Masuk"Membunuhmu?"
Kutip pria tadi, senjatanya yang dingin bergerak perlahan menelusuri wajah Valin, untuk kemudian turun ke lehernya yang jenjang. "Jangan bunuh saya. Saya mohon." Ketakutan Valin kian besar. Dia tidak pernah merasa setakut ini sebelumnya. Sang pria tersenyum tipis. Dia bisa mencium ketakutan Valin, dan dia menyukainya. "Aku tidak akan menghabisimu. Tapi kamu harus menurut padaku. Bagaimana?" Di bawah tekanan dan upaya mencari keselamatan. Tanpa berpikir dua kali, Valin mengangguk cepat. "Bagus." Seringai puas kini terlihat jelas di wajah sang pria. Dia baru akan meraih ponselnya ketika instingnya yang tajam membawanya untuk membalikkan badan. Baik Valin maupun pria tadi melotot, mendapati seseorang menodongkan senjata pada mereka. Ada orang lain selain mereka ternyata. "Mati kau! Razen Archlight!" Valin membeku di tempatnya berdiri. Dia yang berada di depan tubuh lelaki yang dipanggil Razen Archlight itu, pasti terkena tembakan lebih dulu. "Aku pasti mati!" Batin Valin yakin. Namun hal itu rupanya tidak terjadi. Sebab yang terjadi kemudian membuat Valin menganga. Suara ledakan peluru terdengar, diikuti ringisan menahan kesakitan. Valin syok mendapati Razen menahan peluru untuknya. Netra hazel Valin bertabrakan dengan manik biru cemerlang milik Razen. "Tuan, tuan! Tuan!" Valin tentu saja panik. "Aku tidak apa-apa," kata Razen dingin dan datar seperti sebelumnya. Dia berbalik lantas melesatkan satu tembakan yang kali ini pasti membunuh lawannya. Sosok tadi terbelalak, dia tidak menyangka jika Razen bisa bergerak secepat itu meski sedang terluka. Setelah itu Razen jatuh terduduk. Tangannya sempat meraih ponsel lantas menghubungi seseorang. "Bereskan mayat di belakang rumah sakit." Setelah itu Razen tumbang. Hal terakhir yang dia dengar sebelum menutup mata adalah teriakan penuh ketakutan dari Valin. Ujung bibir Razen tertarik. Dia belum pernah merasa sesenang ini, walau dia terluka. .... "Kakak bawa pulang masalah." Gerutuan itu samar masuk ke telinga Razen yang matanya masih terpejam. "Lalu kamu suruh kakak biarkan dia mati di jalanan. Kakak gak bisa lakukan itu. Kakak dokter, kakak punya kemampuan untuk menolongnya. "Lagi pula dia sudah selamatkan, Kakak. Bayangkan kalau dia tidak menahan peluru itu. Pasti Kakak sudah jadi mayat sekarang." Valin sedang berdebat dengan Vante. Tepat di luar kamar sederhana yang seketika membuat Razen sakit badan. "Bagaimana kalau dia ternyata orang jahat. Kakak saja bilang dia habis menembak orang. Dua orang malah. Dia sendiri juga kena tembak. Jangan-jangan dia mafia." Valin buru-buru membekap mulut sang adik. "Jangan keras-keras. Nanti dia dengar." Peringatan datang dari Valin. Dia sebenarnya sudah menduga akan hal ini. Di negara mereka kelompok itu masih exist. Mereka menyusup di tiap lini kehidupan dengan rapi. Tidak terendus oleh masyarakat awam. "Dia bisa membunuh kita," desis Vante yang membuat Valin terdiam. Dua kakak beradik itu tidak tahu jika lelaki yang ditolong Valin sudah bangun. Razen Archlight, atau biasa dipanggil Zen. Pria itu duduk di kasur single yang baginya sangat keras. Baru tidur sebentar, badan Zen sudah sakit semua. Zen mendesis. Dia melihat dirinya yang kini topless. Kemejanya sudah dilepas. Dari cermin di kamar itu, Zen bisa melihat