LOGIN
"Jangan cemas, Vante. Kakak akan dapatkan donor ginjal untukmu. Secepatnya."
Seorang gadis berwajah cantik berkata pada pemuda yang berbaring di brankar. Lengan kirinya terhubung dengan mesin hemodialisis. Proses cuci darah sedang berlangsung. Yang diajak bicara hanya tersenyum tipis. Wajahnya pucat, tubuhnya kuyu. Meski sisa ketampanan masih terlihat di parasnya. "Kakak jangan pikirkan aku. Seharusnya biarkan saja aku mati. Aku tidak tahan melihat Kakak harus bekerja banting tulang untuk kita berdua." "Kakak tidak banting tulang. Ini kewajiban kakak sebagai dokter. Dan kakak juga lakukan ini padamu." Vante mendengus kasar. Dia sudah putus asa, dua tahun dia berteman dengan mesin di sebelahnya. Tiap minggu sang kakak harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk memperpanjang masa hidupnya. Padahal Vante sudah lama ingin menyerah. Tapi sang kakak selalu menangis histeris tiap kali dia mengatakan hal itu. "Kak Lin, Kakak harus mulai pikirkan hidup kakak sendiri. Jangan pedulikan aku." Yang dipanggil Lin tersenyum getir. Dia ingin seperti orang lain, tapi tidak bisa. "Kamu adalah hidup Kakak. Vante, berjanjilah pada Kakak kamu akan bertahan sampai Kakak berhasil dapatkan donor ginjal untukmu. Oke?" Gadis itu bernama Valin, dia menggenggam tangan Vante. Sekian kali coba membujuk sang adik agar sudi bertahan. Vante baru akan buka mulut ketika ponsel Valin berdering. "Valin, pasien serangan jantung. Operasi by pass sedang dipersiapkan. Dokter Keith baru masuk ruang operasi setengah jam lalu. Darurat." Panggilan diakhiri, baik Valin maupun Vante menghela napas. "Pergilah, aku bisa pulang sendiri." "Hubungi Maria jika kamu merasa tidak baik." Vante mengangguk sebelum sang kakak melesat pergi dari sana bak anak panah lepas dari busurnya. Harusnya Valin libur hari ini, tapi liburnya seorang dokter tetap harus stand by dua puluh empat jam. Enam jam kemudian operasi selesai. Valin melangkah gontai keluar ruang operasi, tubuhnya limbung, nyaris ambruk. Gadis itu lelah luar biasa. Dia hanya ingin pulang, lalu tidur. Besok dia harus kembali ke sini. Tempat di mana hidupnya bergantung, sama seperti banyak pasien di luar sana. "Dia akan berada di ICU dua kali dua puluh empat jam. Kontrol penuh, observasi tiap dua jam. Hubungi aku kapan saja jika ada masalah." Setelah memberi instruksi pada rekannya. Valin berjalan pulang ke rumah kecil yang berada di belakang komplek rumah sakit. Cukup dekat hingga Valin tidak perlu kendaraan. Walau dekat, jalan menuju rumah Valin sepi setelah dia meninggalkan gerbang rumah sakit. Awalnya biasa saja. Lagi pula ini bukan kali pertama Valin pulang lewat tengah malam. Rumah Valin sudah terlihat, tinggal beberapa blok sebelum langkahnya terhenti. Di depan sana, berjarak tak lebih dari setengah meter. Sesosok pria tampak mengacungkan senjata pada seorang lelaki lain. "Kau tahu aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Karena kau menghalangi rencanaku, akan lebih baik jika kau mati saja." Kilat cahaya terlihat ketika peluru ditembakkan. Sang korban ambruk di lantai paving blok, darah segar mengucur, menggenangi jasadnya. Matanya terbelalak dengan, dahi berlubang. Tempat peluru bersarang. Jantung Valin berpacu, keringat dingin serta merta membasahi dahi. Ingatan akan masa kecilnya mulai berputar di kepala Valin. "Ayah, Ibu." Tubuh Valin otomatis ingin menjauh. Satu respon spontan, menghindari pemandangan yang membuat ketakutannya naik ke permukaan. Namun sebelum niatnya terwujud, lelaki yang baru memuntahkan peluru dari senjatanya, melihatnya. Dia