ANMELDEN"Pertarungan Pertama: Jing Ming melawan... Jing Huan!"
Seluruh lapangan mendadak hening sejenak sebelum akhirnya meledak dalam riuh tawa dan bisik-bisik ejekan. "Apa?! Jing Huan si sampah dipasangkan dengan Tuan Muda Jing Ming?!" "Hahaha! Apakah panitia sengaja ingin memberi Tuan Muda Jing Ming kemenangan mudah?" "Si sampah itu pasti akan langsung berlutut dan menyerah dalam satu detik!" Jing Ming yang mendengar namanya dipanggil langsung tertawa puas. Dengan satu lompatan indah yang diiringi dorongan Qi, ia melayang dan mendarat mulus di atas panggung batu. "Keberuntungan benar-benar berpihak padaku!" seru Jing Ming menyeringai lebar, menunjuk Jing Huan dengan jari telunjuknya. "Hei, Sampah! Cepat naik ke panggung! Atau kau mau langsung berlutut di bawah sana dan meminta ampun?" Jing Huan tidak membalas provokasi itu dengan kata-kata. Ia melangkah perlahan, menaiki tangga kayu panggung satu per satu dengan tenang. Sikapnya yang begitu santai dan tidak terpancing membuat tawa para penonton perlahan-lahan surut, digantikan oleh kebingungan. Di tribun utama, Kakek Jing Tai memicingkan matanya menatap cucu yang selama bertahun-tahun diabaikannya itu. "Chen-er, bukankah anak itu tidak memiliki kultivasi? Kenapa dia berada di atas panggung?" "Lapor Kakek," sahut Jing Chen membungkuk. "Sesuai aturan, semua keturunan usia 15 tahun harus terdaftar. Jika dia ingin menyerah, dia bisa mengatakannya sekarang." Di atas panggung, Jing Ming menarik pedang besinya dengan bunyi sring yang tajam. Aura Penempaan Tubuh Bintang 3 melingkupi tubuhnya, menciptakan dorongan angin kecil di sekitarnya. "Jing Huan, aku beri kau kesempatan terakhir," kata Jing Ming bersedekah muka penuh kesombongan. "Patahkan satu tanganmu sendiri di sini, lalu merayaplah keluar dari panggung ini! Jika tidak, pedangku tidak akan punya mata!" Jing Huan berdiri bersedekap dada. Pandangannya lurus, menusuk tajam ke arah mata Jing Ming. "Jing Ming," panggil Jing Huan pelan, suaranya terdengar jelas ke seluruh penjuru lapangan. "Kemarin kau bertanya padaku bagaimana rasanya memukul sampah yang tidak terluka sedikit pun, bukan?" Jing Ming bergetar menahan amarah saat ingatan kemarin terlintas di kepalanya. "Kurang ajar! Kau masih berani membahas hal itu?!" "Hari ini..." lanjut Jing Huan seraya menurunkan kedua tangannya, membiarkan posisi fisiknya rileks sempurna. "Aku akan memperlihatkan padamu... bagaimana rasanya dihajar oleh orang yang kau sebut sampah." "Mati kau, Keparat!" jerit Jing Ming murka. Jing Ming merangsak maju dengan kecepatan penuh. Pedangnya terangkat tinggi, dilapisi aura kuning tajam yang menyasar langsung ke bahu kanan Jing Huan. "TEBASAN ANGIN MEMBELAH!" Gerakan Jing Ming terlihat begitu cepat dan mematikan di mata para murid biasa. Namun di dalam pandangan Jing Huan yang telah memiliki Meridian Dewa dan bimbingan kesadaran Dewa Pedang, gerakan Jing Ming terasa begitu lambat, tak ubahnya seperti gerakan anak kecil yang sedang mengayunkan ranting kayu. Sret! Tepat saat mata pedang itu berjarak satu inci dari bajunya, Jing Huan menggeser kaki kirinya setengah tapak ke samping. Pedang Jing Ming menebas angin kosong dengan keras. "Apa?!" mata Jing Ming membelalak kaget karena serangannya meleset total untuk kedua kalinya. Sebelum Jing Ming sempat menarik kembali tubuhnya yang hilang keseimbangan, Jing Huan sudah berada di sampingnya. Pandangan mata Jing Huan berkilat dingin. "Terlalu lambat," bisik Jing Huan tepat di samping telinga Jing Ming. Jing Huan tidak menggunakan senjata apa pun. Ia hanya mengepalkan tangan kanannya, mengalirkan sedikit Qi merah yang tersembunyi rapat di dalam pembuluh