Share

Bab 118

last update Last Updated: 2026-01-01 07:04:28

“Menyingkirlah dari jalan saya,” kata Anggrawati, nadanya kini sedingin baja.

“Saya khawatir saya tidak bisa melakukan itu,” sahut Ki Dandang. Ia mengangkat tangannya yang bersarung tangan. “Kembali ke akademi secara sukarela, atau kami akan memaksa Anda. Perlawanan akan dianggap sebagai pembangkangan terhadap dewan.”

Anggrawati menatap dinding manusia yang menghalangi jalannya.

Di belakang mereka, Gunung Guntur menjulang tinggi, puncaknya yang sunyi seolah memanggilnya, menjanjikan jawaban atau kematian.

Di hadapannya, berdiri logika dingin dan kejam dunia yang telah menyerah pada keputusasaan. Bertarung berarti memulai perang saudara di ambang kiamat.

Mundur berarti menyerahkan satu-satunya harapan mereka dan membiarkan ribuan jiwa dibakar menjadi abu.

Ia harus memilih, dan ia harus memilih sekarang.

Pilihan Anggrawati lebih cepat dari sebilah pedang, lebih tegas dari perintah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 125

    Satria Kala melaju cepat. Pintu kampung kini di belakangnya, tetapi kata-kata itu mengejarnya seperti seribu pedang spiritual: Langit telah mati.Tugasnya kini lebih berat. Prana Murni yang ia gunakan tadi memang berhasil. Warganya diselamatkan.Tapi harga untuk mengaktifkan kekuatan dewa tersebut dibayar tunai. Dia bisa merasakannya: keberadaannya sebagai Satria Kala, wadah fisik, semakin transparan.Kekosongan akan segera menuntut bagiannya kembali.Saat malam menutup tebal, Satria Kala mencapai perbatasan yang dikenal sebagai tanah pertapaan Situ Cileunca.Ia perlu menenangkan pikirannya. Pergerakannya harus lebih hati-hati, tersembunyi dari para pengganggu.Namun, dalam kehampaan malam yang dingin di pinggiran danau tenang itu, dia tidak sendirian. Satria Kala mendadak berhenti.Jauh di depannya, di antara akar beringin besar, cahaya lentera bergetar lemah, menerangi sesosok wanita yang duduk tenang dengan kain bersa

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 124

    Anak itu terbatuk, upaya kerasnya untuk berbicara hanya menghasilkan udara yang bergetar.Satria Kala meraih tangannya, yang kecil dan hangat, menahan keinginan untuk menarik Kujang Sinar Kematian yang terasa memberati pinggulnya. Instrumen pemutus jiwa itu tidak berguna untuk memperbaiki keretakan spiritual seperti ini."Jangan takut, Nona," ujar Satria Kala, suaranya diucapkan dalam desisan yang memantul kembali dari permukaan kesunyian yang tebal.Ia menggunakan formalitas absolut, karena hanya itu yang tersisa dari kodratnya yang abadi.Anak itu gemetar hebat, isyarat tangannya bergerak cepat seolah memohon pertolongan."Saya harus membantu Nona. Dan semua warga kampung ini," lanjut Satria Kala. "Kekuatan yang mengikat tenggorokan kalian hanyalah sisa. Namun ia perlu dihancurkan menggunakan sesuatu yang melampaui keberadaan fana. Bersabarlah, Nona."Ia memejamkan mata. Otaknya adalah arsitektur perhitungan energi.

