Share

2. Jebakan Suamiku

Penulis: Mastuti Rheny
last update Tanggal publikasi: 2026-02-25 18:36:26

"Rumah siapa ini Mas?"

"Untuk apa kita ke sini?" tanyaku dipenuhi rasa penasaran, ada gelisah yang semakin tak bisa kutulis kala memasuki daerah asing ini.

Entah mengapa perasaanku seperti memendam sesuatu yang buruk sekarang.

Tapi nyatanya saat kulihat Mas Angga mengukir segaris senyuman serta mengunggah sebuah ketenangan yang penuh percaya diri, aku merasa tak patut untuk menuruti prasangka itu.

"Ayo kita masuk, ini rumah temanku."

Aku masih berdiri mematung ketika suamiku mulai melangkahkan kakinya.

Mas Angga sontak menoleh saat aku tak segera mengikutinya.

"Ayo Maya, temenku ini yang akan membantu kita nanti, dia yang akan membayar tagihan rumah sakitnya Dita."

Ketika mendengar kata bantuan, juga teringat tentang Dita, anakku, segera kuhempaskan segala keraguan hingga aku merasa harus melangkah mengikuti Mas Angga.

Saat akhirnya kami berada di dalam aku sempat terpana melihat kemewahan yang terpampang nyata di rumah bergaya sangat modern ini. Bahkan dulu rumah kedua orang tuaku yang merupakan keluarga paling kaya di kota kecil asalku tak semegah ini.

Namun dalam waktu singkat kekagumanku segera terdistorsi ketika kulihat seorang pria bertubuh tegap, bahkan lebih tegap dari suamiku mendadak muncul dengan memberikan sapaan yang terasa terlalu ramah di telingaku.

"Akhirnya kamu datang juga Ngga, kamu tahu aku sudah nunggu kamu sejak tadi," ungkap pria berkulit coklat itu yang sekarang tatapannya mulai dialihkan padaku. Sorot matanya terasa terlalu lekat memindaiku seperti ingin menelanku bulat-bulat.

Ada risih yang langsung menjalar yang membuatku spontan memilih untuk mundur dan berdiri di belakang Mas Angga demi meminta perlindungan.

"Oh jadi ini istri kamu?"

Kulihat Mas Angga hanya mengangguk sambil menoleh ke belakang, ke arahku, bersamaan dengan itu tangannya yang besar menarikku agar aku kembali ke depan bahkan seperti ingin mendorongku ke arah pria asing yang kini mulai tampak mengerikan di mataku walau secara visual dia memiliki garis wajah yang nyaris simetris.

"Dia Maya," ucap Mas Angga memperkenalkan diriku.

Aku terperangah beku berusaha menentang ketegasan sorot matanya dengan sepenuh ketegaran.

"Dia yang akan membantu kamu, dan aku harap kamu bisa segera memenuhi janjimu," tukas Mas Angga.

Aku langsung menoleh menyergap wajah Mas Angga dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu. Jelas dia sedang merencanakan sesuatu selalu tanpa memberitahuku tentang apa yang sudah dia rancang.

"Tentu saja aku akan memenuhi janjiku," jawab pria berpenampilan rapi itu seraya mulai menggulir layar ponselnya yang sejak tadi ada dalam genggaman.

Kulihat Mas Angga di sampingku ikut memusatkan perhatian pada ponselnya sendiri sebelum akhirnya pria yang bergelar sebagai suamiku itu samar mengulas senyuman tipis.

Aku masih termangu masih sulit untuk mencerna apa yang sedang terjadi di hadapanku saat ini.

"Sekarang tunggu apalagi? Sebaiknya kamu tinggalkan tempat ini," tegas pria berambut klimis itu kepada Mas Angga.

Mas Angga termangu sejenak, tapi kemudian dia malah mengalihkan tatapannya padaku.

"Maya, kamu di sini dulu, aku akan ke rumah sakit untuk menyelesaikan urusan administrasi, kamu temani dulu Om Hans."

Sontak aku mengernyit gelisah. Kepalaku langsung menggeleng otomatis dengan hati yang sudah dijangkiti sangkaan buruk.

Apa maksudnya Mas Angga memintaku menemani pria yang ternyata bernama Om Hans itu?.

