Share

534. HAMIL?

last update Last Updated: 2026-01-07 11:44:36
Wanda melangkah gontai menuju koridor yang sepi. Di sana, ia membiarkan air matanya tumpah, menangis seorang diri meratapi kehancuran hubungan dengan ibu kandungnya.

Sementara itu, di depan ruang penyidik, Cipta baru saja melangkah keluar. Wajahnya tampak lelah namun tetap profesional. “Gendis, sekarang giliran kamu ke ruangan. Nanti baru gantian dengan Rain," ucap Cipta lembut.

“Oke, Mas," sahut Gendis. Sebelum melangkah masuk, ia menyempatkan diri memeluk Rain erat, mencari kekuatan sejenak dari suaminya sebelum menghadapi proses hukum yang melelahkan itu.

“Bagaimana tadi?" tanya Rain pelan setelah Gendis masuk. Ia masih duduk di samping sofa, menjaga Bima dengan penuh kewaspadaan.

“Aman. Yuni memberikan keterangan yang jujur dan sangat kooperatif. Tinggal pemeriksaan terakhir nanti... Mama," jawab Cipta sambil mengalihkan pandangannya pada Bima yang masih tertidur pulas, seolah tak terganggu oleh badai yang sedang terjadi di sekitarnya.

Tak lama kemudian, Yuni keluar dari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PELAN PELAN SAYANG   561. SESEORANG YANG MELINDUNGI MARTHA, SIAPA?

    ​“Gimana, Mas?” tanya Wanda cemas malam itu. Ia langsung bangkit dari duduknya saat mendapati Cipta baru saja menginjakkan kaki di kamar mereka tepat pukul sebelas malam. “Minum dulu, Sayang. Biar aku ambilin, ya?” ​“Kamu istirahat aja, Sayang. Tiduran aja di sana, aku bisa ambil sendiri,” sahut Cipta lembut. Ia melemparkan kunci motornya ke atas meja rias, lalu memberikan senyum lelah namun menenangkan. “Yang pasti, besok pagi ruang kerja suami kamu ini bakal disulap jadi ruang konsultasi kesehatan.” ​Cipta mulai membuka kancing pakaiannya satu per satu. Wanda kembali duduk di tepi ranjang, memerhatikan setiap gerak-gerik suaminya dengan tatapan haru. ​“Jadi... kamu rela berkorban demi Mama, Sayang?” tanya Wanda, suaranya sedikit bergetar karena rasa tidak percaya sekaligus bangga. ​“Harus, dong. Siapa lagi kalau bukan kita dan adik kamu, yang bantuin dia?” ucap Cipta. ​Kini pria itu sudah bertelanjang dada, menyisakan celana jinsnya saja saat ia melangkah menuju kamar mand

  • PELAN PELAN SAYANG   560. DOKTER RETNO TAK DAPAT IZIN DARI CIPTA?

    ​“Pak Cipta, ada yang mau bertemu,” ucap salah seorang anggota polisi yang menghampiri Cipta malam itu. ​“Suruh masuk sekarang,” sahut Cipta singkat. ​Penampilannya malam itu tampak sangat santai, jauh dari kesan kaku seorang penyidik. Ia hanya mengenakan kaos oblong berwarna gelap dan celana jins, mengingat jam kantor resminya memang sudah berakhir beberapa jam yang lalu. ​“Saudara Cipta?” tegur Retno saat memasuki ruangan. Ia segera mengulurkan tangan untuk menjabat tangan pria di hadapannya. ​“Iya, benar saya, Bu. Silakan duduk,” ucap Cipta ramah, mempersilakan Dokter Retno menempati kursi di depan mejanya. ​Retno memperhatikan penampilan Cipta sejenak sebelum duduk. “Sepertinya jam kerja Anda sudah habis, ya? Saya mengganggu waktu istirahat Anda tidak?” tanya Retno merasa sedikit tidak enak hati. ​Cipta terkekeh pelan, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang tampak sudah tua. “Kebetulan saya baru sampai sepuluh menit yang lalu dari rumah, terpanggil lagi karena

  • PELAN PELAN SAYANG   559. GENDIS TAKUT KALAU MARTHA...

