Beranda / Rumah Tangga / PELAN PELAN SAYANG / 639. HALUSINASI MARTHA SEMAKIN MENGERIKAN.

Share

639. HALUSINASI MARTHA SEMAKIN MENGERIKAN.

last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-12 14:04:50

“Dasar iri. Maklum, Pa, mereka itu kan memang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Maklumlah. Jadi, Papa rindu sama Mama?” tanya Martha sembari tersenyum genit, menatap nanar ke arah udara kosong yang ia yakini sebagai sosok Brawijaya.

Ani, yang mendengar ucapan itu dari balik selimut, hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang karena ngeri; mendengar Martha merayu seseorang yang tidak ada di sana adalah pemandangan paling mencekam yang pernah ia alami selama di penjar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • PELAN PELAN SAYANG   639. HALUSINASI MARTHA SEMAKIN MENGERIKAN.

    “Dasar iri. Maklum, Pa, mereka itu kan memang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Maklumlah. Jadi, Papa rindu sama Mama?” tanya Martha sembari tersenyum genit, menatap nanar ke arah udara kosong yang ia yakini sebagai sosok Brawijaya. Ani, yang mendengar ucapan itu dari balik selimut, hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang karena ngeri; mendengar Martha merayu seseorang yang tidak ada di sana adalah pemandangan paling mencekam yang pernah ia alami selama di penjara. “Tolong bilangin sama Rain, Pa. Dia jahat sama Mama. Mama dipenjara karena dia,” ucap Martha kepada sang suami malam itu, suaranya bergetar antara kebencian dan kebutuhan akan pembelaan. Sementara itu, Ani mencoba menutup telinganya rapat-rapat, merapatkan selimut hingga ke kepala karena tak ingin ikut menjadi ‘gila’ hanya dengan mendengar percakapan satu arah yang mengerikan itu. Tak lama, Diah, penghuni sel lainnya, terbangun. Ia mengusap wajahnya pelan, merasa kerongkongannya kering da

  • PELAN PELAN SAYANG   638. HALUSINASI MARTHA DI JAM MALAM, MEMBUAT TAHANAN LAIN TERGANGGU.

    Pukul satu malam, keheningan mencekam menyelimuti lorong sel tempat Martha ditahan. Di luar sana, hanya terdengar suara sayup dari penghuni lain yang masih terjaga, mungkin tengah meratapi nasib atau sekadar menatap jeruji besi. Suara langkah sepatu para sipir dan derit pintu besi sesekali memecah sunyi, menandakan aktivitas administratif yang tak pernah berhenti 24 jam penuh. “Duh... dingin banget,” gumam Martha sembari menarik selimut tebalnya. Selimut dengan merek ternama itu—satu dari sedikit kemewahan yang diizinkan masuk—selalu ia gunakan untuk membungkus dirinya dari dinginnya lantai semen. “Ma,” Tiba-tiba, sebuah suara bariton menyusup ke dalam rungu Martha. Ia merasa sangat tidak asing dengan panggilan itu. Seketika, Martha membuka matanya, menatap ke arah langit-langit sel yang hanya diterangi lampu temaram kekuningan. “Siapa ya?” ucapnya pelan. Jantungnya mulai berdegup tidak beraturan. Ia menoleh ke sisi kanan, menatap sudut ruangan yang kosong. “Mama, ayo keluar

  • PELAN PELAN SAYANG   637. BERPISAH

    Usai makan malam yang penuh kehangatan sekaligus ketegangan rahasia, mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah di lobi restoran. “Mbak, ini buat Mbak dari aku. Terima ya, Mbak...” ucap Gendis sembari menyerahkan kantong kertas elegan berisi sepasang jam tangan mewah untuk Wanda dan Cipta sebagai kado perpisahan sebelum mereka bertolak ke Surabaya. “Astaga, Gendis? Ini mahal, lho. Kamu tuh sering banget kasih Mbak barang,” ucap Wanda dengan mata berkaca-kaca, tersenyum penuh haru menerima pemberian adik iparnya tersebut. “Enggak juga, kok, Mbak. Aku suka kasih barang sama Mbak karena Mbak selalu menghargai pemberian aku. Terbukti, malam ini pakai tas hadiah ulang tahun dari aku, tuh...” sahut Gendis sembari melirik tas cantik yang tersampit di bahu Wanda. “Jelas, dong... Cara kita menghargai pemberian orang terkasih ya dipakai, bukan dipajang aja di lemari. Tapi... sekali lagi terima kasih, ya. Ini kado terindah yang terlalu sering Mbak terima dari orang kesayangan sebelum kita

  • PELAN PELAN SAYANG   636. TEGANG!

