共有

PENGUASA ELEMEN MUTLAK
PENGUASA ELEMEN MUTLAK
作者: Yarniati

1. Anak Yang Dihina

作者: Yarniati
last update 公開日: 2026-05-23 12:33:54

Sinar matahari pagi menyinari Kota Aras, sebuah kota perdagangan yang makmur di bagian selatan Kerajaan Aethra. Di sini kehidupan berjalan beriringan dengan kekuatan sihir. Orang-orang berjalan di jalanan berbatu sambil memanipulasi nyala api kecil untuk menyalakan pipa. Menggerakkan aliran air untuk mengisi bejana, atau memadatkan tanah untuk memperbaiki bangunan.

Di dunia ini, kekuatan adalah segalanya, dan kekuatan itu didasarkan pada satu hal yaitu Afinitas Elemen.

Setiap manusia yang lahir di benua ini memiliki kemampuan untuk mengendalikan salah satu dari enam elemen dasar yaitu Api, Air, Tanah, Angin, Petir, atau Cahaya.

Semakin kuat afinitas seseorang. Semakin tinggi status dan kehormatannya. Mereka yang memiliki bakat besar akan menjadi penyihir hebat, ksatria kerajaan, atau bangsawan yang dihormati.

Namun mereka yang tidak memiliki bakat akan dianggap sampah masyarakat.

Dan di Kota Aras itu, ada satu pemuda yang menjadi contoh paling nyata dari kata "sampah" itu. Namanya Kaelen Voss.

Kaelen berusia tujuh belas tahun. Memiliki wajah yang sebenarnya tampan dengan rahang tegas dan mata berwarna abu-abu yang jernih.

Namun wajah tampannya itu sering kali tertutup rambut yang berantakan dan ekspresi pasrah yang mendalam. Dia adalah satu-satunya keturunan dari Keluarga Voss, sebuah keluarga bangsawan yang dulu sangat dihormati karena para leluhurnya dikenal sebagai penyihir elemen terkuat.

Namun kejayaan itu hancur bertahun-tahun lalu setelah sebuah bencana misterius menimpa rumah leluhur mereka, meninggalkan keluarga Voss miskin, menderita, dan kehilangan pengaruh.

Kini Kaelen hidup sendirian di sebuah gubuk kecil di pinggiran kota. Berjuang setiap hari hanya untuk mendapatkan sepotong roti.

Yang terburuk dari semuanya adalah hasil ujian bakat yang dilakukan saat dia berusia sepuluh tahun.

Saat itu, Kristal Penentu Elemen yang dipegangnya tidak memancarkan cahaya apa pun. Tidak ada warna Merah untuk Api, Biru untuk Air, Cokelat untuk Tanah, Hijau untuk Angin, Kuning untuk Petir, maupun Putih untuk Cahaya. Kosong. Hitam pekat.

Kaelen dinyatakan sebagai orang yang tidak memiliki afinitas elemen sama sekali.

"Lihatlah siapa yang lewat! Itu dia 'Pemuda Tanpa Warna'!"

Suara ejekan yang keras terdengar membuat orang-orang di pasar menoleh dan tertawa kecil.

Kaelen seketika menghentikan langkahnya. Menggenggam erat keranjang rotan kosong di tangannya. Dia mengenakan jubah katun yang sudah bertambal di sana-sini. Kain yang dulunya adalah pakaian bagus milik ayahnya, namun kini sudah lusuh dan pudar warnanya.

Di hadapannya, berjalan perlahan sekelompok pemuda berpakaian rapi dan mewah. Di barisan paling depan adalah seorang pemuda berambut cokelat dengan mata yang angkuh, diiringi oleh dua pengikut berbadan besar.

Pemuda itu adalah Rian, putra bangsawan terkaya di Kota Aras, sekaligus penyihir muda berbakat elemen Api tingkat pemula. Bagi Rian, mengganggu dan menyakiti Kaelen adalah hiburan favoritnya.

"Kau mau ke mana, Kaelen?" tanya Rian sambil tersenyum miring. Dia menghalangi jalan pemuda itu. "Mencari sisa makanan di tempat sampah lagi? Atau mungkin kau berharap ada orang yang akan memberikanmu koin perak hanya karena kasihan melihat wajah menyedihkanmu?"