    “Apa maksud kamu, Rain? Apa yang dilakukan Ibu Martha pada Bima?” tanya Dokter Retno dengan suara yang hampir berbisik, tangannya gemetar saat ia kembali memegang berkas medis di atas meja. Gendis yang berada di samping Rain mulai terisak pelan, tidak sanggup lagi menahan beban kenyataan bahwa ibu mertuanya sendiri adalah ancaman nyata bagi keselamatan buah hatinya. “Mama saya sering melakukan tindakan kekerasan sama cucunya sendiri. Dari yang paling disebut ringan, sampai yang paling berat... yang terjadi semalam. Dia memukuli anak kami seperti memukul binatang,” ucap Rain dengan rahang mengeras. Suaranya bergetar hebat, menahan ledakan emosi dan amarah yang nyaris pecah di depan Dokter Retno. “Huh... ibu Martha... sudah sejauh itu?” gumam Dokter Retno lemas. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Benar, Bu Dokter. Dan sekarang... Mama ada di kantor polisi,” tambah Gendis dengan suara serak, tangannya sibuk menyeka

  • PELAN PELAN SAYANG   558. TERKEJUT. APAKAH SUDAH TERLAMBAT?

    ​“Yuni? Um... ya, Yuni...” sahut Gendis pelan sambil mengusap wajahnya yang masih terasa berat karena kantuk. Ia beranjak dari sofa dengan sangat hati-hati, seolah takut gerakan sekecil apa pun akan mengusik tidur pulas Rain. ​“Bu...” panggil Yuni lagi dari balik pintu. ​“Sebentar...” Gendis menyahut lirih seraya membuka pintu kamar sedikit saja. ​“Maaf mengganggu, Bu... Ada tamu di depan,” ucap Yuni dengan wajah sungkan. ​“Tamu? Siapa yang dateng jam segini?” tanya Gendis heran. ​“Sepertinya penting, Bu. Seorang perempuan, saya agak lupa namanya tadi...” jawab Yuni mencoba mengingat. ​Gendis tertegun sejenak, lalu teringat ucapan Rain tadi. “Oh? Iya, iya! Suruh masuk sekarang!” perintahnya pada Yuni dengan nada mendesak. ​“Baik, Bu.” Yuni segera berlalu untuk menjemput Dokter Retno. ​Gendis menyempatkan diri merapikan rambut dan pakaiannya di depan cermin sebelum berbalik untuk membangunkan suaminya. Ia mengusap bahu Rain dengan lembut. “Sayang, bangun... Dokter Retno

  • PELAN PELAN SAYANG   557. KEHADIRAN DOKTER RETNO. BERPENGARUH KAH?

    ​“Ada dokter yang nyariin Mama,” ucap Rain pelan sambil meletakkan Bima dengan hati-hati di atas ranjang. Ruangan itu seketika terasa sejuk, sistem pendingin udara otomatis menyesuaikan suhunya demi kenyamanan bayi yang baru saja masuk ke dalam kamar mewah tersebut. ​“Dokter? Emangnya, Mama sakit apa?” tanya Gendis heran. Ia menoleh ke arah suaminya dengan kening berkerut. ​“Dia nggak ada keliatan lagi sakit, sehat banget, malah... makannya banyak. Dan sekarang aja dia masih sanggup berurusan di kantor polisi,” sahut Gendis dengan nada yang masih menyimpan kekesalan. Ia segera membantu Yuni merapikan mainan Bima ke dalam lemari dan meletakkan tas anaknya. Setelah tugasnya selesai, Yuni berpamitan keluar kamar untuk menyiapkan makan malam. ​“Saya curiga...” gumam Rain. Ia duduk di sofa panjang di sudut kamar Bima, lalu menarik tangan Gendis agar duduk di pangkuannya. ​“Kenapa, Mas?” tanya Gendis lembut. Ia menyandarkan tubuhnya pada dada bidang suaminya, sementara matanya tetap

  • PELAN PELAN SAYANG   556. DOKTER YANG MENCARI RAIN. ADA APA?

    ​“Ibu Martha, ada?” ​Sore itu, seorang wanita berusia sekitar 45 tahun dengan pakaian formal yang rapi tampak berdiri di depan gerbang. Ia baru saja tiba di kediaman mewah orang tua Rain dengan raut wajah yang tidak tenang. ​“Ibu Martha kebetulan sedang di rumah anak mantunya, Bu. Tidur di sana sejak kemarin. Ada perlu apa, ya?” tanya Ujang, sang sopir, yang saat itu sedang sibuk mencuci mobil di depan garasi. ​“Waduh... gawat kalau begitu...” gumam wanita itu dengan nada bicara yang penuh kecemasan. ​“Kenapa ya, Bu?” tanya Ujang heran. Ia menghentikan aktivitasnya dan melangkah mendekat ke arah pagar. ​“Saya ini psikolog pribadinya, nama saya Retno. Dan... Ibu Martha sudah dua bulan lebih tidak datang ke klinik. Dia juga sama sekali tidak menebus resep obatnya,” ucap Retno. Tangannya bergerak cepat, mencoba menghubungi ponsel Martha, namun tampaknya tidak ada jawaban. ​“Klinik? Obat? Oh... iya, iya! Saya baru ingat. Ibu Retno ini dokternya Ibu Martha toh? Pantas wajahnya t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status