punggungnya ditampal perban. Sepertinya Valin mengoperasinya. Dia tersenyum samar. "Dia dokter rupanya," gumamnya setelah menemukan foto wisuda Valin. Serta beberapa gambar saat Valin mengenakan jas putih kebanggannya.. Melihat ponselnya ada di atas meja. Zen lekas meraihnya. "Carikan aku data seorang dokter yang tinggal tepat di belakang rumah sakit." Zen memberi perintah dengan tangan menyibak tirai jendela. Hingga pemandangan gedung rumah sakit terlihat jelas dari sana. Pria itu mengamati suasana dengan jari terus mengetik. Seolah ada banyak hal yang tertunda dan harus segera diselesaikan. Kening Zen berkerut ketika data Valin masuk. "Arvirosely Valin, dokter spesialis bedah jantung. Umur .... Tinggal bersama adiknya yang seorang pasien cuci darah." Makin dalam kerutan di dahi Zen. "Bukannya gaji dokter spesialis itu besar. Kenapa dia tinggal di rumah reot, tidak layak huni seperti ini. Seperti kandang ayam. Bahkan rumah Molly lebih baik dari ini." Perkataan Zen terhenti ketika dia mendengar langkah kaki mendekat. Saat dia berbalik, dia melihat Valin terkejut melihat Zen sudah sadar. Gadis itu terbelalak melihat keadaan Zen segar bugar. Tanpa ada tanda-tanda kalau Zen baru saja melakukan operasi pengangkatan peluru darurat di kamar itu. "Kalau Tuan sudah sembuh. Tuan bisa pergi," kata Valin dengan jarak terbentang di antara keduanya. "Kamu mengusirku?" Zen menyandarkan tubuh kekarnya di meja. Tangannya terlipat dengan aura mematikan memancar dari arahnya. "Saya tidak mau terlibat bahaya. Tuan sudah membunuh orang, saya sudah berbaik hati tidak melaporkan tuan ke polisi." Sudut bibir Zen tertarik. "Kamu pikir aku jahat. Ingat, aku sudah menyelamatkanmu." Zen mendekat dengan Valin reflek menjauh. "Jangan dekat-dekat! Atau Tuan ingin saya habisi." Valin mengacungkan senjata milik Zen. Bukannya takut, Valin justru melihat Zen tersenyum meski samar. "Tembak saja. Kamu seorang dokter tahu benar kalau tugasmu menolong orang bukan melukai." Valin syok ketika Zen justru mendekat lantas meletakkan ujung senjatanya di dadanya yang tebal dan bidang. "A-apa yang Tuan lakukan?" Valin coba menarik pistolnya. Tapi Zen justru menahannya. "Terima kasih sudah menyelamatkanku, dokter Arvirosely Valin." Valin terbelalak. Netra hijaunya melebar dengan indah. Pria di depannya tahu siapa dirinya. Sementara Zen menyeringai menikmati ekspresi terkejut Valin. "Jangan cemas. Aku bukan orang yang suka gratisan. Aku akan bayar, dan lagi. Aku punya penawaran menarik untukmu. Hanya saja aku ingatkan padamu, aku selalu dapatkan apa yang aku mau." .... "Pasien yang semalam keadaannya sangat stabil. Mungkin besok sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap." Valin mengangguk mendengar ucapan sang rekan. Dia tampak sibuk padahal otaknya sedang kosong. Semua berhubungan dengan lelaki yang dia tolong semalam. "Jadi dokter pribadiku dan aku akan membayar mahal untuk itu." "Gila!" Valin tanpa sadar mengumpat. Pria semalam masih berada di rumahnya saat Valin berangkat tadi pagi. Pria itu sudah bertemu Vante. Dan seperti dugaannya, aura permusuhan khas lelaki seketika mencuat. Zen dan Vante memicing satu sama lain. Tidak ada yang mau mengalah sama sekali. Valin kesampingkan penawaran Zen. Dia ada visit pasien sebentar lagi. Jadi dia akan