Beberapa orang di sekitar tertawa mendengar ucapan itu. Bagi mereka, melihat anak bangsawan jatuh miskin dan tidak berdaya dihina adalah tontonan yang menghibur.

"Aku hanya mau lewat, Rian," jawab Kaelen pelan.

Kaelen berusaha menekan rasa marah yang perlahan naik ke dada. Dia sudah terbiasa dengan ini. Dia tahu, jika dia melawan. Hukuman yang ia terima akan jauh lebih parah.

"Minggirlah."

"Wah! Berani juga kau bicara begitu padaku!"

Rian melangkah maju. Tatapan matanya menatap rendah ke arah Kaelen. Dia mengangkat tangannya, dan seketika itu juga, nyala api kecil berwarna merah menyala di ujung jarinya.

Penonton seketika bersorak pelan, kekuatan sihir selalu memukau mata mereka. "Kau lupa siapa aku? Dan kau... kau lupa siapa dirimu sendiri? Kau hanyalah sampah yang tidak bisa melakukan apa-apa. Keluargamu sudah hancur, dan kau pun akan mati hancur seperti mereka."

Kata-kata itu menusuk langsung ke hati Kaelen. Ingatan tentang ayah dan ibunya yang meninggal dalam kemiskinan dan sakit. Ingatan tentang bagaimana mereka diusir dari rumah leluhur mereka. Semua itu berputar kembali di kepalanya. Rasa sakit, kesedihan, dan amarah bercampur aduk menjadi satu.

"Jangan bicara buruk tentang keluargaku," ucap Kaelen. Suaranya bergetar menahan emosi.

"Hahahaha." Rian tertawa keras. "Kenapa? Kau mau memukulku? Ayo, coba saja gunakan 'kekuatan'mu itu. Oh, tapi lupa. Kau tidak punya kekuatan apa pun! Kau bahkan tidak pantas disebut manusia di dunia ini!"

Dengan kasar, Rian menyambar keranjang di tangan Kaelen dan melemparkannya ke tanah hingga pecah berkeping-keping. Lalu, dia mendorong dada Kaelen dengan keras hingga pemuda itu terjatuh ke tanah berdebu. Debu kotor menempel di wajah dan bajunya yang sudah lusuh.

"Besok adalah Hari Penilaian Kota," ucap Rian dingin sambil menatap ke bawah. "Anak-anak dari desa sekitar akan datang untuk diuji. Jangan berani-berani muncul di sana. Kehadiranmu hanya akan menodai kemegahan acara itu. Mengerti?"

Kaelen mengangkat wajahnya. Dia menatap tajam ke arah Rian. Mata abu-abunya berkilat penuh amarah. Tatapan itu membuat Rian sedikit terkejut, namun kemudian berubah menjadi kemarahan.

"Berani kau menatapku begitu?!" Rian mengangkat tangannya lagi. Kali ini api di tangannya lebih besar dan lebih panas. "Aku harus memberimu pelajaran agar kau tahu tempatmu!"

Namun sebelum Rian sempat melakukan apa pun, seorang pengurus pasar datang melerai mereka.

"Tuan Rian, cukup sudah," ucap pria paruh baya itu dengan nada memohon. "Jangan buat keributan di sini. Ayahmu akan marah jika sampai ada laporan bahwa kau menggunakan sihir untuk menyakiti orang biasa."

Rian mendengus kesal. Dia kemudian menurunkan tangannya, memadamkan api itu dengan santai. Dia meludah tepat di samping kaki Kaelen.

"Kau beruntung hari ini," bisik Rian dingin.

Setelah itu, Rian lalu berbalik dan pergi bersama teman-temannya, meninggalkan jejak tawa yang mengejek di belakangnya.

Kerumunan orang perlahan bubar, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Tidak ada yang menolong Kaelen. Tidak ada yang bertanya apakah dia terluka. Bagi mereka, Kaelen adalah orang yang tidak ada artinya.