menyeringai menyadari ada orang selain dirinya di tempat itu. Pria itu mendekat dengan Valin auto ingin berlari. Namun ledakan peluru berperedam membuat tubuh Valin membeku di tanah ia berpijak. "Lihat pemandangan indah, cantik." Suara dalam dan berat menyapa rungu Valin. Tak berapa lama visual rupawan bak malaikat muncul di hadapan Valin. Kakak Vante menelan ludah. Mungkin inilah rupa sebenar malaikat pencabut nyawa yang pernah wujud dalam berbagai cerita. Tampan tapi kejam dan dingin. Valin bergidik ketika pria tadi mengitari dirinya seolah sedang memindai mangsa. Sosok itu melakukannya dengan senjata terarah ke jantung Valin. "To-tolong lepaskan saya. Saya janji tidak akan beritahu siapapun apalagi lapor polisi," Valin beranikan diri untuk bersuara. Sudut bibir pria tadi tertarik. Dia baru sadari kalau Valin cantik dengan tipe suara lembut tapi tegas. "Melepaskanmu?" Balasan datang bak badai yang menghantam Valin. Tajam, menusuk juga menyeramkan. "Tuan, saya mohon. Saya tidak akan bilang ke orang lain. Kasihanilah saya, saya punya adik yang sakit-sakitan." Seringai mengerikan muncul di wajah sang pria. "Tidak semudah itu, Nona. Kamu sudah melihat semua, jadi aku harus menutup mulutmu." Gawat! Dia akan membunuhku! Valin ketakutan, dia tidak boleh mati. Masih ada Vante yang menunggunya di rumah. Sang adik sangat memerlukan dirinya untuk bertahan hidup. Tidak! Dia tidak bisa mati sekarang. Valin mundur, siap mengambil langkah seribu, ketika sosok itu menangkap gelagatnya. "Lepas! Lepaskan saya!" Valin berontak saat pria tadi menyergapnya. Tubuh ramping Valin tenggelam dalam dekapan sang pria. Aroma maskulin nan mahal seketika memenuhi indera penciuman Valin. "Ssstt, jangan berteriak. Atau ini akan melubangi kepalamu." Tubuh Valin menegang ketika ujung senjata api menyentuh pelipisnya. Pria itu tampak puas melihat respon Valin. Meski setelahnya dia dibuat terkejut ketika Valin berniat menjegalnya. Namun usaha Valin gagal, pria tersebut tidak bergeming saat Valin coba menjatuhkannya. Senyum sang lelaki terbit. Sepertinya gadis dalam dekapannya bukan gadis sembarangan. "Lepas!" Kali ini Valin menggigit pergelangan tangan pria yang menahan lehernya. Lelaki tersebut hanya mendengus sebelum berbisik di telinga Valin. "Kamu benar-benar liar. Mau coba menunjukkannya di ranjangku." "Brengsek!" Maki Valin tanpa ragu. Kali ini dia marah. Valin tidak akan terima jika dia direndahkan harga dirinya. Pria di belakangnya tertawa lirih, hanya Valin yang bisa mendengarnya. Jenis tawa yang membuat bulu kuduk meremang. Pria ini jelas sangat berbahaya. "Kamu lumayan menarik, Nona. Ikutlah denganku." "Tidak! Tidak mau! Tolong! Tolong aku!" Valin berteriak sekencang mungkin. Sekali lagi dia coba berontak. Kali ini lebih kuat, tapi pria tadi sama sekali tidak terpengaruh. Sosoknya menjulang di belakang Valin. Menahan tubuh Valin yang sejak tadi tidak mau diam. "Diamlah, Nona," desis pria itu penuh peringatan. "Tidak mau! Lepaskan saya! Lepas!" "Berisik!" Suara pelatuk yang ditarik membuat Valin diam seketika. Pria itu kembali tersenyum tipis. Dia bisa merasakan debar jantung Valin juga napas sang gadis yang memburu. "Nah, begitu lebih baik. Jadi mari kita bernegosiasi." "Apa yang Tuan inginkan?" Ketakutan Valin kian besar. Bagaimana jika pria itu membunuhnya. Bagaimana jika dia tidak bisa pulang malam ini. Mata hazel Valin berkaca-kaca. Bayangan wajah Vante mendadak muncul. "Apa Tuan ingin membunuh saya?""Apa yang bisa kamu berikan padanya?"Pertanyaan itu membuat Xavier mendongak. Benteng