LOGIN
“Apa ini pilihan tepat? Tapi aku baru pertama masuk tempat seperti ini.”
Di depan gerbang klub malam, sosok gadis cantik berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Matanya mengikuti deretan mobil mewah yang berjejer rapi untuk menjadi para tamu-tamunya. Pandangannya tajam, sementara pikirannya tak teratur, semuanya saling bersilangan hingga suara notifikasi ponselnya memotong hembusan udara hangat malam. Zavira terkejut, pundaknya sedikit melompat ke atas. Tangan kirinya langsung menyelinap ke dalam saku celana jeansnya, mencari ponselnya. Ketika layar menyala menerangi wajahnya, nama “Ibu” terpampang jelas. Ia segera menggeser ikon hijau ke kanan. “Iya, Bu …,” panggilnya dengan suara lembut. Dari ujung lain sambungan, terdengar suara tangisan yang lembut namun menusuk hati. Kening Zavira mengkerut. “Ibu, ada apa?” tanya Zavira. Hanya hening yang menjawab. Tak ada kata pun yang keluar dari sisi lain, hanya irama tangisan yang terputus-putus dan bergema di dalam telinganya. Zavira memanggil nama ibunya lagi—sekali, dua kali, hingga yang ketiga kalinya, namun tangisan itu tetap saja menjadi satu-satunya jawaban yang ia terima. “Ibu, apa yang terjadi?!” “Kalian harus melunasinya dalam sebulan penuh!” Suara wanita menggelegar melalui ujung ponsel, tajam seperti cambuk yang menyambar. “Kalau tidak, angkat kaki dari rumah itu atau aku pastikan kalian berdua membusuk di balik jeruji besi!” Zavira membeku seketika. Suara itu bukan dari ibunya, tapi dari siapa lagi kalau bukan Bu Wulan, orang yang selama ini menyiksa mereka dengan utang yang tak ada ujungnya. Dan dari balik layar, ia bisa mendengar napas terengah-engah adiknya yang masih kecil. “Teteh … dimana? Iki takut banget,” isaknya pelan yang tertahan, terdengar seperti sedang bersembunyi. Zavira bisa membayangkannya jelas. Adiknya yang kecil itu pasti sedang menyelinap di balik lemari kayu di ruang tamu, tubuhnya menggigil sambil menutup mulut agar tangisannya tidak terdengar. Tangan Zavira mengepal dengan erat. Sakit yang menusuk dadanya seperti ditusuk sembilu tajam. “Ya Allah, Iki, dengerin teteh baik-baik ya. Kamu tetap sembunyi sampai Bu Wulan pergi ya. Teteh janji, akan pulang dan membawa uang.” “Ibu sama Bapak lagi dimarahin Bu Wulan, Teh. Bapak sampai dipukul,” adu Zikri dengan terisak. Tangan Zavira terkepal hingga kukunya menancap dan memutih. “Dasar manusia iblis,” geramnya dalam hati. “Maafin, Teteh, Ki. Teteh nggak ada disana. Kamu sembunyi sampai lintah darat itu pergi.” “Iya, Teh. Teteh cepet pulang bawa uang. Kasihan ibu sama bapak.” Panggilan langsung terputus, membuat Zavira menghela nafas panjang. Pikirannya berantakan, tapi satu hal yang jelas: ia harus membayar utangnya sekarang. “Maafkan aku ya Allah.” Tanpa ragu lagi, ia melangkah masuk ke dalam klub malam yang suara musiknya kini semakin menggelegar di telinganya. Meskipun langkahnya terlihat mantap, benaknya benar-benar kacau dan buntu—uang dibutuhkan secepat kilat, dan satu-satunya jalan yang ia lihat ada di dalam ruangan ini. Di loket depan, ia mendekati seorang wanita yang mengenakan seragam hitam pekat. “Permisi, boleh saya tahu dimana ruang manajer berada?” Wanita itu mengangkat alisnya, kemudian menatap Zavira dari helai rambut yang tertutup syal hingga ujung tumit sepatunya. Tanpa banyak bicara, ia mengangkat jari manisnya dan menunjuk ke arah