Beranda / Mafia / PELAYAN TUAN ARTHUR / bab.02. kembali ke pelelangan

Share

bab.02. kembali ke pelelangan

Penulis: Venus
last update Tanggal publikasi: 2026-07-10 20:44:38

"Tapi ella, siapa yang akan mengepang rambutku secantik kepanganmu?" tangis anak perempuan berusia sepuluh tahun itu.

"Terus siapa yang akan motong pinggiran rotiku?" seru adik laki-lakinya.

"Kakak yakin mama kalian bisa mengepang rambutmu sama cantiknya, Elsa," aku mulai bicara, "dan luis, ingat kan Kakak pernah bilang kalau pinggiran roti itu bagus buat kamu!" Aku tidak bisa menahan senyum melihat kedua anak di depanku yang tampak sangat patah hati.

Aku sudah sangat sayang kepada kedua anak Tuan dan Nyonya Neil, Elsa dan luis, dan merasa sedih harus meninggalkan mereka. Aku sudah melihat mereka tumbuh selama setahun terakhir dan melewati banyak hal bersama mereka, seperti saat gigi pertama Luis tanggal tahun lalu atau saat Elsa akhirnya bisa naik sepeda tanpa roda bantu lagi.

Bibir bawah Elsa gemetar, "Aku akan sangat rindu dengan Kakak, Ella," isaknya sebelum tiba-tiba memelukku erat, membuatku hampir terjungkal ke pintu depan rumah mereka.

"Aku juga! Aku juga!" Luis menirukan, melakukan hal yang sama.

Aku merasa air mata hampir tumpah saat aku menyandarkan satu tangan di punggung Elsa, dan tangan lainnya di atas rambut cokelat ikal Luis.

Mereka terisak pelan di gaunku saat aku menepuk-nepuk mereka dengan harapan bisa menenangkan mereka.

"Sst... ayolah teman-teman. Kalian akan baik-baik saja tanpa aku, aku akan mencoba menelepon kalian setiap minggu selama kalian di Inggris." Kataku dengan nada penuh harapan palsu, berharap mereka tidak menyadarinya. Aku tidak bisa menjanjikan apa pun kepada mereka—tapi aku tidak sanggup melihat mereka sesedih ini.

"Janji?" Luis tiba-tiba mendongak menatapku, mata cokelat mudanya yang cerah memancarkan binar penuh harap.

Ya Tuhan, inilah yang sedari tadi aku hindari, pikirku.

"Iya, apa kakak janji, ella?" Elsa mendongak menatapku dengan ekspresi yang sama, hanya saja matanya yang berwarna hijau gelap tampak bersinar, dihiasi bulu mata yang lentik.

Aku sempat ragu sejenak, aku tidak bisa berbohong pada mereka tapi aku juga tidak bisa jujur tanpa membuat mereka semakin sedih. Daripada jujur, aku akhirnya memilih bohong, "Aku janji." Aku merasa risi sendiri saat mengucapkannya. Aku merasa bersalah, tapi ini harus dilakukan.

"Bagus!" seru mereka berbarengan, memelukku sekali lagi sebelum orang tua mereka masuk dari ruang tamu.

"Sudah, sudah anak-anak, kalian harus melepaskan gadis malang ini—kasih dia ruang sedikit," kata Nyonya Niel sambil menggelengkan kepala, membiarkan senyum yang sedari tadi ditahannya merekah saat melihat kami.

"Tidak apa-apa, sungguh," ucapku malu-malu.

"Ibumu benar anak-anak," Tuan Niel menimpali sambil mendongak dari ponselnya dan memasukkannya ke saku jas, "lagipula kita harus segera berangkat, Ella," pungkasnya lalu menatapku.

"Oh, iya, tentu saja," kataku ragu-ragu, sambil perlahan melepaskan pelukan anak-anak itu. "Ayo adik-adik, kakak harus pergi sekarang," gumamku sambil membungkuk ke arah mereka dan memberikan senyum sedih.

"Oke." Luis mengernyitkan dahi. "Kami akan sangat merindukan kamu!" katanya sambil merentangkan tangan kecilnya untuk menunjukkan seberapa besar mereka akan merindukanku.

"Iya, benar." Elsa mendukungnya dan aku pun terkekeh.

"Aku juga akan merindukan kalian..." Aku tersenyum sekali lagi pada mereka sebelum menoleh ke arah Tuan dan Nyonya Niel, memberikan tatapan seolah bertanya apa yang akan terjadi sekarang.