terakhir untuk mendapatkan Rosalie ada di hadapannya. Kian Egan, wali Rosalie. Sosok yang gadis itu panggil om. Lelaki yang sejauh ini belum bisa Xavier kalahkan presensinya dalam hati Rosalie."Semua. Seperti aku telah mengambil miliknya yang paling berharga karena kebodohanku. Aku akan balik memberikan segala yang kupunya untuknya.""Bahkan nyawa sekalipun?" Pangkas Kian cepat.Sebagai orang yang pernah patah hati. Dia tahu rasanya. Sebagai lelaki yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia paham betul situasinya. Karena itu, jika Rosalie benar-benar ingin bersama Xavier. Dia akan mengizinkannya. Keputusan ini Kian ambil setelah bergulat lama dengan benaknya sendiri.Bagaimanapun juga, Kian tidak bisa menjaga Rosalie selamanya. Kian sadar akan hal itu. "Jika tuan Egan ingin nyawaku sekalipun. Aku tidak keberatan."Sudut bibir Egan tertarik. "Cinta memang gila," komennya sebelum meneguk wine di ge
"Aneh-aneh saja," gerutu Valin ketika si pelayan baru dipecat saat itu juga. Wanita tersebut menggelengkan kepala. Baru kali ini Valin menyadari kalau dia tidak mau ada perempuan lain menyentuh suaminya. Apalagi sampai Zen tergoda. Dia tak bisa membayangkan Zen tidur dengan sperempuan selain dirinya. Dia tidak sanggup.Saat Valin sibuk dengan kemelut di benaknya sendiri. Mendadak satu pelukan datang dari arah belakang. Valin terkejut sebelum kelegaan memenuhi dadanya."Kamu mengagetkanku.""Sama seperti orang gila tadi. Bisa-bisanya dia masuk ke kamar kita. Lalu coba menggodaku.""Serius kamu tidak tergoda. Dia seksi lo.""Lebih seksi kamu," bisik Zen dengan suara serak."Bohong," sangkal Valin."Aku serius, sayang. Diam saja kamu sudah membuatku tidak waras." Zen mulai menjelajah leher Valin. Dia hirup aroma sang istri kuat-kuat. Zen seolah ingin menghilangkan jejak wanita tadi di tubuhnya."Valin," bisik Zen. Pria itu mulai mencium sang istri. Ciuman yang intens juga lembut."Ka
"Apa kamu tahu kenapa Mark memutuskanmu dulu?"Michele menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan sang teman. Dia sedang bersama Audrey. Mencoba menghibur diri setelah rutinitas kerja yang lumayan berat.Atau alasan lain, adalah untuk menghindari Mark. Terutama setelah kejadian mabuk kemarin. Michele benar-benar kehilangan muka. Saat dia bangun dalam keadaan setengah telanjang di sisi Mark. Di kamar pria itu.Bagaimana dia sampai ke sana. Michele sama sekali tidak mengerti. Yang dia ingat adalah dia hampir menghabiskan semua koleksi minuman Mark yang super mahal."Dia merasa tidak pantas untukmu."Michele berdecih. "Tidak pantas lalu menggunakan alasan kalau dia gay untuk mencampakkanku. Keterlaluan." Michele meneguk habis cairan dari gelas kecil di depannya. Bersama Audrey, bisa dipastikan jika minuman yang mereka konsumsi mengandung alkohol."Lalu apa dia benar-benar gay?" Michele tersedak mendengar pertanyaan penuh godaan dari Audrey. Ingatannya kembali ke malam itu. Dia mungkin
Arthur dan Zen diusik. Maka bisa dibayangkan bagaimana kecepatan keduanya menangkap biang keroknya. Dua jam kemudian, seorang pria didorong dengan kasar oleh Mark. Di samping Mark ada asisten Arthur. Pria yang sama kompetennya dengan sang tuan."Serius adikmu sama asistennya Zack?" Bisik Zen setengah mengejek. Sedikit keluar dari topik. Entah kenapa pria itu mendadak kepo soal adik Arthur.Arthur mendengkus. Antara tidak rela dan tidak terima. "Regina mentok sama dia. Daripada dia berakhir seperti Audrey, mending aku turuti saja. Setidaknya, Sandro bukan pria brengsek."Circle pertemanan kalangan elit seringnya berputar di situ-situ saja. Meski tidak dekat, mereka akan tahu cerita atau kabar dari anggota lain.Termasuk kisah Audrey. Beritanya sudah menyebar ke semua keluarga konglomerat yang ada di kota ini. Cerita yang kadang masih menyeret nama Zen. "Dia yang memberi perintah?" Arthur bertanya sambil memandang sosok yang kini ketakutan.Fokus mereka kembali pada si tersangka. Fig
