Home / Romansa / PELAN SEDIKIT, TUAN / Bab 14. Apa dia yang kamu tiduri?

Share

Bab 14. Apa dia yang kamu tiduri?

Author: Nanitamam
last update Last Updated: 2026-02-27 21:06:53

“Aku nggak terima, Ma aku yakin pria itu Mas Xafier.”

Sherina bercerita sambil menitikkan air mata. Ia bersikeras kalau pria yang dia lihat itu adalah Xavier.

Di depannya, Nyonya Dayana tampak tenang, meski keningnya tampak berkerut. Ia baru saja menerima ponsel Sherina yang disodorkan dengan tangan gemetar.

“Lihat ini, Ma, lihat baik-baik,” isak Sherina lagi. “Temanku yang kirim. Dia bilang lihat Mas Xafier di restoran sama perempuan lain. Temenku nggak mungkin salah dan aku nggak mungkin sal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 14. Apa dia yang kamu tiduri?

    “Aku nggak terima, Ma aku yakin pria itu Mas Xafier.”Sherina bercerita sambil menitikkan air mata. Ia bersikeras kalau pria yang dia lihat itu adalah Xavier. Di depannya, Nyonya Dayana tampak tenang, meski keningnya tampak berkerut. Ia baru saja menerima ponsel Sherina yang disodorkan dengan tangan gemetar.“Lihat ini, Ma, lihat baik-baik,” isak Sherina lagi. “Temanku yang kirim. Dia bilang lihat Mas Xafier di restoran sama perempuan lain. Temenku nggak mungkin salah dan aku nggak mungkin salah ngenalin kalau itu suamiku, Ma. Mama coba lihat.”Di layar ponsel itu tampak foto dari arah belakang. Seorang pria tinggi berjas gelap berjalan berdampingan dengan seorang wanita. Meski wajah wanita itu tidak terlihat jelas, postur pria itu sangat familiar.Nyonya Dayana menghela napas panjang. Ia mengembalikan ponsel. “Bisa saja kamu salah lihat, Sherina,” ucapnya lembut. “Foto dari belakang seperti ini belum tentu Xafier. Ya, memang posturnya mirip Xavier tapi belum tentu itu dia.”“Tapi

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 14. Sugar Daddy

    “Ada apa?” tanya Xafier singkat sambil menyentuh layar dashboard mobilnya. Panggilan dari Samuel otomatis tersambung melalui speaker.Zavira yang duduk di kursi penumpang pura-pura fokus menatap deretan gedung. Padahal sejak nada sambung terdengar, telinganya siaga. Tidak bisa dipungkiri ia pun penasaran.“Maaf, Pak. Tadi ada Nona Sherina datang ke kantor mencari Anda,” lapor Samuel. Suasana di dalam mobil mendadak canggung. Zavira menelan ludah sambil mencengkram seat belt cukup kencang.Xafier tidak langsung menjawab. Tangannya tetap pada setir, matanya lurus ke depan. Lampu merah dari kejauhan sudah berganti merah.“Aku mengerti. Terima kasih infonya.”Bip!Panggilan terputus."Hanya itu saja?" batin Zavira dalam hati.Xavier sangat tenang. Tidak. Terlalu tenang untuk seorang suami yang harusnya khawatir istrinya datang sementara ia sedang bersamaan wanita lain.Zavira masih menghadap jendela. Bayangannya terpantul samar di kaca, wajahnya datar tanpa ekspresi. Lebih tepatnya bingu

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 13. Kenapa Zavira mirip Kanaya?

    "Restorannya benar-benar seperti istana," gumam Zavira dalam hati. Semua orang yang berpapasan seperti memberi ruang tanpa diminta. Dan tiba-tiba Zavira merasa seperti orang asing di dunia itu. Ia melirik Xagier sekilas lalu menunduk sedikit, menghela nafas. “Seperti Upik Abu jalan sama pangeran.”Pria di sampingnya bukan cuma tampan. Dia punya aura yang membuat orang segan. Kharisma yang kuat. Orang yang melihatnya pasti tahu, dia bukan orang sembarangan. Sedangkan dirinya? Zavira menarik napas pelan.Hanya gadis kampung yang mengadu nasib di ibu kota. Dan bahkan nasibnya sendiri pun terasa menyedihkan. Menjadi istri simpanan karena kehormatannya direnggut paksa.“Selamat siang, Tuan Xafier.”Seorang pria berkemeja putih mendekat dengan senyum ramah. Ia sedikit membungkuk.“Selamat datang kembali.”Xafier mengangguk tipis. “Ruangan biasa.”“Baik, Tuan.”Pria itu lalu melirik Zavira sekilas dengan senyum sopan. “Silahkan ikut saya.”Zavira justru sibuk melihat sekeliling. Matanya b

