تسجيل الدخول"Ella, tepat waktu sekali." seru Alexander saat aku mendekatinya, kembali di lorong tempat kami tadi — yang lagi-lagi masih penuh sesak dengan orang-orang.
"Jadi, saya harus di mana?" kataku cepat, langsung ke intinya, sambil menarik rokku ke bawah dengan canggung dan menoleh ke sekeliling dengan gugup. Aku benci pakaian terbuka begini. "Yah, biasanya saya akan menempatkan kamu di ruang utama bersama pelayan lainnya — tapi hari ini saya sedang berpikir untuk menempatkan kamu di bagian privat... atau talenta." katanya dengan seringai nakal di wajahnya, sambil menatap mataku dalam-dalam. Ya Tuhan, jangan. Jangan talenta — aku tidak keberatan kalau di bagian privat karena itu biasanya untuk orang-orang yang sangat kaya, yang meski tidak akanmemperlakukanmu dengan baik, mereka akan bayar paling mahal dan cuma lima atau enam pelayan yang boleh ada di ruangan itu — tapi talenta jauh lebih buruk. Isinya tidak seperti kedengarannya, bukan seperti stand up comedy atau membuat anjing menari, harapanku seperti itu. Sayangnya, tidak, itu ruangan di mana kamu harus bernyanyi lagu yang menjurus atau menari dengan seksi. Aku belum pernah ke sana, tapi aku sempat mendengar beberapa perempuan yang pernah kesana, kalau itu sangat mengerikan. Kamu akan dipaksa pakai baju norak dan dipermalukan di depan penonton pria paruh baya yang mesum. Kedengarannya mengerikan sekali untukku. "To-tolong, boleh saya ke bagian privat saja kalau begitu." Usulku pelan, sambil terbata-bata. Alexander menatapku dengan ekspresi geli di wajahnya untuk sesaat, dan aku punya firasat buruk kalau dia akan memilih yang sebaliknya dari permintaanku—untungnya hari ini dia moodnya sedang bagus, sepertinya. "Ya," dia menghela napas, "kalau itu maumu. Tapi jaga sikapmu, Ella. Kita kedatangan tamu yang sangat penting hari ini," Alexander memperingatiku. Aku menghela napas lega karena tidak akan dipaksa masuk ke ruang talenta. "Terima kasih," kataku dengan penuh rasa syukur, "dan siapa tamunya?" tanyaku. "Sst, Ella, apa kamu tidak pernah diajari kalau rasa penasaran itu bisa membawa petaka?" dia terkekeh sambil menggelengkan kepalanya dengan nada merendahkan, lalu tiba-tiba bicara dengan sangat serius, "Tidak penting siapa mereka, kamu hanya perlu tahu bahwa kamu harus bersikap ekstra... manis." Alexander kemudian berkata dengan penuh arti sambil mengedipkan mata dengan cepat. Aku tahu persis apa maksudnya. "Oke," cicitku sambil menganggukkan kepala. "Good girl, sekarang ayo jalan, tamunya akan segera sampai dan kamu harus membantu yang lain bersiap-siap lalu segera menempati posisimu," katanya padaku, sambil mulai berjalan terburu-buru menuju ruang privat. Aku mengangguk, meski dia sudah berjalan jauh didep , dan aku pun bergegas mengikutinya. Aku benar-benar berharap 'tamu spesial' itu tidak memilihku. Saat Alexander menyuruh kami untuk memperlakukan siapa pun yang datang dengan jauh lebih baik, itu artinya mereka biasanya sangat kaya atau sangat berkuasa—atau skenario terburuknya, mereka punya keduanya. Untungnya, mereka hanya akan berada di ruangan privat dan aku belum pernah dibawa ke sana sebelumnya. Mungkin tidak akan seburuk itu... Aku selesai menata berbagai macam makanan di meja panjang yang dilapisi taplak renda. Tidak ada kursi di meja khusus itu karena memang fungsinya hanya untuk makanan. Ruangannya lumayan kecil karena tidak banyak pelayan, atau tamu, yang akan lalu-lalang di sana, mengingat ini adalah ruangan yang lebih berkelas dan tentunya privat. Ada bar tempat tamu bisa pesan minum dan duduk-duduk, terus ada juga beberapa meja dan kursi yang tersebar—tapi seperti yang kubilang tadi, suasananya tidak akan terlalu ramai, jadi tidak butuh banyak tempat duduk. Desain interior ruangannya didominasi marmer hitam dan putih; bar dan lantainya semua dari marmer. Tapi, mejanya warna perak, begitu juga rak tempat menyimpan alkohol di belakang bar. Area lain yang berwarna perak adalah tempat kami para