua. Menjadi milikku dan memiliki segalanya, atau keluar dari pintu itu sekarang juga dan biarkan dirimu hancur berkeping-keping."

Sari memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mencari celah untuk lari, namun yang ia temukan hanyalah jalan buntu yang gelap.

Seluruh tenaganya seolah menguap keluar dari pori-pori kulitnya. Ia merasa lemas, kosong, dan tidak lagi memiliki daya untuk memberontak.

Harga diri yang tadinya ia genggam erat sebagai satu-satunya harta, kini terasa seperti butiran pasir yang tertiup angin kencang. Hilang, tak berbekas, menyisakan kehampaan yang luar biasa pedih.

Ia membayangkan wajah ayahnya yang bangga saat melihatnya memakai toga nanti. Ia membayangkan rasa lapar yang akan terus mengejarnya seumur hidup jika ia kehilangan pendidikannya.

Ketakutan akan masa depan yang gelap ternyata jauh lebih besar daripada ketakutannya pada Arya.

Sari menarik napas panjang yang gemetar, seolah itu adalah napas terakhirnya sebagai manusia yang bebas. Bahunya merosot, tanda ia telah menyerah kalah pada garis hidup yang begitu kejam.

"Baik, Pak..." bisik Sari parau, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan rumah mewah yang dingin itu. "Saya... saya terima tawaran Bapak. Tolong bantu saya."

Arya menarik napas panjang, sebuah ekspresi kemenangan yang sangat murni terpancar dari wajahnya. Ia mendekat, jemarinya yang hangat dan kuat menyentuh dagu Sari, mengangkat wajah gadis itu dengan paksa agar menatap langsung ke matanya yang gelap.

Ia memperhatikan mata Sari yang merah, sembab, dan bibirnya yang masih bergetar hebat karena trauma.

"Pilihan yang sangat cerdas, Sari," bisik Arya, suaranya kini terdengar lebih dalam, berat, dan penuh gairah yang mulai tersulut. "Mulai detik ini, setiap jengkal kulitmu, setiap helai rambutmu, bahkan setiap tarikan napasmu... adalah milikku. Kamu paham?"

Sari tidak mampu menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa tertunduk pasrah, menangis tanpa suara sementara tangan Arya mulai mengusap lembut pipinya. Sebuah sentuhan yang terasa seperti tanda kepemilikan yang absolut dan permanen.

Sari tahu, setelah malam ini, ia bukan lagi Sari yang lama. Ia telah menandatangani kontrak tak tertulis dengan pria yang kini menatapnya dengan penuh nafsu dan kekuasaan mutlak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   7. PERINTAH PERTAMA

    Setiap langkah yang diambil Sari untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.Lorong rumah mewah itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.Kamar utama itu terletak di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati besar yang tampak seperti gerbang menuju ruang kehancuran hidupnya.Sari tidak ingin melangkah lebih jauh, namun ia sadar bahwa ia tidak memiliki jalan untuk kembali. Di belakangnya hanya ada kemiskinan dan pengusiran, sementara di depan sana adalah takdir yang harus ia tebus.Dengan jemari yang gemetar hebat, Sari mendorong pintu jati besar itu. Suara engsel yang bergeser halus terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya.Begitu pintu terbuka, aroma sandalwood yang pekat dan maskulin langsung menyergap, menguasai seluruh rongga paru-parunya.Sari mematung. Di sana, di atas ranjang king size yang tertutup sprei sutra abu-abu, Arya sudah menung

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   6. TUGAS PERTAMA

    Arya tidak menunggu jawaban dari Sari. Pria itu berbalik dan menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah tenang namun berwibawa.Sari hanya bisa mematung di ruang tengah, menatap punggung tegap itu menghilang di balik pintu kamar utama. Kesunyian rumah itu kembali menghimpitnya, membuatnya merasa seperti partikel debu yang tersesat di istana kaca.Beberapa menit kemudian, Arya kembali turun. Di tangannya tersampir selembar kemeja putih polos yang tampak sangat kontras dengan kaus hitam yang ia kenakan. Ia melemparkan kemeja itu ke arah Sari."Bersihkan dirimu," perintah Arya, suaranya dingin tak tersentuh. "Kamar mandi tamu ada di sebelah sana. Pakai apa pun yang ada di dalamnya. Sabun, sampo, parfum, apa pun. Saya ingin kamu terlihat bersih, segar, dan wangi."Sari menangkap kemeja itu dengan tangan gemetar. Bahannya terasa sangat halus dan mahal di kulitnya yang kasar."Saya juga sudah memesankan makanan," lanjut Arya sembari melirik jam tangannya yang mewah. "Setelah mandi

