首頁 / Romansa / PEREMPUAN BERKALANG NODA / 6. Memperpanjang Waktu

分享

6. Memperpanjang Waktu

作者: Mastuti Rheny
last update publish date: 2026-02-25 18:40:33

"Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."

Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah.

"Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur."

Aku mengunggah keberanian untuk mendebatnya.

Tapi pria berambut coklat itu malah berdecih sinis.

"Kamu salah, bukan seperti tapi sekarang kamu sudah benar-benar menjadi seorang pelacur."

Hatiku seketika pedih ketika mendengar kalimatnya yang begitu menghina. Walau semua yang dikatakannya sepenuhnya fakta tapi batin ini seketika terkoyak saat mendengar ucapannya.

Tapi aku menolak pasrah di hadapan seorang pria arogan sepertinya.

"Aku tak pernah menginginkan menjadi pelacur. Aku sudah dijual dan kamu pria brengsek yang sudah membeliku."

Pria itu malah tersenyum mengejek.

"Kenapa kamu tak sadar juga? Tak ada lelaki yang lebih brengsek daripada suami kamu. Aku cukup dermawan karena sudah memberikan uang yang begitu besar. Secara tak langsung aku masih menghargaimu."

"Uangmu hanya membuatku terhina."

"Bukannya malah menyelamatkan putri kesayangan kamu?"

Aku sontak terdiam. Rasanya tak ada gunanya membahas uang dalam jumlah besar itu yang aku sendiri bahkan tak ikut mencicipinya sama sekali.

Aku langsung melengos. Energiku selalu merasa terkuras bila berhadapan dengannya. Setelah berusaha mengimbangi kegilaannya di ranjang sekarang aku harus berdebat panjang dengannya.

Aku memutuskan melangkah ke dalam hendak segera memasuki kamar mandi.

Namun lagi-lagi dengan seenaknya dia menarik lenganku dan membawa tubuhku mendekat padanya.

"Kamu mau apalagi Tuan Hans yang terhormat?"

Aku mengunggah kalimat sarkas kepadanya.

"Aku minta kamu jaga sikapmu di depanku. Ingat kamu bukan siapa-siapa sekarang. Tak akan ada lagi yang bisa membelamu seperti dulu, perempuan manja. Tidak papamu yang sekarang sudah mati, apalagi suami kamu yang tak lebih dari seorang parasit."

"Tak ada lagi yang bisa kamu sombongkan, bahkan harta keluargamu yang katanya melimpah ruah itu sudah habis."

"Bukankah sekarang kamu malah tinggal di rumah kontrakan yang menyedihkan?"

Hans kembali melontarkan hinaan padaku.

Aku melihat kilat kebencian di kedua matanya sejak pertama kali aku melihatnya. Padahal aku merasa kami belum pernah saling bertemu sebelumnya. Tapi nyatanya sekarang aku seperti dijadikan bulan-bulanan olehnya, sebagai pelampiasan dendam yang aku tak mengerti.

"Katakan padaku apa kesalahan yang sudah aku buat hingga kamu terlihat begitu membenciku Tuan Hans? Apa ini ada hubungannya dengan apa yang sudah diperbuat papaku padamu?"

Hans malah membeku meski dia tetap tak mengendurkan cekalan tangannya di lenganku.

"Apa kamu tidak bisa memaafkan papaku?"

Tanpa sadar aku mulai memohon seraya ingatanku malah menghadirkan rentetan kenangan bersama papa, sosok ayah yang kuingat selalu mencurahkan kasih sayangnya yang begitu besar untukku.

"Tolong maafkan papaku."

Aku kembali memohon sekedar untuk melerai amarahnya.

Tapi nyatanya Hans malah menatapku lekat. Dia tak mengatakan apapun.

Aku hanya mampu membeku di dekatnya.

Hingga pria itu malah mendaratkan ciuman di bibirku. Kali ini terasa terlalu lembut bukan sebuah cumbuan brutal yang menuntut.

Parahnya aku malah membalasnya. Aku sungguh tak mengerti dengan diriku saat ini. Aku tak bisa memastikan apapun.

Apa mungkin saat ini aku sedang mencari sebuah pelarian atas akumulasi kekecewaanku pada Mas Angga. Terlebih saat ini aku menduga jika saat ini ayah dari anakku itu sedang menghabiskan waktunya bersama wanita lain.

Tapi dengan cepat aku bisa mengembalikan kesadaranku hingga aku menarik bibirku dari kuasanya.

Sejenak aku termangu meski setelah itu air mataku malah jatuh. Terlalu banyak keresahan yang mendera hingga aku selalu merasa membuat kesalahan.

"Aku harus ke kamar mandi sekarang," gumamku ketika kurasakan cekalan tangan Hans mulai mengendor.

Hans melepasku dengan mudah. Bergegas aku berlari masuk ke toilet. Bukan hanya untuk membersihkan sisa percintaanku dengan pria itu tapi juga demi bisa meluapkan seluruh kesedihanku dengan menumpahkan semua air mata yang aku punya.

Nyatanya saat ini aku sudah lelah untuk berpura-pura kuat, setelah semua yang aku dapat dalam pernikahan yang tak pernah aku harapkan.

