Share

5. Rahasia Hans

Author: Mastuti Rheny
last update publish date: 2026-02-25 18:39:46

Kupandangi foto itu dengan hati memendam gundah sekaligus rasa penasaran.

Gambar di layar itu memampang terlalu lugas sebuah keakraban. Pelukan erat mereka semakin menegaskan tentang interaksi yang terunggah hangat. Ditambah dengan senyuman lebar keduanya kian memancing rasa ingin tahuku, sebenarnya seberapa dekat pria bernama Hans ini dengan papaku.

Apa mungkin mereka sebelumnya adalah rekan bisnis karena nyatanya dulu papa membangun relasi bisnis secara luas, bukan hanya terbatas di lingkup kota asal kami saja?.

Aku semakin mendekat agar aku bisa mendapatkan lebih banyak informasi tentang foto yang sempat kulihat itu yang tersimpan di dalam laptop.

Nyatanya aku kemudian menemukan beberapa foto yang lain. Foto yang kuperkirakan sudah cukup lawas, foto-foto Hans bersama papaku.

Terlalu banyak. Dengan latar belakang di berbagai tempat.

Namun aku tetap tak merasa leluasa untuk bisa menjelajah pada setiap file di dalam laptop itu. Beberapa diantaranya terkunci dengan sandi. Lagipula aku tak mau pria itu memergoki aku yang sedang mengacak-acak perangkat penting miliknya.

Dia sosok yang serba tak terduga. Aku tak mau menyinggungnya yang nantinya malah akan memberiku lebih banyak masalah.

Perlahan aku menjauh dari laptop itu dan berniat menghubungi Andien, seorang sahabat baikku yang selama ini sering aku pasrahi untuk menjaga Dita, putriku.

Langsung kucari ponsel milikku yang ternyata diletakkan oleh Hans di atas nakas dekat ranjang

["Halo Ndien, bagaimana keadaan Dita? Apa dia sudah mendingan? Dia lagi sama kamu kan?"] cecarku penuh rasa gelisah.

Andien tak langsung menjawab, malah kudengar perempuan yang usianya sepantaran denganku itu sedang menguap malas.

Jelas aku sudah mengganggu tidurnya karena panggilanku di tengah malam seperti ini.

["Maya? Kamu ngapain nelpon? Katanya lagi bulan madu, kok sempet-sempetnya nelpon."]

Aku kemudian justru mendengar selorohan Andien yang terdengar janggal untukku.

["Bulan madu?"]

Pikiranku sudah memendam prasangka yang tidak-tidak. Apa mungkin Andien tahu jika sekarang aku sedang bersama lelaki lain, dan menjadi wanita pemuas nafsu?.

Kecemasanku sudah mulai terunggah yang membuatku kemudian langsung membeku.

["Angga sendiri yang bilang sama aku kalau dia ngajak kamu bulan madu ke Yogya. Karena itu setelah membawa Dita dari rumah sakit, Angga kemudian menitipkan Dita sama aku."]

Aku masih terdiam tak tahu harus berkata apa. Mas Angga sudah menyiapkan skenario yang sempurna. Tapi yang menjadi pertanyaanku sekarang, lalu ke mana Mas Angga?. Padahal aku menduga jika suamiku itu sedang berada di rumah.

Detik selanjutnya aku langsung teringat dengan suara perempuan ketika aku menelpon ayah dari anakku itu. Sepertinya Mas Angga saat ini sedang bersenang-senang dengan perempuan itu di saat aku sedang berkalang noda, menjatuhkan harga diriku serendah-rendahnya setelah membuka kedua kakiku lebar-lebar untuk lelaki lain.

Tapi untuk saat ini aku tak memiliki tenaga untuk berterus terang pada sahabatku. Aib ini terlalu buruk untuk aku ungkap dan aku mungkin tak akan sanggup jika harus menghadapi stigma negatif walau itu dari sosok yang selama ini selalu mendukungku.

["Udah kamu nggak usah mikirin Dita, dia udah sehat walau kadang nanyain kamu. Besok pagi aja kamu video call, biar Dita bisa lihat wajah kamu."]

["Ma kasih ya Ndien, kamu selalu membantuku. Besok aku akan nelpon kamu lagi. Udah ya Ndien, sekali lagi ma kasih."]

Setelah menutup panggilan itu aku memutuskan melangkah keluar dari kamar menuju balkon yang pintunya tertutup. Perlahan aku membukanya lalu memutuskan berdiri seraya melepaskan pandangan ke arah kolam renang berair biru.

Kupaksa paru-paru menghirup udara malam dalam-dalam lalu kuhela nafas seraya berharap aku bisa melepaskan segala beban di dada. Tapi nyatanya hati ini masih saja terasa sesak.

"Mama, Papa, aku menyesal telah menuruti perjodohan yang kalian atur," gumamku tertahan.

