Startseite / Pendekar / PENDEKAR PENGUASA AGUNG / 4 Samsak Yang Sudah berakhir

Teilen

4 Samsak Yang Sudah berakhir

last update Veröffentlichungsdatum: 16.09.2026 17:50:58

“Tidak mungkin! Bukannya terakhir kali kita memukulnya dia muntah darah dan sekarat? Seharusnya pukulan tadi membuat tulang rusuknya patah, kan?” tanya Jing Ming mendekat dengan panik. Matanya menyusuri tubuh Jing Huan dari atas sampai bawah, mencari bekas luka yang tak kunjung ditemukan.

Para murid keluarga Jing yang berkerumun di pinggir lapangan mulai berbisik-bisik geger.

"Bagaimana bisa? Itu kan Jurus Tinju Pemecah Batu tingkat rendah!" tanya mereka terkejut.

"Iya! Orang biasa tanpa kultivasi seharusnya sudah pingsan atau cacat terkena serangan itu!" kata yang lain.

"Apakah Jing Huan memakai baju pelindung rahasia?" bisik mereka curiga.

Jing Huan mengalihkan pandangannya menatap mereka berdua di depannya dengan senyum sinis.

“Bagaimana rasanya setelah memukul sampah, tapi si sampah ini tidak terluka sedikit pun?” tanya Jing Huan penuh nada ejekan.

Jing Huo mengetakkan giginya dengan geram

. "Keparat! Jangan berpuas diri dulu! Pukulan tadi hanyalah sepertiga dari kekuatanku!" teriaknya penuh amarah.

"Oh ya? Kalau begitu, kenapa tidak kau coba gunakan seluruh kekuatanmu? Ayo, hantam aku lagi di sini. Kita lihat, apakah tanganmu yang patah atau daku yang roboh!" Jing Huan menepuk dadanya sendiri tepat di bekas pukulan Jing Huo, bertingkah seolah-olah serangan itu hanyalah kibasan lalat.

Tapi sebenarnya ia ingin mencoba lagi, sampai mana tubuhnya bertahan. Ia ingin mengetes kekuatannya.

"Kakak Kedua, jangankan melayaninya! Pasti ada artefak pelindung yang disembunyikan di balik bajunya! Mana mungkin tubuh sampah tanpa Danian bisa menahan Qi penempaan tubuh!" seru Jing Ming menunjuk dada Jing Huan dengan gusar.

"Kau mau menuduhku memakai artefak?" Jing Huan langsung menarik bagian depan bajunya hingga memperlihatkan dadanya yang polos, tanpa zirah, tanpa jimat, dan tanpa pelindung apa pun.

Kulitnya kini tampak lebih bersih. "Lihat baik-baik dengan mata kepalamu sendiri, Jing Ming! Mana artefak yang kau maksud?"

Jing Ming bungkam seketika. Wajahnya pucat pasi melihat kenyataan di depan matanya.

Jing Huo melangkah maju satu langkah, aura kebenciannya semakin kuat. "Aku tidak peduli trik sihir apa yang kau pakai di Hutan Larangan, Jing Huan! Tapi kau sudah memancing amarahku di depan semua orang!"

"Aku tidak menggunakan trik apa pun, Jing Huo. Aku hanya ingin kalian menyadari satu hal. Masa-masa di mana kalian bisa menjadikan aku sebagai samsak untuk melampiaskan kesenangan... sudah berakhir," sahut Jing Huan tenang, matanya menembus mata Jing Huo.

"Sombong!" Jing Huo meraba gagang pedang besi di pinggangnya, sudah siap untuk mencabut senjata tajam demi menghabisi nyawa sepupunya itu tanpa memedulikan aturan kediaman.

"Tahan!"

Sebuah suara berat dan berwibawa mendadak menggelegar dari arah paviliun utama.

Seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan jubah biru tua melangkah menghampiri arena latihan.

Ia adalah Jing Chen, Paman Ketiga sekaligus penanggung jawab disiplin di Kediaman Jing.

"Ada apa dengan keributan ini? Jing Huo, Jing Ming, kenapa kalian mengacungkan senjata di lapangan latihan keluarga?" bentak Jing Chen seraya menatap dingin ke arah kerumunan.

Jing Huo dengan cepat menyarungkan kembali pedangnya dan membungkuk hormat, mencoba memasang wajah tenang. "Paman Ketiga... si sampah... maksudku Jing Huan, tiba-tiba datang dan memprovokasi kami."

Jing Chen mengalihkan pandangannya ke arah Jing Huan dan sedikit terkejut melihat keberanian Jing Huan. Namun, rasa terkejut itu segera berganti menjadi tatapan dingin dan acuh tak acuh.

