Home / Mafia / PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA / BAB 2 PENAWARAN MENARIK

Share

BAB 2 PENAWARAN MENARIK

Author: sugi ria
last update publish date: 2025-12-19 18:57:01

"Membunuhmu?"

Kutip pria tadi, senjatanya yang dingin bergerak perlahan menelusuri wajah Valin, untuk kemudian turun ke lehernya yang jenjang.

"Jangan bunuh saya. Saya mohon." Ketakutan Valin kian besar. Dia tidak pernah merasa setakut ini sebelumnya.

Sang pria tersenyum tipis. Dia bisa mencium ketakutan Valin, dan dia menyukainya. "Aku tidak akan menghabisimu. Tapi kamu harus menurut padaku. Bagaimana?"

Di bawah tekanan dan upaya mencari keselamatan. Tanpa berpikir dua kali, Valin mengangguk cepat.

"Bagus." Seringai puas kini terlihat jelas di wajah sang pria. Dia baru akan meraih ponselnya ketika instingnya yang tajam membawanya untuk membalikkan badan.

Baik Valin maupun pria tadi melotot, mendapati seseorang menodongkan senjata pada mereka. Ada orang lain selain mereka ternyata.

"Mati kau! Razen Archlight!"

Valin membeku di tempatnya berdiri. Dia yang berada di depan tubuh lelaki yang dipanggil Razen Archlight itu, pasti terkena tembakan lebih dulu.

"Aku pasti mati!" Batin Valin yakin.

Namun hal itu rupanya tidak terjadi. Sebab yang terjadi kemudian membuat Valin menganga. Suara ledakan peluru terdengar, diikuti ringisan menahan kesakitan.

Valin syok mendapati Razen menahan peluru untuknya. Netra hazel Valin bertabrakan dengan manik biru cemerlang milik Razen.

"Tuan, tuan! Tuan!" Valin tentu saja panik.

"Aku tidak apa-apa," kata Razen dingin dan datar seperti sebelumnya. Dia berbalik lantas melesatkan satu tembakan yang kali ini pasti membunuh lawannya.

Sosok tadi terbelalak, dia tidak menyangka jika Razen bisa bergerak secepat itu meski sedang terluka.

Setelah itu Razen jatuh terduduk. Tangannya sempat meraih ponsel lantas menghubungi seseorang. "Bereskan mayat di belakang rumah sakit."

Setelah itu Razen tumbang. Hal terakhir yang dia dengar sebelum menutup mata adalah teriakan penuh ketakutan dari Valin.

Ujung bibir Razen tertarik. Dia belum pernah merasa sesenang ini, walau dia terluka.

....

"Kakak bawa pulang masalah."

Gerutuan itu samar masuk ke telinga Razen yang matanya masih terpejam.

"Lalu kamu suruh kakak biarkan dia mati di jalanan. Kakak gak bisa lakukan itu. Kakak dokter, kakak punya kemampuan untuk menolongnya.

"Lagi pula dia sudah selamatkan, Kakak. Bayangkan kalau dia tidak menahan peluru itu. Pasti Kakak sudah jadi mayat sekarang."

Valin sedang berdebat dengan Vante. Tepat di luar kamar sederhana yang seketika membuat Razen sakit badan.

"Bagaimana kalau dia ternyata orang jahat. Kakak saja bilang dia habis menembak orang. Dua orang malah. Dia sendiri juga kena tembak. Jangan-jangan dia mafia."

Valin buru-buru membekap mulut sang adik. "Jangan keras-keras. Nanti dia dengar." Peringatan datang dari Valin.

Dia sebenarnya sudah menduga akan hal ini. Di negara mereka kelompok itu masih exist. Mereka menyusup di tiap lini kehidupan dengan rapi. Tidak terendus oleh masyarakat awam.

"Dia bisa membunuh kita," desis Vante yang membuat Valin terdiam.

Dua kakak beradik itu tidak tahu jika lelaki yang ditolong Valin sudah bangun. Razen Archlight, atau biasa dipanggil Zen. Pria itu duduk di kasur single yang baginya sangat keras.

Baru tidur sebentar, badan Zen sudah sakit semua. Zen mendesis. Dia melihat dirinya yang kini topless. Kemejanya sudah dilepas. Dari cermin di kamar itu, Zen bisa melihat punggungnya ditampal perban. Sepertinya Valin mengoperasinya.

Dia tersenyum samar. "Dia dokter rupanya," gumamnya setelah menemukan foto wisuda Valin. Serta beberapa gambar saat Valin mengenakan jas putih kebanggannya..