Kini aku tak lagi bisa mengabaikan penyesalan terbesar dalam hidupku, yakni menikah dengan pria pilihan kedua orang tuaku.

Dan sekarang kenangan masa laluku bersama seseorang yang pernah menjadi sangat istimewa di hati muncul di permukaan ingatan. Tentang seseorang yang membuatku lebih optimis menatap masa depan. Tapi kini semua kisah indah itu dipaksa berakhir ketika aku harus menikah dengan Mas Angga.

"Bagaimana kabarmu kini Fajar?"

Nama itu akhirnya kembali aku sebut setelah sekian lama aku membungkam mulutku sendiri agar tak pernah lagi menggumamkan nama itu.

Ketika bayangan wajah nyaris sempurna itu kembali berkelindan di ingatanku, hati ini malah terasa terajam. Perih itu kembali hadir. Batinku segera meronta, mengutuk takdir hidupku yang saat ini hanya memberiku rasa sakit.

"Kalian telah memilihkan aku pria yang buruk sangat buruk. Bahkan sekarang pria pilihan kalian telah menjerumuskan aku menjadi seorang pelacur."

Aku mulai tergugu kelu. Kuluapkan segala kesedihan dengan terus bermonolog di balkon kamar.

Kubiarkan air mataku jatuh. Bahkan aku biarkan tubuhku yang hanya aku balut dengan jubah tidur tipis menggigil diterpa angin malam yang membawa jejak dingin selepas hujan sore tadi.

Sampai akhirnya kurasakan tubuhku yang mulai kedinginan mendadak terasa hangat ketika selembar selimut tebal mulai ditutupkan di kedua pundakku dari arah belakang.

Sontak aku menoleh demi memastikan siapa sosok yang melakukannya, walau hati ini sedikit bisa menerkanya.

Segera kutarik tatapanku dan kembali membuang muka ke depan setelah kumelihat sosok Hans di dekatku.

"Sampai kapan kamu akan menangis seperti itu?"

"Apa kamu cuma bisa merengek seperti anak kecil? Kapan kamu berhenti menjadi gadis manja?"

Kata-kata Hans terdengar seperti dia sudah lama mengenalku.

Rasa ingin tahuku menjadi kian sulit untuk aku tahan.

Dengan segera aku kembali menoleh ke arahnya dan menentang sorot matanya yang selalu terlihat tegas.

"Katakan padaku seberapa dekat kamu dengan orang tuaku?"

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    48. Sulit Memutuskan

    POV Fajar Aku sempat mengira Maya akan meminta sesuatu yang sulit atau bahkan aneh. Tapi ketika jawabannya keluar dari bibirnya, justru sesuatu yang sederhana—terlalu sederhana untuk seseorang seperti dia. "Nasi Padang... di dekat sekolah kita dulu." Aku terdiam sesaat. Lalu tanpa sadar sudut bibirku terangkat. Tempat itu. Tempat penuh kenangan. Tempat di mana dulu kami sering berdebat soal lauk mana yang paling enak, di mana Maya selalu mencuri sambal di piringku dan berpura-pura tidak bersalah. "Masih inget tempatnya?" tanyaku pelan. Maya mengangguk, matanya berbinar. "Aku pengen ke sana lagi." "Ya udah," jawabku mantap. "Nanti siang aku ajak kamu ke sana." Entah kenapa, hanya dengan mengatakan itu saja sudah membuat dadaku terasa hangat. Seolah aku sedang memperbaiki sesuatu yang dulu pernah hancur. Sungguh aku selalu ingin mengembalikan senyumnya seperti dulu. Senyum indah yang selalu mampu memberikan semangat untukku. "Beneran? Apa kamu nggak sibuk, Jar?"

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    47. Pagi Bersama Maya

    "Aku takut Jar, aku takut ...."Maya kian mengeratkan dekapannya. Kulitnya yang sehalus sutera mendistraksi tubuhku.Kain tipis yang membungkus tubuhnya hanya menambah sensasi menggetarkan untukku.Selama ini aku berusaha menjaga diri dan apa yang terjadi sekarang kuanggap sebagai godaan terhebat apalagi datang dari sosok yang selama ini selalu memenuhi isi pikiran nyaris menjadi obsesi yang sulit dilawan.Tubuhku seketika menegang. Namun ketika aku mendapati kedua mata Maya yang kembali terpejam disertai dengan badannya yang terlihat menggigil semua distraksi itu seketika menguap, berubah menjadi kecemasan yang pekat."May, aku akan ambilkan obat dulu, kamu demam."Dengan cepat aku mengambil tasku di ruang depan dan segera kukeluarkan satu tablet paracetamol.Kuraih segelas air putih yang tersedia di atas nakas. Setelah itu dengan hati-hati aku kembali merengkuh tubuh ringkihnya dan kuminta Maya untuk membuka matanya sebentar agar aku bisa meminumkan paracetamol itu.Maya meminum oba