"Saya akan mengantarmu ke... perusahaan," Tuan Niel memulai, "sementara Nyonya Niel menunggu di sini bersama anak-anak. Saya akan menandatangani berkas-berkasnya, memastikan kamu masuk dengan aman, lalu saya akan pergi." katanya padaku.

Aku mengangguk patuh sambil memungut tasku dari lantai.

"Saya tunggu di mobil ya, Ella." kata Tuan Niel sambil tersenyum tipis, sebelum berjalan melewatiku dan keluar melalui pintu depan.

"Selamat tinggal, terima kasih sudah mengizinkan saya bekerja untuk Anda." kataku dengan formal kepada Nyonya Niel.

"Senang bisa mengenalmu."

ucapnya sambil memelukku sekali lagi. "Ingat apa yang kukatakan padamu kemarin." dia menepuk punggungku dengan lembut untuk menenangkan sebelum melepaskan pelukannya dan tersenyum lagi padaku.

Aku mengangguk. "Iya. Selamat tinggal, Maria." Aku balas tersenyum. "Dah, anak-anak." Aku melambai ke arah mereka saat mereka membalas lambaianku dengan lesu sambil sesenggukan.

"Semoga beruntung," seru Nyonya Niel saat aku melangkah keluar pintu.

Hah, aku benar-benar akan butuh keberuntungan itu, pikirku.

****

"Tuan Niel, saya tidak menyangka Anda akan kembali!" Aku mendengar suara Alexander yang sudah tidak asing lagi saat kami memasuki bangunan yang unik itu.

Aku tidak terlihat olehnya karena berdiri di belakang Tuan Niel, sebelum akhirnya dia melangkah ke samping dan berbicara.

"Ya, begitulah, kami tidak bisa lagi mempekerjakan Ella — terlepas dari etos kerjanya yang luar biasa — karena kami akan pindah," katanya kepada Alexander sambil menjabat tangannya dengan erat.

Alexander melakukan hal yang sama, dan setelah mereka selesai, dia menoleh ke arahku dan wajahnya langsung cerah.

"Ella, sayangku! Senang bertemu denganmu lagi," serunya sambil menyambarku dan memelukku, yang membuatku merasa sangat risih.

Aku tetap merapatkan lenganku di samping tubuh sampai dia melepaskanku dan mengangkat alis ke arahku, dan aku sadar apa maksudnya; dia ingin aku bersikap sopan di depan Tuan Niel—meskipun sebenarnya tidak ada gunanya karena Tuan Niel sudah tahu kalau aku tidak menyukai pria ini.

"Saya juga, Tuan," kataku sambil mengatupkan gigi, berusaha keras untuk tidak memutar bola mata.

Dia tersenyum padaku, tampak puas dengan dirinya sendiri, sambil memperhatikanku dari atas sampai bawah. Keheningan sempat menyelimuti sesaat sebelum Tuan Niel berdeham dan angkat bicara.

"Jadi, bisa kita mulai penandatanganan berkasnya?" tanyanya dengan sopan.

"Ya, tentu saja. Silakan ikuti saya, Tuan Niel," kata Alexander sambil memberi isyarat agar kami berdua mengikutinya.

Aku mengekor di belakang kedua pria itu, menundukkan kepala saat kami melewati lorong-lorong besar yang penuh dengan para pebisnis—beberapa ada yang hendak masuk ke ruang bakat dan yang lainnya sedang menunggu untuk membeli.

Aku merasa ada beberapa pasang mata yang memperhatikanku, tapi aku mengabaikannya. Aku sudah terbiasa di tempat ini, dan menatap balik pun tidak akan ada gunanya. Tahu diri, itulah yang sudah dikatakan padaku jutaan kali.

Kami berbelok di beberapa tikungan, dan akhirnya sampai di lorong sempit yang panjang di mana kantor Alexander berada hanya beberapa meter di depan.

Kami pun berhenti saat sampai di depan pintu dan melangkah masuk.

"Masuklah. Tutup pintunya, Ella," ucap Alexander.

Aku melakukan apa yang diperintahkan dan berjalan masuk ke dalam kantor yang cukup besar itu. Lantainya terbuat dari kayu cokelat tua, dan interior dindingnya berwarna merah marun. Meja Alexander besar dan terbuat dari kayu dengan komputer Apple Mac besar di atasnya, serta tumpukan dokumen dan alat tulis lainnya.

Dia punya rak buku yang penuh dengan buku-buku yang aku tahu tidak akan pernah dia baca, atau sudah pernah dia baca sebelumnya. Kantornya bagus, tapi dia orangnya brengsek.