bersiap. Valin keluar ruangannya. Dia berjalan menuju nurse station. Di mana para medis biasa berkumpul. Meski kali ini terlihat lengang. Mungkin semua sedang menghandle pasien. Dia terus melangkah, hingga telinganya mendengar suara yang membuatnya penasaran. Suara decap khas orang berciuman. Saat dia mengintip dari balik pilar. Dia terkejut mendapati dua orang saling memagut di sudut ruangan. "Cukup, Van. Bagaimana kalau Valin tahu." "Dia sedang sibuk. Dengan pekerjaannya juga adiknya. Dia sama sekali tidak perhatian padaku." Jantung Valin kembali berpacu. "Devan, kamu selingkuh!"Suasana meja makan pagi itu cukup menegangkan. Setidaknya bagi Valin. Sementara si empunya rumah tampak tenang sambil menikmati sarapan hasil karya Valin.Gadis itu tampak bingung. Dia duduk di samping Zen, tapi sama sekali tidak menyentuh makanannya. "Kamu akan pingsan jika tidak makan!" Desis Zen penuh ancaman."Aku bisa makan nanti."Lirikan tajam Zen membuat Valin tidak berkutik. Tangan Valin baru akan menyentuh sendok. Ketika suara lain membuat Valin menarik kembali tangannya."Papa, dia siapa? Kenapa dia ada di rumah kita?"Valin memandang pada si bocah yang baru menyebut papa pada Zen."Papa? Siapa papamu? Papamu sudah mati!" Zen menjawab tanpa hati. Kalimatnya tajam setajam belati, dan si anak langsung menangis mendengarnya.Valin tentu tak enak hati. Bagaimana bisa dia masuk dalam rumah tangga orang lain. Salahnya kemarin tidak bertanya lebih dulu soal status Zen.Ditambah lagi, kemarin dia yang meminta pernikahan pada Zen. Valin meringis ngilu. Sekarang kehadirannya bak ora
"Ujian pertama, orang itu benar-benar setres! Bagaimana jika kucing itu tiba-tiba menggigitku. Sepertinya aku besok harus minta vaksin rabies. Siapa tahu si Molly belum divaksin. Arrghhh!"Valin kembali menjerit ketika Molly mendadak muncul di sekitar kakinya. Menggesekkan kepala dengan ekor bergoyang ceria."He! Kamu masuk dari mana?" Valin bertanya mengingat dia sudah menutup pintu.Molly hanya mengeong sebagai jawaban seolah paham pertanyaan Valin."Molly, aku tanya. Kamu mau ngapain ke sini? Aku mau mandi. Mau tidur, capek aku. Besok harus kerja lagi."Molly mengeong sambil mengusap wajahnya dengan kaki depannya."Alah sudahlah, kamu mana paham perkataannku."Valin memulai touring kamarnya yang berada di lantai dua. Di mana dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat pelataran The Dream yang ternyata cukup luas. "The Dream, tuanmu punya mimpi apa. Lolos dari semua jerat hukum? Atau bisa sukses dalam tiap misinya."Valin terus mengoceh dengan Molly secara ajaib menimpali. Tentu saja
"Mohon tanda tangan di sini, Nona."Kian menyerahkan satu berkas pada Valin. Gadis itu menerimanya dengan ragu. Valin langsung tercekat melihat kop berkas surat yang akan dia tanda tangani. Formulir pendaftaran pernikahan.Jadi Zen serius dengan niatnya. Kian sendiri hanya diam, tidak bicara sama sekali. Pria itu sesekali memandang Vante yang berada di brankar. Benar-benar situasi yang menguntungkan Zen."Tuan, boleh saya bertanya? Kenapa Tuan yang menghandle perawatan adik saya. Apa tuan itu sangat berkuasa?"Kian menarik sudut bibirnya. Berkuasa? Lumayan juga. "Iya, begitulah."Valin mengerti keengganan Kian untuk menjawab. Pastinya Kian punya batas tertentu dalam menjawab pertanyaan mengenai sosok Zen. Sudah pasti identitas pria itu tidak boleh terbongkar."Jika Nona setuju, Nona bisa tanda tangan. Setelah ini saya akan antar Nona pulang."Valin terdiam. Dia ragu. Beberapa saat dia hanya mematung. Sampai dia melihat bayangan Vante tersenyum di benaknya. Benar, dia ingin melihat sa
