ログイン"Pakai yang ini." Suara Lucas memecah keheningan kamar hotel. Hagia yang sedang merapikan tas kecilnya perlahan menoleh. Di tangan pria itu tergantung selembar pakaian renang berwarna biru muda yang baru saja dikeluarkan dari kantong belanja. Seketika, wajah Hagia memucat. Ada perasaan aneh yang mulai timbul, perasan tak nyaman. Ingatan tentang malam di pantai kembali menghantam pikirannya tanpa permisi. Malam di mana ia merasa benar-benar hancur, apalagi semua itu menjadi pemandangan menyakitkan bagi Raiden. Tangannya refleks mengepal. "Aku tidak mau." Jawabannya pelan, nyaris seperti bisikan. Tetapi, ia sedang mengumpulkan pertahanannya. Lucas masih tersenyum, senyum yang sulit dijelaskan. "Ayolah." Ia melangkah mendekat lalu meletakkan pakaian itu di atas ranjang. "Kita sedang di Bali." Lanjutnya, seakan-akan penola
Suara pintu yang menutup menjadi bunyi terakhir yang terdengar di kamar itu.Setelahnya, sunyi. Jasmine masih berdiri beberapa detik, menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati Raiden. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak, seolah pikirannya tertinggal bersama langkah kaki pria itu. Perlahan, lututnya kehilangan tenaga.Ia terduduk begitu saja di lantai, bersandar pada sisi ranjang dengan napas yang terasa berat. Jemarinya menutupi wajahnya sendiri, tetapi air mata tetap mengalir di sela-sela jari itu.Ruangan yang sejak beberapa hari terakhir selalu terasa hangat ketika mereka bercanda bersama, berdiskusi hal-hal kecil dan bahkan menghabiskan malam-malam bergairah bersama kini mendadak terasa begitu luas dan asing.Untuk pertama kalinya, Jasmine menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin ia akui. Raiden tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari kesepakatan mereka. Pria itu diam-diam telah menjadi bagian dari kesehariannya.
"Raiden, bangun." Suara itu terdengar begitu pelan. Disusul sepasang tangan yang perlahan melingkari tubuh Raiden dari belakang.Pria itu masih tertidur lelap. Semalaman ia nyaris tidak bisa memejamkan mata setelah kejadian di balkon. Baru menjelang subuh tubuhnya menyerah karena kelelahan.Namun saat ini, pelukan hangat itu justru membangunkannya. Raiden mengerutkan dahi.Tanpa membuka mata, ia mengira sedang bermimpi. Sampai aroma parfum yang sangat dikenalnya memenuhi penciumannya.Matanya terbuka seketika. Begitu melihat Jasmine berada di atas ranjangnya sambil memeluknya erat, Raiden langsung tersentak bangun."Apa yang kau lakukan?" Nada suaranya begitu tajam.Jasmine ikut terkejut. Ia segera melepaskan pelukannya, tetapi tetap tersenyum kecil."Aku hanya ingin meminta maaf."Raiden sama sekali tidak membalas senyuman itu. Tatapannya justru semakin dingin."Siapa yang menyuruhmu masuk?"Jasmine men
"Apa kau marah padaku?"Kalimat itu berkali-kali muncul di layar ponsel Jasmine. Ia mengetiknya. Menghapusnya. Menulis lagi. Lalu kembali menghapusnya. Jari-jarinya yang biasanya begitu mantap mengambil keputusan, kini justru gemetar hanya untuk mengirim satu kalimat sederhana.Kamar hotel terasa terlalu sunyi.Zen sedang membersihkan diri di kamar mandi, Seharusnya Jasmine merasa lega karena tidak perlu lagi berbohong untuk sementara waktu.Namun anehnya, kelegaan itu tidak datang.Yang memenuhi dadanya justru bayangan Raiden saat memarahinya beberapa saat lalu.Tatapan pemuda itu masih terus teringat jelas.Meskipun tidak berteriak, tidak juga membentak.Tetapi cukup tajam untuk membuatnya sadar bahwa ia sudah melewati batas.Jasmine perlahan menutup kedua matanya."Kenapa aku selalu membuat orang lain dalam bahaya?" Bisikan lirih itu hilang ditelan suara pendingin ruangan.Tanpa berpikir panjang lagi, ia akhirny
Raiden baru berani bernapas lega ketika kedua kakinya benar-benar menginjak lantai balkon kamarnya sendiri. Punggungnya masih menempel pada dinding. Napasnya belum beraturan. Keringat dingin mengalir di pelipis meski angin laut sore terus berembus melewati sela-sela pagar balkon.Baru saja, sedikit saja telapak kakinya bergeser.Sedikit saja tangannya terlambat meraih pembatas balkon. Mungkin saat ini tubuhnya sudah tergeletak beberapa lantai di bawah.Raiden memejamkan mata sejenak."Aku benar-benar gila..."Ia tertawa pelan, tetapi tawanya terdengar hambar. Permainan seperti ini bukan lagi membuat jantungnya berdebar, melainkan benar-benar mempertaruhkan nyawa.Perlahan ia melangkah masuk ke kamar.Begitu pintu balkon tertutup, tubuhnya langsung merosot ke lantai. Beberapa detik ia hanya duduk diam sambil menenangkan napas. Tangannya kemudian merogoh saku celana.Sebuah kartu hitam mengilap kembali ia keluarkan.Raiden m
Tangan Zen baru saja hendak menyentuh gagang pintu balkon. Namun sebelum sempat membukanya, sebuah tangan yang lembut lebih dulu menggenggam lengannya. "Zen..." Suara Jasmine terdengar lirih. Zen menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah istrinya. Tatapannya masih dipenuhi tanda tanya. Sejak mereka menikah, sangat jarang Jasmine bersikap seperti ini. Biasanya perempuan itu akan langsung berdebat atau membalas ucapannya dengan logika. Tetapi kali ini berbeda. Jasmine justru mendekat, berdiri begitu dekat hingga kedua tangan mungilnya mengusap pelan lengan suaminya. "Ada apa?" tanya Zen pelan. Jasmine mengangkat wajah, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang hampir meluap dari sorot matanya. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut Zen dapat mendengarnya. "Kau terlalu banyak berpikir." Nada suaranya dibuat selembut mungkin.
Hagia sedang membersihkan luka di sudut bibir Lucas dengan tangan gemetar. Mereka kini berada di area teras kafe sekaligus restoran itu, sedikit jauh dari keramaian di dalam yang masih ribut membicarakan perkelahian barusan.Sore mulai akan berubah petang.Angin berembus pelan, membawa aroma kopi d
Raiden terus memandangi Hagia dari kejauhan. Namun semakin lama ia memperhatikan perempuan itu, semakin kuat pula buku-buku jarinya mengepal di bawah meja.Dadanya terasa panas.Hagia yang biasanya lembut dan tenang kini terlihat menciut di depan pria itu. Duduk diam dengan kepala tertunduk, seolah
Setelah hampir seharian berkeliling membeli berbagai keperluan untuk barbershop kecil impian Tian, Raiden akhirnya mengajak adiknya berhenti sejenak di sebuah kafe yang berada tidak jauh dari pusat pertokoan.Sore itu suasana kota cukup ramai. Langit mulai berubah jingga, cahaya matahari masuk dari
Tanpa sadar, Raiden semakin sering memikirkan wanita itu. Hal-hal kecil tentang Jasmine terus muncul di kepalanya, bahkan kekhawatiran yang seharusnya tidak perlu ikut ia rasakan.“Mana sarapanku?”Suara Tian yang baru keluar dari kamar mandi membuyarkan lamunannya. Rambut remaja itu masih sedikit







