LOGIN
Sinar matahari pagi menyinari Kota Aras, sebuah kota perdagangan yang makmur di bagian selatan Kerajaan Aethra. Di sini kehidupan berjalan beriringan dengan kekuatan sihir. Orang-orang berjalan di jalanan berbatu sambil memanipulasi nyala api kecil untuk menyalakan pipa. Menggerakkan aliran air untuk mengisi bejana, atau memadatkan tanah untuk memperbaiki bangunan.
Di dunia ini, kekuatan adalah segalanya, dan kekuatan itu didasarkan pada satu hal yaitu Afinitas Elemen. Setiap manusia yang lahir di benua ini memiliki kemampuan untuk mengendalikan salah satu dari enam elemen dasar yaitu Api, Air, Tanah, Angin, Petir, atau Cahaya. Semakin kuat afinitas seseorang. Semakin tinggi status dan kehormatannya. Mereka yang memiliki bakat besar akan menjadi penyihir hebat, ksatria kerajaan, atau bangsawan yang dihormati. Namun mereka yang tidak memiliki bakat akan dianggap sampah masyarakat. Dan di Kota Aras itu, ada satu pemuda yang menjadi contoh paling nyata dari kata "sampah" itu. Namanya Kaelen Voss. Kaelen berusia tujuh belas tahun. Memiliki wajah yang sebenarnya tampan dengan rahang tegas dan mata berwarna abu-abu yang jernih. Namun wajah tampannya itu sering kali tertutup rambut yang berantakan dan ekspresi pasrah yang mendalam. Dia adalah satu-satunya keturunan dari Keluarga Voss, sebuah keluarga bangsawan yang dulu sangat dihormati karena para leluhurnya dikenal sebagai penyihir elemen terkuat. Namun kejayaan itu hancur bertahun-tahun lalu setelah sebuah bencana misterius menimpa rumah leluhur mereka, meninggalkan keluarga Voss miskin, menderita, dan kehilangan pengaruh. Kini Kaelen hidup sendirian di sebuah gubuk kecil di pinggiran kota. Berjuang setiap hari hanya untuk mendapatkan sepotong roti. Yang terburuk dari semuanya adalah hasil ujian bakat yang dilakukan saat dia berusia sepuluh tahun. Saat itu, Kristal Penentu Elemen yang dipegangnya tidak memancarkan cahaya apa pun. Tidak ada warna Merah untuk Api, Biru untuk Air, Cokelat untuk Tanah, Hijau untuk Angin, Kuning untuk Petir, maupun Putih untuk Cahaya. Kosong. Hitam pekat. Kaelen dinyatakan sebagai orang yang tidak memiliki afinitas elemen sama sekali. "Lihatlah siapa yang lewat! Itu dia 'Pemuda Tanpa Warna'!" Suara ejekan yang keras terdengar membuat orang-orang di pasar menoleh dan tertawa kecil. Kaelen seketika menghentikan langkahnya. Menggenggam erat keranjang rotan kosong di tangannya. Dia mengenakan jubah katun yang sudah bertambal di sana-sini. Kain yang dulunya adalah pakaian bagus milik ayahnya, namun kini sudah lusuh dan pudar warnanya. Di hadapannya, berjalan perlahan sekelompok pemuda berpakaian rapi dan mewah. Di barisan paling depan adalah seorang pemuda berambut cokelat dengan mata yang angkuh, diiringi oleh dua pengikut berbadan besar. Pemuda itu adalah Rian, putra bangsawan terkaya di Kota Aras, sekaligus penyihir muda berbakat elemen Api tingkat pemula. Bagi Rian, mengganggu dan menyakiti Kaelen adalah hiburan favoritnya. "Kau mau ke mana, Kaelen?" tanya Rian sambil tersenyum miring. Dia menghalangi jalan pemuda itu. "Mencari sisa makanan di tempat sampah lagi? Atau mungkin kau berharap ada orang yang akan memberikanmu koin perak hanya karena kasihan melihat wajah menyedihkanmu?" Beberapa orang di sekitar tertawa