"Aku ikut ke rumah sakit juga Mas, Dita pasti sedang mencariku sekarang."

Nyatanya Mas Angga malah membeliakkan kedua matanya, menatapku nyalang.

"Dita biar aku yang urus kamu lakukan saja tugas kamu."

"Tugas apa?"

Tubuhku sudah mulai gemetar kala mendapati suamiku semakin bersikeras ingin meninggalkan aku di rumah pria asing ini.

"Ingat kemarin kamu sudah berjanji untuk memenuhi keinginanku, dan keinginanku sekarang adalah kamu menemani Om Hans malam ini," tegas Mas Angga tanpa ragu.

Otakku belum sepenuhnya mampu mencerna kalimat yang dilontarkan oleh ayah dari anakku itu.

Aku terlalu gelisah dan juga terlalu enggan untuk berprasangka keji pada suamiku sendiri, sosok yang dulu di awal pernikahan kami pernah memperlakukan aku bagai seorang ratu ketika kedua orang tuaku masih hidup dan masih bergelimang kekayaan.

"Menemani bagaimana maksud kamu Mas?" tanyaku seraya berusaha mencekal lengan Mas Angga untuk menahan langkahnya.

Nyatanya pria pilihan kedua orang tuaku itu diam membisu. Dia tetap bersikeras menyingkirkan tanganku dari lengannya.

Sampai akhirnya ia bisa bebas dan mulai pergi begitu saja dengan tanpa peduli dengan teriakanku.

"Mas Angga ...!"

Aku terus saja memanggil suamiku. Tapi ketika aku berniat berlari mengejar, dengan sigap pria dewasa bertubuh tegap itu langsung menarik lenganku hingga membuat tubuhku sontak mendekat padanya.

"Malam ini tempat kamu di sini, bersamaku," desisnya seraya berusaha mendekatkan bibirnya di telingaku seakan dia sedang berusaha menegaskan keberadaannya kepadaku.

Aku menoleh cemas yang membuat tatapan kami saling beradu.

"Apa Angga tak mengatakan apapun padamu tadi?"

Aku menggeleng gelisah. Bisa aku rasakan wajahku mulai memanas sekarang. Rasa takutku mulai terunggah.

Bayangan buruk telah menari di pelupuk mata.

Bahkan ketika pria yang beraroma musk itu tangannya mulai membelai wajahku. Tubuhku telah sepenuhnya dalam kuasanya sejak tangannya yang kuat memeluk pinggang rampingku.

"Aku telah membelimu dari Angga, dan kamu harus menemaniku selama dua malam di rumah ini."

Aku terkesiap kelu. Tubuhku telah gemetaran sekarang. Sungguh aku tak pernah menyangka jika sosok yang selama ini aku harapkan bisa memberikan perlindungan padaku, ternyata telah menjualku.

Mas Angga benar-benar akan menghisap seluruh diriku. Setelah menghabiskan kekayaan keluargaku di meja judi sekarang dia menjual tubuhku kepada pria lain.

Hatiku seketika remuk. Aku hancur. Harga diriku kini telah tergadai.

"Jadi sekarang lakukan tugas kamu dengan baik, karena aku sudah membayar mahal."

Air mataku segera jatuh. Tapi aku tak mau mudah pasrah. Dengan daya yang ada aku berusaha berontak. Walau aku tahu kekuatanku tak bisa untuk mengimbanginya.

"Lepaskan aku!" sergahku tegas.

Tapi pria berwajah campuran itu kian erat mendekapku. Bahkan bibirnya mengulas senyuman smirk yang terasa menakutkan.

"Ternyata kamu terlihat lebih cantik kalau berekspresi seperti ini."

Aku tetap saja berusaha membebaskan diriku, walau pria itu malah kian leluasa mendekatkan wajahnya dan berbisik seduktif di telingaku.

"Malam ini kamu akan menjadi milikku!"