Melihat ponselnya ada di atas meja. Zen lekas meraihnya. "Carikan aku data seorang dokter yang tinggal tepat di belakang rumah sakit."

Zen memberi perintah dengan tangan menyibak tirai jendela. Hingga pemandangan gedung rumah sakit terlihat jelas dari sana.

Pria itu mengamati suasana dengan jari terus mengetik. Seolah ada banyak hal yang tertunda dan harus segera diselesaikan.

Kening Zen berkerut ketika data Valin masuk. "Arvirosely Valin, dokter spesialis bedah jantung. Umur .... Tinggal bersama adiknya yang seorang pasien cuci darah."

Makin dalam kerutan di dahi Zen. "Bukannya gaji dokter spesialis itu besar. Kenapa dia tinggal di rumah reot, tidak layak huni seperti ini. Seperti kandang ayam. Bahkan rumah Molly lebih baik dari ini."

Perkataan Zen terhenti ketika dia mendengar langkah kaki mendekat. Saat dia berbalik, dia melihat Valin terkejut melihat Zen sudah sadar.

Gadis itu terbelalak melihat keadaan Zen segar bugar. Tanpa ada tanda-tanda kalau Zen baru saja melakukan operasi pengangkatan peluru darurat di kamar itu.

"Kalau Tuan sudah sembuh. Tuan bisa pergi," kata Valin dengan jarak terbentang di antara keduanya.

"Kamu mengusirku?" Zen menyandarkan tubuh kekarnya di meja. Tangannya terlipat dengan aura mematikan memancar dari arahnya.

"Saya tidak mau terlibat bahaya. Tuan sudah membunuh orang, saya sudah berbaik hati tidak melaporkan tuan ke polisi."

Sudut bibir Zen tertarik. "Kamu pikir aku jahat. Ingat, aku sudah menyelamatkanmu." Zen mendekat dengan Valin reflek menjauh.

"Jangan dekat-dekat! Atau Tuan ingin saya habisi." Valin mengacungkan senjata milik Zen.

Bukannya takut, Valin justru melihat Zen tersenyum meski samar.

"Tembak saja. Kamu seorang dokter tahu benar kalau tugasmu menolong orang bukan melukai."

Valin syok ketika Zen justru mendekat lantas meletakkan ujung senjatanya di dadanya yang tebal dan bidang.

"A-apa yang Tuan lakukan?" Valin coba menarik pistolnya. Tapi Zen justru menahannya.

"Terima kasih sudah menyelamatkanku, dokter Arvirosely Valin."

Valin terbelalak. Netra hijaunya melebar dengan indah. Pria di depannya tahu siapa dirinya. Sementara Zen menyeringai menikmati ekspresi terkejut Valin.

"Jangan cemas. Aku bukan orang yang suka gratisan. Aku akan bayar, dan lagi. Aku punya penawaran menarik untukmu. Hanya saja aku ingatkan padamu, aku selalu dapatkan apa yang aku mau."

....

"Pasien yang semalam keadaannya sangat stabil. Mungkin besok sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap."

Valin mengangguk mendengar ucapan sang rekan. Dia tampak sibuk padahal otaknya sedang kosong. Semua berhubungan dengan lelaki yang dia tolong semalam.

"Jadi dokter pribadiku dan aku akan membayar mahal untuk itu."

"Gila!" Valin tanpa sadar mengumpat. Pria semalam masih berada di rumahnya saat Valin berangkat tadi pagi.

Pria itu sudah bertemu Vante. Dan seperti dugaannya, aura permusuhan khas lelaki seketika mencuat. Zen dan Vante memicing satu sama lain. Tidak ada yang mau mengalah sama sekali.

Valin kesampingkan penawaran Zen. Dia ada visit pasien sebentar lagi. Jadi dia akan bersiap. Valin keluar ruangannya. Dia berjalan menuju nurse station. Di mana para medis biasa berkumpul.

Meski kali ini terlihat lengang. Mungkin semua sedang menghandle pasien. Dia terus melangkah, hingga telinganya mendengar suara yang membuatnya penasaran.

Suara decap khas orang berciuman. Saat dia mengintip dari balik pilar. Dia terkejut mendapati dua orang saling memagut di sudut ruangan.

"Cukup, Van. Bagaimana kalau Valin tahu."

"Dia sedang sibuk. Dengan pekerjaannya juga adiknya. Dia sama sekali tidak perhatian padaku."