belakang. “Lantai dua, lurus terus lalu belok kanan. Kantor Pak Daniel ada di situ.” Zavira mengangguk pelan dan mengucapkan terima kasih sebelum bergerak menuju anak tangga yang dingin di bawah telapak kakinya. Langkahnya semakin berat saat mendekati pintu yang bersulam nama “Manajemen” di bagian atas pintunya. Ia baru saja hendak mengangkat tangan untuk mengetuk, ketika pintu tiba-tiba terbuka dan seorang pria keluar dengan wajah yang tampak sedikit panik. “Pak, saya Zavira,” ujarnya gugup. Pria itu menunjuk Zavira, kemudian menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Seulas senyum tipis melintas di bibirnya, namun tatapannya jauh dari kata ramah. “Kamu masih perawan nggak?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. Pertanyaan itu seperti petir yang menyambar di tengah malam—Zavira tercengang seketika. Kata-kata itu tak masuk akal sama sekali di benaknya. “Maaf, maksud Bapak apa, ya?” “Saya tanya lagi, kamu masih perawan atau tidak?!” tanya pria itu tergesa, seolah ada sesuatu yang harus segera diselesaikan. Zavira menatapnya kebingungan, kemudian mengangguk perlahan. Gerakannya penuh keraguan, seolah ia sendiri tidak yakin dengan apa yang dikatakannya. Tak ada kesempatan baginya untuk bertanya lebih jauh; pria itu dengan cepat menarik tangannya dan menyeretnya masuk ke dalam toilet, kemudian memberikan seragam ke tangan Zavira dengan gerakan kasar. Zavira menangkap baju itu dengan tergesa-gesa, jari-jarinya sedikit menggigil. Kepalanya berputar kacau, apa hubungannya status dirinya dengan pekerjaan yang ia lamar? Semua hal yang terjadi rasanya tak masuk akal sama sekali. “Tunggu apalagi?! Cepat ganti baju sekarang juga!” perintahnya tegas. “Kamu butuh uang kan?” Tanpa pilihan lain, Zavira hanya bisa mengangguk pelan. Ia menutup pintu dan mulai melepas pakaiannya dengan tangan bergetar. Seragam yang telah diberikan ini rasanya begitu sangat tidak nyaman di tubuhnya. Apalagi terlihat begitu terbuka dengan rok mini diatas pahanya. Ia menatap dirinya di pantulan cermin dengan tatapan tak percaya. “Sudah selesai belum? Cepat keluar!6& Jangan membuat saya tunggu lama!” teriak pria itu terdengar keras dari luar. “I—iya, Pak!” Zavira tersentak. Gegas ia keluar dengan langkah ragu. Sedangkan, Daniel yang berada di hadapannya tersenyum tipis, seolah mengagumi paras Zavira yang menawan. “Perfect! Sekarang, tugas kamu cuma satu. Antar minuman ke ruangan VIP nomor 305. Di situ ada seorang tamu yang sedang marah. Kamu tinggal layani dia dengan baik saja.” Zavira membeku di tempatnya, tatapan matanya penuh kebingungan. “Tapi Pak, saya datang untuk bekerja.” Wajah Daniel tiba-tiba berubah menjadi serius, alisnya menyatu membentuk garis tajam. “Kamu butuh uang cepat, bukan? Dia bisa memberi kamu jumlah yang banyak.” “Tapi saya—” “Sudah jangan banyak ngomong!” Kalimatnya terpotong mendadak ketika Daniel langsung menarik lengannya dengan kuat, tanpa basa-basi membawanya keluar dari ruangan kantor menuju ruangan VIP. Zavira hanya bisa pasrah mengikuti langkahnya, jantungnya berdebar kencang seperti ingin melompat keluar dari dada. Di ujung lorong, ada sebuah ruangan kecil yang di dalamnya rak minuman sudah tersusun rapi. Dari balik pintu kayu tebal di sebelahnya terdengar suara keras, seolah ada sesuatu yang dibanting ke lantai. “Mana gadis yang aku pesan?! Apa Daniel tidak bisa