Startseite / Pendekar / PENDEKAR PENGUASA AGUNG / 2 Di Buang Ke juarang Hutan Larangan

Teilen

2 Di Buang Ke juarang Hutan Larangan

last update Veröffentlichungsdatum: 14.09.2026 17:25:09

Keesokan harinya.

Jing Huan bangun dengan tubuh ringkik, hari ini ia terpaksa bekerja, jika tidak ia tidak akan mendapatkan makanan, karena tadi malam, dia gagal mencuri makanan di gudang karena sudah terlalu lapar.

“Jing Huan! cepat bangun!” Teriak Wang Coi dengan suara lantang.

Jing Huan terpaksa berdiri dan keluar dari rumah gubuknya.

“Cepat ke hutan! Ambil kayu bakar, jangan pulang sampai kau mendapatkan yang banyak! atau kau tidak mendapatkan makanan sama sekali hari ini!” Titah Wang Coi sambil mendorong Jing Huan hingga tersungkur.

Mau tak mau, Jing Huan pun pergi dengan membawa lumbung.

Ia sangat ingin lari dari kediaman yang penuh neraka itu, tapi setiap kali ia kabur, kakeknya bisa menemukan dirinya menggunakan artefak yang bisa menemukan dirinya di mana pun ia berada.

Saat sampai di hutan yang berbatasan dengan hutan larangan, ia mencari kayu bakar dan memasukkan ke dalam lumbungnya dengan tubuh lemas.

Tapi siapa sangka, jika ia menemukan seekor rusa yang sudah mati karena anak panah.

“Wah ada rusa.” Wajah Jing Huan berseri-seri. “Tapi ini rusa siapa?”

Ia melihat ke kiri dan kanan, tapi tidak ada orang. Tanpa pikir panjang, Jing Huan langsung membuat api dan memanggangnya, belum juga matang, ia melahap rusa itu dengan rakus.

Tiba-tiba saja dari belakang, ada kilatan cahaya yang langsung menghantam punggungnya.

Duarrrrrr!

Tubuh Jing Huan terhempas keras menghantam tanah keras yang kasar dan bersimbah darah.

Suara patahan tulang rusuknya terdengar samar, tenggelam di antara gelak tawa dua sepupunya.

Pandangannya kabur, tertutup cairan merah pekat yang menetes dari dahinya.

Ughhhh!

“Oh si sampah rupanya?” Ucap Jing Huo, sepupu Jing Huan, Tuan muda kedua, keluarga Jing.

Seketika, Jing Huo tampak marah karena rusa yang telah ia panah, ternyata habis di santap oleh Jing Huan.

“Kurang ajar! Beraninya kau memakan rusa ku! Nyawa mu bahkan tidak sebanding dengan rusaku!” Pekik Jing Huan dengan penuh amarah.

Ia menarik kerah baju Jing Huan lalu melemparnya lagi membuat tubuh Jing Huan yang sakit semakin tak berdaya.

"Hajar saja dia! Pukul sampai dia tahu jika dirinya adalah sampah!" teriak Jing Ming menendang tubuh Jing Huan yang di mana tubuhnya sudah babak belur.

"Hahaha benar itu Kakak kedua, si sampah ini harusnya buang saja ke hutan larangan, biar di makan binatang buas," sahut Jing Ming tertawa puas.

Sementara Jing Huan terkapar di tanah dengan napas tersengal-sengal. Darahnya menggenang di seluruh tubuhnya karena dihajar habis-habisan oleh kedua sepupunya.

Tubuhnya terasa remuk karena ia tidak bisa kultivasi.

"Heh! Dasar payah!" kata mereka menendang Jing Huan sekali lagi membuat tubuh Jing Huan menabrak pohon.

"Ughhh!" darah keluar dari mulutnya membuat tubuhnya semakin lemah.

Jing Huo melangkah maju, mencengkeram rambut Jing Huan lalu mengangkat kepalanya kasar. "Dengar, Jing Huan! Tanpa Danian Kultivasi, kau itu cuma benalu di Kediaman Jing! Keberadaanmu hanya mencoreng nama baik Kakek!"