pelayan harus berdiri kalau sedang tidak dipanggil. Kami masing-masing diberi platform kotak kecil berwarna perak untuk berdiri—mirip panggung kecil—dan kami harus menautkan tangan sambil berdiri diam di sana sampai ada yang mau membeli atau meminta bantuan. Aku meletakkan piring makanan terakhir, lalu menyibakkan rambut dari wajah saat aku menegakkan tubuh dari meja. Aku mulai melangkah mundur dan langsung sadar kalau aku baru saja menabrak seseorang. "Sorry—aku..." aku memulai, saat berbalik menghadap seorang gadis pirang yang cantik. Dia beberapa inci lebih tinggi dari tinggiku yang 155 cm—mungkin 165 cm kalau pakai heels—dan wajahnya dibingkai dengan rambut bob pirang. Matanya berwarna biru tua, kontras sekali dengan rambut terangnya, dan gadis itu terlihat beberapa tahun lebih tua dariku. Bibirnya dipulas lipstik merah tua, dan dia tidak memakai banyak riasan di matanya. Seragamnya juga cukup mirip dengan seragamku, meski perbedaannya tetap terlihat. Alih-alih terusan, bagian atasan dan roknya terpisah, dan roknya beberapa inci lebih pendek. Dia juga memakai heels yang lebih tinggi dariku. Singkatnya, gadis itu sangat cantik. "Eh, jangan minta maaf, ini salahku!" dia tersenyum malu-malu. Aku tersenyum kaku dan mengangguk, tidak tahu harus mengatakan apa lagi, sambil menimbang-nimbang apakah sebaiknya aku pergi saja. "Aku Nore," katanya tiba-tiba. "Siapa namamu?" Nore berucap dengan ceria. "Ella." ucapku singkat, sambil balas tersenyum. "Senang bertemu denganmu Ella, sepertinya aku belum pernah melihatmu di sini sebelumnya. Kamu orang baru ya?" tanya Nore penasaran. "Tidak, sebenarnya aku sudah bekerja di perusahaan ini selama hampir empat tahun. Hanya saja aku... sudah dibeli selama setahun terakhir ini." kataku jujur, sambil melihat ke sekeliling—bukan bermaksud tidak sopan, tapi aku hanya merasa cemas karena sudah lama tidak mengobrol dengan perempuan seumuranku. "Oh! Menarik juga," katanya terdengar tulus. "Aku baru bekerja di sini selama setahun, dan sudah sering keluar masuk rumah orang. Aku pasti tidak terlalu berbakat." gadis berambut pirang itu terkekeh. "Begitu ya," kataku sambil tertawa kecil, membalas senyumannya yang sangat ceria. "Um... aku tidak bermaksud lancang, tapi kenapa Alexander membiarkanmu masuk ke ruangan privat kalau begitu?" tanyaku pelan. "Tidak apa-apa, aku juga akan penasaran hal yang sama. Itu karena meskipun aku cepat dilepaskan, aku selalu dapat feedback yang luar biasa." dia mengedipkan mata padaku, dan aku mengernyitkan dahi bingung sebelum akhirnya mataku terbelalak. "Ohhh..." gumamku, tidak tahu harus bilang apa lagi. Nore tidak tampak terganggu, atau sadar, akan respon canggungku dan terus lanjut bicara "Apa Alexander memberi tahu kamu soal 'tamu spesial' ini? Kedengarannya menakutkan." kata Nore dengan suara rendah, seolah berhati-hati agar tidak ada yang mendengarnya. "Iya, dia bilang akan ada orang penting yang datang, tapi dia tidak menjelaskan detailnya." jelasku. "Nah, aku dengar orang ini sangat kaya dan sangat, sangat berkuasa, dan menurut Alexander dia tipe orang yang jangan sampai bermasalah dengannya." Nore memberitahuku "Tapi, jangan bilang-bilang aku yang memberi tahu ya—aku cuma tidak sengaja dengar percakapan Alexander sama salah satu anak buahnya." katanya yang tiba-tiba terdengar cemas. "Jangan khawatir, rahasiamu aman bersamaku." Aku tersenyum padanya untuk meyakinkan. "Bagus! Aku sudah mulai menyukaimu," dia menyeringai padaku. "Aku juga," jawabku, dan memang benar—aku perlahan mulai merasa nyaman dengannya. Aku tidak bilang kalau kami akan langsung mengadakan acara menginap bersama dan saling mengepang rambut karena kita tidak pernah bisa benar-benar menilai orang hanya dari kesan pertama dan orang-orang bisa saja memakai topeng, tapi sejauh ini dia tampak baik dan tulus. "Apa menurutmu—" Nore mulai bicara, sebelum tiba-tiba kami dihadapkan pada suara denging memekakkan telinga dari mikrofon yang terjatuh atau