Teilen

Bab 3 Batu Hitam

last update Veröffentlichungsdatum: 14.09.2026 17:27:13

Seketika Cahaya merah melingkupi tubuh Jing Huan, menyembuhkan tulang-tulangnya yang patah dan merombak pembuluh darahnya.

Cahaya merah pekat semakin membumbung tinggi, menerangi kegelapan jurang Hutan Larangan yang dikenal tak tersentuh oleh manusia.

 Sensasi dingin luar biasa perlahan digantikan oleh hawa panas yang membakar setiap inci pembuluh darah Jing Huan.

Tulang-tulangnya yang patah terdengar kembali bersatu dengan suara retakan halus, sementara rasa sakit luar biasa menghujam kepalanya.

Namun kali ini, Jing Huan tidak berteriak. Rasa sakit fisik ini tak ada apa-apanya dibandingkan penghinaan dan dendam yang membakar dadanya.

Batu hitam misterius yang tadinya melayang di depannya perlahan retak, lalu hancur menjadi debu merah yang masuk menembus dahi Jing Huan.

“Pewarisan Jiwa Dewa Pedang Abadi... Dimulai!” suara kuno itu bergema lagi, kali ini memicu gelombang energi spiritual bertekanan tinggi yang menyapu radius beberapa ratus meter di sekitarnya.

 Binatang buas kelas rendah di sekitar jurang langsung melarikan diri karena ketakutan.

Jing Huan perlahan membuka matanya. Matanya yang tadinya berwarna hitam kini menyala merah.

Ia bangkit berdiri, merasakan energi asing yang mengalir deras di dalam tubuhnya, sebuah Danian Baru yang jauh lebih kuat dan murni daripada milik siapapun.

Ia mengepalkan jarinya, menatap tangan yang dulu tak bertenaga itu. "Energi ini... Aku benar-benar bisa merasakan Qi!"

Tiba-tiba saja muncul sebuah pedang yang entah dari mana.

"Ambil pedang ini, ini adalah senjatamu mulai sekarang!" Pedang itu muncul dan terbang ke arah Jing Huan.

"Jangan berbangga diri dulu, Anak Muda,” suara itu terdengar langsung dari dalam pikiran Jing Huan. "Tubuhmu baru saja menerima setetes darah asal milikku. Untuk menguasainya secara penuh, kau harus bertahan hidup dan berlatih lebih keras dari orang lain.”

Jing Huan mengangguk mantap. "Terima kasih, Senior. Aku pasti akan menguasai kekuatan ini. Kalian semua yang menghinaku... tunggu aku kembali."

Matanya menatap ke atas, ke arah puncak jurang tempat kedua sepupunya melemparkannya.

Jing Huan menyusuri jalan setapak berkerikil di area belakang Kediaman Jing.

Tatapan matanya yang dulu selalu menunduk penuh ketakutan, kini tatapannya tajam.

Tujuan utamanya hanyalah satu, kembali ke gubuk tua lapuk yang dulu menjadi saksi bisu penderitaannya.

Namun, langkahnya terhenti saat melewati lapangan latihan keluarga.

Di sana, dua sosok yang sangat dikenalnya tengah berdiri dengan senjata di tangan, dikelilingi oleh beberapa murid dan pelayan keluarga Jing yang menonton.

Jing Huo baru saja mengeksekusi satu tebasan pedang yang membelah batu besar latihan menjadi dua bagian.

"Kau sangat hebat, Kakak Kedua! Sebentar lagi kau akan mencapai Penempaan Tubuh Bintang 5 dan bisa masuk ke akademi menyusul Kakak Pertama!" kata Jing Ming bertepuk tangan riuh memuji saudaranya.

"Tentu saja! Aku adalah orang kedua yang paling berbakat di Kediaman Jing ini, selain Jing Fang," kata Jing Huo dengan bangganya seraya menyarungkan pedangnya kembali.

"Dengan kemampuanmu sekarang, jangankan memasuki akademi, Kakek pasti akan memberimu hadiah besar pada turnamen nanti!" tambah Jing Ming semakin gencar memprovokasi kekaguman para murid di sekitar mereka.

Jing Huo tertawa menyombongkan diri. "Haha, itu sudah pasti! Tidak ada seorang pun di generasi muda keluarga ini yang bisa merintangi jalanku…"

Ucapan Jing Huo terhenti mendadak, karena Mata Jing Ming terbelalak lebar, tak percaya pada sosok yang sedang berjalan santai di tepi lapangan.

