Home / Romansa / PEREMPUAN BERKALANG NODA / 1. Keinginan Gelap Suamiku

Share

PEREMPUAN BERKALANG NODA
PEREMPUAN BERKALANG NODA
Author: Mastuti Rheny

1. Keinginan Gelap Suamiku

Author: Mastuti Rheny
last update publish date: 2026-02-25 18:33:28

“Dita sakit, Mas,” ucapku tertahan seraya mendekap erat putriku yang malam ini suhu tubuhnya naik lagi.

Lelaki yang sudah menikahiku enam tahun silam itu hanya melirikku, malas, sebelum perhatiannya kembali fokus pada layar ponsel di tangannya.

Aku merangsek mendekat kian mengunggah kecemasan yang semakin tak bisa aku sembunyikan kala telingaku mulai mendengar rintihan lirih anakku.

“Mas, kita harus segera membawa Dita ke dokter sekarang,” desakku.

“Kamu jangan terlalu berlebihan, anak seumuran dia itu sudah biasa kalau panas.”

Tanggapan Mas Angga yang terlalu santai seperti itu benar-benar tak bisa aku terima, sontak aku berdiri tepat di depannya.

“Kamu pegang sendiri, panas Dita ini sudah nggak wajar, terlalu tinggi. Anak kita membutuhkan pertolongan secepatnya.”

Bukannya ikut cemas memikirkan keadaan putri kami, suamiku itu malah membeliakkan kedua matanya, menatapku begitu nyalang.

“Apa kamu pikir membawa anak ke dokter itu nggak butuh duit?”

“Duit dari mana?!” Mas Angga malah berteriak kesal tepat di dekat telingaaku.

Aku tersentak kaget, kian kecewa menghadapi karakternya yang keras kepala. Walau terkadang dia bisa menunjukkan kasih sayangnya pada putri semata wayang kami tapi dia tetap lebih peduli dengan kerumitan yang dibuatnya sendiri. Sejak awal dia tak pernah bisa menunjukkan tanggung jawabnya sebagai suami, dan sudah sejak awal hanya aku yang berjuang sendiri semata buah hatiku, satu-satunya alasanku untuk bisa bertahan hingga saat ini.

“Mas, apa kamu nggak bisa mengusahakannya?”

Aku mulai sedikit putus asa. Selalu saja dia tak pernah mau mengeluarkan sepeser pun bahkan ketika dalam keadaan darurat seperti ini

Jika saja mama masih ada tentu aku tak perlu sampai mengemis pada sosok tak bernurani seperti Mas Angga. Dulu selalu saja aku mengandalkan pemberian mama, untuk kebutuhan rumah tangga ini, apalagi jika ada keadaan darurat seperti ini mama yang akan menjadi garda terdepan, mengulurkan bantuan padaku.

Nyatanya sekarang Mas Angga malah memandangiku dengan tatapan lekat. Sorot matanya seperti menyiratkan sesuatu yang gelap yang tak pernah ingin aku tahu. Enam tahun pernikahan telah mampu membuatku mengerti jika dia selalu saja oportunis, dan akan terus menghisapku meski saat ini dia telah tahu jika seluruh kekayaan keluargaku telah habis nyaris tak tersisa.

Untuk kali ini entah apa yang sedang dia rencanakan.

“Aku tahu ke mana mencari bantuan agar Dita bisa segera dibawa ke dokter,” desisnya kemudian.

Aku terpana bahagia, setidaknya aku masih memiliki harapan jika putriku akan segera bisa mendapatkan pertolongan.

“Kalau begitu tunggu apalagi Mas, ayo kita segera mencari bantuan.”

Aku mulai melangkah keluar dari kamar berniat untuk menyiapkan keperluan Dita sebelum dibawa ke rumah sakit.

Tapi dengan cepat Mas Angga malah mencekal lenganku hingga langkahku segera terhenti.

