LOGIN"Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."
Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah. "Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur." Aku mengunggah keberanian untuk mendebatnya. Tapi pria berambut coklat itu malah berdecih sinis. "Kamu salah, bukan seperti tapi sekarang kamu sudah benar-benar menjadi seorang pelacur." Hatiku seketika pedih ketika mendengar kalimatnya yang begitu menghina. Walau semua yang dikatakannya sepenuhnya fakta tapi batin ini seketika terkoyak saat mendengar ucapannya. Tapi aku menolak pasrah di hadapan seorang pria arogan sepertinya. "Aku tak pernah menginginkan menjadi pelacur. Aku sudah dijual dan kamu pria brengsek yang sudah membeliku." Pria itu malah tersenyum mengejek. "Kenapa kamu tak sadar juga? Tak ada lelaki yang lebih brengsek daripada suami kamu. Aku cukup dermawan karena sudah memberikan uang yang begitu besar. Secara tak langsung aku masih menghargaimu." "Uangmu hanya membuatku terhina." "Bukannya malah menyelamatkan putri kesayangan kamu?" Aku sontak terdiam. Rasanya tak ada gunanya membahas uang dalam jumlah besar itu yang aku sendiri bahkan tak ikut mencicipinya sama sekali. Aku langsung melengos. Energiku selalu merasa terkuras bila berhadapan dengannya. Setelah berusaha mengimbangi kegilaannya di ranjang sekarang aku harus berdebat panjang dengannya. Aku memutuskan melangkah ke dalam hendak segera memasuki kamar mandi. Namun lagi-lagi dengan seenaknya dia menarik lenganku dan membawa tubuhku mendekat padanya. "Kamu mau apalagi Tuan Hans yang terhormat?" Aku mengunggah kalimat sarkas kepadanya. "Aku minta kamu jaga sikapmu di depanku. Ingat kamu bukan siapa-siapa sekarang. Tak akan ada lagi yang bisa membelamu seperti dulu, perempuan manja. Tidak papamu yang sekarang sudah mati, apalagi suami kamu yang tak lebih dari seorang parasit." "Tak ada lagi yang bisa kamu sombongkan, bahkan harta keluargamu yang katanya melimpah ruah itu sudah habis." "Bukankah sekarang kamu malah tinggal di rumah kontrakan yang menyedihkan?" Hans kembali melontarkan hinaan padaku. Aku melihat kilat kebencian di kedua matanya sejak pertama kali aku melihatnya. Padahal aku merasa kami belum pernah saling bertemu sebelumnya. Tapi nyatanya sekarang aku seperti dijadikan bulan-bulanan olehnya, sebagai pelampiasan dendam yang aku tak mengerti. "Katakan padaku apa kesalahan yang sudah aku buat hingga kamu terlihat begitu membenciku Tuan Hans? Apa ini ada hubungannya dengan apa yang sudah diperbuat papaku padamu?" Hans malah membeku meski dia tetap tak mengendurkan cekalan tangannya di lenganku. "Apa kamu tidak bisa memaafkan papaku?" Tanpa sadar aku mulai memohon seraya ingatanku malah menghadirkan rentetan kenangan bersama papa, sosok ayah yang kuingat selalu mencurahkan kasih sayangnya yang begitu besar untukku. "Tolong maafkan papaku." Aku kembali memohon sekedar untuk melerai amarahnya. Tapi nyatanya Hans malah menatapku lekat. Dia tak mengatakan apapun. Aku hanya mampu membeku di dekatnya. Hingga pria itu malah mendaratkan ciuman di bibirku. Kali ini terasa terlalu lembut bukan sebuah cumbuan brutal yang menuntut. Parahnya aku malah membalasnya. Aku sungguh tak mengerti dengan diriku saat ini. Aku tak bisa memastikan apapun. Apa mungkin saat ini aku sedang mencari sebuah pelarian atas akumulasi kekecewaanku pada Mas Angga. Terlebih saat ini aku menduga jika saat ini ayah dari anakku itu sedang menghabiskan waktunya bersama wanita lain. Tapi dengan cepat aku bisa mengembalikan kesadaranku hingga aku menarik bibirku dari kuasanya. Sejenak aku termangu meski setelah itu air mataku malah jatuh. Terlalu banyak keresahan yang mendera hingga aku selalu merasa membuat kesalahan. "Aku harus ke kamar mandi sekarang," gumamku ketika kurasakan cekalan tangan Hans mulai mengendor. Hans melepasku dengan mudah. Bergegas aku berlari masuk ke toilet. Bukan hanya untuk membersihkan sisa percintaanku dengan pria itu tapi juga demi bisa meluapkan seluruh kesedihanku dengan menumpahkan semua air mata yang aku punya. Nyatanya saat ini aku sudah lelah untuk berpura-pura kuat, setelah semua yang aku dapat dalam pernikahan yang tak pernah aku harapkan. *** Pagi ini ada yang berbeda dari sikap Hans padaku. Kemarin dia tampak begitu tegas dan otoriter, bahkan aku melihat kilat amarah di kedua matanya. Tapi ketika kami duduk berhadapan di meja makan