Sesosok pemuda dengan posture tegap dan langkah ringan sedang berjalan melewati mereka tanpa rasa takut sedikit pun.

"J-Jing Huan?!" seru Jing Ming gagap, jarinya menunjuk gemetar ke arah pemuda itu.

Jing Huo ikut menoleh, dan seketika wajah sombongnya membeku.

Tadi, mereka sendiri yang mematahkan tulang-tulang pemuda itu, memukulinya hingga sekarat, dan menendangnya ke dasar Hutan Larangan yang penuh monster buas.

"Jing Huan tidak mati? Bagaimana mungkin?!" tanya Jing Ming dengan mata membulat karena terkejut.

Jing Huan menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya perlahan, berhadapan langsung dengan kedua sepupunya.

"Apa kalian sangat menginginkan aku mati?" tanya Jing Huan terkekeh pelan, suara tawanya terdengar sangat tenang.

Para murid dan pelayan di sekitar lapangan mulai berbisik-bisik bingung. Mereka mengenali si sampah kediaman Jing, namun ada yang berbeda dari aura pemuda di depan mereka sekarang.

"Kalian sangat terkejut melihat aku pulang dengan selamat. Kalian pasti tidak senang melihat aku pulang, bukan?" kata Jing Huan dengan percaya diri, melipat kedua tangannya di dada seraya menatap Jing Huo dan Jing Ming bergantian.

Jing Huo mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, rasa terkejutnya dengan cepat berganti menjadi amarah yang membakar. "Sampah! Bagaimana bisa kau masih bernapas setelah dibuang ke Hutan Larangan?!"

"Mungkin karena Hutan Larangan pun enggan menerima sampah seperti ku, jadi langit membiarkanku hidup untuk menjadi kuat," jawab Jing Huan tenang.

"Kurang ajar! Mulutmu makin lancang ya, Sampah! Aku tidak peduli keberuntungan ajaib apa yang membuatmu selamat dari para monster Hutan Larangan, tapi muncul di depan kami dengan sikap sombong seperti ini adalah kesalahan terbesarmu!" bentak Jing Ming dengan wajah memerah padam.

Ia memajukan langkahnya seraya mencengkeram gagang pedangnya kuat-kuat.

Jing Huo menahan dada Jing Ming dengan tangannya, matanya menatap Jing Huan dengan saksama.

Ada yang aneh. Dulu, jangankan menatap mata mereka, mendengar langkah kaki mereka saja sudah membuat tubuh Jing Huan ketakutan. Tapi sekarang, pemuda di depannya berdiri begitu tegap, tanpa ada sedikit pun rasa ketakutan.

"Tenang, Jing Ming. Lihat dia baik-baik. Dia tetaplah si sampah tanpa Danian Kultivasi. Tidak ada aura Qi sedikit pun yang memancar dari tubuhnya," kata Jing Huo dingin.

"Hahaha! Benar juga, Kakak Kedua! Aku sampai lupa kalau dia ini cuma sampah beruntung! Paling-paling dia cuma bersembunyi untuk sampai ke sini,” Jing Ming tertawa terbahak-bahak, menyadari kekonyolan ketakutannya tadi.

Beberapa murid keluarga Jing di pinggir lapangan ikut tertawa mengejek, berbisik-bisik menyaksikan drama tersebut.

"Hei, si Sampah Huan benar-benar berani ya kembali ke sini?" teriak mereka.

"Cari mati dia. Paling sebentar lagi tulang-tulangnya dipatahkan lagi seperti dulu."

Jing Huan hanya mendengarkan cemoohan itu dengan ekspresi datar.

Ia melangkah perlahan mendekati Jing Ming dan Jing Huo, membuat tawa Jing Ming terhenti seketika karena tatapan mata Jing Huan.

“Kalian terus menghinaku sampah, apa kalian juga tidak sadar jika kalian sama sampahnya denganku? Kalian pikir pencapaian kalian hari ini adalah yang terbaik? Sudah menjadi seorang jenius? Sungguh bodoh!” kata Jing Huan dengan ketus.

Sejak ia mendapat batu hitam itu, entah kenapa ia punya keberanian yang sangat besar.

Wajah Jing Huo seketika berubah menjadi merah padam. Matanya membelalak.

“Kurang ajar! Beraninya kau bilang aku sampah! Kau sudah menjatuhkan harga diriku, Jing Huan. Rasakan ini!” kata Jing Huo geram.

Jing Huo melangkah maju dengan kecepatan penuh, menghantamkan tinjunya lurus ke arah dada Jing Huan.

“JURUS TINJU PEMECAH BATU!”