menemukannya?” “Saya yakin dia sedang mencarinya, Pak!” Seorang pria berpakaian formal, berusaha menenangkan. “Siena, sialan!” umpat Xafier Leonardo Sebastian. “Permisi!” Daniel langsung membuka pintunya dan menarik Zavira masuk ke dalam. Tubuh Zavira mendadak tegang. Nampak seorang pria duduk dengan kaki bersilang, jari kanannya menggenggam batang rokok yang masih menyala, meskipun matanya berkabut. Hawa panas menjalar ke setiap tubuhnya. “Ini yang Pak Xafier minta, Pak,” ucap Daniel, menghadap pria yang berdiri tegak di sisi sofa. Samuel menatap Zavira dengan tatapan yang menyelidiki. “Kamu yakin dia bersih? Bebas dari segala macam masalah?” “Saya jamin, Pak! Aman!” Zavira mengerutkan kening. “Apa maksudnya ini?” Tiba-tiba, pria yang disebut Xafier berdiri perlahan. Badannya yang tinggi membuat Zavira merasa semakin kecil. Ia menatapnya dengan mata yang merah memerah, kemudian menarik lengannya dengan kuat. “Aku mau dia!” ucapnya dengan suara yang berat, lalu mengangkat tangan untuk menyuruh kedua pria itu keluar dari ruangan. Tanpa kesempatan untuk berlari, Zavira langsung didorong perlahan hingga punggungnya menyentuh permukaan kasur yang lembut. Dia mencoba mengangkat tubuhnya, tapi sebelum bisa berbuat apa-apa, pria itu sudah menindih tubuhnya dengan berat, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali. “Layani saya!”Zavira mendesis di antara deretan giginya, suaranya rendah namun sarat amarah yang ditahan paksa. “Bapak benar-benar gila!”Xafier sama sekali tidak terkejut. Tatapannya tetap tenang, dingin, nyaris tanpa emosi, seolah kata-kata Zavira barusan tak lebih dari hembusan angin.“Saya bukan gila,” balasnya datar. “Saya hanya tidak suka tawar-menawar. Dan keputusan saya bukan sesuatu yang bisa dibantah.”Ucapan itu membuat Zavira refleks mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Kukunya menekan telapak hingga nyaris terasa perih. Ia menatap Xafier tajam, penuh perlawanan, sementara pria itu membalasnya dengan sorot mata yang sama tajamnya namun tanpa emosi sedikit pun.Detik-detik berlalu dalam keheningan yang mencekik.Zavira menghela napas panjang. Dalam-dalam. Ia memaksa dadanya yang naik turun untuk kembali stabil. Ia sadar, sedikit saja ia kehilangan kendali, keluarganya pasti akan curiga. Terlebih ayah dan ibunya sudah terlihat gelisah sejak tadi.Sorot mata Zavira berubah. Tak lagi setaja
“Zavira, bangun, Nak,” isak Bu Farida. Tangannya yang sedikit kurus mengusap kening putrinya yang dingin. “Kenapa Zavira belum bangun, Pak?”“Bapak juga nggak tahu, Bu,” lirih Pak Herman penuh sesal dan rasa bersalah. “Maafkan, Bapak, Zavira. Bapak memang tidak berguna.” Dia merasa gagal menjadi kepala keluarga. Bukannya menjadi tempat sandaran tapi penyakit yang diderita dan kecelakaan kerja, membuatnya malah menjadi beban bagi putrinya.“Teteh, bangun, Teh,” isak Zikri histeris.Suara itu membuat bola mata Zavira terbuka pelan-pelan. Saat sadarnya kembali, sekelilingnya keluarga tengah panik. Rasa bersalah, lelah dan trauma bercampur di dadanya, hanya sedikit lega karena setidaknya hutang keluarganya sudah dilunasi.“Pak, Bu, Ki!” panggil Zavira lemahBu Farida langsung mendekat, memeluk tubuh Zavira dengan erat. Isak tangisnya kembali pecah di balik tubuh Zaviram “Alhamdulillah, Ya Allah. Zavira. Kamu sadar, Nak!”“Alhamdulilah, Bapak sangat khawatir kamu nggak sadar-sadar, Nak.