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    112. Alasan Untuk Bertemu

    Fajar POV"Bagaimana kalau kalian berdua ngobrol dulu di teras?" usul Ibu sambil menatapku bergantian dengan Anisa setelah kami selesai makan malam."Biar kalian bisa saling mengenal lebih dekat."Aku tak menemukan alasan untuk menolak. Dengan langkah pelan aku mengikuti Anisa menuju teras depan rumah. Malam terasa sejuk. Angin berembus perlahan, menggoyangkan tanaman melati yang ditanam ibu di sudut halaman.Beberapa detik kami sama-sama diam."Sudan lama mengajar?" tanyaku akhirnya, sekadar memecah keheningan."Iya cukup lama bahkan saat aku masih belum lulus sekolah aku sudah diminta abah untuk mengajar adik-adik sekolah dasar di TPQ.""Pasti sehari-hari kegiatan kamu padat terus."Anisa mengulas senyum tipis."Alhamdulillah, lumayan padat, Mas. Minggu ini anak-anak sedang persiapan ujian semester. Jadi saya lebih sering pulang sore karena harus mendampingi mereka belajar."Aku mengangguk pelan."Pasti melelahkan.""Capek memang, tapi menyenangkan. Saya senang kalau melihat murid-m

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    111. Rencana Lamaran

    Fajar POV"Calon suami Maya?"Aku terlalu kaget mendengar kalimat terakhir ibu."Tidak, tidak itu tidak mungkin."Aku menyanggah dengan gelisah."Tapi pria itu mengatakannya dengan sangat jelas.""Kamu bisa menanyakannya pada Pak Galih."Aku menggeleng gamang."Maya juga tidak mengingkari, dia tidak mengatakan apapun pada ibu. Dia terlihat sangat mudah mengabulkan permintaan ibu agar dia menjauhi kamu.""Kalau begitu aku akan menanyakannya pada Maya langsung."Aku sedikit mengunggah ketegasanku."Tapi Jar ...."Nada suara ibu terdengar menahanku.Aku segera membalas tatapan ibu. Lurus."Malam ini kamu jangan ke mana-mana."Aku mengernyit gundah."Keluarga Pak Husein akan datang bersama Anisa juga.""Untuk apa?""Mereka akan membicarakan tentang rencana lamaran kamu ke sana," ucap Ibu terdengar tanpa keraguan sedikitpun, seakan semua itu sudah beliau bicarakan kepadaku.Aku membeliak kecewa disertai dengan hembusan nafas panjang."Karena itu ibu tadi meminta bantuan pada Bulek Wati unt

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    110. Calon Suami Maya

    Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap ke rumah sakit.Setengah hati aku melangkah menuju meja makan. Pembicaraan dengan ibu semalam masih menyisakan gundah yang belum bisa aku netralkan.Sementara bayangan kehilangan untuk kedua kalinya dari sosok yang telah bertahun-tahun bertahta di hati menghantui dengan siksaan yang terasa kian perih.Belum lagi dengan rasa penasaranku yang tak tuntas. Dari mana sebetulnya ibu mengetahui tentang kisah kelam Maya, yang sebelumnya selalu aku rahasiakan.Aku mulai berandai-andai, jika saja aku sendiri yang menyampaikan fakta buruk Maya barangkali saja aku bisa membangkitkan perasaan maklum ibu.Tapi kini beliau justru mengetahui segalanya dari orang lain yang segera memantik sebuah sikap penghakiman yang sangat menyudutkan."Kamu sarapan dulu," ucap ibu yang kini sudah sibuk menyajikan tumis kangkung di atas meja.Aku yang sudah duduk di depan meja makan menatap semua masakan yang tersaji tanpa selera.Ibu bisa dengan segera menangkap sorot gelisahku."

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    109. Rahasia Yang Akhirnya Terungkap

    Fajar POV"Akhirnya kamu pulang, Jar."Suara ibu mengagetkan aku yang baru saja memasuki rumah.Suasana rumah yang sudah gelap jelas tak menyangka jika ibu sedang duduk di sofa ruang tamu, sedang menungguku.Aku melangkah gontai menuju saklar lampu, setelah menyalakannya aku mulai duduk di sisi ibu yang kini terlihat jelas tampak memandangku dengan ekspresi datar."Ibu, sudah menunggu dari tadi.""Kebetulan Ibu belum tidur, Fajar juga pengen ngomong sama Ibu."Bibir ini menjadi begitu mudah mengulas senyum. Gelenyar bahagia masih berbekas di hati setelah pertemuanku dengan Maya tadi. Sebuah pertemuan dimana kami bisa saling menguntai mimpi indah bersama.Keceriaanku berbanding terbalik dengan ekspresi yang kulihat saat ini dari wajah ibu.Tatapan beliau bahkan cenderung dingin.Senyumku pada akhirnya memudar.Tanpa sadar raut mukaku mulai memampang keseriusan."Apa Ibu ada hal penting yang ingin disampaikan?"Aku menjadi lebih berhati-hati. Sejak dulu aku selalu berusaha untuk menjaga