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 12. Hanya Istri Simpanan

    Pertemuan akhirnya selesai. Kursi-kursi bergeser. Orang-orang mulai berdiri meninggalkan ruang Meeting. Tinggal Xafier dan Samuel berjalan mendekati ke arah seorang pria dengan dua asistennya.“Terima kasih atas kunjungannya,” ucap Xafier pada pria di hadapannya.“Sama-sama, Tuan Xafier. Saya harap kerjasama kita bisa berjalan dengan lancar. Kami permisi karena masih ada urusan.”“Silahkan.” Xafier mengangguk dengan seulas senyum samar.Rombongan di depannya sudah pergi ke luar ruangan meninggalkan ruang meeting. Salah satu karyawan mengantar mereka dengan wajah ramah penuh senyum. Bayangan Zavira muncul lagi memenuhi pikirannya. Lagi dan lagi. Xafier menyambar jas yang tersampir di kursi lalu bergegas keluar dengan langkah cepat. Samuel yang berdiri di luar ruangan langsung mengikutinya. Keningnya mengkerut melihat Xafier berjalan menuju lift. “Tuan, Anda mau kemana?”“Tetap di kantor,” potong Xafier.Samuel mengerutkan kening. “Tapi Tuan—”“Itu perintah.” Samuel langsung menganggu

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 11. Cinta bertepuk sebelah tangan

    “Yang kemarin aja masih ngilu. Jangan dulu minta jatah. Aku takut nggak bisa jalan!”Bruk! Zavira membenturkan kepala pelan ke permukaan meja kerjanya. Ia mengerang kecil sambil memegangi dahinya sendiri, rambut yang diikat seadanya jatuh berantakan menutupi wajahnya yang sudah merah padam.“Kenapa sih pria es balok itu selalu seenaknya?”Di depan meja itu, Donita dan Jeni alias Johan saling berpandangan. Kening mereka sama-sama mengerut. Donita pelan-pelan mendekat lalu menyentuh kening Zavira.Zavira langsung mengangkat kepala. “Apaan sih?”Donita menatapnya serius. “Kamu demam?”Jeni alias Johan ikut mendekat. “You kesambet setan, Neng?”Zavira melotot. “Kenapa nanya gitu?!”Donita dan Johan kompak menjawab. “Kita yang harusnya nanya!”Zavira langsung kaku. Wajahnya makin merah. Ia langsung duduk tegak, salah tingkah, lalu membereskan berkas di depannya tanpa arah.“Nggak ada apa-apa!”Johan menyipitkan mata. “Barusan ngomong soal jatah siapa?”“NGGAK ADA!” pekik Zavira cepat.Don

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 10. Harga yang harus dibayar

    Di kantor lain."Kalian kenapa?" Zavira duduk dengan wajah kebingungan. Alisnya mengerut dalam saat melihat dua kartu ATM yang disodorkan ke hadapannya. “Aku tanya maksud kalian apa?” tanya Zavira lagi dengan nada pelan, suaranya terdengar ragu.Di depannya, Johan atau yang lebih sering dipanggil Jeni yang memiliki bulu mata lentik dan alis rapi melebihi perempuan, tersenyum dengan gaya khasnya. Kepalanya sedikit dimiringkan, tangannya masih terulur sambil menjepit kartu ATM itu di antara dua jarinya yang berkutek merahn“Mince denger Neng Nong lagi butuh duit 'kan? Pake aja punya Mince,” katanya dengan nada gemulai. “Di dalamnya ada sedikit tabungan. Nggak banyak sih, cuma dua jetong. Tapi siapa tahu bisa bantu Neng Nong dikit.”Zavira langsung menggeleng cepat.“Nggak, aku nggak bisa—”Belum sempat kalimatnya selesai, Donita ikut menyodorkan kartu ATM miliknya.“Kamu pakai punyaku juga,” katanya pelan. “Memang nggak banyak tapi lumayan buat bantu kamu sementara. Sisanya nanti kita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status