***

Pagi ini ada yang berbeda dari sikap Hans padaku. Kemarin dia tampak begitu tegas dan otoriter, bahkan aku melihat kilat amarah di kedua matanya. Tapi ketika kami duduk berhadapan di meja makan sekarang, sorot matanya terlihat lebih lembut.

Dia tetap saja memindaiku begitu lekat namun untuk kali ini aku tak merasa terintimidasi.

Aku berusaha menikmati makanan yang sudah disajikan. Di rumah ini aku melihat ada beberapa orang pelayan, yang membuat semuanya seakan selalu tersedia. Bahkan untuk keperluan pakaianku ikut disiapkan setiap pagi di kamar yang aku tempati.

"Hari ini aku akan mengajakmu ke luar kota untuk beberapa hari," ucap Hans dengan entengnya seraya menyuapkan seiris sandwich ke dalam mulutnya.

Aku terperangah gusar. Sontak aku menggeleng tegas.

"Apa Anda lupa Tuan Hans kalau hari ini adalah hari terakhir bersamamu dan aku harus pulang karena yang aku tahu kamu hanya menyewaku untuk dua malam?"

Kulihat Hans malah tersenyum sumbang. Ekspresinya yang kaku penuh ketegasan kembali lagi terunggah.

Aku membalasnya dengan sorot mata yang menguarkan kekesalan. Aku sudah sangat merindukan putriku. Bahkan hati ini sudah terlalu sesak karena terjejali rasa bersalah. Tetap saja aku tak bisa membenarkan kebersamaanku dengan Hans yang jelas-jelas adalah sebuah perzinaan. Jadi akan lebih baik jika aku harus segera kembali ke rumah dan mengakhiri kegilaan ini.

"Apa Angga tak memberitahumu jika aku sudah memperpanjangnya sampai satu minggu?"

Tentu saja kalimat terakhir pria itu begitu mengagetkan. Bahkan mulutku kini sampai ternganga lebar saat mendengarnya.

"Apa?!"

***

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    124. Calon Istri

    Maya POVLangkahku terasa jauh lebih ringan pagi itu.Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku berjalan keluar dari kawasan perumahan tanpa ditemani siapa pun. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahku, membuatku mengembuskan napas panjang.Rasanya menyenangkan.Bebas.Aku terus berjalan hingga tiba di jalan raya, lalu mengangkat tangan memanggil sebuah taksi."Ke Jalan Melati, Pak.""Baik, Bu."Mobil melaju membelah jalanan kota.Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang ke kontrakan kecil yang pernah kutinggali.Masih ada beberapa pakaian.Album foto Dita.Beberapa buku.Dan sebuah kotak kecil berisi kenangan yang belum sempat kubawa.Aku hanya ingin mengambil semuanya, lalu kembali sebelum Hans mengetahui aku keluar rumah.Mungkin...Dia bahkan tidak akan sadar.Sekitar tiga puluh menit kemudian...Taksi berhenti tepat di depan gang menuju kontrakanku."Terima kasih, Pak."Aku membayar ongkos lalu turun.Baru beberapa langkah aku berjalan...Sebuah mobil hitam berhenti mendadak tepa

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    123. Sangkar Emas

    Maya POVAku masih menatap Hans dengan bingung."Memangnya apa yang lebih seru?"Sudut bibirnya terangkat tipis."Kamu akan tahu sendiri."Tanpa menjelaskan apa pun, Hans kembali berjalan menuju mobil. Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya mengikuti langkahnya.Sekitar tiga puluh menit kemudian mobil berhenti di sebuah taman bermain yang cukup ramai.Aku menoleh heran."Kita ke sini?"Hans mengangguk santai."Iya.""Aku bukan anak kecil.""Memangnya yang boleh main di sini cuma anak kecil?"Aku terdiam.Hans sudah lebih dulu berjalan menuju loket pembelian tiket.Beberapa menit kemudian ia kembali sambil menyerahkan satu gelang masuk kepadaku."Pakai."Aku menerima gelang itu dengan ragu."Serius?""Kalau nggak serius, buat apa aku bayar mahal?"Aku hanya mendengus pelan.Entah sejak kapan pria itu selalu punya cara membuatku kehabisan kata-kata.Begitu memasuki area taman bermain, suara tawa para pengunjung memenuhi udara.Anak-anak berlarian.Musik ceria terdengar dari berbagai

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    122. Lebih Seru

    Maya POV"Maya."Suara itu membuatku spontan menoleh.Jantungku langsung berdebar keras.Fajar berdiri beberapa meter di depanku dengan balutan jas pengantin berwarna putih gading. Senyum hangat masih menghiasi wajahnya, tetapi sorot matanya menyimpan haru yang begitu dalam.Untuk sesaat, dunia di sekelilingku seperti berhenti.Aku sudah mempersiapkan diri selama seminggu penuh untuk menghadapi hari ini.Namun semua ketegaran yang kubangun seolah runtuh hanya karena melihatnya.Hari ini...Fajar benar-benar menjadi mempelai pria.Langkahnya mendekat."Maya..."Nada suaranya tetap sama seperti dulu. Hangat. Menenangkan."Aku senang kamu datang."Aku memaksakan senyum meski terasa begitu berat."Selamat, Jar."Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibirku.Fajar tersenyum tipis."Terima kasih."Tatapannya sempat bergetar."Aku tahu datang ke sini pasti nggak mudah buat kamu."Aku hanya mengangguk pelan.Tak ada gunanya lagi mengungkapkan apa yang kurasakan.Semuanya sudah terlambat.