"K-kakak Huo..." bisik Jing Huan gagap, suaranya nyaris tenggelam oleh darah di tenggorokannya. "A-aku... aku tidak pernah mengganggu kalian..."

"Tidak mengganggu? Wajahmu saja sudah mengganggu pandangan kami! Mengapa kau tidak mati saja menyusul ayah dan ibumu yang tidak berguna itu, huh!" Kata Jing Ming menepuk-nepuk pipi Jing Huan dengan sarung pedangnya.

Mata Jing Huan mendadak meledak oleh amarah saat mendengar nama orang tuanya disebut. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencengkeram pergelangan tangan Jing Huo. "Jangan... jangan bicara sembarangan tentang ayah dan ibuku!"

"Oho, si sampah ini berani melawan?" Jing Huo tertawa sinis. Ia menghantamkan tinjunya tepat ke perut Jing Huan.

Bukh!

Jing Huan tersungkur, mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya. Nafasnya makin memburu, rasanya kesadarannya mulai menipis.

"Ming, angkat dia," perintah Jing Huo dingin. "Kakek bilang kita tidak boleh membunuh anggota keluarga di dalam kediaman. Tapi kalau dia mati di Hutan Larangan... tidak ada yang akan peduli."

"Ide bagus, Kakak Kedua! Mari kita beri dia tempat peristirahatan yang layak bagi seekor sampah!" Jing Ming menyeret tubuh Jing Huan tanpa belas kasihan menuju perbatasan belakang kediaman Jing yang berbatasan langsung dengan jurang Hutan Larangan.

"Oh ya, Jing Huan. Tunanganmu Mei Ruo sangat cantik, dia juga sudah sampai ranah penempa tubuh bintang 6. Salah satu gadis jenius, sudah pasti tidak cocok dengan mu. Jika kau mati, maka aku yang menjadi pengganti mu," kata Jing Huo terkekeh.

"Sudah kak, buang saja dia, sekarang," kata Jing Ming tersenyum sinis

Ia dilemparkan begitu saja di tepi jurang yang curam dan kabutnya tebal.

"Ini tempat terakhirmu, Jing Huan. Jika kau hidup kembali di kehidupan selanjutnya, pastikan kau lahir dengan Danian yang utuh!" seru Jing Huo sebelum menendang tubuh lemah itu melewati tepi jurang.

"Tidaaak!" jerit Jing Huan saat tubuhnya meluncur jatuh ke dalam kegelapan jurang Hutan Larangan.

Suara gelak tawa Jing Huo dan Jing Ming perlahan menghilang bersama kejatuhannya.

Ranting-ranting pohon di dasar jurang menahan kejatuhan Jing Huan sebelum akhirnya tubuhnya menghantam tanah berbatu.

Bruk!

Tulang rusuknya patah, karena hentakan Batu, darahnya menyembur keluar dari mulutnya.

"Apakah aku akan mati? Apakah ini akhirnya..."

Kesadarannya nyaris hilang sepenuhnya. Dalam kegelapan dan kesakitan yang tak tertahankan, darah Jing Huan mengalir meresap ke dalam sebuah batu hitam misterius yang tertanam di tanah.

Seketika, batu itu bercahaya merah pekat. Sebuah suara kuno dan berat bergema di dalam kepala Jing Huan.

"Aku merasakan jika ada darah keturunan Dewa yang tertindas..."

"Si-siapa itu?" tanya Jing Huan Dengan suara lemah.

"Aku adalah artefak batu hitam kuno. Apakah kau menginginkan kekuatan?”

" Artefak Batu Hitam Kuno?" tanya Jing Huan kebingungan.

Tapi apan pun itu, entah itu iblis ataupun siluman, ia tidak peduli lagi. Jing Huan mengepalkan tangannya yang bersimbah darah di atas tanah.

Dengan sisa napas terakhirnya, ia berbisik dendam, "Aku... aku ingin kekuatan... Aku tidak ingin di tindas lagi, aku ingin hidup tanpa penghinaan!"

