Home / Romansa / PELAN SEDIKIT, TUAN / Bab 2. Kesucian yang direnggut

Share

Bab 2. Kesucian yang direnggut

Author: Nanitamam
last update Last Updated: 2026-02-16 10:44:15

“Apa kamu tuli? Saya bilang layani saya sekarang!”

“Sa—saya.”

Tubuh Zavira menegang. Kalimat itu benar-benar tak bisa ia tangkap dengan jernih hingga membuatnya bertanya-tanya dengan semua yang terjadi ini.

Tanpa berpikir panjang, kedua tangannya gegas memukul ke dada Xafier dengan kekuatan sebesar mungkin.

“Lepaskan saya! Jangan sentuh saya!” teriaknya, tubuhnya berusaha menggeliat keluar dari genggamannya.

Xafier hanya mengeluarkan tawa rendah. Efek obat perangsang yang sengaja diberikan Shiena, istrinya. Membuat Xafier tak bisa lagi membedakan antara batasan dan keinginan. Ia memilih pergi ke klub malam daripada meniduri wanita itu.

Hanya hawa panas yang membakar setiap bagian dirinya, membuat pandangannya hanya terpaku pada sosok wanita di bawahnya.

“Tolong lepaskan saya, Pak!” mohon Zavira.

Tanpa memperdulikan perlawanannya, dia mendekatkan wajahnya perlahan namun pasti ke leher Zavira. Ujung bibirnya menyentuh kulitnya memberikan kecupan demi kecupan yang hangat dan sedikit menyakitkan di bagian leher hingga rahang bawahnya.

“Ahh, hentikan!” desah Zavira meski berusaha mencoba menahannya, tangannya bergerak gelisah tak tentu arah.

Namun bagi Xafier, suara itu seperti musik yang paling indah di telinganya. Tanpa ragu, tangannya merayap naik ke bukit kembar Zavira yang masih tertutup seragam tipis.

Kemudian ia meremasnya dengan cukup erat membuat Zavira menggeliat. Ukurannya pas sekali di genggamannya, membangkitkan hasrat yang semakin memuncak dalam dirinya.

“Argh! Apa … apa yang Bapak lakukan?! Berhenti!” ucapnya dengan suara yang gemetar.

“Apapun yang perlu kulakukan … aku akan lakukan segalanya dan membayarmu lebih dari yang kamu butuhkan. Hanya saja … turuti saja keinginanku sekarang,” ucap Xafier.

Zavira terdiam seketika. Kepalanya terasa kosong seperti kain yang hampa, sementara air matanya menetes. Pikirannya terbang cepat ke arah adiknya yang sedang bersembunyi dan utang yang harus segera dilunasi.

Xafier yang sudah tidak sabar lagi, langsung menyerang bagian yang ia idam-idamkan. Kali ini bibirnya tepat menyentuh bibir Zavira yang lembut. Ia melumatnya dengan gerakan yang kasar dan penuh hasrat, menekannya lebih dalam seolah menuntut lebih banyak dari wanita di bawahnya.

Xafier melumatnya dengan gerakan kasar namun penuh hasrat, sementara Zavira mencoba menahan setiap sensasi yang menyambar tubuhnya.

“Hnghh.”

Suara desah terlepas dari bibirnya ketika tangan Xafier menyelinap masuk ke celah rok mini, menyentuh pahanya. Ia menggeliat.

“Nggh … berhenti,” ucapnya pelan.

Xafier menghiraukan, tangannya mulai mengelus paha Zavira dari bawah ke atas. Setiap gerakan membuat kulitnya merinding, rambutnya berdiri tegak.

“Ahh!”

Zavira menggigit bibirnya hingga hampir patah, tapi desah lain keluar lagi ketika ujung jari pria itu menyentuh tubuh bawah yang sudah mulai basah.

“Kamu rasakan ini kan?” bisik Xafier dengan napas hangat di telinganya, tangannya mulai mengusapnya dengan lembut.

Zavira menghela napas terengah-engah, matanya masih tertutup erat. Air mata masih menetes di pipinya, tapi tubuhnya sudah mulai merespon setiap sentuhan.

