ログインKupandangi foto itu dengan hati memendam gundah sekaligus rasa penasaran.
Gambar di layar itu memampang terlalu lugas sebuah keakraban. Pelukan erat mereka semakin menegaskan tentang interaksi yang terunggah hangat. Ditambah dengan senyuman lebar keduanya kian memancing rasa ingin tahuku, sebenarnya seberapa dekat pria bernama Hans ini dengan papaku. Apa mungkin mereka sebelumnya adalah rekan bisnis karena nyatanya dulu papa membangun relasi bisnis secara luas, bukan hanya terbatas di lingkup kota asal kami saja?. Aku semakin mendekat agar aku bisa mendapatkan lebih banyak informasi tentang foto yang sempat kulihat itu yang tersimpan di dalam laptop. Nyatanya aku kemudian menemukan beberapa foto yang lain. Foto yang kuperkirakan sudah cukup lawas, foto-foto Hans bersama papaku. Terlalu banyak. Dengan latar belakang di berbagai tempat. Namun aku tetap tak merasa leluasa untuk bisa menjelajah pada setiap file di dalam laptop itu. Beberapa diantaranya terkunci dengan sandi. Lagipula aku tak mau pria itu memergoki aku yang sedang mengacak-acak perangkat penting miliknya. Dia sosok yang serba tak terduga. Aku tak mau menyinggungnya yang nantinya malah akan memberiku lebih banyak masalah. Perlahan aku menjauh dari laptop itu dan berniat menghubungi Andien, seorang sahabat baikku yang selama ini sering aku pasrahi untuk menjaga Dita, putriku. Langsung kucari ponsel milikku yang ternyata diletakkan oleh Hans di atas nakas dekat ranjang ["Halo Ndien, bagaimana keadaan Dita? Apa dia sudah mendingan? Dia lagi sama kamu kan?"] cecarku penuh rasa gelisah. Andien tak langsung menjawab, malah kudengar perempuan yang usianya sepantaran denganku itu sedang menguap malas. Jelas aku sudah mengganggu tidurnya karena panggilanku di tengah malam seperti ini. ["Maya? Kamu ngapain nelpon? Katanya lagi bulan madu, kok sempet-sempetnya nelpon."] Aku kemudian justru mendengar selorohan Andien yang terdengar janggal untukku. ["Bulan madu?"] Pikiranku sudah memendam prasangka yang tidak-tidak. Apa mungkin Andien tahu jika sekarang aku sedang bersama lelaki lain, dan menjadi wanita pemuas nafsu?. Kecemasanku sudah mulai terunggah yang membuatku kemudian langsung membeku. ["Angga sendiri yang bilang sama aku kalau dia ngajak kamu bulan madu ke Yogya. Karena itu setelah membawa Dita dari rumah sakit, Angga kemudian menitipkan Dita sama aku."] Aku masih terdiam tak tahu harus berkata apa. Mas Angga sudah menyiapkan skenario yang sempurna. Tapi yang menjadi pertanyaanku sekarang, lalu ke mana Mas Angga?. Padahal aku menduga jika suamiku itu sedang berada di rumah. Detik selanjutnya aku langsung teringat dengan suara perempuan ketika aku menelpon ayah dari anakku itu. Sepertinya Mas Angga saat ini sedang bersenang-senang dengan perempuan itu di saat aku sedang berkalang noda, menjatuhkan harga diriku serendah-rendahnya setelah membuka kedua kakiku lebar-lebar untuk lelaki lain. Tapi untuk saat ini aku tak memiliki tenaga untuk berterus terang pada sahabatku. Aib ini terlalu buruk untuk aku ungkap dan aku mungkin tak akan sanggup jika harus menghadapi stigma negatif walau itu dari sosok yang selama ini selalu mendukungku. ["Udah kamu nggak usah mikirin Dita, dia udah sehat walau kadang nanyain kamu. Besok pagi aja kamu video call, biar Dita bisa lihat wajah kamu."] ["Ma