Kaelen bangkit berdiri perlahan. Dia membersihkan debu dari pakaiannya dengan gerakan lambat dan berat. Dia menatap punggung Rian yang menjauh. Tangan kanannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Mengapa? batinnya berteriak. Mengapa aku tidak memiliki kekuatan? Mengapa aku harus menderita seperti ini? Apa salahku? Apa dosa keluargaku hingga kami harus diperlakukan seperti sampah?

Hati Kaelen terasa perih dan kosong. Dia tidak mau hidup seperti ini selamanya. Dia tidak mau terus-menerus dihina, dipukuli, dan dianggap tidak berguna. Dia ingin kuat. Dia ingin membuat semua orang yang meremehkannya menunduk hormat. Dia ingin mengembalikan nama baik keluarganya.

Namun keinginan saja tidak cukup. Di dunia ini, keinginan tanpa kekuatan hanyalah angan-angan kosong.

Dengan langkah gontai dan hati yang hancur, Kaelen tidak pulang ke gubuknya. Sebagai gantinya, dia berjalan keluar dari gerbang kota menuju ke bukit berbatu yang terletak di pinggiran. Di sanalah letak reruntuhan besar yang dulunya adalah kediaman megah Keluarga Voss.

Bangunan itu kini hanya tinggal tumpukan batu berlumut dan dinding yang runtuh, tertutup semak belukar. Tempat itu angker dan orang-orang kota takut mendekatinya, menganggapnya dikutuk.

Bagi Kaelen, tempat ini adalah satu-satunya tempat di mana dia merasa tenang. Di sini, di antara sisa-sisa kejayaan masa lalu, dia merasa seolah-olah masih bersama ayah dan ibunya. Dia duduk di atas sebuah balok batu besar yang retak, menatap langit yang mulai memerah karena matahari terbenam. Angin sore bertiup pelan, menerbangkan rambutnya yang berantakan.

"Kakek, Ayah," bisik Kaelen lirih. Suaranya pecah tertahan tangis. "Maafkan aku. Aku gagal. Aku tidak bisa mengembalikan kejayaan keluarga kita. Aku bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri dari orang-orang seperti Rian. Aku lemah sekali."

Air mata yang selama ini Kaelen tahan akhirnya jatuh juga, mengalir di pipinya yang kotor dan berdebu. Rasa frustrasi, kesepian, dan kemarahan meledak di dalam dadanya. Dia memukulkan kepalan tangannya berulang kali ke batu keras di sampingnya. Dia tidak peduli jika kulitnya lecet atau darah mulai menetes.

"Aku benci menjadi lemah! Aku benci diriku sendiri! Aku rela berkorban apa saja... apa saja... jika saja aku bisa mendapatkan kekuatan!"

Pikiran itu meledak di kepalanya. Sebuah sumpah serapah yang lahir dari keputusasaan terdalam.

Tiba-tiba saat Kaelen menarik tangannya kembali. Sebuah benda kecil yang tersembunyi di celah batu itu terjatuh karena getaran pukulannya. Benda itu menggelinding dan berhenti tepat di samping kakinya.

Itu adalah sebuah pecahan batu berwarna hitam pekat. Bentuknya tidak beraturan, kasar, dan ukurannya tidak lebih besar dari kepalan tangan anak-anak.

Namun ada sesuatu yang aneh tentang batu itu. Warnanya begitu gelap hingga seolah-olah menyerap semua cahaya di sekitarnya, dan permukaannya memancarkan hawa dingin yang samar.

Kaelen tertegun sejenak. Dia belum pernah melihat batu seperti ini sebelumnya di sekitar reruntuhan ini. Padahal dia sudah puluhan kali datang ke sini.

Karena rasa penasaran mengalahkan kesedihannya, Kaelen membungkuk untuk mengambilnya.

Saat jari-jarinya yang terluka dan berdarah menyentuh permukaan batu hitam itu.

ZUUUUUUUUUM..

Sebuah getaran dahsyat meledak dari dalam batu itu.

Darah merah segar yang menetes dari luka di tangannya terserap masuk ke dalam batu hitam itu seketika, seolah batu itu adalah pasir kering yang haus air.