“Tapi sebelumnya kita harus membuat kesepakatan dulu,” tukas Mas Angga tegas.

Aku termangu tak mengerti.

“Kesepakatan apa Mas?”

“Kamu harus melakukan semua yang aku inginkan,” desis Mas Angga dengan tatap mata yang terlihat sangat misterius.

Selama ini aku merasa sudah menjalankan peran sebagai seorang istri dengan baik. Walau pernikahan ini tak pernah benar-benar aku inginkan tapi aku selalu bisa berbesar hati dengan selalu berusaha menerima baik buruknya Mas Angga, sebagai suamiku.

Jelas kalimatnya itu aku anggap tak relevan karena selama pernikahan nyaris aku tak pernah menentang apapun keinginannya.

“Keinginan apa maksud kamu, Mas?”

“Nanti kamu akan tahu sendiri, sekarang aku akan menghubungi seseorang dulu, kamu siap-siap sana.”

Sebuah kelegaan langsung menghampiriku. Seri di wajahku segera kembali hingga senyuman di bibirku tanpa sadar terkembang.

“Sayang, yang kuat ya, kita akan segera ke dokter,” bisikku di telinga putri semata wayangku yang sekarang hanya bisa memejamkan mata dengan bibirnya yang pucat sesekali mengeluarkan rintihan yang menyayat hati.

***

Aku terus menggenggam tangan mungil itu seraya memandangi wajahnya yang damai saat tidur seperti sekarang. Panas tubuhnya telah mulai turun setelah semalam dokter memberikan pertolongan dan kini tinggal menunggu masa pemulihan meski putriku tetap harus dirawat inap di rumah sakit untuk mempermudah observasi.

“Malam ini kamu harus ikut aku,” tukas Mas Angga saat dia mendadak muncul di dalam ruangan ini tanpa aku sadari.

Sontak aku menoleh dan memandangnya penuh rasa ingin tahu.

“Ke mana Mas?”

“Bukankah sebelum membawa Dita ke rumah sakit kamu sudah berjanji padaku untuk memenuhi keinginanku?”

Aku langsung mengernyit gelisah.

“Lalu apa keinginan kamu, Mas?”

Hati ini kian dilanda gelisah. Entah mengapa aku merasa pria yang dulu pernah mengundang decak kekaguman di hati kedua orang tuaku itu seperti sedang merencanakan sesuatu yang kelam di dalam pikirannya.

Jika dulu aku pernah ditipunya dengan menguras habis harta keluargaku, sekarang entah apa yang akan dia rencanakan untukku.

Jelas aku harus bersikap waspada padanya, pada sosok yang harusnya bisa menjadi pelindung untukku juga untuk anakku.

“Nanti kamu akan tahu, kamu ikut aku saja nanti malam, aku sudah meminta bantuan pada Andien untuk bisa menjaga Dita di rumah sakit.”

Aku terdiam kelu. Tak ada protes yang bisa aku keluarkan, kecuali hanya tunduk pada setiap titahnya, karena sudah sejak awal aku didoktrin untuk tak pernah membantah apapun perintah dari sosok yang bergelar sebagai suamiku itu.

Akhirnya di malam hari Mas Angga benar-benar mengajakku. Bukan hanya memintaku berdandan secantik mungkin, dia bahkan sampai membelikan aku sepasang sepatu yang menurutku perhatian seperti itu adalah sebuah kemewahan bila mengingat sikapnya yang lebih sering acuh terhadapku.

Tapi ketika akhirnya Mas Angga menghentikan sepeda motornya di halaman sebuah rumah megah, hati ini menjadi kian dipenuhi tanda tanya.

Saat turun dari boncengan motornya, rasa penasaranku kian menjadi tak terbendung.