kasih ya Ndien, kamu selalu membantuku. Besok aku akan nelpon kamu lagi. Udah ya Ndien, sekali lagi ma kasih."] Setelah menutup panggilan itu aku memutuskan melangkah keluar dari kamar menuju balkon yang pintunya tertutup. Perlahan aku membukanya lalu memutuskan berdiri seraya melepaskan pandangan ke arah kolam renang berair biru. Kupaksa paru-paru menghirup udara malam dalam-dalam lalu kuhela nafas seraya berharap aku bisa melepaskan segala beban di dada. Tapi nyatanya hati ini masih saja terasa sesak. "Mama, Papa, aku menyesal telah menuruti perjodohan yang kalian atur," gumamku tertahan. Kini aku tak lagi bisa mengabaikan penyesalan terbesar dalam hidupku, yakni menikah dengan pria pilihan kedua orang tuaku. Dan sekarang kenangan masa laluku bersama seseorang yang pernah menjadi sangat istimewa di hati muncul di permukaan ingatan. Tentang seseorang yang membuatku lebih optimis menatap masa depan. Tapi kini semua kisah indah itu dipaksa berakhir ketika aku harus menikah dengan Mas Angga. "Bagaimana kabarmu kini Fajar?" Nama itu akhirnya kembali aku sebut setelah sekian lama aku membungkam mulutku sendiri agar tak pernah lagi menggumamkan nama itu. Ketika bayangan wajah nyaris sempurna itu kembali berkelindan di ingatanku, hati ini malah terasa terajam. Perih itu kembali hadir. Batinku segera meronta, mengutuk takdir hidupku yang saat ini hanya memberiku rasa sakit. "Kalian telah memilihkan aku pria yang buruk sangat buruk. Bahkan sekarang pria pilihan kalian telah menjerumuskan aku menjadi seorang pelacur." Aku mulai tergugu kelu. Kuluapkan segala kesedihan dengan terus bermonolog di balkon kamar. Kubiarkan air mataku jatuh. Bahkan aku biarkan tubuhku yang hanya aku balut dengan jubah tidur tipis menggigil diterpa angin malam yang membawa jejak dingin selepas hujan sore tadi. Sampai akhirnya kurasakan tubuhku yang mulai kedinginan mendadak terasa hangat ketika selembar selimut tebal mulai ditutupkan di kedua pundakku dari arah belakang. Sontak aku menoleh demi memastikan siapa sosok yang melakukannya, walau hati ini sedikit bisa menerkanya. Segera kutarik tatapanku dan kembali membuang muka ke depan setelah kumelihat sosok Hans di dekatku. "Sampai kapan kamu akan menangis seperti itu?" "Apa kamu cuma bisa merengek seperti anak kecil? Kapan kamu berhenti menjadi gadis manja?" Kata-kata Hans terdengar seperti dia sudah lama mengenalku. Rasa ingin tahuku menjadi kian sulit untuk aku tahan. Dengan segera aku kembali menoleh ke arahnya dan menentang sorot matanya yang selalu terlihat tegas. "Katakan padaku seberapa dekat kamu dengan orang tuaku?" ***Maya POVLangkahku terasa jauh lebih ringan pagi itu.Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku berjalan keluar dari kawasan perumahan tanpa ditemani siapa pun. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahku, membuatku mengembuskan napas panjang.Rasanya menyenangkan.Bebas.Aku terus berjalan hingga tiba di jalan raya, lalu mengangkat tangan memanggil sebuah taksi."Ke Jalan Melati, Pak.""Baik, Bu."Mobil melaju membelah jalanan kota.Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang ke kontrakan kecil yang pernah kutinggali.Masih ada beberapa pakaian.Album foto Dita.Beberapa buku.Dan sebuah kotak kecil berisi kenangan yang belum sempat kubawa.Aku hanya ingin mengambil semuanya, lalu kembali sebelum Hans mengetahui aku keluar rumah.Mungkin...Dia bahkan tidak akan sadar.Sekitar tiga puluh menit kemudian...Taksi berhenti tepat di depan gang menuju kontrakanku."Terima kasih, Pak."Aku membayar ongkos lalu turun.Baru beberapa langkah aku berjalan...Sebuah mobil hitam berhenti mendadak tepa