Dan saat darah itu masuk, batu hitam itu bersinar terang dengan cahaya berwarna abu-abu. Warna yang sama persis dengan warna mata Kaelen.

"Arghhhh! Apa ini?!"

Kaelen berteriak kesakitan. Rasa sakit yang luar biasa hebat menjalar dengan kecepatan kilat dari ujung jarinya dan naik ke lengan, lalu menyebar ke seluruh pembuluh darah di tubuhnya. Rasanya seolah-olah ada ribuan jarum panas yang menusuk setiap inci daging, tulang, dan sarafnya. Rasanya seolah-olah seluruh tubuhnya sedang dibakar dari dalam, namun sekaligus juga dibekukan hingga ke sumsum tulang.

Kaelen jatuh terguling ke tanah. Menggeliat-geliat menahan rasa sakit yang tak terbayangkan itu. Mulutnya terbuka lebar, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya terbelalak lebar, pembuluh darah di matanya melebar karena rasa sakit itu. Otak Kaelen seolah mau meledak. Dia pikir dia akan mati saat itu juga.

Namun di tengah rasa sakit yang menyiksa itu, di dalam kepalanya yang terasa mau pecah, terdengar sebuah suara.

Bukan suara manusia. Bukan suara binatang. Itu adalah suara mekanis, dingin, jelas, dan berirama, seolah-olah berasal dari dunia lain. Suara itu bergema langsung di dalam benaknya, sekeras guntur namun setenang danau.

[SYARAT AKTIVASI TERPENUHI]

[DITEMUKAN HOSSES YANG KOMPATIBEL DENGAN SUMBER DAYA KUNO]

[INTEGRASI DIMULAI...]

[PENYATUAN SISTEM PENGUASAAN ELEMEN... 10%... 50%... 100% SELESAI.]

Rasa sakit itu menghilang secepat dia datang.

Kaelen terbaring diam di atas tanah berumput. Napasnya terengah-engah berat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Matanya masih terbelalak, menatap langit senja yang mulai gelap. Tubuhnya terasa lemas luar biasa, namun di saat yang sama, dia merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang aneh namun ajaib.

Kaelen merasakan aliran energi.

Di sekelilingnya, di udara, di tanah, di angin yang berhembus, Kaelen bisa merasakan keberadaan partikel-partikel kecil yang berwarna-warni. Ada partikel merah yang panas, partikel biru yang sejuk, partikel cokelat yang kokoh, partikel hijau yang bergerak cepat. Semuanya ada di sana, melayang bebas di alam semesta.

Dan suara mekanis itu kembali terdengar di dalam benaknya, kali ini dengan jelas dan penuh informasi, seolah-olah telah menjadi bagian dari dirinya sendiri.

[SELAMAT!]

[ANDA TELAH MENJADI PEMILIK SISTEM PENGUASAAN ELEMEN]

[STATUS AWAL: TINGKAT 1]

[KEMAMPUAN KHUSUS: MAMPU MENYERAP, MENGANALISIS, DAN MENGUASAI SEGALA JENIS ELEMEN YANG ADA DI DUNIA INI.]

[TUJUAN UTAMA SISTEM: MENCAPAI PUNCAK KEKUATAN, MENJADI PENGUASA ELEMEN MUTLAK YANG TAK TERKALAHKAN.]

Kaelen perlahan bangkit duduk. Dia menatap kedua tangannya yang gemetar. Kali ini bukan karena takut atau sakit, melainkan karena kegembiraan yang meluap-luap. Batu hitam yang tadi dia pegang sudah hilang. Lenyap sepenuhnya, seolah telah menyatu dengan jiwa dan raganya.

Kaelen mengangkat wajahnya, menatap langit yang semakin gelap. Di matanya yang abu-abu itu, kini bersinar cahaya tekad yang belum pernah ada sebelumnya. Cahaya yang menandakan bahwa takdirnya telah berubah selamanya.