"Baiklah, aku memilih mu karena Tekadmu yang kuat. Aku akan membantumu, tapi perjalanan mu masih panjang, kau harus menghadapi segala macam rintangan jika kau ingin kuat."

"Aku tidak peduli! Rintangan apa pun akan aku hadapi. Sudah cukup aku tersiksa selama ini! Aku ingin menjadi kuat! " kata Jing Huan penuh tekad.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   28 Racun Biadab

    Mu Zhen menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh seolah teringat kenangan belasan tahun silam. "Mengenalinya?" Mu Zhen tersenyum getir. "Ayahmu, Jing Tian, adalah pahlawan tiada tanding di Kota Kerajaan ini! Dulu, di Ranah Raja Abadi, nama Jing Tian dihormati oleh seluruh sekte dan keluarga bangsawan. Kami berdua adalah saudara angkat yang pernah mengarungi ribuan medan pertempuran bersama." Mu Qing terperanjat, matanya membelalak kaget. "Ayah... Ayah Jing Huan dulu adalah seorang Pahlawan di Ranah Raja Abadi?!" "Benar," jawab Mu Zhen lirih. Pandangannya kemudian tertuju lurus pada mata Jing Huan. "Jing Huan, aku mendengar rumor tentang racun yang mengendap di meridian dalammu. Apakah itu benar Racun Dingin Tujuh Bintang?" Jing Huan menyipitkan mata, pendaran cahaya keemasan dari Meridian Dewa bergetar halus di pupil matanya. "Benar, Tuan Mu. Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?"Mu Zhen mengepalkan tangannya di atas meja hingga pembuluh darahnya menonjol, raut wajahnya be

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   27 Undangan Maut Dari Kedimaan Mu

    Jing Huan kemudian merogoh kantong spasial yang menggantung di pinggang Guan Feng dan tiga rekannya, memetiknya secara santai. SREK! SREK! "I-Itu kantong batu spiritual kami! Kembalikan!" jerit salah satu antek Zhao Yan dengan mata membelalak. Jing Huan membuka kantong-kantong tersebut, mengamati ratusan batu spiritual tingkat menengah bercahaya murni di dalamnya dengan senyum tipis. "Sebagai ganti rugi atas gangguan bising yang kalian buat dan kompensasi karena telah menahan bahan obatku... aku mengambil tiga ratus batu spiritual tingkat menengah ini," ujar Jing Huan datar. "Kau memeras kami?!" teriak Guan Feng dengan air mata ketakutan dan kemarahan yang bercampur aduk. "Memeras?" Jing Huan memiringkan kepalanya. "Bukan. Ini adalah hadiah sukarela dari kalian karena telah dengan ramah menyerahkan obat ini padaku. Bukankah begitu?" Jing Huan memperketat sedikit tekanan Qi di pundak Guan Feng, membuat pemuda itu langsung meringis kesakitan luar biasa. "I-Iya! Iya! Hadia

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   26 Jebakan Di Paviliun Obat

    Pagi hari di area barat Akademi Kerajaan tampak ramai oleh lalu lalang murid senior dan pendaftar baru. Bangunan tiga lantai bergaya megah dengan aroma rempah-rempah yang kuat berdiri tegap di tengah kompleks—Paviliun Obat Akademi.Jing Huan melangkah masuk dengan tenang, jubah biru tua Murid Inti melambai pelan seiring langkah kakinya. Di dalam jiwanya, ia teringat akan luka racun lama yang mengendap di meridian dalamnya.“Bocah,” suara Dewa Pedang Abadi berbisik lembut. “Sisa-sisa Racun Dingin Tujuh Bintang di tubuhmu memang sudah diredam oleh Meridian Dewa, tetapi kau butuh bahan pelacak seperti Rumput Penuntun Jiwa dan Bunga Ungu Malam untuk memurnikannya total sekaligus menelusuri siapa yang menanamkan racun ini di masa lalu.”Jing Huan mengangguk tipis. "Aku mengerti, Guru."Ia berjalan menuju meja pelayanan utama. Seorang penjaga toko paruh baya menyambutnya dengan senyum tipis. "Selamat datang di Paviliun Obat, Murid Inti. Ada bahan spiritual yang Anda cari?""Aku butuh Rumput