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    121. Hari Pernikahan

    Maya POVAku masih berdiri membelakanginya.Ruangan kembali sunyi.Hans tak lagi memaksaku bicara. Ia hanya berdiri beberapa langkah di belakangku, seolah menungguku membuka hati dengan kemauanku sendiri.Entah kenapa, justru sikap diamnya membuat dadaku terasa semakin sesak.Aku menarik napas panjang."Ada yang mau kuceritakan."Suara itu akhirnya keluar, meski terdengar begitu lirih.Hans langsung mengangkat wajah. Tatapannya segera memindaiku.Aku menelan ludah."Tadi... Fajar menelepon."Sorot mata Hans berubah."Jadi dia yang sudah membuat kamu menangis."Hans melemparkan dugaannya dengan nada yang terdengar datar.Aku membisu sesaat sambil membalas tatapannya."Dia akan menikah minggu depan."Aku kembali merasakan sesak yang sama seperti beberapa jam lalu."Dia memintaku datang."Hans mencebik tipis."Dia sudah membuat pilihan yang tepat."Aku terperangah menjadi tak bisa menyembunyikan kekesalanku. Kedua mataku sedikit membeliak padanya.Hans malah mengedikkan kedua bahu tipis.

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    120. Perhatian Hans

    PBN 120Maya POVAku memejamkan mata, berusaha meredam isak yang kembali memenuhi dada.Suara Fajar terdengar pelan dari seberang sana.["May... boleh aku meminta satu hal padamu? Anggap saja ini permintaan terakhirku."]Jantungku kembali berdegup tak beraturan.Aku menggenggam ponsel semakin erat.["Katakan... apa permintaanmu, Jar?"]Hening beberapa saat.Seolah Fajar sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya.Lalu...["Datanglah ke pernikahanku."]Aku membeku.["Aku ingin... kamu mendampingiku sebelum akad dimulai."]Napas seolah berhenti."Apa?"Kalimat itu nyaris lolos dari bibirku.["Aku tahu permintaan ini egois."]["Tapi aku benar-benar ingin kamu dampingi demi meyakinkan diriku sendiri jika apa yang sudah aku pilih ini adalah sesuatu yang benar."]Aku membeku mendengar permintaan Fajar yang terasa sulit untuk dikabulkan.Saat ini aku bahkan menjadi kian sulit untuk menahan laju air mataku."Jar..."["Tolong..."]Suaranya mulai bergetar.["Aku ingin orang terakhir ya

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    119. Permintaan Terakhir Fajar

    Maya POV"Hans... lepaskan aku."Aku kembali berusaha menarik pergelangan tanganku, tetapi cengkeramannya justru semakin erat."Aku nggak akan membiarkan kamu pergi menemui Fajar."Nada suaranya terdengar tenang, tetapi ketegasan di dalamnya membuatku semakin marah."Kamu nggak berhak mengatur hidupku!""Aku memang belum berhak."Hans menatapku tanpa berkedip."Tapi aku hanya ingin menenangkan diriku saja."Aku langsung membeliak kesal."Maksud kamu?"Beberapa pasang mata mulai memperhatikan kami.Hans seolah tak peduli.Ia justru menarikku berdiri. Dia sama sekali tak menjelaskan kalimatnya tadi."Ayo pulang.""Pulang?"Aku mengernyit."Ke mana?""Ke rumah.""Aku punya rumah sendiri!""Bukan rumah itu."Hans berjalan sambil tetap menggenggam tanganku."Rumah yang kubelikan untukmu."Aku spontan menghentikan langkah."Aku nggak mau!""Kamu boleh marah.""Tapi hari ini kamu tetap ikut denganku."Aku benar-benar kehilangan kesabaran."Hans! Jangan paksa aku!"Namun semua protesku sama s

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    63. Bimbang

    Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata le

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    56. Melarikan Diri

    Angga POV“Ke mana perempuan itu pergi sialan!”Aku membanting pintu kamar hotel hingga bergetar keras. Napasku memburu saat mendapati kamar itu kosong. Selimut berantakan. Gelas minuman masih tersisa di meja. Tapi Maya tidak ada.Padahal beberapa jam lalu aku sendiri yang mengantarnya ke sini.Tan

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    55. Terkukung Amarah

    Maya POV“Kamu…?!”Aku memegang dada yang berdebar kencang saat melihat Andien berdiri di belakangku sambil mendelik kesal.“Ya Allah Andien, aku kira siapa. Aku sampai mau pingsan,” desisku setengah kesal.Andien malah terkekeh melihat ekspresi kekagetanku.“Ngapain kamu berdiri di sini kayak mali

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    38. Dukungan Andien

    Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status