BUKH!

Pukulan itu mendarat di tubuh Jing Huan, membuat ia terpental semeter hingga membentur pagar kayu di tepi lapangan.

Efek dorongan jurus itu memang melempar tubuhnya, karena saat ini ia belum mulai berkultivasi secara aktif.

Yang biasanya Pukulan yang bisa membelah batu ini tidak lagi membuat Jing Huan muntah darah seperti tadi.

Jing Huan berlutut sambil memegang perutnya yang terasa sakit. Akan tetapi batu hitam misterius di dalam tubuhnya langsung menyerap rasa sakit tersebut..

Kini Jing Huan bisa bangun dan berdiri tegap kembali, tanpa rasa sakit.

Jing Huan sendiri sangat terkejut karena tubuhnya baik-baik saja setelah dipukul. Ia menggerakkan jari-jarinya, merasakan kekebalan yang belum pernah ia miliki sebelumnya.

“Tubuhku baik-baik saja? Tidak terluka sedikit pun setelah mendapatkan pukulan penuh dari Jing Huo?” batin Jing Huan sambil mengepalkan tangannya erat.

“Kau… kau tidak terluka?” tanya Jing Huo terperanjat.

Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih bergetar, lalu menatap Jing Huan yang sedang berdiri sambil mengibaskan debu dari pakaiannya.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   28 Racun Biadab

    Mu Zhen menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh seolah teringat kenangan belasan tahun silam. "Mengenalinya?" Mu Zhen tersenyum getir. "Ayahmu, Jing Tian, adalah pahlawan tiada tanding di Kota Kerajaan ini! Dulu, di Ranah Raja Abadi, nama Jing Tian dihormati oleh seluruh sekte dan keluarga bangsawan. Kami berdua adalah saudara angkat yang pernah mengarungi ribuan medan pertempuran bersama." Mu Qing terperanjat, matanya membelalak kaget. "Ayah... Ayah Jing Huan dulu adalah seorang Pahlawan di Ranah Raja Abadi?!" "Benar," jawab Mu Zhen lirih. Pandangannya kemudian tertuju lurus pada mata Jing Huan. "Jing Huan, aku mendengar rumor tentang racun yang mengendap di meridian dalammu. Apakah itu benar Racun Dingin Tujuh Bintang?" Jing Huan menyipitkan mata, pendaran cahaya keemasan dari Meridian Dewa bergetar halus di pupil matanya. "Benar, Tuan Mu. Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?"Mu Zhen mengepalkan tangannya di atas meja hingga pembuluh darahnya menonjol, raut wajahnya be

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   27 Undangan Maut Dari Kedimaan Mu

    Jing Huan kemudian merogoh kantong spasial yang menggantung di pinggang Guan Feng dan tiga rekannya, memetiknya secara santai. SREK! SREK! "I-Itu kantong batu spiritual kami! Kembalikan!" jerit salah satu antek Zhao Yan dengan mata membelalak. Jing Huan membuka kantong-kantong tersebut, mengamati ratusan batu spiritual tingkat menengah bercahaya murni di dalamnya dengan senyum tipis. "Sebagai ganti rugi atas gangguan bising yang kalian buat dan kompensasi karena telah menahan bahan obatku... aku mengambil tiga ratus batu spiritual tingkat menengah ini," ujar Jing Huan datar. "Kau memeras kami?!" teriak Guan Feng dengan air mata ketakutan dan kemarahan yang bercampur aduk. "Memeras?" Jing Huan memiringkan kepalanya. "Bukan. Ini adalah hadiah sukarela dari kalian karena telah dengan ramah menyerahkan obat ini padaku. Bukankah begitu?" Jing Huan memperketat sedikit tekanan Qi di pundak Guan Feng, membuat pemuda itu langsung meringis kesakitan luar biasa. "I-Iya! Iya! Hadia

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   26 Jebakan Di Paviliun Obat

    Pagi hari di area barat Akademi Kerajaan tampak ramai oleh lalu lalang murid senior dan pendaftar baru. Bangunan tiga lantai bergaya megah dengan aroma rempah-rempah yang kuat berdiri tegap di tengah kompleks—Paviliun Obat Akademi.Jing Huan melangkah masuk dengan tenang, jubah biru tua Murid Inti melambai pelan seiring langkah kakinya. Di dalam jiwanya, ia teringat akan luka racun lama yang mengendap di meridian dalamnya.“Bocah,” suara Dewa Pedang Abadi berbisik lembut. “Sisa-sisa Racun Dingin Tujuh Bintang di tubuhmu memang sudah diredam oleh Meridian Dewa, tetapi kau butuh bahan pelacak seperti Rumput Penuntun Jiwa dan Bunga Ungu Malam untuk memurnikannya total sekaligus menelusuri siapa yang menanamkan racun ini di masa lalu.”Jing Huan mengangguk tipis. "Aku mengerti, Guru."Ia berjalan menuju meja pelayanan utama. Seorang penjaga toko paruh baya menyambutnya dengan senyum tipis. "Selamat datang di Paviliun Obat, Murid Inti. Ada bahan spiritual yang Anda cari?""Aku butuh Rumput