baru dinyalakan, disusul suara seorang pria yang berdeham. Aku menoleh ke arah datangnya suara itu—dari sudut atas ruangan tempat pengeras suara berada—dan mendengarkan; "Para pelayan, silakan menuju ke posisi masing-masing. Para tamu akan segera dipersilakan masuk. Ingatlah untuk selalu sopan, dan jika diajak bicara, jawablah dengan penuh rasa hormat. Jika seseorang memanggil kalian, segera temui mereka tanpa membantah dan tanyakan apa yang mereka butuhkan. Kalian tidak akan dipanggil jika ada yang ingin membeli kalian; seorang staf akan mendampingi pria atau wanita yang ingin membeli kalian, lalu kalian akan dibawa bersama mereka. Barang-barang milik kalian yang ada di kamar akan diberikan saat kalian hendak berangkat ke tujuan yang telah ditentukan." Suara Alexander menggelegar melalui pengeras suara, lalu suasana menjadi hening kecuali dengung kecil yang masih terdengar dari speaker, sebelum akhirnya terdengar gumaman keluhan dari gadis-gadis di ruangan itu. Suaranya tiba-tiba terdengar lagi dan gumaman itu langsung terhenti. "Ingat aturannya, gadis-gadis," peringatnya. "Sekarang, bersenang-senanglah—aku tahu kalian pasti akan menikmatinya—dan semoga sukses." Alexander mengakhiri ucapannya sebelum suara itu terputus sepenuhnya. Nore menghela napas. "Yah, kalian dengar sendiri kan. Ayo kita mulai." "Sepertinya begitu." Aku mengedikkan bahu dan tersenyum tipis ke arahnya sebelum berjalan ke platform-ku, yang kebetulan ada di sebelah platform-nya. Dia menoleh ke arahku sebelum kami mendengar pintu besar terbuka dan mengucapkan "Semangat ya" tanpa suara, yang kubalas dengan senyuman singkat dan anggukan seolah bilang 'kamu juga'. Aku berdiri sesuai instruksi, dan tiba-tiba pintunya terbuka lebar saat para staf mulai masuk diikuti oleh sekelompok pria. Tamu pertama yang masuk langsung menarik perhatianku, dan entah bagaimana aku tahu kalau dia adalah pria yang tidak boleh bermasalah dengannya...Aku membuka pintu rumah Arthur; hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai.Dengan tergesa-gesa aku berjalan ke dapur, meletakkan kantong belanjaan, dan mulai membongkar isinya."Kamu pergi cukup lama." Sebuah suara tiba-tiba terdengar.Aku langsung menjatuhkan apa yang sedang kupegang karena terkejut. Untunglah itu bukan telur, melainkan hanya sebungkus Snack.Aku mendongak lalu melihat Arthur sedang bersandar di meja."M-maaf Tuan, saya tidak bisa menemukan tokonya."Aku berbohong. Aku tidak mungkin memberi tahu dia tentang Tuan Daniels—maksudku, Nicholas."Kamu tidak bisa menemukannya padahal ada puluhan papan petunjuk yang tersebar di sana?" tanyanya dengan nada gel.Aku terus membongkar belanjaan agar tanganku tetap sibuk, berjaga-jaga agar dia tidak melihatku gemetar dan menyadari kebohonganku."Y-ya, uh, tapi aku sempat tersesat, Tuan," ucapku gugup sambil meletakkan roti di atas meja."Aku tidak percaya padamu," kata Arthur saat dia akhirnya melangkah, menjulang tin
Aku mengikuti papan penunjuk jalan yang tersebar di area ini. Meski awalnya kukira ini tempat yang aneh karena sangat terpencil, ternyata kawasan ini merupakan permukiman elit yang cukup tertutup.Aku bisa melihat banyak rumah dan jalanan yang berpagar rapat, serta sesekali sebuah mansion megah yang berdiri sendiri. Namun, begitu aku mencapai area utama, suasananya terasa lebih seperti perkotaan.Posisiku sekarang lebih dekat ke toko dan kedai-kedai daripada ke area supermarket. Namun, papan penunjuk jalan tadi menyebutkan bahwa jalan utama untuk ke supermarket hanya berjarak sepuluh menit berjalan kaki.Mungkin Arthur akan mengizinkanku pergi ke sana kapan-kapan... pikirku.Akhirnya aku sampai di toko bernama 'Spurellies', yang kemungkinan besar merupakan bisnis keluarga.Sebelum masuk, aku segera mengirim pesan ke Arthur—satu-satunya kontak di ponselku selain mantan pemilikku terdahulu dan matteo—untuk memberi tahu bahwa aku sudah sampai. dia langsung membalas, "Cepatlah."Aku b