mendengar ucapan itu. Bagi mereka, melihat anak bangsawan jatuh miskin dan tidak berdaya dihina adalah tontonan yang menghibur. "Aku hanya mau lewat, Rian," jawab Kaelen pelan. Kaelen berusaha menekan rasa marah yang perlahan naik ke dada. Dia sudah terbiasa dengan ini. Dia tahu, jika dia melawan. Hukuman yang ia terima akan jauh lebih parah. "Minggirlah." "Wah! Berani juga kau bicara begitu padaku!" Rian melangkah maju. Tatapan matanya menatap rendah ke arah Kaelen. Dia mengangkat tangannya, dan seketika itu juga, nyala api kecil berwarna merah menyala di ujung jarinya. Penonton seketika bersorak pelan, kekuatan sihir selalu memukau mata mereka. "Kau lupa siapa aku? Dan kau... kau lupa siapa dirimu sendiri? Kau hanyalah sampah yang tidak bisa melakukan apa-apa. Keluargamu sudah hancur, dan kau pun akan mati hancur seperti mereka." Kata-kata itu menusuk langsung ke hati Kaelen. Ingatan tentang ayah dan ibunya yang meninggal dalam kemiskinan dan sakit. Ingatan tentang bagaimana mereka diusir dari rumah leluhur mereka. Semua itu berputar kembali di kepalanya. Rasa sakit, kesedihan, dan amarah bercampur aduk menjadi satu. "Jangan bicara buruk tentang keluargaku," ucap Kaelen. Suaranya bergetar menahan emosi. "Hahahaha." Rian tertawa keras. "Kenapa? Kau mau memukulku? Ayo, coba saja gunakan 'kekuatan'mu itu. Oh, tapi lupa. Kau tidak punya kekuatan apa pun! Kau bahkan tidak pantas disebut manusia di dunia ini!" Dengan kasar, Rian menyambar keranjang di tangan Kaelen dan melemparkannya ke tanah hingga pecah berkeping-keping. Lalu, dia mendorong dada Kaelen dengan keras hingga pemuda itu terjatuh ke tanah berdebu. Debu kotor menempel di wajah dan bajunya yang sudah lusuh. "Besok adalah Hari Penilaian Kota," ucap Rian dingin sambil menatap ke bawah. "Anak-anak dari desa sekitar akan datang untuk diuji. Jangan berani-berani muncul di sana. Kehadiranmu hanya akan menodai kemegahan acara itu. Mengerti?" Kaelen mengangkat wajahnya. Dia menatap tajam ke arah Rian. Mata abu-abunya berkilat penuh amarah. Tatapan itu membuat Rian sedikit terkejut, namun kemudian berubah menjadi kemarahan. "Berani kau menatapku begitu?!" Rian mengangkat tangannya lagi. Kali ini api di tangannya lebih besar dan lebih panas. "Aku harus memberimu pelajaran agar kau tahu tempatmu!" Namun sebelum Rian sempat melakukan apa pun, seorang pengurus pasar datang melerai mereka. "Tuan Rian, cukup sudah," ucap pria paruh baya itu dengan nada memohon. "Jangan buat keributan di sini. Ayahmu akan marah jika sampai ada laporan bahwa kau menggunakan sihir untuk menyakiti orang biasa." Rian mendengus kesal. Dia kemudian menurunkan tangannya, memadamkan api itu dengan santai. Dia meludah tepat di samping kaki Kaelen. "Kau beruntung hari ini," bisik Rian dingin. Setelah itu, Rian lalu berbalik dan pergi bersama teman-temannya, meninggalkan jejak tawa yang mengejek di belakangnya. Kerumunan orang perlahan bubar, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Tidak ada yang menolong Kaelen. Tidak ada yang bertanya apakah dia terluka. Bagi mereka, Kaelen adalah orang yang tidak ada artinya. Kaelen bangkit berdiri perlahan. Dia membersihkan debu dari pakaiannya dengan gerakan lambat dan berat. Dia menatap punggung Rian yang menjauh. Tangan kanannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Mengapa? batinnya berteriak. Mengapa aku tidak memiliki kekuatan? Mengapa aku harus menderita seperti ini? Apa salahku? Apa dosa keluargaku hingga kami harus diperlakukan seperti sampah? Hati Kaelen terasa perih dan kosong. Dia tidak mau hidup seperti ini selamanya. Dia tidak mau terus-menerus dihina, dipukuli, dan dianggap tidak berguna. Dia ingin kuat. Dia ingin membuat semua orang yang meremehkannya menunduk hormat. Dia ingin mengembalikan nama baik keluarganya. Namun keinginan saja tidak cukup. Di dunia ini, keinginan tanpa kekuatan hanyalah angan-angan kosong. Dengan langkah gontai dan hati yang hancur, Kaelen tidak pulang ke gubuknya. Sebagai gantinya, dia berjalan keluar dari gerbang kota menuju ke bukit berbatu yang terletak di pinggiran. Di sanalah letak reruntuhan besar yang dulunya adalah kediaman megah Keluarga Voss. Bangunan itu kini hanya tinggal tumpukan batu berlumut dan dinding yang runtuh, tertutup semak belukar. Tempat itu angker dan orang-orang kota takut mendekatinya, menganggapnya dikutuk. Bagi Kaelen, tempat ini adalah satu-satunya tempat di mana dia merasa tenang. Di sini, di antara sisa-sisa kejayaan masa lalu, dia merasa seolah-olah masih bersama ayah dan ibunya. Dia duduk di atas sebuah balok batu besar yang retak, menatap langit yang mulai memerah karena matahari terbenam. Angin sore bertiup pelan, menerbangkan rambutnya yang berantakan. "Kakek, Ayah," bisik Kaelen lirih. Suaranya pecah tertahan tangis. "Maafkan aku. Aku gagal. Aku tidak bisa mengembalikan kejayaan keluarga kita. Aku bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri dari orang-orang seperti Rian. Aku lemah sekali." Air mata yang selama ini Kaelen tahan akhirnya jatuh juga, mengalir di pipinya yang kotor dan berdebu. Rasa frustrasi, kesepian, dan kemarahan meledak di dalam dadanya. Dia memukulkan kepalan tangannya berulang kali ke batu keras di sampingnya. Dia tidak peduli jika kulitnya lecet atau darah mulai menetes. "Aku benci menjadi lemah! Aku benci diriku sendiri! Aku rela berkorban apa saja... apa saja... jika saja aku bisa mendapatkan kekuatan!" Pikiran itu meledak di kepalanya. Sebuah sumpah serapah yang lahir dari keputusasaan terdalam. Tiba-tiba saat Kaelen menarik tangannya kembali. Sebuah benda kecil yang tersembunyi di celah batu itu terjatuh karena getaran pukulannya. Benda itu menggelinding dan berhenti tepat di samping kakinya. Itu adalah sebuah pecahan batu berwarna hitam pekat. Bentuknya tidak beraturan, kasar, dan ukurannya tidak lebih besar dari kepalan tangan anak-anak. Namun ada sesuatu yang aneh tentang batu itu. Warnanya begitu gelap hingga seolah-olah menyerap semua cahaya di sekitarnya, dan permukaannya memancarkan hawa dingin yang samar. Kaelen tertegun sejenak. Dia belum pernah melihat batu seperti ini sebelumnya di sekitar reruntuhan ini. Padahal dia sudah puluhan kali datang ke sini. Karena rasa penasaran mengalahkan kesedihannya, Kaelen membungkuk untuk mengambilnya. Saat jari-jarinya yang terluka dan berdarah menyentuh permukaan batu hitam itu. ZUUUUUUUUUM.. Sebuah getaran dahsyat meledak dari dalam batu itu. Darah merah segar yang menetes dari luka di tangannya terserap masuk ke dalam batu hitam itu seketika, seolah