"Jangan buat keributan di kediaman,, jika ingin latihan, latihan saja. Jangan menganggu yang lain," kata Jing Chen dengan tatapan tajam.

"Baik Paman ketiga," kaya Jing Huan memberi hormat.

Jing Chen berbalik badan lalu berkata. "Jing Huan, seberani apa pun kamu, jika tidak bisa berkultivasi, kau tetap tidak akan bisa apa-apa. Kakek hanya melihat orang yang berbakat di kediaman. Jika kau tidak bisa berkultivasi setidaknya diam dan jangan buat keributan!" setelah mengucapkan kata-kata itu, Jing Chen pun pergi dari tempat tersebut.

"Saya mengerti paman ketiga," kata Jing Huan lagi.

Tapi ia kembali terdiam, tetap saja kakek tidak melihat ke arahnya karena ia tak berbakat seperti yang lain. padahal dia juga cucu kandungnya, ia juga tak mau seperti ini, siapa juga yang mau menjadi sampah.

Jing Huo mengepalkan tangannya rapat-rapat, menatap Jing Huan dengan dendam kesumat. "Kau beruntung hari ini, Jing Huan. Paman Ketiga menyelamatkanmu."

Jing Huan hanya tersenyum tipis tanpa rasa takut sedikit pun.

"Justru Paman Ketiga baru saja menyelamatkan reputasimu hari ini, Jing Huo," kata Jing Huan pelan namun penuh penekanan.

Tanpa menunggu balasan dari Jing Huo atau Jing Ming yang menahan marah, Jing Huan melanjutkan langkahnya kembali menuju gubuk tuanya, meninggalkan lapangan latihan.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   28 Racun Biadab

    Mu Zhen menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh seolah teringat kenangan belasan tahun silam. "Mengenalinya?" Mu Zhen tersenyum getir. "Ayahmu, Jing Tian, adalah pahlawan tiada tanding di Kota Kerajaan ini! Dulu, di Ranah Raja Abadi, nama Jing Tian dihormati oleh seluruh sekte dan keluarga bangsawan. Kami berdua adalah saudara angkat yang pernah mengarungi ribuan medan pertempuran bersama." Mu Qing terperanjat, matanya membelalak kaget. "Ayah... Ayah Jing Huan dulu adalah seorang Pahlawan di Ranah Raja Abadi?!" "Benar," jawab Mu Zhen lirih. Pandangannya kemudian tertuju lurus pada mata Jing Huan. "Jing Huan, aku mendengar rumor tentang racun yang mengendap di meridian dalammu. Apakah itu benar Racun Dingin Tujuh Bintang?" Jing Huan menyipitkan mata, pendaran cahaya keemasan dari Meridian Dewa bergetar halus di pupil matanya. "Benar, Tuan Mu. Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?"Mu Zhen mengepalkan tangannya di atas meja hingga pembuluh darahnya menonjol, raut wajahnya be

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   27 Undangan Maut Dari Kedimaan Mu

    Jing Huan kemudian merogoh kantong spasial yang menggantung di pinggang Guan Feng dan tiga rekannya, memetiknya secara santai. SREK! SREK! "I-Itu kantong batu spiritual kami! Kembalikan!" jerit salah satu antek Zhao Yan dengan mata membelalak. Jing Huan membuka kantong-kantong tersebut, mengamati ratusan batu spiritual tingkat menengah bercahaya murni di dalamnya dengan senyum tipis. "Sebagai ganti rugi atas gangguan bising yang kalian buat dan kompensasi karena telah menahan bahan obatku... aku mengambil tiga ratus batu spiritual tingkat menengah ini," ujar Jing Huan datar. "Kau memeras kami?!" teriak Guan Feng dengan air mata ketakutan dan kemarahan yang bercampur aduk. "Memeras?" Jing Huan memiringkan kepalanya. "Bukan. Ini adalah hadiah sukarela dari kalian karena telah dengan ramah menyerahkan obat ini padaku. Bukankah begitu?" Jing Huan memperketat sedikit tekanan Qi di pundak Guan Feng, membuat pemuda itu langsung meringis kesakitan luar biasa. "I-Iya! Iya! Hadia

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   26 Jebakan Di Paviliun Obat

