Startseite / Pendekar / PENDEKAR PENGUASA AGUNG / 6 Pembentukan Ulang Meridian

Teilen

6 Pembentukan Ulang Meridian

last update Veröffentlichungsdatum: 21.09.2026 20:08:02

“Tahan, Jing Huan! Jangan biarkan kesadaranmu padam!” cegat suara kuno itu keras. “Jalur meridianmu yang tersumbat sejak lahir sedang dihancurkan dan dibentuk kembali! Ini adalah pembentukan Meridian Dewa!”

"Hah... hah... Aku... aku tidak akan menyerah!" jerit Jing Huan dalam hati. Ia mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, bertahan di tengah gempuran rasa panas yang luar biasa.

Perlahan-lahan, di dalam tubuh Jing Huan yang sebelumnya hampa, saluran-saluran energi murni yang transparan dan memancarkan aura merah keemasan mulai terbentuk secara ajaib. Jalur-jalur meridian baru itu menyambung dari kepala, dada, hingga ke seluruh ujung jari dan kakinya.

Tubuhnya bercucuran keringat, bergumpal dengan kotoran hitam berbau busuk yang terdorong keluar dari dalam kulitnya—tanda bahwa racun dan kotoran endapan tubuhnya sedang dibersihkan secara total.

Saat meridian terakhir selesai terbentuk, aliran Qi alam yang tadi melayang di udara langsung mengalir deras masuk ke dalam tubuh Jing Huan, berputar-putar dengan patuh di bawah kendalinya.

Jing Huan membuka matanya perlahan. Pupil matanya menyala merah terang sejenak sebelum kembali normal. Rasa panas membara itu berganti menjadi hawa hangat yang sangat menyegarkan. Tubuhnya terasa puluhan kali lebih ringan, dan indra pendengarannya menjadi begitu tajam.

Ia bisa merasakan energi yang bergejolak hebat di dalam pembuluh darah barunya.

"Ini... apakah ini yang dinamakan Qi?" tanya Jing Huan penuh takjub, menatap lengannya yang kini dipenuhi aliran energi hangat.

“Selamat, Anak Muda,” suara kuno itu tertawa pelan terkekeh puas. “Kau baru saja melewati ujian pertama. Jalur Meridian Dewa Pedang telah bangkit di dalam tubuhmu. Sekarang, kau bukan lagi manusia tanpa bakat, melainkan seorang kultivator sejati.”

Jing Huan berdiri dari posisi duduknya. Ia menggenggam tangannya kuat-kuat, merasakan kekuatan luar biasa yang siap meledak kapan saja.

"Terima kasih, Senior!" seru Jing Huan penuh rasa syukur. Tatapannya kemudian beralih menatap pintu gubuk, menembus kegelapan malam menuju panggung utama Kediaman Jing. "Jing Huo... Jing Ming... Turnamen besok akan menjadi awal dari mimpi buruk kalian!"

*** *** ***

Sinar matahari pagi perlahan menembus celah-celah gubuk tua Jing Huan, membiaskan cahaya murni ke atas tubuhnya yang masih diselimuti lapisan kotoran hitam sisa pembersihan meridian.

Jing Huan melangkah keluar, membersihkan diri dengan air sumur yang dingin di belakang kediaman, lalu mengenakan pakaian kelabu bersih meski amat sederhana.

Di dalam tubuhnya, aliran Qi merah keemasan berputar begitu tenang namun padat. Ia telah resmi memasuki Ranah Pengumpulan Qi Tingkat 1, tetapi berkat bantuan Dewa Pedang Abadi, auranya tersembunyi sempurna di mata orang luar.

"Saatnya," bisik Jing Huan dingin seraya berjalan menuju Lapangan Utama Kediaman Jing.

Suasana di Lapangan Utama sangat meriah. Puluhan bendera bertuliskan karakter "Jing" berkibar megah di sekeliling panggung batu berukuran besar.

Ratusan anggota keluarga, tetua, serta murid-murid generasi muda telah berkumpul dengan sorak-sorai yang membahana.

Hari ini adalah turnamen keluarga jing, bagi siapa saja yang menang, maka dia berhak masuk ke sebuah akademi, karena di keluarga jing mendapatkan 5 kuota untuk masuk akademi.

Di tribun kehormatan, duduk seorang pria tua berambut putih dengan jubah sutra merah tua yang memancarkan aura tekanan amat kuat—Jing Tai, Kepala Keluarga Jing sekaligus Kakek kandung Jing Huan. Di sampingnya duduk para Tetua dan Paman Ketiga, Jing Chen.