batu itu adalah pasir kering yang haus air. Dan saat darah itu masuk, batu hitam itu bersinar terang dengan cahaya berwarna abu-abu. Warna yang sama persis dengan warna mata Kaelen. "Arghhhh! Apa ini?!" Kaelen berteriak kesakitan. Rasa sakit yang luar biasa hebat menjalar dengan kecepatan kilat dari ujung jarinya dan naik ke lengan, lalu menyebar ke seluruh pembuluh darah di tubuhnya. Rasanya seolah-olah ada ribuan jarum panas yang menusuk setiap inci daging, tulang, dan sarafnya. Rasanya seolah-olah seluruh tubuhnya sedang dibakar dari dalam, namun sekaligus juga dibekukan hingga ke sumsum tulang. Kaelen jatuh terguling ke tanah. Menggeliat-geliat menahan rasa sakit yang tak terbayangkan itu. Mulutnya terbuka lebar, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya terbelalak lebar, pembuluh darah di matanya melebar karena rasa sakit itu. Otak Kaelen seolah mau meledak. Dia pikir dia akan mati saat itu juga. Namun di tengah rasa sakit yang menyiksa itu, di dalam kepalanya yang terasa mau pecah, terdengar sebuah suara. Bukan suara manusia. Bukan suara binatang. Itu adalah suara mekanis, dingin, jelas, dan berirama, seolah-olah berasal dari dunia lain. Suara itu bergema langsung di dalam benaknya, sekeras guntur namun setenang danau. [SYARAT AKTIVASI TERPENUHI] [DITEMUKAN HOSSES YANG KOMPATIBEL DENGAN SUMBER DAYA KUNO] [INTEGRASI DIMULAI...] [PENYATUAN SISTEM PENGUASAAN ELEMEN... 10%... 50%... 100% SELESAI.] Rasa sakit itu menghilang secepat dia datang. Kaelen terbaring diam di atas tanah berumput. Napasnya terengah-engah berat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Matanya masih terbelalak, menatap langit senja yang mulai gelap. Tubuhnya terasa lemas luar biasa, namun di saat yang sama, dia merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang aneh namun ajaib. Kaelen merasakan aliran energi. Di sekelilingnya, di udara, di tanah, di angin yang berhembus, Kaelen bisa merasakan keberadaan partikel-partikel kecil yang berwarna-warni. Ada partikel merah yang panas, partikel biru yang sejuk, partikel cokelat yang kokoh, partikel hijau yang bergerak cepat. Semuanya ada di sana, melayang bebas di alam semesta. Dan suara mekanis itu kembali terdengar di dalam benaknya, kali ini dengan jelas dan penuh informasi, seolah-olah telah menjadi bagian dari dirinya sendiri. [SELAMAT!] [ANDA TELAH MENJADI PEMILIK SISTEM PENGUASAAN ELEMEN] [STATUS AWAL: TINGKAT 1] [KEMAMPUAN KHUSUS: MAMPU MENYERAP, MENGANALISIS, DAN MENGUASAI SEGALA JENIS ELEMEN YANG ADA DI DUNIA INI.] [TUJUAN UTAMA SISTEM: MENCAPAI PUNCAK KEKUATAN, MENJADI PENGUASA ELEMEN MUTLAK YANG TAK TERKALAHKAN.] Kaelen perlahan bangkit duduk. Dia menatap kedua tangannya yang gemetar. Kali ini bukan karena takut atau sakit, melainkan karena kegembiraan yang meluap-luap. Batu hitam yang tadi dia pegang sudah hilang. Lenyap sepenuhnya, seolah telah menyatu dengan jiwa dan raganya. Kaelen mengangkat wajahnya, menatap langit yang semakin gelap. Di matanya yang abu-abu itu, kini bersinar cahaya tekad yang belum pernah ada sebelumnya. Cahaya yang menandakan bahwa takdirnya telah berubah selamanya. "Aku... aku bisa merasakannya," bisik Kaelen pelan. Senyum perlahan terukir di bibirnya. Senyum yang dingin, percaya diri, dan penuh ambisi. "Rian dan orang-orang yang meremehkanku. Kalian semua lihat saja. Hari ini adalah hari terakhir kalian melihatku sebagai sampah. Mulai hari ini aku akan mendaki puncak kekuasaan tertinggi di dunia ini." Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, dan kegelapan menyelimuti bukit itu. Namun bagi Kaelen, malam itu bukanlah akhir, melainkan awal dari segalanya. Kisah seorang pemuda yang dianggap tidak berharga yang kelak akan menjadi legenda terbesar sepanjang sejarah, baru saja dimulai.Kaelen menghela napas panjang. Merasakan aliran energi Tanah yang luar biasa memenuhi seluruh tubuhnya. Dia bisa merasakan kekerasan, kestabilan, dan ketahanan yang menjadi sifat dasar elemen ini. Pengetahuan tentang bagaimana menyatu dengan tanah. Bagaimana mengeraskan kulit, dan bagaimana mengendalikan bebatuan langsung tertanam kuat di ingatannya seolah dia telah mempelajarinya selama puluhan tahun.[SERAPAN BERHASIL. ELEMEN TANAH: TINGKAT DASAR 100% — MENINGKAT KE TINGKAT MAHIR][KEMAMPUAN BARU DIPEROLEH: KULIT BATU, PERTAHANAN MUTLAK, KENDALI TANAH DAN BATU]Kaelen menoleh ke arah kedua temannya yang masih terpaku. Senyum tipis terukir di bibirnya."Kau tidak apa-apa, Dimas?" tanyanya sambil mengulurkan tangan membantu Dimas bangkit."Kau. Apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Dimas tergagap. Masih menatap bangkai makhluk raksasa itu tak percaya. "Kulitnya? Dia menjadi tanah begitu saja. Kau menyedot kekuatannya?""Begitulah kira-kira," jawab Kaelen mengelak. Tidak mau membuka r
Kemenangan telak Kaelen atas Geraldo di babak penyisihan bukan hanya membuat geger seluruh Akademi Sihir Kerajaan, tetapi juga mengubah pandangan semua orang terhadap pemuda yang dulunya dicap sampah itu. Kata-kata ancaman dan ejekan kini berubah menjadi rasa hormat, rasa takut, dan rasa penasaran yang luar biasa.Namun bagi Kaelen, pertarungan itu hanyalah pemanasan. Dia tahu, untuk bisa bertahan hidup di lingkungan ini dan mencapai tujuannya, ia harus terus tumbuh lebih kuat lagi.Beberapa hari setelah pertandingan itu, pengumuman besar dibacakan di lapangan utama akademi. Ini adalah tahap akhir dari rangkaian ujian penyaringan tahunan. Ujian yang paling berat, paling berbahaya, dan sekaligus paling menentukan nasib setiap siswa baru adalah Ujian Bertahan Hidup di Hutan Dalam.Berbeda dengan Hutan Pinggiran tempat Kaelen berlatih dulu, atau Hutan Latihan biasa di belakang akademi. Hutan Dalam adalah wilayah yang benar-benar liar. Belum terjamah sepenuhnya, dan menjadi rumah bagi rib
Minggu-minggu berlalu dengan cepat. Kabar tentang persaingan antara "Anak Desa" melawan "Kelompok Bangsawan Tinggi" telah menjadi pembicaraan hangat di seluruh akademi. Sebagian besar siswa bertaruh bahwa Kaelen akan hancur lebur. Lagi pula, bagaimana mungkin seorang anak miskin dari desa terpencil bisa melawan keturunan bangsawan yang telah ditempa kekuatan sejak bayi dan memiliki sumber daya tak terbatas?Namun ada juga sekelompok kecil siswa dari kalangan rakyat biasa atau bangsawan rendah yang mulai menaruh harapan pada Kaelen. Mereka juga sering diperlakukan semena-mena oleh Kelompok Mahkota Emas, dan diam-diam mereka berharap ada seseorang yang bisa menekan kesombongan para bangsawan itu.Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba yaitu Ujian Penyisihan Bulanan.Hari itu, Arena Pertarungan Besar Akademi dipenuhi sesak oleh ribuan siswa, guru, dan pejabat kerajaan yang diundang khusus. Arena itu luasnya seperti sebuah lapangan kota. Dikelilingi tribun penonton bertingkat-tingkat