darahnya, lalu menghantamkan tinjunya lurus ke rusuk kiri Jing Ming! BUKH! KRAK! Suara patahan tulang yang sangat renyah terdengar jelas menembus riuhnya arena. "AGHHHKKK!" Jeritan melengking memecah langit saat tubuh Jing Ming terpental deras bagai peluru meriam, meluncur menyeret lantai batu panggung sejauh puluhan meter hingga menghantam tiang bendera di pinggir lapangan sampai roboh! KABOOM! Debu membumbung tinggi di pinggir lapangan. Ketika debu perlahan menipis, terlihat Jing Ming tergeletak tak berdaya, memegangi rusuknya yang remuk seraya memuntahkan darah segar secara beruntun. Pingsan seketika! Seluruh Lapangan Utama Kediaman Jing mendadak sunyi senyap. Tidak ada satu orang pun yang bersuara. Para murid melotot tak percaya, para Tetua berdiri dari kursi mereka dengan wajah syok, dan Jing Huo mendadak berdiri kaku dengan napas tertahan. Satu pukulan sederhana dari manusia tanpa kultivasi telah menumbangkan seorang jenius Penempaan Tubuh Bintang 3 dalam sekejap mata! Jing Huan berdiri tegap di tengah panggung, mengibaskan sedikit debu di lengan bajunya, lalu memalingkan wajahnya menatap langsung ke arah Jing Huo yang terpaku di pinggir panggung. "Jing Huo," panggil Jing Huan tenang, mengacungkan jari telunjuknya ke arah sepupunya itu. "Gilirannmu."Mu Zhen menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh seolah teringat kenangan belasan tahun silam. "Mengenalinya?" Mu Zhen tersenyum getir. "Ayahmu, Jing Tian, adalah pahlawan tiada tanding di Kota Kerajaan ini! Dulu, di Ranah Raja Abadi, nama Jing Tian dihormati oleh seluruh sekte dan keluarga bangsawan. Kami berdua adalah saudara angkat yang pernah mengarungi ribuan medan pertempuran bersama." Mu Qing terperanjat, matanya membelalak kaget. "Ayah... Ayah Jing Huan dulu adalah seorang Pahlawan di Ranah Raja Abadi?!" "Benar," jawab Mu Zhen lirih. Pandangannya kemudian tertuju lurus pada mata Jing Huan. "Jing Huan, aku mendengar rumor tentang racun yang mengendap di meridian dalammu. Apakah itu benar Racun Dingin Tujuh Bintang?" Jing Huan menyipitkan mata, pendaran cahaya keemasan dari Meridian Dewa bergetar halus di pupil matanya. "Benar, Tuan Mu. Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?"Mu Zhen mengepalkan tangannya di atas meja hingga pembuluh darahnya menonjol, raut wajahnya be
Jing Huan kemudian merogoh kantong spasial yang menggantung di pinggang Guan Feng dan tiga rekannya, memetiknya secara santai. SREK! SREK! "I-Itu kantong batu spiritual kami! Kembalikan!" jerit salah satu antek Zhao Yan dengan mata membelalak. Jing Huan membuka kantong-kantong tersebut, mengamati ratusan batu spiritual tingkat menengah bercahaya murni di dalamnya dengan senyum tipis. "Sebagai ganti rugi atas gangguan bising yang kalian buat dan kompensasi karena telah menahan bahan obatku... aku mengambil tiga ratus batu spiritual tingkat menengah ini," ujar Jing Huan datar. "Kau memeras kami?!" teriak Guan Feng dengan air mata ketakutan dan kemarahan yang bercampur aduk. "Memeras?" Jing Huan memiringkan kepalanya. "Bukan. Ini adalah hadiah sukarela dari kalian karena telah dengan ramah menyerahkan obat ini padaku. Bukankah begitu?" Jing Huan memperketat sedikit tekanan Qi di pundak Guan Feng, membuat pemuda itu langsung meringis kesakitan luar biasa. "I-Iya! Iya! Hadia