Sudah lima hari berlalu sejak terakhir kali aku berbicara dengan Arthur. Aku jarang melihatnya, kecuali saat sarapan, makan siang, dan makan malam. Setiap kali kami berpapasan, aku akan menundukkan kepala atau dia akan berjalan melewatiku begitu saja dan mengabaikanku. Suasananya sangat canggung, setidaknya itu yang kurasakan. Aku terus membersihkan rumahnya setiap hari, padahal rumah itu sudah sangat bersih, karena aku terus-menerus mengulang bagian yang sudah kubersihkan sebelumnya. Kurasa karena aku tidak punya banyak pekerjaan, dan aku tidak ingin bergelut dengan isi pikiranku sendiri. Aku rasa Arthur tidak tahu kalau aku tidak punya kegiatan apa pun untuk mengisi waktu luang, atau mungkin dia sebenarnya bersedia memberiku buku untuk dibaca atau sesuatu yang lain untuk dikerjakan. Meskipun mungkin aku salah; dia hanya menganggapku tidak lebih dari seorang pelacur yang tidak berharga. Terlepas dari semua itu, aku sudah bosan dengan kebosananku ini dan sangat ingin membaca buku,
POV Arthur Kami sudah berada di ruang rapat selama satu jam dan belum membuahkan hasil apa pun. Aku sudah menyuruh orang-orang bodoh ini untuk melacak 'mafia'—atau sebutan payah untuk komplotan yang lebih mirip geng yang mencoba menipu kita—tapi tampaknya mereka gagal.Aku menggebrak meja kaca dengan kepalan tanganku, heran kenapa meja itu tidak pecah, lalu terkekeh sinis. "Sialan! Aku bahkan bisa menemukan mereka dengan mata tertutup. Tapi kalian tahu sendiri kalau aku sedang sibuk, makanya aku mempercayai kalian cazzi untuk menemukan mereka dan membawanya ke hadapanku, supaya aku bisa memenggal kepala mereka dengan tangan kosong!" desisku penuh amarah.Aku sempat mendengar suara napas tertahan yang cukup keras dari balik pintu. Namun, aku sudah terlalu murka untuk memedulikannya, dan karena tidak ada satu pun pria di hadapanku yang bereaksi, aku menganggap itu cuma perasaanku saja. Dange dan matteo mulai berbicara saling bersahutan, sementara miller duduk dengan sabar dan m
"I-ini makanannya." Aku berbicara pelan seperti biasanya sambil meletakkan dua piring pancake ke atas meja, berhati-hati agar tidak ada yang jatuh ke lantai. Sulit sekali rasanya karena gugup dan tanganku terus-terusan gemetar. Aku mendapat anggukan tanda terima kasih dari dante dan dua orang lainnya, tapi arthur hanya menatapku seolah-olah menyuruhku pergi. Aku pun bergegas pergi, takut akan konsekuensi yang mungkin kuterima, aku tahu belum genap dua puluh empat jam tinggal bersamanya, aku harus tetap berhati-hati. "Ini enak sekali. Terima kasih, ella," ucap dante setelah menelan suapan pancake dengan lelehan madu di atasnya. Aku tersenyum simpul padanya saat matteo menggumamkan sesuatu yang senada, tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena mulutnya penuh makanan. Miller baru saja mengedipkan mata padaku, dan aku merasa wajahku memerah. Aku langsung tersadar kembali saat Arthur berucap, "Tinggalkan kami sekarang." Suaranya terdengar yang membuatku cemas akan apa
Keesokan paginya aku bangun dengan tubuh yang lelah, akibat insomnia dan mimpi buruk yang ku derita sejak usia sepuluh tahun.Aku mengatur alarm jam tujuh pagi, karena harus menyiapkan sarapan jam sembilan, aku memaksakan diri untuk bangun, beranjak dari tempat tidur dan membuka gorden. Aku mengerjap beberapa kali buat nyesuain mata dengan cahaya terang dari balik gorden tipis.Saat aku balik badan mau ke kamar mandi, aku melihat ada sesuatu di atas sofa kecil samping pintu. aku mendekat, menyadari ada sebuah pakaian pelayan hitam yang sangat pendek,dengan celemek putih berenda, stoking jaring, dan sepasang heels lengkap dengan secarik catatan kecil di atasnya. Aku mengambil catatan itu;"Pakai ini. Aku yakin ini akan terlihat bagus untukmu, gattino."Aku mengernyitkan alis dan meletakkan catatan itu.Aku benar-benar tidak percaya harus memakai ini. Kuharap, setelah melihatku memakainya, dia akan berubah pikiran dan mengizinkanku memakai sesuatu yang lebih nyaman.Dengan perasaan k