“Mas, rumah siapa ini?”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    124. Calon Istri

    Maya POVLangkahku terasa jauh lebih ringan pagi itu.Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku berjalan keluar dari kawasan perumahan tanpa ditemani siapa pun. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahku, membuatku mengembuskan napas panjang.Rasanya menyenangkan.Bebas.Aku terus berjalan hingga tiba di jalan raya, lalu mengangkat tangan memanggil sebuah taksi."Ke Jalan Melati, Pak.""Baik, Bu."Mobil melaju membelah jalanan kota.Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang ke kontrakan kecil yang pernah kutinggali.Masih ada beberapa pakaian.Album foto Dita.Beberapa buku.Dan sebuah kotak kecil berisi kenangan yang belum sempat kubawa.Aku hanya ingin mengambil semuanya, lalu kembali sebelum Hans mengetahui aku keluar rumah.Mungkin...Dia bahkan tidak akan sadar.Sekitar tiga puluh menit kemudian...Taksi berhenti tepat di depan gang menuju kontrakanku."Terima kasih, Pak."Aku membayar ongkos lalu turun.Baru beberapa langkah aku berjalan...Sebuah mobil hitam berhenti mendadak tepa

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    123. Sangkar Emas

    Maya POVAku masih menatap Hans dengan bingung."Memangnya apa yang lebih seru?"Sudut bibirnya terangkat tipis."Kamu akan tahu sendiri."Tanpa menjelaskan apa pun, Hans kembali berjalan menuju mobil. Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya mengikuti langkahnya.Sekitar tiga puluh menit kemudian mobil berhenti di sebuah taman bermain yang cukup ramai.Aku menoleh heran."Kita ke sini?"Hans mengangguk santai."Iya.""Aku bukan anak kecil.""Memangnya yang boleh main di sini cuma anak kecil?"Aku terdiam.Hans sudah lebih dulu berjalan menuju loket pembelian tiket.Beberapa menit kemudian ia kembali sambil menyerahkan satu gelang masuk kepadaku."Pakai."Aku menerima gelang itu dengan ragu."Serius?""Kalau nggak serius, buat apa aku bayar mahal?"Aku hanya mendengus pelan.Entah sejak kapan pria itu selalu punya cara membuatku kehabisan kata-kata.Begitu memasuki area taman bermain, suara tawa para pengunjung memenuhi udara.Anak-anak berlarian.Musik ceria terdengar dari berbagai

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    122. Lebih Seru

    Maya POV"Maya."Suara itu membuatku spontan menoleh.Jantungku langsung berdebar keras.Fajar berdiri beberapa meter di depanku dengan balutan jas pengantin berwarna putih gading. Senyum hangat masih menghiasi wajahnya, tetapi sorot matanya menyimpan haru yang begitu dalam.Untuk sesaat, dunia di sekelilingku seperti berhenti.Aku sudah mempersiapkan diri selama seminggu penuh untuk menghadapi hari ini.Namun semua ketegaran yang kubangun seolah runtuh hanya karena melihatnya.Hari ini...Fajar benar-benar menjadi mempelai pria.Langkahnya mendekat."Maya..."Nada suaranya tetap sama seperti dulu. Hangat. Menenangkan."Aku senang kamu datang."Aku memaksakan senyum meski terasa begitu berat."Selamat, Jar."Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibirku.Fajar tersenyum tipis."Terima kasih."Tatapannya sempat bergetar."Aku tahu datang ke sini pasti nggak mudah buat kamu."Aku hanya mengangguk pelan.Tak ada gunanya lagi mengungkapkan apa yang kurasakan.Semuanya sudah terlambat.