"Lihat! Tuan Muda Jing Huo dan Tuan Muda Jing Ming sudah datang!" seru salah seorang murid dari kerumunan.

Jing Huo berjalan dengan kepala tegak, mengenakan jubah emas yang megah. Di belakangnya, Jing Ming berjalan mendampingi dengan raut wajah bangga. Namun, pandangan Jing Huo langsung membeku saat matanya menangkap sosok Jing Huan yang berdiri tenang di barisan belakang murid-murid peserta.

"Anak itu... dia benar-benar berani datang!" bisik Jing Ming dengan gigi berkerut.

"Biarkan saja," jawab Jing Huo dingin seraya tersenyum kejam. "Di panggung turnamen, Paman Ketiga tidak akan bisa melarangku. Aku akan memastikan dia lumpuh total di hadapan Kakek."

Suara pukulan gong raksasa bergema tiga kali, menandakan turnamen resmi dibuka.

BOOM! BOOM! BOOM!

Tetua Pemandu Acara melangkah ke depan panggung utama dengan gulungan kain di tangannya. "Turnamen Tahunan Keluarga Jing Resmi Dimulai! Aturan bertanding sederhana: tidak boleh membunuh, dan pertarungan berakhir jika salah satu peserta menyerah atau keluar dari panggung!"

Tetua itu membuka gulungan kertas dan membacakan partai pertarungan pertama.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   28 Racun Biadab

    Mu Zhen menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh seolah teringat kenangan belasan tahun silam. "Mengenalinya?" Mu Zhen tersenyum getir. "Ayahmu, Jing Tian, adalah pahlawan tiada tanding di Kota Kerajaan ini! Dulu, di Ranah Raja Abadi, nama Jing Tian dihormati oleh seluruh sekte dan keluarga bangsawan. Kami berdua adalah saudara angkat yang pernah mengarungi ribuan medan pertempuran bersama." Mu Qing terperanjat, matanya membelalak kaget. "Ayah... Ayah Jing Huan dulu adalah seorang Pahlawan di Ranah Raja Abadi?!" "Benar," jawab Mu Zhen lirih. Pandangannya kemudian tertuju lurus pada mata Jing Huan. "Jing Huan, aku mendengar rumor tentang racun yang mengendap di meridian dalammu. Apakah itu benar Racun Dingin Tujuh Bintang?" Jing Huan menyipitkan mata, pendaran cahaya keemasan dari Meridian Dewa bergetar halus di pupil matanya. "Benar, Tuan Mu. Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?"Mu Zhen mengepalkan tangannya di atas meja hingga pembuluh darahnya menonjol, raut wajahnya be

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   27 Undangan Maut Dari Kedimaan Mu

    Jing Huan kemudian merogoh kantong spasial yang menggantung di pinggang Guan Feng dan tiga rekannya, memetiknya secara santai. SREK! SREK! "I-Itu kantong batu spiritual kami! Kembalikan!" jerit salah satu antek Zhao Yan dengan mata membelalak. Jing Huan membuka kantong-kantong tersebut, mengamati ratusan batu spiritual tingkat menengah bercahaya murni di dalamnya dengan senyum tipis. "Sebagai ganti rugi atas gangguan bising yang kalian buat dan kompensasi karena telah menahan bahan obatku... aku mengambil tiga ratus batu spiritual tingkat menengah ini," ujar Jing Huan datar. "Kau memeras kami?!" teriak Guan Feng dengan air mata ketakutan dan kemarahan yang bercampur aduk. "Memeras?" Jing Huan memiringkan kepalanya. "Bukan. Ini adalah hadiah sukarela dari kalian karena telah dengan ramah menyerahkan obat ini padaku. Bukankah begitu?" Jing Huan memperketat sedikit tekanan Qi di pundak Guan Feng, membuat pemuda itu langsung meringis kesakitan luar biasa. "I-Iya! Iya! Hadia

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   26 Jebakan Di Paviliun Obat

    Pagi hari di area barat Akademi Kerajaan tampak ramai oleh lalu lalang murid senior dan pendaftar baru. Bangunan tiga lantai bergaya megah dengan aroma rempah-rempah yang kuat berdiri tegap di tengah kompleks—Paviliun Obat Akademi.Jing Huan melangkah masuk dengan tenang, jubah biru tua Murid Inti melambai pelan seiring langkah kakinya. Di dalam jiwanya, ia teringat akan luka racun lama yang mengendap di meridian dalamnya.“Bocah,” suara Dewa Pedang Abadi berbisik lembut. “Sisa-sisa Racun Dingin Tujuh Bintang di tubuhmu memang sudah diredam oleh Meridian Dewa, tetapi kau butuh bahan pelacak seperti Rumput Penuntun Jiwa dan Bunga Ungu Malam untuk memurnikannya total sekaligus menelusuri siapa yang menanamkan racun ini di masa lalu.”Jing Huan mengangguk tipis. "Aku mengerti, Guru."Ia berjalan menuju meja pelayanan utama. Seorang penjaga toko paruh baya menyambutnya dengan senyum tipis. "Selamat datang di Paviliun Obat, Murid Inti. Ada bahan spiritual yang Anda cari?""Aku butuh Rumput