Pagi hari di area barat Akademi Kerajaan tampak ramai oleh lalu lalang murid senior dan pendaftar baru. Bangunan tiga lantai bergaya megah dengan aroma rempah-rempah yang kuat berdiri tegap di tengah kompleks—Paviliun Obat Akademi.Jing Huan melangkah masuk dengan tenang, jubah biru tua Murid Inti melambai pelan seiring langkah kakinya. Di dalam jiwanya, ia teringat akan luka racun lama yang mengendap di meridian dalamnya.“Bocah,” suara Dewa Pedang Abadi berbisik lembut. “Sisa-sisa Racun Dingin Tujuh Bintang di tubuhmu memang sudah diredam oleh Meridian Dewa, tetapi kau butuh bahan pelacak seperti Rumput Penuntun Jiwa dan Bunga Ungu Malam untuk memurnikannya total sekaligus menelusuri siapa yang menanamkan racun ini di masa lalu.”Jing Huan mengangguk tipis. "Aku mengerti, Guru."Ia berjalan menuju meja pelayanan utama. Seorang penjaga toko paruh baya menyambutnya dengan senyum tipis. "Selamat datang di Paviliun Obat, Murid Inti. Ada bahan spiritual yang Anda cari?""Aku butuh Rumput
Angin dingin berhembus kencang dari balik tebing Lembah Pedang, menghempaskan dedaunan bambu hitam di sekeliling Kambang Pedang Tua. Di atas sebuah batu datar yang berada tepat di mulut celah tebing, Jing Huan duduk bersila dengan kedua mata terpejam rapat.Di dalam dadanya, Meridian Dewa memancarkan pendaran cahaya keemasan yang kian terang. Arus Qi liar dari gumpalan sisa naskah pedang purba di tebing ditarik masuk secara paksa melalui pori-pori kulitnya.BZZZZZT...Namun, energi dari Lembah Pedang terlalu tajam dan terasa membakar. Jalur-jalur meridian Jing Huan bergetar hebat, menimbulkan sensasi panas yang menusuk hingga ke dalam tulang.“Bocah, tahan!” suara Dewa Pedang Abadi bergema peringatan di dalam jiwanya. “Hawa pedang purba ini terlampau ganas untuk Ranah Penempaan Tubuh Bintang 4. Jika kau memaksa menyerapnya tanpa peredam, meridianmu bisa robek sebelum menerobos!”Jing Huan menggetarkan giginya, meremas lututnya hingga jari-jarinya memutih. "Guru... hawa panas ini memba
"Pantas saja aura pedang di sini terasa sedikit menekan dadaku," sahut Jing Huan seraya menarik pedang besi murni milik-Nya dari sarungnya. "Guru, kekuatan Penempaan Tubuh Bintang 4 milikku sudah stabil. Rekor ujian kemarin telah membuktikan bahwa Pedang Dewa Tebasan Pertama: Pemotong Angin sangat berguna untuk kecepatan dan ketepatan. Tapi bagaimana dengan daya hancur area terbatas?"Dewa Pedang Abadi melayang mendekat, matanya berkilat penuh wibawa.“Pertanyaan yang bagus, Bocah! Dalam pertarungan menghadapi lawan yang mengandalkan armor berat, pertahanan tebal, atau dikelilingi oleh banyak musuh berpelindung keras, Pemotong Angin tidak akan cukup tebal untuk membelah mereka dalam sekali ayun!”Dewa Pedang Abadi melambaikan lengan bajunya yang ilusi ke arah tebing batu raksasa di belakang kediaman.“Hari ini, aku akan mengajarkanmu jurus kedua dari Sembilan Pedang Dewa Abadi: Pedang Dewa Tebasan Kedua: Pembelah Gunung!”"Pembelah Gunung?" ulang Jing Huan, matanya berbinar.“Benar!”
Sinar matahari pagi menyiram megahnya kompleks Akademi Kerajaan Kota Pusat, memantulkan warna keemasan pada atap-atap gerbang batu dan paviliun tinggi yang berdiri megah. Setelah pengesahan mengejutkan dari Tetua Utama Feng Tian kemarin, suasana di area pendaftaran murid baru masih menyisakan bisik-bisik kagum dari para pendaftar.Di Balai Pengaturan Murid, seorang instruktur paruh baya berjas kulit tebal menyerahkan dua buah kunci batu bernomor emas dan dua gulungan jubah biru tua berpola naga kecil, pakaian resmi Murid Inti Akademi."Nona Mu Qing, kediaman Anda berada di Paviliun Teratai Biru, area murid inti bagian timur yang kaya akan energi Qi air dan es," ujar instruktur tersebut dengan sikap sangat sopan.Mu Qing menerima kunci batu dan jubahnya, lalu tersenyum manis. "Terima kasih, Instruktrur."Instruktur itu kemudian beralih menatap Jing Huan. Raut wajahnya berubah penuh hormat saat menyerahkan denah lokasi akademi. "Tuan Muda Jing Huan, sebagai Peringkat Pertama Ujian Gerba