Tanpa berkata apa-apa, Xafier menurunkan celana dalamnya. Tangannya kembali ke bawah rok, mengusap bagian yang sudah siap padanya dengan gerakan yang lebih perlahan.

“Aku hanya bertanya sekali, apakah kamu sudah siap?!”

Zavira terdiam. Bibirnya menggigil, matanya menatap ke arah wajah pria di atasnya namun tidak benar-benar melihatnya. Pikirannya bingung terbelah dua. Namun akhirnya, ia menurunkan pandangannya dan mengangguk perlahan. Demi Iki, demi utang yang harus dilunasi.

“Iya,” cicit Zavira. “Tapi tolong lakukan dengan pelan-pelan.”

Tanpa berlama-lama, Xafier mulai melepas pakaian mereka berdua dengan gerakan yang tergesa-gesa. Kain seragam Zavira terlempar ke sudut ruangan, diikuti oleh pakaian lainnya hingga kedua tubuh mereka terpapar satu sama lain.

Ketika ia melihatnya, Zavira menelan ludahnya. Pikirannya kosong seolah kehilangan semua kemampuan berpikir, tapi pikiran tentang uang yang sangat dibutuhkan membuatnya tidak bisa lagi berpaling. Tidak mungkin ia bisa pergi sekarang … ini satu-satunya cara.

“Aku akan melakukannya,” ucapnya dengan suara yang lemah namun tegas.

Xafier mengangguk, kemudian perlahan mendekatkan diri. Tangannya menopang tubuhnya agar tidak terlalu menekan Zavira, sementara ia mulai mengarahkannya ke inti tubuh gadis itu yang sudah lembab.

“Pelan-pelan, Pak. Sakit!”

“Jangan sok polos di depanku. Gadis sepertimu sudah sering aku temui. Aku bahkan ragu kamu masih suci.”

Zavira mengeram kesakitan, tubuhnya sedikit menggeliat ketika merasa bagian dirinya mulai terisi. Tangannya secara tidak sengaja menjepit bahu Xafier.

“Sial, kenapa masih sempit. Jangan-jangan dia benar-benar belum pernah melakukannya,” gumam Xafier.

Ia mendorong bruno masuk. Saat Xafier memasukkan dirinya perlahan, rasa sakit yang menusuk langsung melanda Zavira. Tubuhnya terkejut kaku, kemudian ia menjerit keras.

“Aarrgh!Sakit!”

Cairan merah mulai mengalir perlahan dari antara kedua paha nya, menandakan bahwa kesucian yang ia miliki selama ini telah hilang dalam sekejap. Xafier yang sudah dikuasai oleh obat dan gairah, tidak peduli rintihan Zafira.

Air mata Zavira mengalir deras. “Ibu … maafkan Zavira … maafkan aku.”

Lantas Xafier mulai bergerak dengan gerakan yang lambat, kemudian semakin meningkat kecepatannya seiring dengan setiap desah dan suara yang keluar dari bibir Zavira.

Napaskannya menjadi lebih berat dan kasar, wajahnya menempel pada leher Zavira sambil memberikan kecupan dan gigitan lembut di sana-sini.

Tangannya meremas si kembar rachel dan samantha dengan cukup erat, sementara gerakan tubuhnya semakin dalam dan penuh hasrat.

“Ahh …,” desah Xafier dengan suara yang terdengar hancur karena hasrat. “Aku menyukainya.”

Ia mempercepat gerakannya, tubuhnya bergoyang bersama Zavira yang kini sudah mulai merespon setiap sentuhan dan gerakan dengan tubuhnya sendiri, meskipun air mata masih terus menetes dari matanya.

Gerakan Xafier semakin dalam dan cepat, membawa keduanya menuju titik puncak.

“Ahhh!”

Dalam sekejap, pria itu mengerang rendah dan tubuhnya menggigil. Pelepasan datang dengan kuat di dalamnya.