Aku duduk di kursi kulit di depan mejanya, di sebelah kursi yang diduduki Tuan Niel.

Aku duduk di sana sambil memainkan jempol saat orang-orang itu membicarakan hal-hal yang tidak terlalu aku mengerti. Aku kemudian ditanyai pertanyaan-pertanyaan yang biasa diajukan saat aku berada di ruangan ini setelah dipecat, atau setelah mengundurkan diri. Alexander menanyakan hal-hal seperti;

Apa kamu menikmati waktumu di sana?

Apa kamu diperlakukan dengan baik?

Apa kamu selalu bersikap sopan?

Apa kamu pernah melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kamu lakukan?

Aku menjawab semuanya sesuai dengan apa yang menurutku benar. Biasanya, kalau aku tidak bisa menjawab jujur karena takut pemilik lamaku yang ada di ruangan itu akan menyakitiku atau semacamnya, Alexander menyuruhku untuk menggaruk lengan kalau aku tidak memberi jawaban jujur, dan dia akan menanyakannya lagi setelah orang itu pergi lalu membereskan situasinya.

Tapi menurutku dia tidak benar-benar melakukannya sih, dia tidak peduli gimana pelayan-pelayannya diperlakukan selama mereka tetap 'cantik', aku pernah dengar dia bilang begitu ke seorang penjaga.

Seperti yang kubilang tadi, dia itu brengsek.

Tuan Niel selesai menandatangani berkas-berkas yang harus dia tanda tangani, jadi aku membubuhkan tanda tangan sederhanaku yang sebenarnya tidak terlalu berpengaruh tapi wajib kulakukan di bagian bawah kertas, dan kami pun selesai.

"Nah, sudah beres," Alexander memulai, "kamu resmi kembali ke pasar, Ella." dia menyeringai puas.

Dulu dia memanggilku 'best seller'-nya. Aku tidak percaya padanya, tapi dia tampak sangat yakin.

"Ya, dan dia harus diperlakukan dengan baik," tambah Tuan Niel dengan tegas, dan aku tersenyum penuh terima kasih padanya saat kami semua berjalan menuju pintu kantor lagi.

"Oh, tentu saja, jangan khawatir Tua ," kata

Alexander padanya sambil membukakan pintu dan memimpin jalan keluar kantor, lagi-lagi aku menahan keinginan untuk memutar bola mata.

"Bagus, kalau begitu sebaiknya saya pergi sekarang," ucap Tuan Niel saat kami mulai berjalan kembali ke lorong utama.

"Tentu, senang bisa bertemu kembali dengan Anda, Tuan Niel. Jika Anda pindah kembali ke kota ini, pastikan untuk datang dan membeli lagi." Alexander menimpali.

"Ya, saya pasti akan kembali dan menyewa, seseorang..." Tuan Niel memberi penekanan pada kata menyewa, dia juga tidak suka bagaimana tempat ini terasa seperti toko — tapi dia datang ke sini karena tempat ini menjamin pelayanan yang baik, dan memang terbukti begitu.

Alexander menggaruk lehernya dengan canggung, mengangguk sambil nyengir ke arah Tuan Niel, berusaha menyembunyikan rasa canggung yang tiba-tiba ia rasakan.

Tuan Niel Bain kemudian lanjut berbicara dan berbalik menghadapku saat kami mendekati pintu masuk lagi. "Terima kasih atas bantuanmu, ella. Semoga kita bisa tetap berhubungan," ucapnya, lalu ia membungkuk agar sejajar denganku sehingga hanya aku yang bisa mendengar perkataan selanjutnya, "dan kalau kamu butuh apa pun, atau butuh bantuan, jangan ragu untuk menelepon."

"Senang bisa bekerja untuk Anda, Tuan," ujarku, "dan saya akan melakukannya," tambahku dengan suara yang jauh lebih pelan.

Dia mengangguk sambil tersenyum padaku. "Sampai jumpa, Ella." lalu dia berbalik ke arah Alexander. "Selamat tinggal, Tuan Miller," ucapnya sambil mengangkat tangan sedikit untuk melambai, sebelum berbalik dan berjalan pergi.

"Sampai jumpa, Tuan Niel," seru Alexander saat pria itu keluar dari gedung.

Aku menghela napas sedih sambil memperhatikannya pergi.

Inilah saatnya—sudah resmi, aku tidak lagi bekerja untuk siapa pun dan sekarang statusku 'dijual'.

