FAZER LOGINUsai makan malam yang penuh kehangatan sekaligus ketegangan rahasia, mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah di lobi restoran. “Mbak, ini buat Mbak dari aku. Terima ya, Mbak...” ucap Gendis sembari menyerahkan kantong kertas elegan berisi sepasang jam tangan mewah untuk Wanda dan Cipta sebagai kado perpisahan sebelum mereka bertolak ke Surabaya. “Astaga, Gendis? Ini mahal, lho. Kamu tuh sering banget kasih Mbak barang,” ucap Wanda dengan mata berkaca-kaca, tersenyum penuh haru menerima pemberian adik iparnya tersebut. “Enggak juga, kok, Mbak. Aku suka kasih barang sama Mbak karena Mbak selalu menghargai pemberian aku. Terbukti, malam ini pakai tas hadiah ulang tahun dari aku, tuh...” sahut Gendis sembari melirik tas cantik yang tersampit di bahu Wanda. “Jelas, dong... Cara kita menghargai pemberian orang terkasih ya dipakai, bukan dipajang aja di lemari. Tapi... sekali lagi terima kasih, ya. Ini kado terindah yang terlalu sering Mbak terima dari orang kesayangan sebelum kita
“Persiapan udah 100%?” tanya Rain pada Cipta saat mereka berempat duduk di kursi yang telah mereka pesan sebelumnya. “Ah... udah melebihi malah. Biasa... Mbak kamu ini, bawaannya paling banyak, overload. Jelas harus bayar bagasi lebih nanti di pesawat,” ucap Cipta sambil tertawa kecil menatap Wanda yang ada di sisinya. “Yah... bakal jauh deh. Walaupun bisa ke sana pakai mobil, tetap aja berasa jauh. Jadi kangennya bakal berasa banget sama kalian,” ucap Gendis pada Wanda dan Cipta dengan nada sedikit sedih. “Tenang aja, kita usahakan waktu buat ketemu sebulan sekali aja, lumayan kan?” sahut Wanda mencoba menghibur adik iparnya itu. “Dan... kami berdua pasti doain Mama terus dari sana dan titip salam untuk Mama juga. Karena besok udah harus berangkat pesawat pagi,” tambah Cipta. “Tenang aja, Mama di tangan yang tepat,” ucap Rain sambil tertawa pelan dan merangkul pundak Gendis, berusaha menutupi sedikit kegelisahan yang tadi sempat ia bahas bersama istrinya di mobil. Makanan
“Ngobrol apa sama Yuni?” tanya Rain malam itu. Ia tampak sedang mengenakan celana boxer di depan cermin, sementara Gendis baru saja akan mengenakan bra. “Nah, itu dia yang mau aku ceritain ke kamu, Mas,” ucap Gendis sembari menoleh. Rain pun mendekat, membantu mengaitkan bra itu perlahan dengan gerakan yang penuh perhatian. “Yuni tanya ke aku soal kondisi Mama. Aku bilang Mama banyak perubahan, dia baik-baik aja, sehat juga; pokoknya aku cerita aja seperti yang aku lihat tadi siang. Terus dia cerita kayak ragu gitu sama kondisi Mama yang berubah tiba-tiba, karena habis nonton soal berita kesehatan gitu, pas lagi bahas mengenai DHD,” jelas Gendis serius. Rain terhenti sejenak, tangannya masih berada di bahu Gendis. Istilah DHD atau gangguan delusi itu seolah menyentuh saraf sensitif di kepalanya. Ia tahu Yuni bukan tipe orang yang suka mengarang cerita, dan kecurigaan itu kini mulai merayap masuk ke dalam benak Rain sendiri. “Jadi... dengan kata lain, Mama tadi siang cuma...” R
“Aku cinta sama kamu, Mas...” bisik Gendis dengan suara serak. Kakinya masih terasa sedikit gemetar setelah pertempuran panas yang baru saja berakhir dengan ledakan gairah yang hebat. Rain tersenyum tipis, penuh kemenangan sekaligus kasih sayang. Ia segera menarik Gendis ke dalam dekapannya, membawanya duduk di atas kloset duduk yang tertutup dan memangku istrinya itu dengan posesif. Ia ingin menenangkan napas Gendis yang masih belum sepenuhnya teratur. “Capek nggak?” tanya Rain pelan. Jemarinya yang besar bergerak lembut, mengusap perut rata istrinya dengan gerakan melingkar yang protektif, seolah sedang menyapa kehidupan kecil yang mungkin sedang tumbuh di sana. “Banget, Sayang. Tapi aku suka dan aku harus layani kamu,” ucap Gendis tulus. Ia menyandarkan punggungnya pada dada bidang Rain, mencari kenyamanan dari sisa-sisa kehangatan tubuh suaminya. “Maaf, kalau saya terlalu sering menguras tenaga kamu tiap kali kita berhubungan seks,” ucap Rain penuh ketulusan. “Untung aja
“Sayang, ayo mandi,” ajak Rain saat melihat istrinya baru saja memasuki kamar sore itu. Rain sudah berada di dalam kamar mandi, mempersiapkan diri untuk melepas penat setelah hari yang panjang. “Tunggu sebentar, Sayang! Jangan tinggalin aku!” sahut Gendis sambil tertawa kecil. Ia segera menanggalkan pakaiannya dengan gerakan cepat, tak ingin kehilangan momen kebersamaan dengan suaminya. “Sayang...” panggil Rain lagi dari dalam bathtub yang sudah dipenuhi busa hangat, suaranya terdengar berat dan menggoda. “Tungguin!” seru Gendis. Ia berlari kecil menuju kamar mandi; tubuhnya yang indah bergerak alami mengikuti langkahnya yang tergesa. Tak lama, Gendis pun menyusul masuk ke dalam bathtub. Mereka berdua bertemu dalam dekapan air hangat yang menenangkan. Rain segera menarik pinggang istrinya agar duduk bersandar pada dadanya, membiarkan keheningan sore itu diisi oleh suara percikan air dan detak jantung mereka yang mulai berirama. “Kenapa tadi lama banget, Sayang?” tanya Rain dengan
“Jadi, Cipta sama Wanda mau pindah?” tanya Martha siang itu, sembari menikmati makan siang bersama anak, menantu, dan cucunya. “Iya, Ma. Dinas di sana,” ucap Wanda sambil mengunyah makanannya perlahan. “Tapi tenang, Ma. Dekat kok, Surabaya,” sahut Gendis menimpali, juga sembari menikmati hidangan yang dibawa oleh Rain. Sementara itu, Rain dan Cipta tampak asyik berbincang mengenai pekerjaan dan rencana kepindahan tersebut. Mereka menikmati makan siang dengan lahap, sementara Bima duduk manis di samping ayahnya sambil sesekali menjalankan mobil mainan kecilnya di atas meja. Suasana rutan yang biasanya dingin dan kaku, siang itu sama sekali tidak membuat mereka risih. Malahan, momen tersebut terkesan hangat dan santai, seolah-olah mereka sedang berpiknik atau berlibur bersama di tempat biasa. “Mama cuma bisa berdoa dari sini supaya kalian bahagia dan sehat di sana, ya. Jaga baik-baik kandungan kamu, Wanda. Gendis juga, ini anak kedua, kamu harus sehat, ya,” ucap Martha penuh kas