Setelah beberapa saat, ia tidak bisa lagi menopang tubuhnya dan langsung menjatuhkan dirinya ke sisi kasur, tubuh terkulai lemas dan menempel pada sprei yang sudah berlumuran keringat dan sedikit bercak merah. Napasnya masih terengah-engah.

Sementara itu, Zavira hanya bisa terbaring tak berdaya di sisinya, tubuhnya penuh rasa sakit dan kelelahan yang luar biasa.

Tak butuh waktu lama, kantuk yang sangat kuat menyerangnya dan ia pun terlelap dalam tidur yang dalam, meskipun wajahnya masih basah oleh air mata.

Ketika mata Zavira terbuka lagi, sinar matahari pagi sudah menerobos celah tirai jendela. Tubuhnya terasa sakit di setiap bagian, terutama di area bawah.

“Ssh,” lirih Zavira pelan.

Matanya tak sengaja menangkap seorang pria yang tengah terduduk di tepi ranjang membuat Zavira segera meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.

Di sisi lain ranjang, Xafier sudah duduk tegak, sedang mengancingkan kancing kemeja putihnya dengan gerakan yang teratur. Tatapannya tenang, berbeda jauh dari kegilaan malam sebelumnya.

Zavira menundukkan kepalanya, rambutnya menutupi wajahnya yang merah karena rasa malu dan kesedihan.

“Kamu sudah bangun?” cetus Xafier dingin.

Zavira hanya terdiam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hingga seketika sebuah kartu ATM berwarna hitam elegan dilempar tepat di sisinya.

“Ini bayaranmu!” ucapnya dengan nada yang tidak bisa ditolak.

Zavira tetap tidak bergerak, pandangannya terpaku pada kartu itu.

Xafier kemudian berdiri tegak, menatapnya dengan tatapan yang mendalam dan sangat tenang.

“Aku akan membayarmu jauh lebih banyak dari itu … asalkan kamu mau menjadi istri simpananku.”

“Istri simpanan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 5. Pernikahan tanpa tawa

    Zavira mendesis di antara deretan giginya, suaranya rendah namun sarat amarah yang ditahan paksa. “Bapak benar-benar gila!”Xafier sama sekali tidak terkejut. Tatapannya tetap tenang, dingin, nyaris tanpa emosi, seolah kata-kata Zavira barusan tak lebih dari hembusan angin.“Saya bukan gila,” balasnya datar. “Saya hanya tidak suka tawar-menawar. Dan keputusan saya bukan sesuatu yang bisa dibantah.”Ucapan itu membuat Zavira refleks mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Kukunya menekan telapak hingga nyaris terasa perih. Ia menatap Xafier tajam, penuh perlawanan, sementara pria itu membalasnya dengan sorot mata yang sama tajamnya namun tanpa emosi sedikit pun.Detik-detik berlalu dalam keheningan yang mencekik.Zavira menghela napas panjang. Dalam-dalam. Ia memaksa dadanya yang naik turun untuk kembali stabil. Ia sadar, sedikit saja ia kehilangan kendali, keluarganya pasti akan curiga. Terlebih ayah dan ibunya sudah terlihat gelisah sejak tadi.Sorot mata Zavira berubah. Tak lagi setaja

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 4. Calon suami

    “Zavira, bangun, Nak,” isak Bu Farida. Tangannya yang sedikit kurus mengusap kening putrinya yang dingin. “Kenapa Zavira belum bangun, Pak?”“Bapak juga nggak tahu, Bu,” lirih Pak Herman penuh sesal dan rasa bersalah. “Maafkan, Bapak, Zavira. Bapak memang tidak berguna.” Dia merasa gagal menjadi kepala keluarga. Bukannya menjadi tempat sandaran tapi penyakit yang diderita dan kecelakaan kerja, membuatnya malah menjadi beban bagi putrinya.“Teteh, bangun, Teh,” isak Zikri histeris.Suara itu membuat bola mata Zavira terbuka pelan-pelan. Saat sadarnya kembali, sekelilingnya keluarga tengah panik. Rasa bersalah, lelah dan trauma bercampur di dadanya, hanya sedikit lega karena setidaknya hutang keluarganya sudah dilunasi.“Pak, Bu, Ki!” panggil Zavira lemahBu Farida langsung mendekat, memeluk tubuh Zavira dengan erat. Isak tangisnya kembali pecah di balik tubuh Zaviram “Alhamdulillah, Ya Allah. Zavira. Kamu sadar, Nak!”“Alhamdulilah, Bapak sangat khawatir kamu nggak sadar-sadar, Nak.