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   5. HARGA SEBUAH KEHORMATAN

    "Tidak, Pak... saya tidak bisa. Saya bukan wanita seperti itu."Suara Sari pecah, nyaris tak terdengar di antara isak tangis yang menyesakkan dadanya. Ia menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan mengerikan dari tawaran yang baru saja keluar dari mulut Arya.Melayani kebutuhan seksual? Pikiran itu menghantamnya lebih keras daripada benturan aspal di parkiran tadi. Ia miskin, ia lapar, dan ia hampir diusir, tapi ia masih memiliki satu hal yang ia jaga setengah mati seumur hidup, kehormatannya.Arya tidak bergeming. Ia tidak tampak terkejut, apalagi merasa bersalah karena telah mengusulkan sesuatu yang merendahkan martabat seorang manusia. Alih-alih melunak melihat air mata Sari yang tumpah tak terbendung, pria itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sangat tenang.Ia menatap Sari seolah gadis itu hanyalah sebuah objek eksperimen yang sedang ia amati reaksinya di bawah mikroskop. Tidak ada belas kasihan di mata gelap itu, hanya ada perhitungan logis yang dingin dan tak

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   4. TAWARAN KONTRAK

    Langkah kaki Sari terasa berat saat mengikuti punggung tegap Arya masuk ke dalam rumah. Begitu pintu kayu besar itu tertutup dengan bunyi klik otomatis yang halus, Sari merasa seolah dunia luar baru saja terputus darinya.Rumah itu luas, namun terasa sangat sepi dan dingin. Minimalis, tanpa banyak hiasan, didominasi warna abu-abu gelap dan pencahayaan yang temaram.Tidak ada tanda-tanda kehidupan lain. Tidak ada suara asisten rumah tangga, tidak ada suara televisi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitung mundur nasibnya."Duduk," perintah Arya tanpa menoleh.Ia memandu Sari ke sebuah ruang tengah yang didominasi sofa kulit hitam besar. Arya duduk di kursi tunggalnya, sementara Sari memilih duduk di pinggiran sofa, menjaga jarak sejauh mungkin.Ia meremas tali tasnya hingga jari-jarinya memutih. Rasa lapar yang tadinya melilit seolah hilang, berganti dengan rasa mual akibat adrenalin yang terpompa cepat.Arya meletakkan gelasnya di atas meja kaca di depan mereka. Ia

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   3. TITIK TERENDAH

    Langkah kaki Sari terasa berat, seolah setiap jengkal aspal yang ia injak menempelkan beban berton-ton di pundaknya. Ia berjalan menyusuri trotoar yang mulai remang, tidak memedulikan tatapan orang-orang pada siku tangannya yang masih memerah dengan sisa darah kering.Pikirannya kosong, hanya ada bayangan spion mobil yang patah dan wajah dingin Pak Arya yang terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.Begitu sampai di depan pintu kamar kos bernomor 302, Sari merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Kunci itu berputar dengan bunyi klik yang kering, menyambutnya dengan hawa pengap ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang terasa seperti penjara.Ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang sprei-nya sudah mulai pudar.Perutnya berbunyi nyaring, melilit perih hingga membuat ulu hatinya terasa panas. Ia belum makan sejak pagi, dan gorengan dingin yang ia telan sebelum kelas tadi seolah tidak meninggalkan jejak apa pun di lambungnya.Sari bangkit, merangkak perlahan menuju su

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   2. SPION PECAH

    Arya turun dari mobilnya. Suara pintu mobil yang tertutup terdengar seperti dentuman palu hakim di telinga Sari.Dari posisi tersungkur di aspal, ia melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang berkilat sempurna melangkah mendekat.Perlahan, bayangan tubuh yang tinggi dan tegap mulai menutupi tubuh mungil Sari yang gemetar, merampas cahaya sore dan menggantinya dengan aura dingin yang menyesakkan.Sari masih terduduk lemas. Sikunya yang menghantam aspal terasa panas dan berdenyut, ada darah segar yang mulai merembes dari luka lecet di sana, bercampur dengan debu jalanan.Namun, rasa perih itu tidak sebanding dengan kengerian yang menjalar saat melihat Arya berdiri tepat di hadapannya.Arya tidak langsung bicara. Ia hanya berdiri di sana, memasukkan satu tangan ke saku celana kainnya yang tampak sangat halus, sementara tangan lainnya memegang kacamata hitam. Matanya menyapu spion mobil yang tergantung mengenaskan, lalu turun menatap Sari yang tampak kacau."Ma-maaf, Pak... saya benar-be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status