    “Persiapan udah 100%?” tanya Rain pada Cipta saat mereka berempat duduk di kursi yang telah mereka pesan sebelumnya. “Ah... udah melebihi malah. Biasa... Mbak kamu ini, bawaannya paling banyak, overload. Jelas harus bayar bagasi lebih nanti di pesawat,” ucap Cipta sambil tertawa kecil menatap Wanda yang ada di sisinya. “Yah... bakal jauh deh. Walaupun bisa ke sana pakai mobil, tetap aja berasa jauh. Jadi kangennya bakal berasa banget sama kalian,” ucap Gendis pada Wanda dan Cipta dengan nada sedikit sedih. “Tenang aja, kita usahakan waktu buat ketemu sebulan sekali aja, lumayan kan?” sahut Wanda mencoba menghibur adik iparnya itu. “Dan... kami berdua pasti doain Mama terus dari sana dan titip salam untuk Mama juga. Karena besok udah harus berangkat pesawat pagi,” tambah Cipta. “Tenang aja, Mama di tangan yang tepat,” ucap Rain sambil tertawa pelan dan merangkul pundak Gendis, berusaha menutupi sedikit kegelisahan yang tadi sempat ia bahas bersama istrinya di mobil. Makanan

  • PELAN PELAN SAYANG   635. MAKAN MALAM TERAKHIR....

    “Ngobrol apa sama Yuni?” tanya Rain malam itu. Ia tampak sedang mengenakan celana boxer di depan cermin, sementara Gendis baru saja akan mengenakan bra. “Nah, itu dia yang mau aku ceritain ke kamu, Mas,” ucap Gendis sembari menoleh. Rain pun mendekat, membantu mengaitkan bra itu perlahan dengan gerakan yang penuh perhatian. “Yuni tanya ke aku soal kondisi Mama. Aku bilang Mama banyak perubahan, dia baik-baik aja, sehat juga; pokoknya aku cerita aja seperti yang aku lihat tadi siang. Terus dia cerita kayak ragu gitu sama kondisi Mama yang berubah tiba-tiba, karena habis nonton soal berita kesehatan gitu, pas lagi bahas mengenai DHD,” jelas Gendis serius. Rain terhenti sejenak, tangannya masih berada di bahu Gendis. Istilah DHD atau gangguan delusi itu seolah menyentuh saraf sensitif di kepalanya. Ia tahu Yuni bukan tipe orang yang suka mengarang cerita, dan kecurigaan itu kini mulai merayap masuk ke dalam benak Rain sendiri. “Jadi... dengan kata lain, Mama tadi siang cuma...” R

  • PELAN PELAN SAYANG   634. MARTHA MENDADAK MENGALAMI DHD DI LAPAS?

    “Aku cinta sama kamu, Mas...” bisik Gendis dengan suara serak. Kakinya masih terasa sedikit gemetar setelah pertempuran panas yang baru saja berakhir dengan ledakan gairah yang hebat. Rain tersenyum tipis, penuh kemenangan sekaligus kasih sayang. Ia segera menarik Gendis ke dalam dekapannya, membawanya duduk di atas kloset duduk yang tertutup dan memangku istrinya itu dengan posesif. Ia ingin menenangkan napas Gendis yang masih belum sepenuhnya teratur. “Capek nggak?” tanya Rain pelan. Jemarinya yang besar bergerak lembut, mengusap perut rata istrinya dengan gerakan melingkar yang protektif, seolah sedang menyapa kehidupan kecil yang mungkin sedang tumbuh di sana. “Banget, Sayang. Tapi aku suka dan aku harus layani kamu,” ucap Gendis tulus. Ia menyandarkan punggungnya pada dada bidang Rain, mencari kenyamanan dari sisa-sisa kehangatan tubuh suaminya. “Maaf, kalau saya terlalu sering menguras tenaga kamu tiap kali kita berhubungan seks,” ucap Rain penuh ketulusan. “Untung aja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status