LOGINSuara pintu yang menutup menjadi bunyi terakhir yang terdengar di kamar itu.Setelahnya, sunyi. Jasmine masih berdiri beberapa detik, menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati Raiden. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak, seolah pikirannya tertinggal bersama langkah kaki pria itu. Perlahan, lututnya kehilangan tenaga.Ia terduduk begitu saja di lantai, bersandar pada sisi ranjang dengan napas yang terasa berat. Jemarinya menutupi wajahnya sendiri, tetapi air mata tetap mengalir di sela-sela jari itu.Ruangan yang sejak beberapa hari terakhir selalu terasa hangat ketika mereka bercanda bersama, berdiskusi hal-hal kecil dan bahkan menghabiskan malam-malam bergairah bersama kini mendadak terasa begitu luas dan asing.Untuk pertama kalinya, Jasmine menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin ia akui. Raiden tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari kesepakatan mereka. Pria itu diam-diam telah menjadi bagian dari kesehariannya.
"Raiden, bangun." Suara itu terdengar begitu pelan. Disusul sepasang tangan yang perlahan melingkari tubuh Raiden dari belakang.Pria itu masih tertidur lelap. Semalaman ia nyaris tidak bisa memejamkan mata setelah kejadian di balkon. Baru menjelang subuh tubuhnya menyerah karena kelelahan.Namun saat ini, pelukan hangat itu justru membangunkannya. Raiden mengerutkan dahi.Tanpa membuka mata, ia mengira sedang bermimpi. Sampai aroma parfum yang sangat dikenalnya memenuhi penciumannya.Matanya terbuka seketika. Begitu melihat Jasmine berada di atas ranjangnya sambil memeluknya erat, Raiden langsung tersentak bangun."Apa yang kau lakukan?" Nada suaranya begitu tajam.Jasmine ikut terkejut. Ia segera melepaskan pelukannya, tetapi tetap tersenyum kecil."Aku hanya ingin meminta maaf."Raiden sama sekali tidak membalas senyuman itu. Tatapannya justru semakin dingin."Siapa yang menyuruhmu masuk?"Jasmine men
"Apa kau marah padaku?"Kalimat itu berkali-kali muncul di layar ponsel Jasmine. Ia mengetiknya. Menghapusnya. Menulis lagi. Lalu kembali menghapusnya. Jari-jarinya yang biasanya begitu mantap mengambil keputusan, kini justru gemetar hanya untuk mengirim satu kalimat sederhana.Kamar hotel terasa terlalu sunyi.Zen sedang membersihkan diri di kamar mandi, Seharusnya Jasmine merasa lega karena tidak perlu lagi berbohong untuk sementara waktu.Namun anehnya, kelegaan itu tidak datang.Yang memenuhi dadanya justru bayangan Raiden saat memarahinya beberapa saat lalu.Tatapan pemuda itu masih terus teringat jelas.Meskipun tidak berteriak, tidak juga membentak.Tetapi cukup tajam untuk membuatnya sadar bahwa ia sudah melewati batas.Jasmine perlahan menutup kedua matanya."Kenapa aku selalu membuat orang lain dalam bahaya?" Bisikan lirih itu hilang ditelan suara pendingin ruangan.Tanpa berpikir panjang lagi, ia akhirny
Raiden baru berani bernapas lega ketika kedua kakinya benar-benar menginjak lantai balkon kamarnya sendiri. Punggungnya masih menempel pada dinding. Napasnya belum beraturan. Keringat dingin mengalir di pelipis meski angin laut sore terus berembus melewati sela-sela pagar balkon.Baru saja, sedikit saja telapak kakinya bergeser.Sedikit saja tangannya terlambat meraih pembatas balkon. Mungkin saat ini tubuhnya sudah tergeletak beberapa lantai di bawah.Raiden memejamkan mata sejenak."Aku benar-benar gila..."Ia tertawa pelan, tetapi tawanya terdengar hambar. Permainan seperti ini bukan lagi membuat jantungnya berdebar, melainkan benar-benar mempertaruhkan nyawa.Perlahan ia melangkah masuk ke kamar.Begitu pintu balkon tertutup, tubuhnya langsung merosot ke lantai. Beberapa detik ia hanya duduk diam sambil menenangkan napas. Tangannya kemudian merogoh saku celana.Sebuah kartu hitam mengilap kembali ia keluarkan.Raiden m