sekarang, sorot matanya terlihat lebih lembut. Dia tetap saja memindaiku begitu lekat namun untuk kali ini aku tak merasa terintimidasi. Aku berusaha menikmati makanan yang sudah disajikan. Di rumah ini aku melihat ada beberapa orang pelayan, yang membuat semuanya seakan selalu tersedia. Bahkan untuk keperluan pakaianku ikut disiapkan setiap pagi di kamar yang aku tempati. "Hari ini aku akan mengajakmu ke luar kota untuk beberapa hari," ucap Hans dengan entengnya seraya menyuapkan seiris sandwich ke dalam mulutnya. Aku terperangah gusar. Sontak aku menggeleng tegas. "Apa Anda lupa Tuan Hans kalau hari ini adalah hari terakhir bersamamu dan aku harus pulang karena yang aku tahu kamu hanya menyewaku untuk dua malam?" Kulihat Hans malah tersenyum sumbang. Ekspresinya yang kaku penuh ketegasan kembali lagi terunggah. Aku membalasnya dengan sorot mata yang menguarkan kekesalan. Aku sudah sangat merindukan putriku. Bahkan hati ini sudah terlalu sesak karena terjejali rasa bersalah. Tetap saja aku tak bisa membenarkan kebersamaanku dengan Hans yang jelas-jelas adalah sebuah perzinaan. Jadi akan lebih baik jika aku harus segera kembali ke rumah dan mengakhiri kegilaan ini. "Apa Angga tak memberitahumu jika aku sudah memperpanjangnya sampai satu minggu?" Tentu saja kalimat terakhir pria itu begitu mengagetkan. Bahkan mulutku kini sampai ternganga lebar saat mendengarnya. "Apa?!" ***Maya POV"Maya...."Aku perlahan mengangkat wajah.Air mataku masih membasahi pipi ketika kulihat Hans berdiri beberapa langkah di depanku. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan wajah yang terlihat lelah. Tatapannya penuh rasa bersalah."Aku sudah mencari kamu ke mana-mana."Aku segera berdiri lalu mengusap wajahku."Ada apa lagi?" tanyaku datar.Hans menghela napas panjang."Aku cuma ingin bicara.""Tentang apa? Kurasa sudah tak ada yang perlu dibicarakan."Aku mendesah pelan."Aku sudah menolak lamaranmu."Aku kemudian berbalik mengabaikan Hans yang masih menatapku lurus.Namun saat aku hendak melangkah pergi, Hans buru-buru berkata,"Kumohon ada yang ingin aku tunjukkan sama kamu."Aku mengernyit sejenak. Rasanya terlalu aneh mendapati sosok seperti Hans yang biasanya selalu otoriter kini malah memohon."Setelah ini kalau kamu tetap menolak, aku nggak akan memaksa lagi."Aku terdiam. Perlahan aku menoleh dan memandangnya.Hans menatapku dengan penuh kesungguhan.Aku akhirnya men
Maya POV"May, katakan padaku... apakah kamu masih mencintaiku?"Pertanyaan itu membuat tenggorokanku terasa tercekat.Aku hanya menunduk, menggenggam sendok yang tiba-tiba terasa begitu berat di tangan.Suasana ruang makan mendadak sunyi. Bahkan suara detik jam dinding terdengar begitu jelas di telingaku.Aku tak sanggup menatap wajah Fajar.Pertanyaannya justru menghidupkan kembali semua kenangan yang selama ini mati-matian coba aku kubur.Tentang segala kebersamaan kami dahulu, mulai dari awal saat kami masih memakai seragam abu-abu putih.Tentang canda tawa juga cita-cita kami di masa muda Dan tentang cinta yang selalu dia perjuangkan meski berkali-kali takdir memisahkan kami.Air mataku jatuh begitu saja.Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa semua itu sudah hilang?Tidak...Cinta itu masih ada.Masih sangat hidup.Bahkan mungkin lebih besar daripada sebelumnya.Justru karena aku masih mencintainya, aku tak ingin menghancurkan hidupnya.Aku mengangkat wajah perlahan.Kulihat ma
Maya POVAku langsung membuka mata saat kurasakan mobil yang dikendarai Fajar mulai berhenti. Nyatanya Fajar sekarang membawaku pulang ke rumah tersembunyinya. Rumah yang beberapa waktu silam pernah aku diami.Rumah yang dulu pernah menjadi tempatku berteduh ketika hidupku sedang berada di titik paling kelam.Aku menoleh ke arah Fajar."Jar, seharusnya kamu membawaku pulang ke kontrakan, bukan ke sini.""Sejak awal seharusnya kamu tidak perlu sampai mengontrak rumah. Kamu saja yang keras kepala."Fajar malah menyalahkan aku.Aku mengernyit jengah.Setelah itu Fajar keluar dari mobil begitu saja demi bisa membukakan pintu untukku.Ganti aku keluar dari dalam mobil lalu mengikuti langkah Fajar hingga masuk ke dalam rumah bercat putih itu."Apa ibu kamu masih belum kamu kasih tahu soal rumah ini?"Fajar hanya menggeleng menjawab pertanyaanku."Sampai kapan?"Fajar berkedik pelan sambil duduk di sofa ruang tamu.Mau tidak mau aku ikut duduk di sofa depannya.Aku menatapnya lebih lekat."