Zavira membeku.Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan mana pun.“Istri simpanan?” ulangnya lirih, suaranya bergetar antara tidak percaya dan marah.Ia mendongak, menatap Xafier dengan mata yang memerah. Ada kilat amarah, ada luka yang bercampur dengan rasa jijik karena merasa direndahkan sedemikian rupa. Dadanya sesak.“Bapak pikir aku apa?” Suara Zavira meninggi. “Perempuan murahan yang bisa Anda beli begitu saja?”Tangannya mencengkeram selimut lebih erat, seolah itu satu-satunya pelindung yang ia miliki sekarang. “Aku bukan pelacur,” ucapnya tegas, meski suaranya sempat bergetar di akhir kalimat.Xafier hanya mengangkat sudut bibirnya, senyum tipis yang lebih mirip ejekan.“Tenang saja,” katanya dingin dan datar “Aku tidak pernah menyebutmu pelacur.”Zavira tertawa pendek, pahit. “Tapi anda menawariku posisi yang lebih hina dari itu.”Sunyi sejenak menggantung di antara mereka. Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan, terasa begitu asing di telinga Z
“Apa kamu tuli? Saya bilang layani saya sekarang!”“Sa—saya.”Tubuh Zavira menegang. Kalimat itu benar-benar tak bisa ia tangkap dengan jernih hingga membuatnya bertanya-tanya dengan semua yang terjadi ini. Tanpa berpikir panjang, kedua tangannya gegas memukul ke dada Xafier dengan kekuatan sebesar mungkin. “Lepaskan saya! Jangan sentuh saya!” teriaknya, tubuhnya berusaha menggeliat keluar dari genggamannya. Xafier hanya mengeluarkan tawa rendah. Efek obat perangsang yang sengaja diberikan Shiena, istrinya. Membuat Xafier tak bisa lagi membedakan antara batasan dan keinginan. Ia memilih pergi ke klub malam daripada meniduri wanita itu. Hanya hawa panas yang membakar setiap bagian dirinya, membuat pandangannya hanya terpaku pada sosok wanita di bawahnya.“Tolong lepaskan saya, Pak!” mohon Zavira.Tanpa memperdulikan perlawanannya, dia mendekatkan wajahnya perlahan namun pasti ke leher Zavira. Ujung bibirnya menyentuh kulitnya memberikan kecupan demi kecupan yang hangat dan sedikit
“Apa ini pilihan tepat? Tapi aku baru pertama masuk tempat seperti ini.”Di depan gerbang klub malam, sosok gadis cantik berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Matanya mengikuti deretan mobil mewah yang berjejer rapi untuk menjadi para tamu-tamunya. Pandangannya tajam, sementara pikirannya tak teratur, semuanya saling bersilangan hingga suara notifikasi ponselnya memotong hembusan udara hangat malam.Zavira terkejut, pundaknya sedikit melompat ke atas. Tangan kirinya langsung menyelinap ke dalam saku celana jeansnya, mencari ponselnya. Ketika layar menyala menerangi wajahnya, nama “Ibu” terpampang jelas. Ia segera menggeser ikon hijau ke kanan.“Iya, Bu …,” panggilnya dengan suara lembut.Dari ujung lain sambungan, terdengar suara tangisan yang lembut namun menusuk hati. Kening Zavira mengkerut.“Ibu, ada apa?” tanya Zavira.Hanya hening yang menjawab.Tak ada kata pun yang keluar dari sisi lain, hanya irama tangisan yang terputus-putus dan bergema di dalam telinganya. Zavir