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   25 Penempaan Tubuh Bintang 5

    Angin dingin berhembus kencang dari balik tebing Lembah Pedang, menghempaskan dedaunan bambu hitam di sekeliling Kambang Pedang Tua. Di atas sebuah batu datar yang berada tepat di mulut celah tebing, Jing Huan duduk bersila dengan kedua mata terpejam rapat.Di dalam dadanya, Meridian Dewa memancarkan pendaran cahaya keemasan yang kian terang. Arus Qi liar dari gumpalan sisa naskah pedang purba di tebing ditarik masuk secara paksa melalui pori-pori kulitnya.BZZZZZT...Namun, energi dari Lembah Pedang terlalu tajam dan terasa membakar. Jalur-jalur meridian Jing Huan bergetar hebat, menimbulkan sensasi panas yang menusuk hingga ke dalam tulang.“Bocah, tahan!” suara Dewa Pedang Abadi bergema peringatan di dalam jiwanya. “Hawa pedang purba ini terlampau ganas untuk Ranah Penempaan Tubuh Bintang 4. Jika kau memaksa menyerapnya tanpa peredam, meridianmu bisa robek sebelum menerobos!”Jing Huan menggetarkan giginya, meremas lututnya hingga jari-jarinya memutih. "Guru... hawa panas ini memba

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   24 Jurus Pedang Dewa Tahap II

    "Pantas saja aura pedang di sini terasa sedikit menekan dadaku," sahut Jing Huan seraya menarik pedang besi murni milik-Nya dari sarungnya. "Guru, kekuatan Penempaan Tubuh Bintang 4 milikku sudah stabil. Rekor ujian kemarin telah membuktikan bahwa Pedang Dewa Tebasan Pertama: Pemotong Angin sangat berguna untuk kecepatan dan ketepatan. Tapi bagaimana dengan daya hancur area terbatas?"Dewa Pedang Abadi melayang mendekat, matanya berkilat penuh wibawa.“Pertanyaan yang bagus, Bocah! Dalam pertarungan menghadapi lawan yang mengandalkan armor berat, pertahanan tebal, atau dikelilingi oleh banyak musuh berpelindung keras, Pemotong Angin tidak akan cukup tebal untuk membelah mereka dalam sekali ayun!”Dewa Pedang Abadi melambaikan lengan bajunya yang ilusi ke arah tebing batu raksasa di belakang kediaman.“Hari ini, aku akan mengajarkanmu jurus kedua dari Sembilan Pedang Dewa Abadi: Pedang Dewa Tebasan Kedua: Pembelah Gunung!”"Pembelah Gunung?" ulang Jing Huan, matanya berbinar.“Benar!”

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   23 Masuk Akademi dan Tempat Tinggal Baru

    Sinar matahari pagi menyiram megahnya kompleks Akademi Kerajaan Kota Pusat, memantulkan warna keemasan pada atap-atap gerbang batu dan paviliun tinggi yang berdiri megah. Setelah pengesahan mengejutkan dari Tetua Utama Feng Tian kemarin, suasana di area pendaftaran murid baru masih menyisakan bisik-bisik kagum dari para pendaftar.Di Balai Pengaturan Murid, seorang instruktur paruh baya berjas kulit tebal menyerahkan dua buah kunci batu bernomor emas dan dua gulungan jubah biru tua berpola naga kecil, pakaian resmi Murid Inti Akademi."Nona Mu Qing, kediaman Anda berada di Paviliun Teratai Biru, area murid inti bagian timur yang kaya akan energi Qi air dan es," ujar instruktur tersebut dengan sikap sangat sopan.Mu Qing menerima kunci batu dan jubahnya, lalu tersenyum manis. "Terima kasih, Instruktrur."Instruktur itu kemudian beralih menatap Jing Huan. Raut wajahnya berubah penuh hormat saat menyerahkan denah lokasi akademi. "Tuan Muda Jing Huan, sebagai Peringkat Pertama Ujian Gerba

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status