"Aku... aku bisa merasakannya," bisik Kaelen pelan. Senyum perlahan terukir di bibirnya. Senyum yang dingin, percaya diri, dan penuh ambisi. "Rian dan orang-orang yang meremehkanku. Kalian semua lihat saja. Hari ini adalah hari terakhir kalian melihatku sebagai sampah. Mulai hari ini aku akan mendaki puncak kekuasaan tertinggi di dunia ini."

Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, dan kegelapan menyelimuti bukit itu. Namun bagi Kaelen, malam itu bukanlah akhir, melainkan awal dari segalanya. Kisah seorang pemuda yang dianggap tidak berharga yang kelak akan menjadi legenda terbesar sepanjang sejarah, baru saja dimulai.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    56. Kembalinya Sang Pembawa Cahaya Langit

    Seluruh ibu kota terdiam serentak. Ribuan orang yang ada di tembok, di jalanan, di istana, dan di rumah-rumah. Semuanya berhenti melakukan apa pun yang sedang mereka lakukan. Mulut mereka terbuka sedikit karena takjub karena kagum, dan karena rasa hormat yang muncul begitu saja dari lubuk hati terdalam."I-itu... siapa?" tanya seorang prajurit dengan suara berbisik gemetar. "Apakah itu dewa yang turun ke bumi?""Tidak," jawab komandan pasukan di sebelahnya, suaranya parau karena emosi. Air mata mulai menggenang di matanya. "Lihatlah wajahnya. Aku kenal wajah itu. Itu... itu adalah Pangeran Kaelen! Itu adalah Kaelen Voss!""KAELEN?!" seru banyak orang serentak, tidak percaya. "Itu benar-benar dia? Tapi... kekuatan macam apa itu? Cahaya apa itu? Wujud macam apa itu?"Lira berdiri kaku di tempatnya. Kakinya yang sudah lemas itu seolah mendapatkan kembali seluruh kekuatannya. Matanya menatap lekat-lekat sosok yang melayang turun semakin dekat itu. Air mata bahagia mengalir deras membasahi

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    55. Kedatangan Di Ibu Kota Kerajaan

    Cahaya emas yang dibawa oleh Kaelen saat melesat turun dari langit tidak hanya sekadar cahaya. Dia bergerak secepat kilat. Membelah angin dan ruang, namun tidak menimbulkan suara gemuruh atau ledakan apa pun. Gerakannya begitu halus, begitu mulia, dan begitu hening. Persis seperti cahaya matahari pagi yang jatuh perlahan ke permukaan bumi.Semakin jauh Kaelen bergerak ke selatan. Semakin banyak wilayah yang dia lewati. Wilayah yang dulunya mati, gersang, dan tertutup kabut hitam pekat sisa ulah Raja Bayangan. Namun keajaiban mulai terjadi di mana pun dia lewati.Saat bayangan emas itu melintas di atas daratan tandus yang tanahnya berwarna abu-abu dan keras. Seketika itu juga kabut kegelapan yang menempel bertahun-tahun itu menguap begitu saja, seolah takut dan tidak berdaya.Di belakangnya, tanah yang gersang perlahan berubah warna kembali menjadi cokelat subur. Biji-bijian yang tertidur puluhan tahun di bawah tanah seketika bertunas, tumbuh, dan mekar dalam sekejap mata. Rumput hijau

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    54. Kebangkitan Elemen Petir Ilahi

    Gunung Badai.Sebuah gunung tertinggi di benua itu, puncaknya menembus lapisan atmosfer. Di sekelilingnya awan hitam tebal berputar tak henti-henti, dan dari sana, petir, bukan petir berwarna ungu atau merah milik kegelapan, melainkan petir berwarna EMAS MURNI menyambar ke bawah ribuan kali setiap detiknya. Suara gemuruhnya begitu keras hingga bumi bergetar terus-menerus. Udara di sekitar gunung itu begitu panas dan berenergi hingga makhluk hidup biasa bahkan tidak bisa mendekat dalam jarak seratus kilometer tanpa hangus menjadi abu."Ini dia," bisik Kaelen dengan sisa napasnya.Tubuh Kaelen jatuh terhempas tepat di puncak gunung itu, di atas batu hitam keras yang telah dipukul petir selama jutaan tahun.Begitu Kaelen menyentuh tanah itu, Sistem kembali berbunyi. Kali ini dengan nada yang tegas dan terakhir.[TUJUAN TERCAPAI. DETEKSI ENERGI PETIR MURNI TINGKAT TERTINGGI. SYARAT EVOLUSI TERPENUHI][PERINGATAN TERAKHIR: Segala sesuatu di dalam dirimu akan dihancurkan. Segala kotoran, se