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    121. Hari Pernikahan

    Maya POVAku masih berdiri membelakanginya.Ruangan kembali sunyi.Hans tak lagi memaksaku bicara. Ia hanya berdiri beberapa langkah di belakangku, seolah menungguku membuka hati dengan kemauanku sendiri.Entah kenapa, justru sikap diamnya membuat dadaku terasa semakin sesak.Aku menarik napas panjang."Ada yang mau kuceritakan."Suara itu akhirnya keluar, meski terdengar begitu lirih.Hans langsung mengangkat wajah. Tatapannya segera memindaiku.Aku menelan ludah."Tadi... Fajar menelepon."Sorot mata Hans berubah."Jadi dia yang sudah membuat kamu menangis."Hans melemparkan dugaannya dengan nada yang terdengar datar.Aku membisu sesaat sambil membalas tatapannya."Dia akan menikah minggu depan."Aku kembali merasakan sesak yang sama seperti beberapa jam lalu."Dia memintaku datang."Hans mencebik tipis."Dia sudah membuat pilihan yang tepat."Aku terperangah menjadi tak bisa menyembunyikan kekesalanku. Kedua mataku sedikit membeliak padanya.Hans malah mengedikkan kedua bahu tipis.

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    120. Perhatian Hans

    PBN 120Maya POVAku memejamkan mata, berusaha meredam isak yang kembali memenuhi dada.Suara Fajar terdengar pelan dari seberang sana.["May... boleh aku meminta satu hal padamu? Anggap saja ini permintaan terakhirku."]Jantungku kembali berdegup tak beraturan.Aku menggenggam ponsel semakin erat.["Katakan... apa permintaanmu, Jar?"]Hening beberapa saat.Seolah Fajar sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya.Lalu...["Datanglah ke pernikahanku."]Aku membeku.["Aku ingin... kamu mendampingiku sebelum akad dimulai."]Napas seolah berhenti."Apa?"Kalimat itu nyaris lolos dari bibirku.["Aku tahu permintaan ini egois."]["Tapi aku benar-benar ingin kamu dampingi demi meyakinkan diriku sendiri jika apa yang sudah aku pilih ini adalah sesuatu yang benar."]Aku membeku mendengar permintaan Fajar yang terasa sulit untuk dikabulkan.Saat ini aku bahkan menjadi kian sulit untuk menahan laju air mataku."Jar..."["Tolong..."]Suaranya mulai bergetar.["Aku ingin orang terakhir ya

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    119. Permintaan Terakhir Fajar

    Maya POV"Hans... lepaskan aku."Aku kembali berusaha menarik pergelangan tanganku, tetapi cengkeramannya justru semakin erat."Aku nggak akan membiarkan kamu pergi menemui Fajar."Nada suaranya terdengar tenang, tetapi ketegasan di dalamnya membuatku semakin marah."Kamu nggak berhak mengatur hidupku!""Aku memang belum berhak."Hans menatapku tanpa berkedip."Tapi aku hanya ingin menenangkan diriku saja."Aku langsung membeliak kesal."Maksud kamu?"Beberapa pasang mata mulai memperhatikan kami.Hans seolah tak peduli.Ia justru menarikku berdiri. Dia sama sekali tak menjelaskan kalimatnya tadi."Ayo pulang.""Pulang?"Aku mengernyit."Ke mana?""Ke rumah.""Aku punya rumah sendiri!""Bukan rumah itu."Hans berjalan sambil tetap menggenggam tanganku."Rumah yang kubelikan untukmu."Aku spontan menghentikan langkah."Aku nggak mau!""Kamu boleh marah.""Tapi hari ini kamu tetap ikut denganku."Aku benar-benar kehilangan kesabaran."Hans! Jangan paksa aku!"Namun semua protesku sama s

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    63. Bimbang

    Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata le

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    38. Dukungan Andien

    Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    6. Memperpanjang Waktu

    "Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah."Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur."Aku mengunggah keberania

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    5. Rahasia Hans

    Kupandangi foto itu dengan hati memendam gundah sekaligus rasa penasaran.Gambar di layar itu memampang terlalu lugas sebuah keakraban. Pelukan erat mereka semakin menegaskan tentang interaksi yang terunggah hangat. Ditambah dengan senyuman lebar keduanya kian memancing rasa ingin tahuku, sebenarny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status