Jack Harold menggebrak meja. "Apa kamu bilang, Kiev ditangkap?""Benar, menurut laporan diringkus di kota Ishifan."Jack mengepalkan tangan. Bagaimana bisa Kiev tertangkap. Dia sudah memperingatkan pria itu untuk menjaga diri. Jangan sampai keberadaannya diendus musuh atau aparat keamanan.Aparat keamanan mungkin dia masih bisa melobi. Tapi musuh, dia tidak akan mampu menolong."Hubungkan aku dengan Alan Rickman."Jack harus bertindak. Lucio mustahil bisa diselamatkan. Dia tidak bisa mengandalkan orang lain kecuali dirinya sendiri. Jika tidak apa yang dia dan Lucio usahakan selama ini, akan hilang begitu saja."Tuan, Tuan Rickman bilang tidak bisa membantu kali ini. Departemen pertahanan ikut campur soal penangkapan Kiev."Asisten Lucio memejamkan mata. Jika demikian artinya keluarga Inzaghi ikut andil di dalamnya. Melawan mereka, sangat tidak mungkin."Cari terus celah untuk mengeluarkan Kiev. Jika dia berhasil dipaksa bicara, kita semua akan celaka."Tangan kanan Jack mengangguk pah
Satu tembakan melesat membuat lelaki yang nyaris menindih Michele tumbang. Darah menyembur dari kepala yang dilubangi Mark. Michele histeris. Namun sebelum dia menelaah apa yang tengah terjadi. Lesatan peluru lain menyusul. Dalam hitungan detik, Michele sudah berada di tengah kubangan cairan berwarna merah.Amis, bau karat dengan teror khas seketika merebak. Di antara itu semua, Mark berdiri tegak dengan mata biru menyala penuh amarah."Ada yang mau bicara?" Mark berjalan menuju Michele yang meringkuk di pojok ruang tamu. Tangan gadis itu berada di telinga. Wajahnya juga pucat, ketakutan level akut.Pria itu perlahan merengkuh Michele dalam pelukannya. Dia pakaikan jasnya, guna menutupi tubuh Michele yang bagian bahunya terekspose."Katakan!"Bentakan Mark membuat tiga lelaki yang masih hidup tapi terluka itu berjengit kaget. Aura Mark membuat mereka menggigil. "Dia punya hutang.""Pacarnya yang sudah mati yang punya hutang!"Potong Mark dengan sorot mata tajam. Dia dekap Michele y
Valin menggertakkan gigi. Apalagi salahnya sekarang. Bukannya dia boleh keluar untuk urusan pasien darurat. Kenapa sekarang pria itu marah.Apa Valin harus duduk di rumah terus setelah jam kerja selesai. Lalu mengabaikan panggilan darurat dari rumah sakit. Itu sama artinya dengan dia melanggar sump
Valin mengerjap cepat mendengar tuduhan Tessa padanya. "Apa kamu bilang? Operasi ibumu ditolak rumah sakit?" Tanya Valin tidak percaya. Walau begitu, ada sedikit kepuasan dalam hatinya.Terlebih Valin tahu kalau keadaan Cyntia Whitmore belum sampai tahap harus transplantasi. Meski ya, harus cuci da
Semua orang terkejut, pasien VIP sektor satu. Sebagian tahu betapa eksklusifnya sektor satu. Tempat di mana para elite dan kalangan tingkat atas dirawat. Perawatan kelas wahid dengan dokter, metode pengobatan, obat-obatan berkualitas tinggi tersedia di sektor satu.Sektor satu bahkan terhubung den
"Kamu kapan pulang? Kenapa tidak kasih tahu aku.""Aku ingin kasih kejutan ke kamu sama Vante. Oh iya, kabar Vante bagaimana? Sekarang aku punya uang, aku bisa bantu kamu bayarin operasinya Vante."Disinggung soal Vante, paras Valin meredup sesaat. "Ada yang salah? Lin, kasih tahu aku bagaimana ka