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    108. Berulangkali Melamar

    Maya POV"Apa kamu mencintai Hans?"Pertanyaan Carie membuat seluruh tubuhku menegang.Aku terpaku. Bibirku sedikit terbuka, tetapi tak satu kata pun berhasil keluar. Rasanya semua jawaban yang kusimpan di dalam hati mendadak menghilang.Aku bahkan belum sempat menarik napas."Maya."Suara Hans terdengar tenang memotong keheningan."Kami harus pergi."Aku menoleh cepat ke arahnya."Aku masih ada pekerjaan setelah ini."Carie tampak kecewa."Oh... padahal aku masih ingin mengobrol lebih lama."Hans hanya tersenyum tipis."Lain kali."Carie menghela napas pelan sebelum akhirnya berdiri dan memelukku dengan hangat."Senang bertemu denganmu, Maya."Aku membalas pelukannya sekadarnya."Terima kasih."Saat kami berbalik meninggalkan restoran, entah kenapa aku menoleh sekali lagi.Carie masih berdiri di tempatnya.Tatapannya mengikuti langkah kami dengan penuh tanda tanya.Ada sesuatu dalam sorot matanya...Seolah-olah ia sedang mencoba memastikan sesuatu yang bahkan belum berhasil ia pahami

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    107. Kejutan Demi Kejutan

    Maya POV"Apa Hans tak menceritakan padamu tentang Farah dan Peter?" Pertanyaan Carie mencetuskan tentang keheranannya.Sontak aku menyergap Hans dengan sorot mata tegas.Jelas aku menuntut sebuah penjelasan. Walau kemudian setelah itu aku membisu. Aku merasa tak seharusnya mengetahui apapun tentang pria bermata coklat itu karena sebelumnya aku sudah menegaskan untuk tak menerima lamarannya."Farah dan Peter adalah anak-anakku dengan Hans."Aku spontan mengangkat kepala."Anak-anak kalian?"Senyum Carie berubah begitu hangat saat memandangku."Sekarang mereka sudah hampir remaja.""Mereka tinggal di London bersama Papa dan Mamaku."Aku kembali melirik Hans.Selama kami bersama ....Ia tidak pernah sekalipun bercerita bahwa dirinya memiliki anak.Carie terus berbicara penuh semangat."Farah suka melukis.""Peter suka sepak bola.""Kalau nanti kamu ada kesempatan ke London...""...aku ingin sekali mengenalkan kalian."Aku semakin kehilangan kata-kata.Carie seolah tidak menyadari kebin

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    63. Bimbang

    Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata le

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    61. Melawan

    Maya POV"Sebentar lagi Benny akan datang, aku sudah menelponnya."Aku menggeleng panik.Bayangan menyeramkan malam itu kian memberiku siksaan."Mas, aku benar-benar tidak akan memaafkan kamu. Sejak awal memang tak seharusnya aku menyetujui perjodohan kita dulu, harusnya saat itu aku kabur, agar ak

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    56. Melarikan Diri

    Angga POV“Ke mana perempuan itu pergi sialan!”Aku membanting pintu kamar hotel hingga bergetar keras. Napasku memburu saat mendapati kamar itu kosong. Selimut berantakan. Gelas minuman masih tersisa di meja. Tapi Maya tidak ada.Padahal beberapa jam lalu aku sendiri yang mengantarnya ke sini.Tan

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    55. Terkukung Amarah

    Maya POV“Kamu…?!”Aku memegang dada yang berdebar kencang saat melihat Andien berdiri di belakangku sambil mendelik kesal.“Ya Allah Andien, aku kira siapa. Aku sampai mau pingsan,” desisku setengah kesal.Andien malah terkekeh melihat ekspresi kekagetanku.“Ngapain kamu berdiri di sini kayak mali

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status