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    53. Dewa Kekacauan

    Langit di atas Benteng Kegelapan retak terbuka. Dari celah itu, bukan lagi hanya kabut hitam atau energi gelap yang memancar, melainkan tekanan keberadaan yang begitu dahsyat hingga membuat ruang di sekitarnya berkerut seperti kertas yang diremas. Sosok Raja Bayangan telah berubah total. Tubuhnya yang semula setinggi manusia biasa kini membesar menjadi raksasa setinggi seribu meter, menembus atap benteng hingga kepalanya hampir menyentuh langit kelam itu. Kulitnya berubah menjadi lapisan energi padat berwarna ungu pekat, berdenyut-denyut seolah memiliki jantung raksasa. Di punggungnya terdapat sepasang sayap raksasa yang terbuat dari ribuan kilatan petir hitam dan merah terbentang lebar, menutupi sinar bulan dan bintang membuat wilayah itu jatuh ke dalam kegelapan total.Raja Bayangan bukan lagi manusia. Bukan lagi penyihir. Bukan lagi penguasa bayangan. Dia adalah DEWA KEKACAUAN."Akhirnya!"Suara itu bergema dari seluruh tubuh raksasa itu. Bukan keluar dari mulut saja, melainkan ber

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    52. Keterkejutan Raja Bayangan

    Di saat-saat paling kritis ini. Saat menghadapi ancaman terbesar musuhnya, pasukan yang tak terhitung jumlahnya, yang kuat, dan yang tidak boleh dihancurkan sepenuhnya. Kepala Kaelen tetap dingin dan jernih.Kaelen mengingat kembali ajaran dasarnya. Dia mengingat kembali hukum alam yang dia pegang teguh. Dia mengingat perbedaannya dengan Raja Bayangan.Raja Bayangan menguasai kekuatan dengan MEMAKSA dan MENCURI.Kaelen menguasai kekuatan dengan MENGERTI dan MENYATUKAN.Pasukan di depannya ini bukanlah musuh sejati. Mereka adalah korban. Mereka adalah energi yang tersesat, yang terikat, dan yang tersiksa."Kau pikir kau menjebakku, Raja Bayangan?" seru Kaelen.Suara Kaelen bergema jelas menembus hiruk-pikuk serangan yang mendekat. Cahaya pelangi di tubuhnya berubah. Dia tidak melepaskan ledakan kekuatan menghancurkan. Sebaliknya, cahaya itu menjadi lembut dan menyebar luas, namun jauh lebih padat dan lebih berwibawa dari sebelumnya."Kau pikir dengan memaksaku melawan mereka, kau akan

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    51. Menghadapi Ancaman Terbesar Raja Bayangan

    Langit di atas Benteng Kegelapan bukan lagi sekadar gelap. Dia telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan, sebuah kubah raksasa berwarna hitam pekat yang berputar kencang, seolah seluruh langit sedang runtuh dan menyatu menjadi satu titik pusat.Di dalam pusaran itu, petir berwarna ungu darah menyambar tak henti-henti. Disertai suara gemuruh yang begitu dahsyat hingga tanah di bawahnya retak-retak dalam jangkauan ratusan kilometer. Energi yang dilepaskan begitu besar hingga udara terasa kental, berat, dan sulit untuk dihirup, seolah seseorang sedang berjalan menembus air yang membeku.Kaelen Voss melayang diam tepat di batas terluar kubah energi itu. Tubuhnya diselimuti cahaya pelangi yang bersinar terang, beradu kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Di belakangnya ribuan kilometer daratan mati terbentang, dan di depannya gerbang utama benteng musuh menjulang tinggi, sebuah bangunan raksasa dari logam hitam dan batu purba yang tingginya menembus awan badai. Gerbang

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status