Bagus.

Bagus sekali.

"Ella," Alexander memulai, tapi aku segera berbalik menghadapnya dengan tatapan yang seolah sudah tahu segalanya.

"Aku tahu apa yang harus dilakukan." Aku menghela napas.

"Good girl. Siap-siap jam tiga sore, aku akan menemuimu di sini nanti." Dia menyeringai sambil mengedipkan mata padaku sebelum pergi, membiarkanku mencari jalan sendiri ke arah kamar-kamar.

Aku menundukkan kepala dengan tas yang tersampir longgar di bahu saat berjalan cepat menuju deretan kamar. Ada lorong panjang berisi kamar-kamar itu dan aku selalu ditempatkan di kamar yang sama. Isinya cuma tempat tidur kecil kalau-kalau kau tidak laku terjual hari itu, sebuah lemari, dan cermin. Oh, dan sebuah televisi yang mungkin dibuat saat zaman perang. Sentuhan yang luar biasa, kan?

Aku melewati beberapa tikungan lagi, berpapasan dengan beberapa orang aneh sebelum mendekati lorong yang penuh dengan kamar. Aku menuju ke kamar yang diberikan kepadaku, nomor 32, dan mengeluarkan kunci yang selalu kusimpan setiap kali aku menginap.

Aku tidak tahu kenapa aku diberi kunci untuk disimpan sendiri, kurasa mereka tahu kalau aku tidak akan pernah keluar dari perusahaan ini. Lagipula aku memang tidak bisa keluar, kalau tidak aku tidak akan punya apa-apa—tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, dan tidak ada tempat untuk dituju.

Aku membuka pintu kamar dan tidak ada yang berubah. Dindingnya masih biru tua, dan sprei tempat tidurnya masih berwarna putih polos yang sama. Mereka bahkan sudah menyiapkan seragamku, yang harus kupakai agar bisa dibeli. Setiap gadis punya seragam yang berbeda-beda karena kami boleh sedikit memodifikasinya.

Entah bagaimana aku berhasil membujuk Alexander untuk mengubah panjang seragamku agar sedikit lebih panjang, dan bagian lehernya dibuat agak tinggi supaya aku bisa membungkuk tanpa harus berakhir hampir telanjang. Kurasa dia punya tempat spesial di hatinya untukku.

Aku menaruh tasku di atas tempat tidur, tidak repot-repot membongkar isinya karena tidak ada gunanya juga. Aku lalu melepas gaun hitamku, menggantinya dengan seragam pelayan yang tergantung di lemari terbuka.

Aku merapikannya, dan menariknya ke bawah karena masih merasa kurang nyaman dengan panjangnya yang hanya sebatas pertengahan paha, tapi ya sudahlah. Aku mengenakan stoking renda, dan memakai sepatu hak tinggi hitam yang sudah disiapkan untukku sebelum mulai merias wajah atau menata rambut.

Biasanya aku tidak berdandan, tapi Alexander bersikeras agar aku melakukannya, kalau tidak aku akan terlihat pucat dan kurang cantik.

Aku mengembuskan napas panjang sambil berjalan ke arah cermin dan mulai melepas kepangan rambut panjang cokelat tuaku—yang hampir terlihat hitam. Rambutku sekarang panjangnya sekitar beberapa inci di atas pinggang dan kondisinya cukup bagus karena aku sudah bertahun-tahun tidak menggunakan alat penata rambut panas.

Rambutku aslinya antara lurus sedikit bergelombang, dan cuma kelihatan lumayan oke kalau digerai setelah dikepang seharian sebelumnya. Akhirnya aku memutuskan untuk digerai saja dan pakai bando hitam agar tidak nutupin wajah.

Aku terus memandangi diri sendiri di cermin setelah selesai. Mata hijauku kelihatan lelah dan gelisah, ada kantung mata tipis yang sepertinya Karena kurang tidur hampir tiap malam. Pipiku agak kemerahan karena kulitku lagi pucat sekali sekarang, yang aku sendiri tidak tahu kenapa—mungkin karena cuaca dingin.

Aku berjalan ke tempat tidur dan mengambil tas make-up kecil milikku. Alisku tidak kusentuh karena sudah cukup tebal, jadi aku memutuskan untuk pakai sedikit concealer di bawah mata dan bedak untuk menyamarkan kemerahan serta menutupi kantung mata sedikit. Terus aku ambil maskara dan memolesnya tipis-tipis ke bulu mataku yang sebenarnya sudah lumayan lentik. Bibirku sudah cukup penuh tanpa lipstik, tapi sedikit pecah-pecah karena jarang pakai lip balm di cuaca dingin, dan warnanya merah muda kemerahan. Aku memutuskan untuk pakai lip gloss supaya kelihatan sedikit lebih baik.