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   25 Penempaan Tubuh Bintang 5

    Angin dingin berhembus kencang dari balik tebing Lembah Pedang, menghempaskan dedaunan bambu hitam di sekeliling Kambang Pedang Tua. Di atas sebuah batu datar yang berada tepat di mulut celah tebing, Jing Huan duduk bersila dengan kedua mata terpejam rapat.Di dalam dadanya, Meridian Dewa memancarkan pendaran cahaya keemasan yang kian terang. Arus Qi liar dari gumpalan sisa naskah pedang purba di tebing ditarik masuk secara paksa melalui pori-pori kulitnya.BZZZZZT...Namun, energi dari Lembah Pedang terlalu tajam dan terasa membakar. Jalur-jalur meridian Jing Huan bergetar hebat, menimbulkan sensasi panas yang menusuk hingga ke dalam tulang.“Bocah, tahan!” suara Dewa Pedang Abadi bergema peringatan di dalam jiwanya. “Hawa pedang purba ini terlampau ganas untuk Ranah Penempaan Tubuh Bintang 4. Jika kau memaksa menyerapnya tanpa peredam, meridianmu bisa robek sebelum menerobos!”Jing Huan menggetarkan giginya, meremas lututnya hingga jari-jarinya memutih. "Guru... hawa panas ini memba

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   24 Jurus Pedang Dewa Tahap II

    "Pantas saja aura pedang di sini terasa sedikit menekan dadaku," sahut Jing Huan seraya menarik pedang besi murni milik-Nya dari sarungnya. "Guru, kekuatan Penempaan Tubuh Bintang 4 milikku sudah stabil. Rekor ujian kemarin telah membuktikan bahwa Pedang Dewa Tebasan Pertama: Pemotong Angin sangat berguna untuk kecepatan dan ketepatan. Tapi bagaimana dengan daya hancur area terbatas?"Dewa Pedang Abadi melayang mendekat, matanya berkilat penuh wibawa.“Pertanyaan yang bagus, Bocah! Dalam pertarungan menghadapi lawan yang mengandalkan armor berat, pertahanan tebal, atau dikelilingi oleh banyak musuh berpelindung keras, Pemotong Angin tidak akan cukup tebal untuk membelah mereka dalam sekali ayun!”Dewa Pedang Abadi melambaikan lengan bajunya yang ilusi ke arah tebing batu raksasa di belakang kediaman.“Hari ini, aku akan mengajarkanmu jurus kedua dari Sembilan Pedang Dewa Abadi: Pedang Dewa Tebasan Kedua: Pembelah Gunung!”"Pembelah Gunung?" ulang Jing Huan, matanya berbinar.“Benar!”

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   23 Masuk Akademi dan Tempat Tinggal Baru

    Sinar matahari pagi menyiram megahnya kompleks Akademi Kerajaan Kota Pusat, memantulkan warna keemasan pada atap-atap gerbang batu dan paviliun tinggi yang berdiri megah. Setelah pengesahan mengejutkan dari Tetua Utama Feng Tian kemarin, suasana di area pendaftaran murid baru masih menyisakan bisik-bisik kagum dari para pendaftar.Di Balai Pengaturan Murid, seorang instruktur paruh baya berjas kulit tebal menyerahkan dua buah kunci batu bernomor emas dan dua gulungan jubah biru tua berpola naga kecil, pakaian resmi Murid Inti Akademi."Nona Mu Qing, kediaman Anda berada di Paviliun Teratai Biru, area murid inti bagian timur yang kaya akan energi Qi air dan es," ujar instruktur tersebut dengan sikap sangat sopan.Mu Qing menerima kunci batu dan jubahnya, lalu tersenyum manis. "Terima kasih, Instruktrur."Instruktur itu kemudian beralih menatap Jing Huan. Raut wajahnya berubah penuh hormat saat menyerahkan denah lokasi akademi. "Tuan Muda Jing Huan, sebagai Peringkat Pertama Ujian Gerba

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status