Jantung Valin kembali berpacu. "Devan, kamu selingkuh!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 314 MOMEN LANGKA

    Dua bulan kemudian. "Kamu ikut papamu dulu ya. Lihat bunga." Yang diajak bicara mengedip sambil tersenyum. Menampilkan gusinya yang masih belum bergigi. Ompong tapi justru sangat manis untuk bayi. "Kamu nanti bikin dia insecure," seloroh Zen yang kemampuan berjalannya sudah pulih. Tidak seperti ingatannya yang masih stuck, tak bertambah. "Niatku kan baik. Aku tidak bermaksud mengintimidasinya." Valin merapikan tampilannya. Dia baru saja menyusui sang putri. "Terserahlah. Ayo, Re, kita jalan-jalan dulu. Aku hubungi kalau dia nangis." "Paling pol dia bakal tidur lagi," kata Valin sambil membuka pintu mobil. Zen menggendong Rea menjauh dari Valin. Pria yang mengenakan kemeja putih itu benar-benar menjelma jadi hot daddy. Matang, tampan dan mempesona. Dalam gendongan lengan kekar Zen, Rea tertawa-tawa sambil melihat keadaan sekitarnya. Sementara Valin, perempuan bergaun hitam itu berbalik setelah melihat Zen menghilang di balik pintu. Tubuh Valin tampak ramping. Tapi aset kembar d

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 313 BELUM AVAILABLE

    "Sudah sembuh?"Yang ditanya hanya menunjuk bekas luka seperti selulit tapi versi lebih parah di lehernya."Dijadwalkan untuk bedah estetik, biar mulus lagi." Balas Kian lelaki yang beberapa kali melirik ke arah Rea. Bayi cantik yang masih lelap dalam tidurnya."Dapat kloningannya?""Nope! She's is mine," sambar Zen tegas. Dia tahu ke arah mana pembicaraan Kian.Dulu Zen mungkin tak terlalu peduli pada eksistensi Kian. Tapi kini dia sadar kalau lelaki di depannya masih punya sesuatu yang disembunyikan dengan apik.Perasaan Kian belum sepenuhnya lepas dari Valin. Dengan ingatan lama, Zen tidak bisa melihatnya. Namun ketika dia amnesia. Saat dia menilai sikap Kian dari sudut yang berbeda. Dia menemukannya. Dia bisa menyadarinya."Aku akan menikah."Itu bukan pemberitahuan itu klaim. Kian seolah ingin membuktikan kalau dia sudah move on dari Valin. Padahal yang sebenarnya tidak ada yang tahu."Jangan menyakiti perasaan orang.""Kali ini tidak. Dia setuju menikah denganku."Zen menarik su

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 312 ZIVAYA AMAREA ARCHLIGHT, MY RE

    Kian. Nama itu memunculkan sensasi aneh di dada Zen. Dia diberitahu kalau pria itu tangan kanannya. Orang kepercayaannya. Namun sekarang ada alarm yang berbunyi kencang di kepalanya.Seolah dia bisa meraba kalau ada sesuatu yang tidak beres soal nama itu. Atau dia cemburu pada Kian."Apa dia salah satu dari mereka yang menyukaimu. Mereka bilang kamu punya banyak penggemar rahasia."Zen mengajukan pertanyaan setelah semua orang pergi. Di sana tinggal dia dan Valin."Kayak dia enggak saja. Yang mengejarmu juga tidak sedikit. Cuma yang agak gila satu. Untungnya sudah diikat sama Yuan."Valin membalas sambil menggendong putrinya setelah selesai menyusu. Perempuan sudah bisa duduk, sudah bisa berjalan meski pelan. Hanya saja Valin masih merasa lemas. Jadinya dia belum banyak bergerak. Kecuali ke kamar mandi.Lagi-lagi Zen dibuat menganga. Apa Valin sejak dulu seseksi itu. Kalau iya, pantas dirinya cinta mati pada sang istri. Siapa juga yang rela berbagi jika Valin memenarik itu.Bersamaan

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 311 VERSI PEREMPUAN DALAM KEMASAN SACHET

    "Untung semua aman."Perkataan Sylus nyaris seperti gerutuan. Dia benar-benar tak habis pikir dengan Zen. Nekad sekali orang itu. Nasib baik tak ada saraf atau otot yang robek saat pria itu memaksakan diri berjalan tanpa bantuan.Yang dimarahi hanya nyengir lebar. Tanpa dosa, tanpa merasa bersalah telah membuat semua orang cemas juga takut.Ditambah dia mengamuk saat Valin dioperasi. Siapa yang tidak makin ngeri waktu melihat atau bertemu Zen."Kan sudah kubilang. Aku bisa.""Buktikan kalau begitu. Tapi memang kamu seharusnya bisa jalan. Orang habis caesar itu pulihnya lama. Gak kayak orang lahiran normal. Dia perlu bantuan buat ngurus anak kalian.""Kata siapa?" Zen menyanggupi tantangan Sylus. Dia perlahan berdiri. Perlu beberapa kali percobaan sampai dia akhirnya bisa melakukannya. Dua staf tampak berjaga di sisi kiri dan kanan Zen. "Kata mereka. Aku tidak tahu, aku belum pernah mengalaminya.""Otewe kalau begitu." Zen meringis ketika merasakan seluruh ototnya meregang karena tin