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    46. Godaan Cantik

    "Jadi Benny yang sudah melakukan penyiksaan itu pada Maya?"Aku tersentak kaget saat mendengar penjelasan Andien yang pada akhirnya bisa mengorek keterangan dari Maya, yang sebelumnya masih saja tutup mulut enggan mengungkap sosok pria yang sudah melakukan penyiksaan padanya."Benny, teman kuliahnya Maya yang satu kampus dulu?"Aku memperjelas keterangan yang sudah aku dengar dari Andien.Segera aku teringat jika dulu Benny pernah mengejar Maya. Lelaki itu juga dulu yang selalu mengejekku karena dia tahu aku menjalin kedekatan dengan Maya. Lelaki yang dulu sering menyebutku sebagai orang miskin yang tak pantas untuk bisa bersanding dengan Maya."Iya, Maya yang sudah mengatakannya sendiri padaku," ucap Andien dengan sangat yakin."Kalau begitu aku akan segera membuat laporan ke kepolisian. Kedua pria brengsek itu harus mendekam di penjara."Tanpa sadar aku mengepalkan kedua tangan, menjadi terlalu geram bila mengingat apa yang sudah mereka lakukan terhadap Maya."Bagus, aku akan dukung

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    45. Dendam Membara

    POV Fajar Wajah cantik yang sekian tahun hanya bisa aku rindukan itu, kini tampak luruh di hadapanku.Aku bisa merasakan dengan sangat lugas kehancurannya. Sebuah kehancuran yang hanya menerbitkan bara amarah di hatiku.Sudah terlalu lama aku berdamai dengan takdir perpisahan kami, dan hati ini kupaksa untuk merelakan sosok yang paling berarti di hidupku menjadi milik lelaki lain yang aku pikir akan bisa membahagiakannya.Tapi nyatanya apa yang kudapati saat ini sangat jauh berbeda.Rentetan kepahitan itu kini hanya menyisakan keraguan, sesuatu yang kini bahkan sedang aku saksikan pada kedua matanya yang dulu selalu tampak berbinar.Perlahan aku melangkah mendekatinya. Jarak kami hanya sejengkal, cukup untuk melihat jelas bagaimana matanya berusaha menyembunyikan luka yang belum benar-benar sembuh.“Sekarang kamu yang jadi orang kayanya, Jar.”Ucapan itu terdengar sendu menguarkan sebuah kerapuhan yang justru menyiksaku.Aku menggeleng pelan, lalu menghela napas panjang.“Semua penca

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    44. Dalam Perlindungan Fajar

    "Apa masih sakit tangannya?" tanya Fajar yang pagi ini tampak sangat bersemangat ketika memasuki ruang tempat aku dirawat.Sudah lebih dari lima hari aku menghabiskan waktu di ruangan yang terkesan mewah dengan fasilitasnya yang lengkap ini, selama itu pula aku tak pernah bertemu putriku yang sekarang bahkan masih memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.Aku terus menatap lekat pada sosok yang pernah mengisi seluruh ruang hatiku itu saat Fajar menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter dengan memeriksa kondisiku."Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya ketika dia akhirnya menyadari tatapanku yang terus lekat memindai ke arahnya.Dengan sangat tenang dia kemudian mengambil posisi duduk di sisi ranjang, sangat dekat denganku yang sedang menyandarkan punggung pada sisi brankar yang ditinggikan."May, jangan banyak pikiran. Bahkan kamu tak perlu merisaukan soal suami kamu. Percayalah semua akan baik-baik saja."Fajar selalu saja berusaha untuk menjauhkan aku dari segala tekanan.

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    43. Penuh Simpati

    Ada rasa berat saat aku berusaha membuka mata. Semuanya terasa samar hanya remang-remang.Perlu beberapa lama aku beradaptasi sampai akhirnya aku menyadari keberadaanku.Langit-langit putih. Bau obat yang menyengat. Suara mesin yang berdetak pelan.Jelas sekarang aku sudah berada di rumah sakit.Aku mencoba mengingat… dan seketika tubuhku menegang.Rasa sakit itu masih ada. Menyebar di setiap inci tubuhku seperti sisa mimpi buruk yang tak benar-benar pergi.Aku menarik napas pelan, tapi terasa berat.Lalu—“Akhirnya kamu bangun…”Suara itu terasa terlalu familiar.Seketika mengusik dasar ingatanku.Sambil menahan nafas aku kemudian menoleh perlahan.Dan detik itu juga jantungku seperti berhenti.“Fa… Fajar?”Sosok pria itu bangkit dari kursi di samping ranjangku. Wajahnya yang dulu sering menghiasi hari-hariku… kini berdiri di hadapanku lagi.Lebih dewasa.Lebih tegas.Tapi sorot matanya… masih sama.Hangat.Penuh perhatian.“Iya… aku di sini, May.”Air mataku langsung menggenang. Gel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status