FAZER LOGIN"Rumah siapa ini Mas?"
"Untuk apa kita ke sini?" tanyaku dipenuhi rasa penasaran, ada gelisah yang semakin tak bisa kutulis kala memasuki daerah asing ini. Entah mengapa perasaanku seperti memendam sesuatu yang buruk sekarang. Tapi nyatanya saat kulihat Mas Angga mengukir segaris senyuman serta mengunggah sebuah ketenangan yang penuh percaya diri, aku merasa tak patut untuk menuruti prasangka itu. "Ayo kita masuk, ini rumah temanku." Aku masih berdiri mematung ketika suamiku mulai melangkahkan kakinya. Mas Angga sontak menoleh saat aku tak segera mengikutinya. "Ayo Maya, temenku ini yang akan membantu kita nanti, dia yang akan membayar tagihan rumah sakitnya Dita." Ketika mendengar kata bantuan, juga teringat tentang Dita, anakku, segera kuhempaskan segala keraguan hingga aku merasa harus melangkah mengikuti Mas Angga. Saat akhirnya kami berada di dalam aku sempat terpana melihat kemewahan yang terpampang nyata di rumah bergaya sangat modern ini. Bahkan dulu rumah kedua orang tuaku yang merupakan keluarga paling kaya di kota kecil asalku tak semegah ini. Namun dalam waktu singkat kekagumanku segera terdistorsi ketika kulihat seorang pria bertubuh tegap, bahkan lebih tegap dari suamiku mendadak muncul dengan memberikan sapaan yang terasa terlalu ramah di telingaku. "Akhirnya kamu datang juga Ngga, kamu tahu aku sudah nunggu kamu sejak tadi," ungkap pria berkulit coklat itu yang sekarang tatapannya mulai dialihkan padaku. Sorot matanya terasa terlalu lekat memindaiku seperti ingin menelanku bulat-bulat. Ada risih yang langsung menjalar yang membuatku spontan memilih untuk mundur dan berdiri di belakang Mas Angga demi meminta perlindungan. "Oh jadi ini istri kamu?" Kulihat Mas Angga hanya mengangguk sambil menoleh ke belakang, ke arahku, bersamaan dengan itu tangannya yang besar menarikku agar aku kembali ke depan bahkan seperti ingin mendorongku ke arah pria asing yang kini mulai tampak mengerikan di mataku walau secara visual dia memiliki garis wajah yang nyaris simetris. "Dia Maya," ucap Mas Angga memperkenalkan diriku. Aku terperangah beku berusaha menentang ketegasan sorot matanya dengan sepenuh ketegaran. "Dia yang akan membantu kamu, dan aku harap kamu bisa segera memenuhi janjimu," tukas Mas Angga. Aku langsung menoleh menyergap wajah Mas Angga dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu. Jelas dia sedang merencanakan sesuatu selalu tanpa memberitahuku tentang apa yang sudah dia rancang. "Tentu saja aku akan memenuhi janjiku," jawab pria berpenampilan rapi itu seraya mulai menggulir layar ponselnya yang sejak tadi ada dalam genggaman. Kulihat Mas Angga di sampingku ikut memusatkan perhatian pada ponselnya sendiri sebelum akhirnya pria yang bergelar sebagai suamiku itu samar mengulas senyuman tipis. Aku masih termangu masih sulit untuk mencerna apa yang sedang terjadi di hadapanku saat ini. "Sekarang tunggu apalagi? Sebaiknya kamu tinggalkan tempat ini," tegas pria berambut klimis itu kepada Mas Angga. Mas Angga termangu sejenak, tapi kemudian dia malah mengalihkan tatapannya padaku. "Maya, kamu di sini dulu, aku akan ke rumah sakit untuk menyelesaikan urusan administrasi, kamu temani dulu Om Hans." Sontak aku mengernyit gelisah. Kepalaku langsung menggeleng otomatis dengan hati yang sudah dijangkiti sangkaan buruk. Apa maksudnya Mas Angga memintaku menemani pria yang ternyata bernama Om Hans itu?. "Aku ikut ke rumah sakit juga Mas, Dita pasti sedang mencariku sekarang." Nyatanya Mas Angga malah membeliakkan kedua matanya, menatapku nyalang. "Dita biar aku yang urus kamu lakukan saja tugas kamu." "Tugas apa?" Tubuhku sudah mulai gemetar kala mendapati suamiku semakin bersikeras ingin meninggalkan aku di rumah pria asing ini. "Ingat kemarin kamu sudah berjanji untuk memenuhi keinginanku, dan keinginanku sekarang adalah kamu menemani Om Hans malam ini," tegas Mas Angga tanpa ragu. Otakku belum sepenuhnya mampu mencerna kalimat yang dilontarkan oleh ayah dari anakku itu. Aku terlalu gelisah dan juga terlalu enggan untuk berprasangka keji pada suamiku sendiri, sosok yang dulu di awal pernikahan kami pernah memperlakukan aku bagai seorang ratu ketika kedua