"Saya tidak mau tidur dengan Anda! Saya bukan perempuan murahan!"Valin spontan menolak kontrak dari Zen. Apa Zen pikir dia serendah itu."Tidak masalah, aku bisa menyuruh Kian mengeluarkan Vante dari sektor satu sekarang."Tubuh Valin terhuyung. Dia lupa kalau Zen menyandera Vante. "Sebenarnya apa mau, Tuan."Air mata mulai menitik di pipi. Dadanya sesak, tubuhnya lelah, dan otaknya mendadak buntu."Simple, aku mau seseorang yang bisa menolongku secara keseluruhan. Dalam duniaku ada banyak jebakan. Salah satunya afrodisiak.""Jadi itu hanya untuk keadaan darurat?" Valin bisa sedikit bernapas lega. "Bisa dibilang seperti itu. Tapi ada banyak kondisi yang memungkinkan hal tersebut terjadi.""Bukankah mudah bagi kalian untuk menemukan perempuan untuk melampiaskannya." Valin bertanya dengan sangat hati-hati.Takut menyinggung Zen yang mode senggol bacok."Itu bukan urusanmu. Intinya, kamu mau atau tidak?" Sekali lagi Zen tidak memberi ruang bagi Valin untuk menolak atau bernegosiasi. J
"Kamu kapan pulang? Kenapa tidak kasih tahu aku.""Aku ingin kasih kejutan ke kamu sama Vante. Oh iya, kabar Vante bagaimana? Sekarang aku punya uang, aku bisa bantu kamu bayarin operasinya Vante."Disinggung soal Vante, paras Valin meredup sesaat. "Ada yang salah? Lin, kasih tahu aku bagaimana kabar Vante?""Vier, Vante baik-baik saja. Dia akan dioperasi dalam dua hari. Kamu jangan cemas."Yang dipanggil Vier tertegun. Dia bisa menangkap gurat kesedihan dibalik ekspresi bahagia yang Valin paksakan. Ada apa sebenarnya."Benarkah? Kamu dapat pinjaman dari mana untuk biaya operasi Vante. Aku akan bantu lunasi hutangmu. Proyekku sukses, uangku banyak sekarang.""Tidak perlu, Vier. Pihak rumah sakit berbaik hati membantuku. Semua biaya operasi dan perawatan Vante ditanggung rumah sakit."Dahi Vier berkerut. Dia bukan orang yang mudah ditipu. Dan Valin bukan orang yang pandai berbohong. Gadis di hadapannya terlalu baik, karena itu dia selalu ingin menjaganya.Di balik dunia gelap yang Vie
Valin terdiam, netra hazelnya dengan tekun menyimak kata demi kata yang tertulis dalam kontrak yang baru saja diberikan Zen.Sedang pria itu tidak mengganggu sama sekali. Zen hanya diam sambil mengawasi Valin. Entah kenapa sosok di depannya jadi begitu menarik untuk diperhatikan."Saya masih bisa bekerja seperti biasa?" Valin memastikan."Tentu saja. Kamu akan dipanggill saat aku membutuhkan. Tapi aku adalah prioritasmu. Jika aku memanggimu, kau harus siap setiap saat."Valin menelan ludah. Itu artinya sama saja dengan hidup Valin berada dalam genggaman Zen."Kamu bisa mempertimbangkan, tapi hidup Vante bukan sebuah pertimbangan."Demi mendengar nama Vante disebut, Valin dengan cepat menorehkan tanda tangannya. Benar, apalagi yang Valin tunggu, hidup Vante berada di tangannya.Zen menarik sudut bibirnya. "Kamu bisa kembali bekerja. Tapi nanti kamu tidak perlu kembali ke sini.""Maksud, Tuan?"Zen melengkungkan bibir. Satu tindakan yang membuat Valin merinding. "Ingat, dengan menandat