Lira menghentikan bicaranya. Wajahnya berubah tegang. Dimas meletakkan sendoknya perlahan. Matanya menatap tajam ke arah kelompok bangsawan itu. Sementara Kaelen tetap tenang. Dia terus mengunyah makanannya pelan, seolah kehadiran mereka tidak berarti apa-apa."Lihat siapa yang ada di sini," suara Geraldo memecah keheningan. Nadanya keras dan mengejek. Dia menunjuk ke arah Kaelen dengan jari kasarnya. "Rakyat jelata dari desa kumuh berani duduk di meja yang sama dengan Nona Lira dan Tuan Dimas. Apakah kau tidak tahu etika, sampah?"Selena tertawa renyah namun penuh sarkasme. Dia menatap pakaian Kaelen dengan pandangan menjijikkan, seolah melihat kotoran di jalanan. "Lira, kenapa kau mau berteman dengan makhluk seperti ini? Lihat bajunya, kotor dan bau. Dia cuma penerima sumbangan belas kasihan kerajaan. Tempatnya ada di kolong meja, bukan di atas kursi yang sama dengan kita."Lira berdiri marah, wajahnya memerah karena emosi. "Cukup! Kaelen adalah temanku! Tidak ada aturan yang melara
Berita tentang pertarungan di alun-alun Kota Aras bukan hanya sekadar menjadi bahan pembicaraan warga desa, tetapi telah terbang jauh hingga ke telinga pihak berwenang di ibu kota. Di dunia di mana kekuatan elemen adalah segalanya, kemampuan seseorang yang mampu menekuk lawan yang lebih kuat dengan cara yang tidak terduga selalu menarik perhatian. Terutama ketika orang itu dulunya dikenal sebagai "sampah" yang tidak memiliki bakat apa pun.Beberapa hari setelah kemenangannya. Sebuah kereta kencana mewah berwarna emas putih memasuki gerbang Kota Aras. Membawa serta utusan resmi dari Kerajaan. Tujuannya hanya satu yaitu menemui Kaelen Voss.Di hadapan seluruh warga kota yang kembali berkumpul penasaran. Utusan itu menyerahkan sebuah gulungan bersegel emas ke tangan Kaelen. Isinya adalah surat rekomendasi langsung dari Dewan Penasihat Kerajaan yang menyatakan bahwa Kaelen diterima secara istimewa di Akademi Sihir Kerajaan. Tempat pendidikan paling bergengsi. Tempat berkumpul para pemuda
Malam semakin larut. Angin dingin menyusup masuk lewat celah-celah dinding gubuk tua tempat Kaelen tinggal sendirian. Di dalam ruangan yang sederhana dan agak pengap itu hanya ada cahaya remang dari satu pelita minyak yang hampir habis apinya. Di sini, di tempat yang dulu menjadi tempat tinggal ayah dan ibunya sebelum mereka meninggal dunia beberapa tahun lalu, Kaelen duduk termenung.Sejak kembali dari alun-alun kota setelah mengalahkan Rian dan membuat seluruh warga terkejut. Perasaannya belum juga tenang. Kemenangan itu memang memberinya kebanggaan dan rasa aman, namun di hati kecilnya, tanda tanya besar terus bergemuruh.Kenapa aku? Kenapa hanya aku yang bisa melakukan ini? Mengapa Kristal Penentu menyatakan aku kosong, padahal aku memiliki kekuatan sebesar ini? Apakah benar aku hanyalah anak buangan tanpa asal-usul, seperti yang sering dikatakan semua orang?Pikiran-pikiran itu terus menghantui pikiran Kaelen. Dia teringat wajah-wajah warga yang penuh keraguan. Teringat bagaimana