orang tuaku masih hidup dan masih bergelimang kekayaan. "Menemani bagaimana maksud kamu Mas?" tanyaku seraya berusaha mencekal lengan Mas Angga untuk menahan langkahnya. Nyatanya pria pilihan kedua orang tuaku itu diam membisu. Dia tetap bersikeras menyingkirkan tanganku dari lengannya. Sampai akhirnya ia bisa bebas dan mulai pergi begitu saja dengan tanpa peduli dengan teriakanku. "Mas Angga ...!" Aku terus saja memanggil suamiku. Tapi ketika aku berniat berlari mengejar, dengan sigap pria dewasa bertubuh tegap itu langsung menarik lenganku hingga membuat tubuhku sontak mendekat padanya. "Malam ini tempat kamu di sini, bersamaku," desisnya seraya berusaha mendekatkan bibirnya di telingaku seakan dia sedang berusaha menegaskan keberadaannya kepadaku. Aku menoleh cemas yang membuat tatapan kami saling beradu. "Apa Angga tak mengatakan apapun padamu tadi?" Aku menggeleng gelisah. Bisa aku rasakan wajahku mulai memanas sekarang. Rasa takutku mulai terunggah. Bayangan buruk telah menari di pelupuk mata. Bahkan ketika pria yang beraroma musk itu tangannya mulai membelai wajahku. Tubuhku telah sepenuhnya dalam kuasanya sejak tangannya yang kuat memeluk pinggang rampingku. "Aku telah membelimu dari Angga, dan kamu harus menemaniku selama dua malam di rumah ini." Aku terkesiap kelu. Tubuhku telah gemetaran sekarang. Sungguh aku tak pernah menyangka jika sosok yang selama ini aku harapkan bisa memberikan perlindungan padaku, ternyata telah menjualku. Mas Angga benar-benar akan menghisap seluruh diriku. Setelah menghabiskan kekayaan keluargaku di meja judi sekarang dia menjual tubuhku kepada pria lain. Hatiku seketika remuk. Aku hancur. Harga diriku kini telah tergadai. "Jadi sekarang lakukan tugas kamu dengan baik, karena aku sudah membayar mahal." Air mataku segera jatuh. Tapi aku tak mau mudah pasrah. Dengan daya yang ada aku berusaha berontak. Walau aku tahu kekuatanku tak bisa untuk mengimbanginya. "Lepaskan aku!" sergahku tegas. Tapi pria berwajah campuran itu kian erat mendekapku. Bahkan bibirnya mengulas senyuman smirk yang terasa menakutkan. "Ternyata kamu terlihat lebih cantik kalau berekspresi seperti ini." Aku tetap saja berusaha membebaskan diriku, walau pria itu malah kian leluasa mendekatkan wajahnya dan berbisik seduktif di telingaku. "Malam ini kamu akan menjadi milikku!" ***Lampu-lampu kota mulai menyala ketika mobil yang kami tumpangi melaju semakin mendekati pusat gemerlap Dubai.Jantungku berdetak tak karuan.Sejak kejadian di dalam mobil tadi, aku memilih diam. Tubuhku masih terasa kaku, sementara Hans… seperti tak terjadi apa-apa. Dia kembali dingin, tenang, bahkan sesekali sibuk dengan ponselnya.Seolah aku bukan manusia.Hanya… benda.Mobil akhirnya berhenti di sebuah gedung yang membuat napasku tercekat.Aku mendongak.Burj KhalifaGedung tertinggi di dunia itu menjulang seperti menembus langit malam. Cahaya keemasannya berkilau, memantul di kaca-kaca yang seolah tak berujung.Indah.Terlalu indah… sampai terasa tidak nyata.“Turun.”Suara Hans menarikku kembali ke kenyataan.Aku ragu sejenak, tapi tatapannya tak memberi pilihan.Dengan langkah pelan, aku keluar dari mobil. Angin malam menyapu lembut wajahku, tapi tak mampu meredakan dingin yang menjalar di dalam dada.Kami masuk.Interiornya mewah… sangat mewah. Lantai marmer berkilau, lampu kri
Begitu roda pesawat menyentuh landasan, tubuhku ikut bergetar halus.“Selamat datang di Dubai.”Suara pramugari itu terasa seperti gema yang jauh. Aku masih terpaku di kursiku, mencoba mencerna kenyataan bahwa aku benar-benar dibawa sejauh ini… keluar dari hidupku sendiri.Dubai.Sebuah kota yang hanya pernah kulihat di layar—mewah, gemerlap, dan terasa seperti dunia lain.“Hari yang panjang baru saja dimulai.”Suara Hans membuyarkan lamunanku.Aku menoleh. Dia sudah berdiri, merapikan jasnya dengan santai, seolah perjalanan panjang ini tak berarti apa-apa baginya.Berbeda denganku yang rasanya seperti baru saja dijatuhkan ke dunia asing tanpa persiapan.Udara panas langsung menyambut begitu kami keluar dari bandara.Namun yang membuatku terdiam bukanlah panasnya… melainkan pemandangan di depanku.Gedung-gedung menjulang tinggi, kaca-kaca berkilauan memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan. Jalanan lebar, mobil-mobil mewah melintas tanpa henti. Semua terlihat… terlalu sempurna.Ak