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 123

    Lalu, Eyang Giri Kencana menghilang. Tinggallah Satria Kala sendirian, angin yang semula memarahi kini menjadi pelukan dingin.Ia melihat jalurnya terbentang ke puncak, tempat pedang legendaris itu disemayamkan.Puncak Gunung Cikuray sangat dingin, ditutupi es yang bertahan abadi di atas batas awan.Kujang itu, dinamai Kujang Sinar Kematian, tertanam dalam sebuah monolit pualam hitam yang berumur tak terhitung.Sarungnya terbuat dari sisik naga purba yang membatu, namun bilahnya yang sedikit melengkung memancarkan cahaya biru metalik tipis.Satria Kala melangkah menuju pedang. Ia memikirkan Anggrawati. Ia memikirkan janji Bajingan Merah itu. Jika ia bergerak atas dasar kemanusiaan —kemungkinan adanya rasa kehilangan Anggrawati— ia akan dileburkan menjadi kristal oleh Kujang itu sendiri.Tidak ada kebimbangan. Ia mereduksi semua emosi menjadi satu fokus murni: keseimbangan kosmik.Dia berdiri di hadapan monolit

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 122

    Gema bisikan parau yang menyentuh gendang telinganya bukan hanya membawa kengerian, melainkan kekacauan pada memori primordial yang telah ia lupakan.Ia tidak memiliki Ibu. Ia adalah pecahan dari entitas abadi. Tetapi bisikan itu mengandung kebenaran dingin, menghubungkan kekuatannya yang merupakan fragmen Dipasena dengan kehadiran Anggrawati.“Diamlah.” Satria Kala menarik dirinya, kakinya menjauh dari bangkai spiritual pemimpin yang terkutuk itu.Matanya menyisir anggota Bayangan Merah yang tersisa; mereka merayap pergi ke dalam kegelapan. Ia membiarkan mereka lolos untuk sesaat.Keutuhan batinnya lebih mendesak untuk diselamatkan dibandingkan menangkap serpihan prajurit rendahan.Inti permasalahan semakin memburuk. Kehadiran Anggrawati di antara mereka yang mencari Ketiadaan berarti peperangan ini adalah sebuah skandal kosmik yang bersifat pribadi.Ia membutuhkan instrumen yang tidak terikat pada emosi manusianya; senjata yang

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 121

    Suara dengung mantra bergetar di udara malam, dingin dan menusuk. Aromanya kini kuat, bau sangit darah spiritual bercampur belerang dari akar-akar jurang yang jauh.Satria Kala menunggu. Ia mengawasi pemimpin itu. Pria itu tampak familiar dalam caranya membawa diri; arogan, dan terbuai oleh kekuasaan temporer yang ia anggap tak tersentuh.Momen ketegangan datang ketika si pemimpin, sambil mengarahkan kristal hitam yang bercahaya di atas kepala para korban, mengucapkan kata-kata peresmian.“Inti Prana adalah fondasi yang kokoh. Ini adalah kurban pertama yang kita serahkan kepada Dia yang segera datang!” teriaknya dengan suara parau.Pada saat itulah Satria Kala melangkah keluar dari lindungan semak pinus. Bukan dengan teriakan, bukan dengan pedang yang terhunus. Ia hanya berdiri, keheningan kehadirannya jauh lebih keras daripada badai mana pun. Setiap anggota Bayangan Merah, yang tenggelam dalam ekstase mantra, tersentak.Pemimpin itu meno

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 120

    Retakan di langit Loka Keseimbangan berhenti meluas.Tepiannya yang hitam pekat mulai menyusut, ditarik oleh esensi Dipasena yang kini menjadi jaring pengaman, tambalan kosmik yang ditenun dari pengorbanan.“Dia tidak lagi Dipasena, sang manusia,” bisik Nirmala. “Dia telah menjadi Keseimbangan itu sendiri.”Ledakan terakhir di kawah Gunung Guntur bukanlah ledakan yang merusak, melainkan ledakan yang memulihkan.Gelombang cahaya putih cemerlang yang membawa esensi Prana murni meletus dari puncak gunung, membubung tinggi ke angkasa sebelum menyebar ke segala penjuru laksana riak di permukaan danau kosmik.Anggrawati terlempar ke belakang oleh kekuatannya, jatuh tak sadarkan diri ke tanah yang kini tidak lagi hitam, melainkan mulai bersinar lembut.Gelombang penyembuh itu menyapu daratan dengan kecepatan angin. Ia melewati pasukan Cakra Baja di kaki gunung.Ki Dandang, yang tadinya memasang wajah dingin dan tegas, kini hany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status