    Pagi hari di area barat Akademi Kerajaan tampak ramai oleh lalu lalang murid senior dan pendaftar baru. Bangunan tiga lantai bergaya megah dengan aroma rempah-rempah yang kuat berdiri tegap di tengah kompleks—Paviliun Obat Akademi.Jing Huan melangkah masuk dengan tenang, jubah biru tua Murid Inti melambai pelan seiring langkah kakinya. Di dalam jiwanya, ia teringat akan luka racun lama yang mengendap di meridian dalamnya.“Bocah,” suara Dewa Pedang Abadi berbisik lembut. “Sisa-sisa Racun Dingin Tujuh Bintang di tubuhmu memang sudah diredam oleh Meridian Dewa, tetapi kau butuh bahan pelacak seperti Rumput Penuntun Jiwa dan Bunga Ungu Malam untuk memurnikannya total sekaligus menelusuri siapa yang menanamkan racun ini di masa lalu.”Jing Huan mengangguk tipis. "Aku mengerti, Guru."Ia berjalan menuju meja pelayanan utama. Seorang penjaga toko paruh baya menyambutnya dengan senyum tipis. "Selamat datang di Paviliun Obat, Murid Inti. Ada bahan spiritual yang Anda cari?""Aku butuh Rumput

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   25 Penempaan Tubuh Bintang 5

    Angin dingin berhembus kencang dari balik tebing Lembah Pedang, menghempaskan dedaunan bambu hitam di sekeliling Kambang Pedang Tua. Di atas sebuah batu datar yang berada tepat di mulut celah tebing, Jing Huan duduk bersila dengan kedua mata terpejam rapat.Di dalam dadanya, Meridian Dewa memancarkan pendaran cahaya keemasan yang kian terang. Arus Qi liar dari gumpalan sisa naskah pedang purba di tebing ditarik masuk secara paksa melalui pori-pori kulitnya.BZZZZZT...Namun, energi dari Lembah Pedang terlalu tajam dan terasa membakar. Jalur-jalur meridian Jing Huan bergetar hebat, menimbulkan sensasi panas yang menusuk hingga ke dalam tulang.“Bocah, tahan!” suara Dewa Pedang Abadi bergema peringatan di dalam jiwanya. “Hawa pedang purba ini terlampau ganas untuk Ranah Penempaan Tubuh Bintang 4. Jika kau memaksa menyerapnya tanpa peredam, meridianmu bisa robek sebelum menerobos!”Jing Huan menggetarkan giginya, meremas lututnya hingga jari-jarinya memutih. "Guru... hawa panas ini memba

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   24 Jurus Pedang Dewa Tahap II

    "Pantas saja aura pedang di sini terasa sedikit menekan dadaku," sahut Jing Huan seraya menarik pedang besi murni milik-Nya dari sarungnya. "Guru, kekuatan Penempaan Tubuh Bintang 4 milikku sudah stabil. Rekor ujian kemarin telah membuktikan bahwa Pedang Dewa Tebasan Pertama: Pemotong Angin sangat berguna untuk kecepatan dan ketepatan. Tapi bagaimana dengan daya hancur area terbatas?"Dewa Pedang Abadi melayang mendekat, matanya berkilat penuh wibawa.“Pertanyaan yang bagus, Bocah! Dalam pertarungan menghadapi lawan yang mengandalkan armor berat, pertahanan tebal, atau dikelilingi oleh banyak musuh berpelindung keras, Pemotong Angin tidak akan cukup tebal untuk membelah mereka dalam sekali ayun!”Dewa Pedang Abadi melambaikan lengan bajunya yang ilusi ke arah tebing batu raksasa di belakang kediaman.“Hari ini, aku akan mengajarkanmu jurus kedua dari Sembilan Pedang Dewa Abadi: Pedang Dewa Tebasan Kedua: Pembelah Gunung!”"Pembelah Gunung?" ulang Jing Huan, matanya berbinar.“Benar!”

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   23 Masuk Akademi dan Tempat Tinggal Baru

    Sinar matahari pagi menyiram megahnya kompleks Akademi Kerajaan Kota Pusat, memantulkan warna keemasan pada atap-atap gerbang batu dan paviliun tinggi yang berdiri megah. Setelah pengesahan mengejutkan dari Tetua Utama Feng Tian kemarin, suasana di area pendaftaran murid baru masih menyisakan bisik-bisik kagum dari para pendaftar.Di Balai Pengaturan Murid, seorang instruktur paruh baya berjas kulit tebal menyerahkan dua buah kunci batu bernomor emas dan dua gulungan jubah biru tua berpola naga kecil, pakaian resmi Murid Inti Akademi."Nona Mu Qing, kediaman Anda berada di Paviliun Teratai Biru, area murid inti bagian timur yang kaya akan energi Qi air dan es," ujar instruktur tersebut dengan sikap sangat sopan.Mu Qing menerima kunci batu dan jubahnya, lalu tersenyum manis. "Terima kasih, Instruktrur."Instruktur itu kemudian beralih menatap Jing Huan. Raut wajahnya berubah penuh hormat saat menyerahkan denah lokasi akademi. "Tuan Muda Jing Huan, sebagai Peringkat Pertama Ujian Gerba

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status