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 3. Tawaran jadi istri simpanan

    Zavira membeku.Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan mana pun.“Istri simpanan?” ulangnya lirih, suaranya bergetar antara tidak percaya dan marah.Ia mendongak, menatap Xafier dengan mata yang memerah. Ada kilat amarah, ada luka yang bercampur dengan rasa jijik karena merasa direndahkan sedemikian rupa. Dadanya sesak.“Bapak pikir aku apa?” Suara Zavira meninggi. “Perempuan murahan yang bisa Anda beli begitu saja?”Tangannya mencengkeram selimut lebih erat, seolah itu satu-satunya pelindung yang ia miliki sekarang. “Aku bukan pelacur,” ucapnya tegas, meski suaranya sempat bergetar di akhir kalimat.Xafier hanya mengangkat sudut bibirnya, senyum tipis yang lebih mirip ejekan.“Tenang saja,” katanya dingin dan datar “Aku tidak pernah menyebutmu pelacur.”Zavira tertawa pendek, pahit. “Tapi anda menawariku posisi yang lebih hina dari itu.”Sunyi sejenak menggantung di antara mereka. Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan, terasa begitu asing di telinga Z

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 2. Kesucian yang direnggut

    “Apa kamu tuli? Saya bilang layani saya sekarang!”“Sa—saya.”Tubuh Zavira menegang. Kalimat itu benar-benar tak bisa ia tangkap dengan jernih hingga membuatnya bertanya-tanya dengan semua yang terjadi ini. Tanpa berpikir panjang, kedua tangannya gegas memukul ke dada Xafier dengan kekuatan sebesar mungkin. “Lepaskan saya! Jangan sentuh saya!” teriaknya, tubuhnya berusaha menggeliat keluar dari genggamannya. Xafier hanya mengeluarkan tawa rendah. Efek obat perangsang yang sengaja diberikan Shiena, istrinya. Membuat Xafier tak bisa lagi membedakan antara batasan dan keinginan. Ia memilih pergi ke klub malam daripada meniduri wanita itu. Hanya hawa panas yang membakar setiap bagian dirinya, membuat pandangannya hanya terpaku pada sosok wanita di bawahnya.“Tolong lepaskan saya, Pak!” mohon Zavira.Tanpa memperdulikan perlawanannya, dia mendekatkan wajahnya perlahan namun pasti ke leher Zavira. Ujung bibirnya menyentuh kulitnya memberikan kecupan demi kecupan yang hangat dan sedikit

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 1. Layani saya!

    “Apa ini pilihan tepat? Tapi aku baru pertama masuk tempat seperti ini.”Di depan gerbang klub malam, sosok gadis cantik berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Matanya mengikuti deretan mobil mewah yang berjejer rapi untuk menjadi para tamu-tamunya. Pandangannya tajam, sementara pikirannya tak teratur, semuanya saling bersilangan hingga suara notifikasi ponselnya memotong hembusan udara hangat malam.Zavira terkejut, pundaknya sedikit melompat ke atas. Tangan kirinya langsung menyelinap ke dalam saku celana jeansnya, mencari ponselnya. Ketika layar menyala menerangi wajahnya, nama “Ibu” terpampang jelas. Ia segera menggeser ikon hijau ke kanan.“Iya, Bu …,” panggilnya dengan suara lembut.Dari ujung lain sambungan, terdengar suara tangisan yang lembut namun menusuk hati. Kening Zavira mengkerut.“Ibu, ada apa?” tanya Zavira.Hanya hening yang menjawab.Tak ada kata pun yang keluar dari sisi lain, hanya irama tangisan yang terputus-putus dan bergema di dalam telinganya. Zavir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status