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 310 MANTAN GADIS

    "Jangan lihat mereka. Pandang saja aku," bisik Zen ketika sayatan pertama Paula lakukan.Tidak ada perih yang terasa. Dokter anastesi melakukan tugasnya dengan baik. Satu-satunya lelaki selain Sylus yang akhirnya diizinkan masuk. Mereka kehabisan waktu, hingga Zen tak punya pilihan selain mengizinkan dokter anastesi pria membantu persalinan Valin.Ruangan itu kemudian hanya diisi oleh suara alat bedah yang bekerja. Bisturi atau pisau bedah/scalpel. Lalu gunting metzenbaum, gunting mayo, pinset, retraktor berurutan digunakan.Hingga ketika bisturi atau scalpel alias pisau bedah kembali digunakan. Banjir langsung terjadi di bawah sana.Ketuban Valin berhasil dirobek. Beberapa klem arteri digunakan untuk mengontrol aliran darah selama fase operasi. Paula dan Sissy sesaat bertatapan. Sebelum dengan perlahan mereka mendapatkannya.Semua orang menahan napas. Ketika tangis kencang memenuhi ruangan itu. Sissy bahkan sampai berkaca-kaca ketika dia menangani bayi cantik bermata biru tersebut.

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 309 BISTURI

    Detik berlalu berubah jadi menit. Menit menjelma jadi jam. Selama itu Zen terus mendampingi Valin yang sedang berusaha menahan kesakitan guna melahirkan anak mereka.Hampir enam jam proses itu berlangsung. Dengan pembukaan tujuh sebagai hasilnya. "Tidak ada masalah bukan?" Sylus kembali bertanya."Tidak ada. Tiap proses melahirkan memang berbeda. Tak semua sama. Sissy bilang, tidak ada masalah waktu pemeriksaan terakhir. Dia sudah mengirimkan hasilnya padaku.""Bahkan USG-nya sampai paling detail. Valin ingat Tristan terlilit tali pusat meski cuma satu lilitan.""Lalu apa masalahnya?" Sylus tampak bingung."Tidak ada. Hanya belum waktunya. Lagi pula kondisi Valin dan bayinya terpantau masih aman. Air ketubannya masih cukup. Masih bagus untuk melindungi bayinya.""Sudah bagus dia lahir sekarang. HPL-nya sudah lewat empat hari. Sissy bilang kasih waktu seminggu. Kalau bayinya belum juga lahir. Terpaksa harus di-SC."Sylus menghela napas. "Sayang sekali Sissy sedang menangani kasus ibu

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 47 BERMAIN

    Ha? Valin menganga dengan mata mengerjap cepat. Ekspresinya kala sedang bingung. Dia pandang Zen yang kini mengunci manik matanya."Ingat, kamu sudah menikah." Vonis itu menarik kesadaran Valin ke dunia nyata. "Aku tidak menyukai me ...."Kalimat Valin terhenti ketika Zen mendadak telah berdiri di

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 54 KEJAM

    "Kamu kejam, Zen!"Sylus memaki tanpa ragu. Dia baru saja memeriksa Valin yang jatuh pingsan karena kelakuan Zen."Dia harus dilatih. Kalau tidak, dia akan selamanya terperangkap dalam ketakutannya.""Itu benar. Tapi lakukan dengan perlahan, jangan memaksanya. Bagimu tidak menakutkan. Tapi bagi dia

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 43 LAYANI AKU, SEKARANG!

    Xavier Langton baru kembali ke rumahnya ketika sang asisten memburunya. "Tuan, Anda ke mana saja. Ponsel Tuan tidak bisa dihubungi." "Ada apa Torres?" Xavier bertanya dengan dahi berkerut."Wilayah kita di tepi jembatan Surrey diklaim oleh Razen Archlight."Paras Xavier berubah kelam. "Bagaimana

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 42 URUSAN RANJANG

    Valin menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan begitu sampai rumah. Dua hari libur nyata membuat tubuhnya keenakan. Hingga ketika diajak bergulat kembali dengan ke-hectic-an khas UGD, tubuhnya langsung protes. Lelah dan lemas.Wanita itu masuk ke kamar, setelah menerima pesan dari sang adik. Pemuda

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status