Aku menghela napas lega setelah selesai, tidak yang merasa cantik sekali sih dengan hasilnya, tapi setidaknya lebih baik dari sebelumnya.

Bukannya aku bilang aku jelek, karena aku punya hal lain yang lebih penting untuk dipikirin daripada sekadar penampilan—atau apa pun itu yang dikhawatirkan orang-orang zaman sekarang—tapi aku juga bukan tipe orang yang paling menonjol atau cantik sekali.

Aku sebenarnya biasa-biasa saja, satu-satunya hal yang membuatku agak menonjol cuma warna mataku—warnanya hijau zamrud cerah, turunan dari ayahku.

Aku melirik jam besar di dinding dan melihat sudah jam 2:45. Aku harus segera berangkat, pikirku.

Aku merapikan gaunku dan menarik stokingku sekali lagi, meninggalkan barang-barangku di kamar. Kalau aku terjual, nanti juga ada yang mengambilkannya untukku.

Aku membuka pintu dan menarik napas dalam-dalam, merasa sangat gugup meskipun aku tidak bisa mengubah apa pun yang akan terjadi, jadi aku harus menghadapinya saja...

Ayo kita lakukan, pikirku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PELAYAN TUAN ARTHUR    bab.13

    Aku mengikuti papan penunjuk jalan yang tersebar di area ini. Meski awalnya kukira ini tempat yang aneh karena sangat terpencil, ternyata kawasan ini merupakan permukiman elit yang cukup tertutup.Aku bisa melihat banyak rumah dan jalanan yang berpagar rapat, serta sesekali sebuah mansion megah yang berdiri sendiri. Namun, begitu aku mencapai area utama, suasananya terasa lebih seperti perkotaan.Posisiku sekarang lebih dekat ke toko dan kedai-kedai daripada ke area supermarket. Namun, papan penunjuk jalan tadi menyebutkan bahwa jalan utama untuk ke supermarket hanya berjarak sepuluh menit berjalan kaki.Mungkin Arthur akan mengizinkanku pergi ke sana kapan-kapan... pikirku.Akhirnya aku sampai di toko bernama 'Spurellies', yang kemungkinan besar merupakan bisnis keluarga.Sebelum masuk, aku segera mengirim pesan ke Arthur—satu-satunya kontak di ponselku selain mantan pemilikku terdahulu dan matteo—untuk memberi tahu bahwa aku sudah sampai. dia langsung membalas, "Cepatlah."Aku b

  • PELAYAN TUAN ARTHUR    bab.12

    Sudah lima hari berlalu sejak terakhir kali aku berbicara dengan Arthur. Aku jarang melihatnya, kecuali saat sarapan, makan siang, dan makan malam. Setiap kali kami berpapasan, aku akan menundukkan kepala atau dia akan berjalan melewatiku begitu saja dan mengabaikanku. Suasananya sangat canggung, setidaknya itu yang kurasakan. Aku terus membersihkan rumahnya setiap hari, padahal rumah itu sudah sangat bersih, karena aku terus-menerus mengulang bagian yang sudah kubersihkan sebelumnya. Kurasa karena aku tidak punya banyak pekerjaan, dan aku tidak ingin bergelut dengan isi pikiranku sendiri. Aku rasa Arthur tidak tahu kalau aku tidak punya kegiatan apa pun untuk mengisi waktu luang, atau mungkin dia sebenarnya bersedia memberiku buku untuk dibaca atau sesuatu yang lain untuk dikerjakan. Meskipun mungkin aku salah; dia hanya menganggapku tidak lebih dari seorang pelacur yang tidak berharga. Terlepas dari semua itu, aku sudah bosan dengan kebosananku ini dan sangat ingin membaca buku,