"Kalau kamu masih ingin bertemu dengan putrimu, lakukan apa yang aku perintahkan."Kali ini Hans sudah masuk ke dalam kamar kembali.Aku membeku dan mulai menoleh padanya. Raut mukanya masih dingin, selalu penuh dominasi yang tak terbantahkan.Ancamannya segera membelenggu.Tak ada yang bisa aku lakukan selain menurutinya.Di hadapanku aku kenakan gaun pilihannya itu. Sebuah pakaian yang lagi-lagi membuatku merasa terlalu menyelami statusku saat ini sebagai seorang wanita penghibur.Meski gaun itu cantik tapi seluruh diriku terlalu dipampang dengan gamblang.Terlalu pendek dan nyaris tak bisa menutupi sebagian dadaku yang terasa tumpah.Lelaki itu memandangiku dengan sorot yang enggan aku artikan. Bagiku dia selalu serasa ingin melahapku. Selalu merasa membuatku rendah tanpa harga diri.Aku mematut diriku di depan cermin dengan sedih. Bahkan aku hanya setengah hati ketika merias wajahku yang kini terlihat memucat."Pakailah lipstik warna merah!"Ucapannya terdengar bagai sebuah perint
Aku langsung mengunci pintu kamar begitu sampai di rumah megah milik Hans.Klik.Suara kunci itu terdengar seperti satu-satunya perlindungan yang kumiliki malam ini. Napasku masih memburu, tubuhku gemetar, dan pikiranku kacau oleh ucapan Hans di dalam mobil tadi.Dia akan memberikanku pada pria itu.Aku memeluk tubuhku sendiri, berjalan mundur hingga punggungku menabrak dinding. Air mata jatuh lagi tanpa bisa kutahan.“Tidak… tidak… aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”Aku menggeleng keras, mencoba meyakinkan diriku sendiri. Kamar ini… setidaknya tempat ini masih bisa menjadi bentengku.Aku mengunci pintu sekali lagi, memastikan semuanya benar-benar rapat. Bahkan aku mendorong kursi ke depan pintu, meski aku tahu… itu mungkin sia-sia.Hans bukan pria biasa.Dia bukan tipe yang bisa dihentikan hanya dengan kunci dan kayu.Tapi aku tetap mencoba.Karena itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan.Aku merosot ke lantai, memeluk lututku, mencoba menenangkan diri. Waktu berjalan lambat. S
Suasana ruangan mendadak sunyi.Semua kepala menoleh ke arah Hans.Aku ikut terpaku. Jantungku berdegup kencang saat pria itu menyebut angka fantastis dengan nada yang begitu santai, seolah satu miliar hanyalah angka kecil baginya.Pembawa acara tampak tersenyum lebar.“Apakah ada yang lebih tinggi dari satu miliar?”Beberapa detik berlalu.Tak ada yang bergerak.Hingga akhirnya—“Dua miliar.”Suara itu berat. Dalam. Dan… asing.Aku refleks menoleh.Di sisi lain ruangan, duduk seorang pria dengan aura yang begitu kuat. Kulitnya eksotis, sorot matanya tajam, dan cara duduknya… penuh kuasa.Seolah dunia ini memang miliknya.Dia menatap lurus ke arah kami.Lebih tepatnya… ke arahku.Aku tercekat.Tatapan itu tidak biasa. Bukan sekadar penasaran… tapi seperti sedang menilai.Dengan penampilanku yang kelewat terbuka seperti ini rasa risih segera menjalar. Tapi aku tak berdaya untuk menutupi apapun.Pada akhirnya aku memilih memalingkan muka.Namun aku bisa merasakan sosok misterius itu mas
"Kamu akan membawaku ke mana?"Hans tidak langsung menjawab. Pria itu justru berdiri di belakangku, menatap pantulan tubuhku di cermin besar butik itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.“Ke tempat di mana kamu akan mulai mengerti posisi kamu sekarang,” ucapnya akhirnya, tenang… terlalu tenang hingga membuat bulu kudukku meremang.Aku menoleh cepat. “Apa maksudmu?”Hans mengangkat satu gaun berwarna hitam dengan potongan elegan, lalu menempelkannya di tubuhku, seolah sedang menilai barang dagangan.“Pakai yang ini. Kamu akan terlihat… pantas,” katanya dingin.Aku menepis tangannya. “Aku bukan boneka yang bisa kamu dandani sesukamu.”Tatapan Hans langsung berubah tajam. Dalam satu gerakan cepat, dia kembali mencengkeram lenganku, kali ini lebih kuat.“Jangan pernah lupa siapa yang memegang kendali di sini,” desisnya rendah di telingaku. “Semakin kamu melawan, semakin sulit semuanya untuk kamu.”Aku menahan napas. Rasa takut perlahan merayap, tapi aku menolak untuk terlihat lemah di







