FAZER LOGINKian dan Valin sama-sama berhenti ketika mereka bertemu di lift. "Mau ke tempat Vante?""Mau cek up ke tempat Sissy."Kian hanya ber-ooo ria. Dia sepertinya bingung harus bersikap bagaimana di depan Valin."Jody mana?""Ngambek," balas Kian tanpa ragu."Jangan pernah menyebutku di depannya. Jika kau melakukannya, itu sama saja dengan membandingkan kami berdua. Perempuan manapun tidak akan suka."Kian memandang Valin yang sedang mengunyah almond. Benda yang kerap dia berikan hari itu. Pria itu lantas teringat percakapannya dengan Xavier dan Adrian.Di mana dua pria itu juga menyarankan hal sama. Kecuali mereka mulai duluan, jangan pernah membawa nama Valin dalam obrolan mereka.Bisa dipastikan jika para perempuan itu akan merasa hanya dijadikan pengganti."Jadikan dia satu-satunya," saran Adrian."Jauhkan nama Valin dari pendengaran istri kita," Xavier turut memberi nasihat."Aku sudah berusaha meyakinkannya. Tapi dia tidak percaya.""Kalau kamu sungguh-sungguh. Dia akan merasakannya.
"Jadi dia beneran perempuan?"Ivone mengangguk. Lantas menceritakan bagaimana dia merawat Jody hari itu."Gak ada TG bisa datang bulan. Dia wanita tulen. Dia hanya menyamar," Ivone menjelaskan. Padahal harusnya Valin tahu, dia juga dokter.Valin kemudian teringat cerita Kian. Dia menyebut Jody adalah pembunuh bayaran yang dikirim oleh seseorang. Belakangan dia tahu kalau orang itu adalah Sebastian Kiehl.Namun pada akhirnya Kiehl mengurungkan niatnya setelah melihat rupa Valin. Jika Kiehl ingin tetap menghabisi Valin. Dia pasti mengirim orang lain untuk meneruskan misi setelah Jody mundur."Jadi dia beneran move on?" Valin memandang Ivone dan Alvin yang duduk di depannya. Pertanyaan Alvin membuat Valin merasa aneh. Ada rasa kehilangan juga tidak rela dalam hatinya.Selain Devan, mungkin Kian adalah sosok lain yang punya tempat istimewa di hati Valin. Peran Kian sangat besar di awal pernikahannya dengan Zen.Sebelum Zen bisa masuk di hatinya. Aslinya Kian sudah lebih dulu memikatnya.
"Jody, tunggu dulu."Jody menepis tangan Kian yang menahan lengannya. Mereka sudah berada di lobi. Beberapa staf yang melihat Jody dengan rambut panjangnya langsung berbisik penasaran.Penampilan sosok itu berubah. Apa yang sebenarnya terjadi. Mereka jelas bertanya-tanya. Pasalnya setahu mereka Jody itu laki-laki."Apa lagi?""Kamu marah?""Menurutmu?" Jody balik bertanya dengan tangan terlipat dada.Mau Kian itu apa sebenarnya. Kalau mau beneran move on kenapa juga harus minta izin pada Valin. Dia kalau disuruh bersaing dengan Valin ya jelas kalah.Tanpa banyak aksi, pesona Valin sudah menjerat banyak lelaki sebelumnya. Jody bukannya tidak tahu kalau Xavier menyukai Valin sebelum dengan Rosalie.Bahkan CEO Hepburn Grup dan Daniel Heather juga menaruh hati pada perempuan itu. Jody yakin masih pria yang diam-diam memiliki kekaguman tersendiri pada Valin. Meski gelarnya sudah nyonya Archlight.Jody tidak menampik jika Valin memang menarik. Cantik, cerdas dengan sikap ramah yang akan mem
"Sangat serius."Jawaban yakin dari Kian membuat semua orang menahan napas."Ian, jangan main-main kamu. Jangan rusak dirimu. Sorry, Dy. Tapi kami tidak akan izinkan kalian bersama. Kalian masih bisa disembuhkan."Mark berkata dengan wajah tegang. Sarat kecemasan. Pun dengan Shane."Tolong pertimbangkan lagi. Kamu masih bisa kembali normal," tambah Shane."Jadi kalian pikir aku ini belok. Suka sama laki-laki?" Kian mengambil kesimpulan dari perkataan sang teman barusan. "Kalau tidak tersesat lalu apa namanya. Dia itu laki-laki. Dan kami baru saja melihatmu menciumnya."Jody langsung mengeplak lengan Kian. "Apa kubilang. Aku sudah bilang tidak mau. Tapi kamu maksa. Ketahuan kan?""Jadi benar dia memaksamu. Jody katakan saja, kami akan membelamu," tutur Valin. Dia berharap Jody melakukan ini karena tekanan dari Kian. Bukan karena keinginan Jody sendiri."Saya memang tidak mau jadi pelarian, Dokter. Tapi dia selalu memaksa.""Kamu keterlaluan, Kian," maki Valin tanpa pikir panjang."Tun