  • PELAYAN TUAN ARTHUR    Bab.11

    POV Arthur Kami sudah berada di ruang rapat selama satu jam dan belum membuahkan hasil apa pun. Aku sudah menyuruh orang-orang bodoh ini untuk melacak 'mafia'—atau sebutan payah untuk komplotan yang lebih mirip geng yang mencoba menipu kita—tapi tampaknya mereka gagal.Aku menggebrak meja kaca dengan kepalan tanganku, heran kenapa meja itu tidak pecah, lalu terkekeh sinis. "Sialan! Aku bahkan bisa menemukan mereka dengan mata tertutup. Tapi kalian tahu sendiri kalau aku sedang sibuk, makanya aku mempercayai kalian cazzi untuk menemukan mereka dan membawanya ke hadapanku, supaya aku bisa memenggal kepala mereka dengan tangan kosong!" desisku penuh amarah.Aku sempat mendengar suara napas tertahan yang cukup keras dari balik pintu. Namun, aku sudah terlalu murka untuk memedulikannya, dan karena tidak ada satu pun pria di hadapanku yang bereaksi, aku menganggap itu cuma perasaanku saja. Dange dan matteo mulai berbicara saling bersahutan, sementara miller duduk dengan sabar dan m

  • PELAYAN TUAN ARTHUR    Bab.10

    "I-ini makanannya." Aku berbicara pelan seperti biasanya sambil meletakkan dua piring pancake ke atas meja, berhati-hati agar tidak ada yang jatuh ke lantai. Sulit sekali rasanya karena gugup dan tanganku terus-terusan gemetar. Aku mendapat anggukan tanda terima kasih dari dante dan dua orang lainnya, tapi arthur hanya menatapku seolah-olah menyuruhku pergi. Aku pun bergegas pergi, takut akan konsekuensi yang mungkin kuterima, aku tahu belum genap dua puluh empat jam tinggal bersamanya, aku harus tetap berhati-hati. "Ini enak sekali. Terima kasih, ella," ucap dante setelah menelan suapan pancake dengan lelehan madu di atasnya. Aku tersenyum simpul padanya saat matteo menggumamkan sesuatu yang senada, tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena mulutnya penuh makanan. Miller baru saja mengedipkan mata padaku, dan aku merasa wajahku memerah. Aku langsung tersadar kembali saat Arthur berucap, "Tinggalkan kami sekarang." Suaranya terdengar yang membuatku cemas akan apa

  • PELAYAN TUAN ARTHUR    Bab.09

    Keesokan paginya aku bangun dengan tubuh yang lelah, akibat insomnia dan mimpi buruk yang ku derita sejak usia sepuluh tahun.Aku mengatur alarm jam tujuh pagi, karena harus menyiapkan sarapan jam sembilan, aku memaksakan diri untuk bangun, beranjak dari tempat tidur dan membuka gorden. Aku mengerjap beberapa kali buat nyesuain mata dengan cahaya terang dari balik gorden tipis.Saat aku balik badan mau ke kamar mandi, aku melihat ada sesuatu di atas sofa kecil samping pintu. aku mendekat, menyadari ada sebuah pakaian pelayan hitam yang sangat pendek,dengan celemek putih berenda, stoking jaring, dan sepasang heels lengkap dengan secarik catatan kecil di atasnya. Aku mengambil catatan itu;"Pakai ini. Aku yakin ini akan terlihat bagus untukmu, gattino."Aku mengernyitkan alis dan meletakkan catatan itu.Aku benar-benar tidak percaya harus memakai ini. Kuharap, setelah melihatku memakainya, dia akan berubah pikiran dan mengizinkanku memakai sesuatu yang lebih nyaman.Dengan perasaan k

  • PELAYAN TUAN ARTHUR    bab.08 kamar terbaik

    Aku menatapnya seolah bertanya apakah aku boleh masuk atau tidak, dan dia menganggukkan kepalanya menyuruhku masuk.Aku mengikuti isyaratnya dan disambut oleh sebuah ruangan yang sangat luas.Ini mungkin kamar tidur terbaik yang pernah aku tempati.Begitu masuk, ada dua jendela besar yang menghadap ke taman belakang dengan tirai tipis transparan agar sinar matahari bisa masuk, tapi ada juga tirai beludru putih yang tersingkap dan diikat dengan tali emas.Aku melangkah lebih jauh ke dalam kamar dan melirik ke sebelah kiri, di sana ada tempat tidur king size yang dilapisi sprei dan selimut bermotif putih-emas dengan bantal yang senada.Tempat tidur itu memiliki tiang kayu di setiap sudutnya untuk menopang kelambu' di atas tempat tidur tersebut. Di sisi kanan ruangan ada dua pintu putih besar, aku asumsikan itu pintu menuju lemari pakaian, dan di sebelahnya ada meja rias berwarna emas yang kosong.Cantik sekali.Lagi, aku menoleh ke arah tempat tidur dan melihat sebuah pintu, mirip d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status