Maya POVTanganku masih gemetar menggenggam surat panggilan itu.Pada akhirnya aku harus menghadapi drama persidangan itu yang akan sangat mungkin menguras emosi.Jelas aku pasti akan dihadapkan pada pertanyaan demi pertanyaan yang selalu mengorek luka masa lalu, sebuah kisah yang sebenarnya sudah ingin aku kubur.Aku menelan ludah sambil menggenggam surat beramplop coklat itu."May..."Suara Fajar terdengar begitu lembut."Aku akan menemani kamu."Aku memejamkan mata sesaat."Aku takut, Jar.""Tak usah takut, hadapi saja semuanya dengan tenang."Aku mengangkat wajahku mulai menentang sorot mata Fajar yang selalu berusaha untuk melindungiku.Nyatanya perhatiannya malah menyusupkan perih di hati bila mengingat janji yang sebelumnya sudah aku cetuskan, untukku menjauh dari hidup pria berhati lembut itu.Fajar menatapku dengan penuh ketenangan."Kamu nggak sendiri."Tatapan itu membuat dadaku terasa hangat.Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya aku menganggukkan kepala pelan."Baik...
Fajar POV"Bagaimana kalau kalian berdua ngobrol dulu di teras?" usul Ibu sambil menatapku bergantian dengan Anisa setelah kami selesai makan malam."Biar kalian bisa saling mengenal lebih dekat."Aku tak menemukan alasan untuk menolak. Dengan langkah pelan aku mengikuti Anisa menuju teras depan rumah. Malam terasa sejuk. Angin berembus perlahan, menggoyangkan tanaman melati yang ditanam ibu di sudut halaman.Beberapa detik kami sama-sama diam."Sudan lama mengajar?" tanyaku akhirnya, sekadar memecah keheningan."Iya cukup lama bahkan saat aku masih belum lulus sekolah aku sudah diminta abah untuk mengajar adik-adik sekolah dasar di TPQ.""Pasti sehari-hari kegiatan kamu padat terus."Anisa mengulas senyum tipis."Alhamdulillah, lumayan padat, Mas. Minggu ini anak-anak sedang persiapan ujian semester. Jadi saya lebih sering pulang sore karena harus mendampingi mereka belajar."Aku mengangguk pelan."Pasti melelahkan.""Capek memang, tapi menyenangkan. Saya senang kalau melihat murid-m
Fajar POV"Calon suami Maya?"Aku terlalu kaget mendengar kalimat terakhir ibu."Tidak, tidak itu tidak mungkin."Aku menyanggah dengan gelisah."Tapi pria itu mengatakannya dengan sangat jelas.""Kamu bisa menanyakannya pada Pak Galih."Aku menggeleng gamang."Maya juga tidak mengingkari, dia tidak mengatakan apapun pada ibu. Dia terlihat sangat mudah mengabulkan permintaan ibu agar dia menjauhi kamu.""Kalau begitu aku akan menanyakannya pada Maya langsung."Aku sedikit mengunggah ketegasanku."Tapi Jar ...."Nada suara ibu terdengar menahanku.Aku segera membalas tatapan ibu. Lurus."Malam ini kamu jangan ke mana-mana."Aku mengernyit gundah."Keluarga Pak Husein akan datang bersama Anisa juga.""Untuk apa?""Mereka akan membicarakan tentang rencana lamaran kamu ke sana," ucap Ibu terdengar tanpa keraguan sedikitpun, seakan semua itu sudah beliau bicarakan kepadaku.Aku membeliak kecewa disertai dengan hembusan nafas panjang."Karena itu ibu tadi meminta bantuan pada Bulek Wati unt
Angga POV“Ke mana perempuan itu pergi sialan!”Aku membanting pintu kamar hotel hingga bergetar keras. Napasku memburu saat mendapati kamar itu kosong. Selimut berantakan. Gelas minuman masih tersisa di meja. Tapi Maya tidak ada.Padahal beberapa jam lalu aku sendiri yang mengantarnya ke sini.Tan
Maya POV“Kamu…?!”Aku memegang dada yang berdebar kencang saat melihat Andien berdiri di belakangku sambil mendelik kesal.“Ya Allah Andien, aku kira siapa. Aku sampai mau pingsan,” desisku setengah kesal.Andien malah terkekeh melihat ekspresi kekagetanku.“Ngapain kamu berdiri di sini kayak mali
Ada rasa berat saat aku berusaha membuka mata. Semuanya terasa samar hanya remang-remang.Perlu beberapa lama aku beradaptasi sampai akhirnya aku menyadari keberadaanku.Langit-langit putih. Bau obat yang menyengat. Suara mesin yang berdetak pelan.Jelas sekarang aku sudah berada di rumah sakit.Ak
Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se