"Ini aneh sekali. Berapa lama kita mencarinya. Tapi belum ada hasilnya."Kata Bryan melalui sambungan video call. Di depannya ada Vante, Azlan dan Vano."Menurutku ada yang terjadi padanya. Jika dia hidup, dia sudah menemukan jalan pulang. Setidaknya dia akan mengirim kode pada kita," sahut Azlan.Yang lain mengangguk setuju."Dugaanku, dia hilang ingatan," Vante melemparkan dugaan lebih mengerikan dari kematian.Jika Zen hilang ingatan semua akan buntu. Pria itu bakal menghilang seperti debu ditiup angin. Tidak ada jejak. "Tapi ularnya hemotoksin, bisanya akan langsung menghabisi korbannya," sanggah Bryan."Neurotoksin juga langsung membunuh korbannya. Efeknya akan berbeda untuk tiap individu. Bisa saja karena tahan tubuh Zen luar biasa. Siapa tahu dia hanya kehilangan ingatan, tidak sampai mati," terang Azlan.Keempatnya terdiam untuk sesaat. "Tapi kita tak boleh putus asa," ujar Vante setelah keheningan yang menyiksa."Tentu saja. Kita akan temukan dia bagaimanapun caranya," sahu
"Ada yang mau dijelaskan?"Tanya Valin seraya menyandarkan diri di kursi milik Zen. Di sampingnya ada Lexi yang masih ada di sana.Sedang di depan mereka ada Kian dan Jody. Kian terlihat tenang. Sementara Jody terlihat panik tidak karuan."Soal apa?" Kian bertanya balik penuh tantangan. Seolah dia tahu apa yang ada benak Valin."Kalian pacaran?""Kamu cemburu?"Valin melempar berkas ke arah Kian. Jody tersedak dan Lexi menggulung senyum sambil memalingkan muka. Sepertinya dia bisa menangkap kalau Kian dan Valin sesuatu yang belum selesai di antara mereka."Kalau aku cemburu, aku sudah mengikatmu.""Tuhan, kapan itu terjadi," balas Kian konyol sambil meletakkan kembali berkas yang nyaris menggores paras tampannya."Dalam mimpimu! Kian aku serius!""Siapa juga yang bercanda," sambar Kian manis.Jody memejamkan mata mendengar perdebatan Kian dan Valin. Tidak ada batas antara atasan dan bawahan. Dua orang itu adu argumen layaknya seorang teman atau ... mereka yang punya rasa tapi tak pern
"Itu bukan kontrak namanya.""Kamu pilih jadi janda.""Yang tahu kita sudah menikah siapa?"Zen ingin menjawab, tapi tatapan menantang dari Valin membungkamnya. Selain anak buahnya dan Vante memang tidak ada yang tahu kalau dia dan Valin telah menikah."Kamu ingin go publik?""Dengan seorang pembun
Zen lumayan terkejut mendengar jawaban Valin. Tapi itu tidak lama, sebab setelahnya Zen tersenyum tipis."Sudah kamu pertimbangkan akibatnya?"Valin menggigit bibir. Tangannya terkepal. "Kami akan pergi dari The Dream. Kita tidak akan bertemu lagi. Untuk hutang operasi Vante, aku akan membayarnya t
Valin berlari ke arah parkiran. Meninggalkan Vante dan yang lainnya. Dia kesampingkan rasa penasaran semua orang yang duduk di meja. Termasuk Tessa dan Devan.Dua orang yang langsung memicing curiga melihat kelakuan Valin. Tanda tanya besar muncul di benak keduanya. Menyeret mereka sampai di sini.
Valin memandang Zen yang duduk santai sambil menyesap anggurnya. Pria itu tampak tenang. Bahkan ketika Valin dipenuhi dengan bara penasaran.Namun perempuan itu berusaha tidak menunjukkannya. Rasa ingin tahu itu berpadu dengan pertanyaan, kenapa Zen melakukan ini. Apa pria itu sedang menjelaskan pa