Tangan Zen baru saja hendak menyentuh gagang pintu balkon. Namun sebelum sempat membukanya, sebuah tangan yang lembut lebih dulu menggenggam lengannya. "Zen..." Suara Jasmine terdengar lirih. Zen menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah istrinya. Tatapannya masih dipenuhi tanda tanya. Sejak mereka menikah, sangat jarang Jasmine bersikap seperti ini. Biasanya perempuan itu akan langsung berdebat atau membalas ucapannya dengan logika. Tetapi kali ini berbeda. Jasmine justru mendekat, berdiri begitu dekat hingga kedua tangan mungilnya mengusap pelan lengan suaminya. "Ada apa?" tanya Zen pelan. Jasmine mengangkat wajah, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang hampir meluap dari sorot matanya. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut Zen dapat mendengarnya. "Kau terlalu banyak berpikir." Nada suaranya dibuat selembut mungkin.
Sementara itu, di balkon kamar hotel, Raiden mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak bersembunyi, ia benar-benar bisa menarik udara dengan lega. Dari balik pintu kaca, suara Jasmine dan Zen masih terdengar samar. Itu pertanda kebohongan Jasmine kembali berhasil menutupi keberadaannya.Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama.Raiden mengusap wajahnya dengan kasar. Rahangnya mengeras mengingat beberapa menit yang lalu. Dadanya masih dipenuhi amarah yang belum benar-benar reda."Apa dia tidak pernah berpikir kalau aku juga bisa celaka?" gumamnya pelan.Ia memang menerima uang Jasmine. Kesepakatan itu dibuat atas kehendak mereka berdua. Tetapi setiap kali harus bertemu diam-diam seperti ini, yang mempertaruhkan nyawa dan harga diri justru dirinya.Kalau sampai Zen memergokinya berada di kamar istrinya, siapa yang akan dipercaya?Tidak ada.Yang akan dianggap bersalah tetap dirinya.Raiden memandang balkon kamarnya yang hanya dipisahkan ol
Raiden baru saja membuka pintu mobil ketika langkahnya mendadak terhenti.Bungkusan sayur, bumbu dapur, dan beberapa kebutuhan yang baru dibelinya hampir terlepas dari genggaman.Di kursi penumpang, Jasmine duduk menunduk. Bahunya bergetar pelan. Tangannya memeluk dirinya sendiri, sementa
JASMINE DIREKTUR UTAMA PERUSAHAAN ZEN GROUP TENGAH MENGANDUNG ANAK DARI PEMILIK ZEN GROUP.Judul berita itu terpampang besar memenuhi layar ponsel Jasmine.Seolah sengaja dibuat agar semua orang melihatnya, agar semua orang fokus pada Zen group saat ini. "Apa-apaan ini?" desis Jasmin
"Kenapa kau tidak ikut turun?" Raiden membuka pintu mobil lalu kembali masuk ke dalam setelah selesai membantu wanita penjual kerupuk tadi. Begitu duduk di kursi pengemudi, ia langsung menoleh ke arah Jasmine. Tatapannya serius, tetapi tidak mengandung nada menyalahkan. Yang ada justru rasa penasa
Pada akhirnya, mobil mewah itu sampai di area pasar. Suara tawar-menawar, klakson motor, teriakan pedagang sayur, hingga aroma ikan segar bercampur rempah-rempah memenuhi udara. Mobil yang harusnya mentereng di area-area mahal, Raiden justru membawanya ketempat yang seperti sekarang ini. Pria itu