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   25 Penempaan Tubuh Bintang 5

    Angin dingin berhembus kencang dari balik tebing Lembah Pedang, menghempaskan dedaunan bambu hitam di sekeliling Kambang Pedang Tua. Di atas sebuah batu datar yang berada tepat di mulut celah tebing, Jing Huan duduk bersila dengan kedua mata terpejam rapat.Di dalam dadanya, Meridian Dewa memancarkan pendaran cahaya keemasan yang kian terang. Arus Qi liar dari gumpalan sisa naskah pedang purba di tebing ditarik masuk secara paksa melalui pori-pori kulitnya.BZZZZZT...Namun, energi dari Lembah Pedang terlalu tajam dan terasa membakar. Jalur-jalur meridian Jing Huan bergetar hebat, menimbulkan sensasi panas yang menusuk hingga ke dalam tulang.“Bocah, tahan!” suara Dewa Pedang Abadi bergema peringatan di dalam jiwanya. “Hawa pedang purba ini terlampau ganas untuk Ranah Penempaan Tubuh Bintang 4. Jika kau memaksa menyerapnya tanpa peredam, meridianmu bisa robek sebelum menerobos!”Jing Huan menggetarkan giginya, meremas lututnya hingga jari-jarinya memutih. "Guru... hawa panas ini memba

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   24 Jurus Pedang Dewa Tahap II

    "Pantas saja aura pedang di sini terasa sedikit menekan dadaku," sahut Jing Huan seraya menarik pedang besi murni milik-Nya dari sarungnya. "Guru, kekuatan Penempaan Tubuh Bintang 4 milikku sudah stabil. Rekor ujian kemarin telah membuktikan bahwa Pedang Dewa Tebasan Pertama: Pemotong Angin sangat berguna untuk kecepatan dan ketepatan. Tapi bagaimana dengan daya hancur area terbatas?"Dewa Pedang Abadi melayang mendekat, matanya berkilat penuh wibawa.“Pertanyaan yang bagus, Bocah! Dalam pertarungan menghadapi lawan yang mengandalkan armor berat, pertahanan tebal, atau dikelilingi oleh banyak musuh berpelindung keras, Pemotong Angin tidak akan cukup tebal untuk membelah mereka dalam sekali ayun!”Dewa Pedang Abadi melambaikan lengan bajunya yang ilusi ke arah tebing batu raksasa di belakang kediaman.“Hari ini, aku akan mengajarkanmu jurus kedua dari Sembilan Pedang Dewa Abadi: Pedang Dewa Tebasan Kedua: Pembelah Gunung!”"Pembelah Gunung?" ulang Jing Huan, matanya berbinar.“Benar!”

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   23 Masuk Akademi dan Tempat Tinggal Baru

    Sinar matahari pagi menyiram megahnya kompleks Akademi Kerajaan Kota Pusat, memantulkan warna keemasan pada atap-atap gerbang batu dan paviliun tinggi yang berdiri megah. Setelah pengesahan mengejutkan dari Tetua Utama Feng Tian kemarin, suasana di area pendaftaran murid baru masih menyisakan bisik-bisik kagum dari para pendaftar.Di Balai Pengaturan Murid, seorang instruktur paruh baya berjas kulit tebal menyerahkan dua buah kunci batu bernomor emas dan dua gulungan jubah biru tua berpola naga kecil, pakaian resmi Murid Inti Akademi."Nona Mu Qing, kediaman Anda berada di Paviliun Teratai Biru, area murid inti bagian timur yang kaya akan energi Qi air dan es," ujar instruktur tersebut dengan sikap sangat sopan.Mu Qing menerima kunci batu dan jubahnya, lalu tersenyum manis. "Terima kasih, Instruktrur."Instruktur itu kemudian beralih menatap Jing Huan. Raut wajahnya berubah penuh hormat saat menyerahkan denah lokasi akademi. "Tuan Muda Jing Huan, sebagai Peringkat Pertama Ujian Gerba

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status