Maya POVAku masih menatap Hans dengan bingung."Memangnya apa yang lebih seru?"Sudut bibirnya terangkat tipis."Kamu akan tahu sendiri."Tanpa menjelaskan apa pun, Hans kembali berjalan menuju mobil. Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya mengikuti langkahnya.Sekitar tiga puluh menit kemudian mobil berhenti di sebuah taman bermain yang cukup ramai.Aku menoleh heran."Kita ke sini?"Hans mengangguk santai."Iya.""Aku bukan anak kecil.""Memangnya yang boleh main di sini cuma anak kecil?"Aku terdiam.Hans sudah lebih dulu berjalan menuju loket pembelian tiket.Beberapa menit kemudian ia kembali sambil menyerahkan satu gelang masuk kepadaku."Pakai."Aku menerima gelang itu dengan ragu."Serius?""Kalau nggak serius, buat apa aku bayar mahal?"Aku hanya mendengus pelan.Entah sejak kapan pria itu selalu punya cara membuatku kehabisan kata-kata.Begitu memasuki area taman bermain, suara tawa para pengunjung memenuhi udara.Anak-anak berlarian.Musik ceria terdengar dari berbagai
Maya POV"Maya."Suara itu membuatku spontan menoleh.Jantungku langsung berdebar keras.Fajar berdiri beberapa meter di depanku dengan balutan jas pengantin berwarna putih gading. Senyum hangat masih menghiasi wajahnya, tetapi sorot matanya menyimpan haru yang begitu dalam.Untuk sesaat, dunia di sekelilingku seperti berhenti.Aku sudah mempersiapkan diri selama seminggu penuh untuk menghadapi hari ini.Namun semua ketegaran yang kubangun seolah runtuh hanya karena melihatnya.Hari ini...Fajar benar-benar menjadi mempelai pria.Langkahnya mendekat."Maya..."Nada suaranya tetap sama seperti dulu. Hangat. Menenangkan."Aku senang kamu datang."Aku memaksakan senyum meski terasa begitu berat."Selamat, Jar."Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibirku.Fajar tersenyum tipis."Terima kasih."Tatapannya sempat bergetar."Aku tahu datang ke sini pasti nggak mudah buat kamu."Aku hanya mengangguk pelan.Tak ada gunanya lagi mengungkapkan apa yang kurasakan.Semuanya sudah terlambat.
Maya POVAku masih berdiri membelakanginya.Ruangan kembali sunyi.Hans tak lagi memaksaku bicara. Ia hanya berdiri beberapa langkah di belakangku, seolah menungguku membuka hati dengan kemauanku sendiri.Entah kenapa, justru sikap diamnya membuat dadaku terasa semakin sesak.Aku menarik napas panjang."Ada yang mau kuceritakan."Suara itu akhirnya keluar, meski terdengar begitu lirih.Hans langsung mengangkat wajah. Tatapannya segera memindaiku.Aku menelan ludah."Tadi... Fajar menelepon."Sorot mata Hans berubah."Jadi dia yang sudah membuat kamu menangis."Hans melemparkan dugaannya dengan nada yang terdengar datar.Aku membisu sesaat sambil membalas tatapannya."Dia akan menikah minggu depan."Aku kembali merasakan sesak yang sama seperti beberapa jam lalu."Dia memintaku datang."Hans mencebik tipis."Dia sudah membuat pilihan yang tepat."Aku terperangah menjadi tak bisa menyembunyikan kekesalanku. Kedua mataku sedikit membeliak padanya.Hans malah mengedikkan kedua bahu tipis.
PBN 120Maya POVAku memejamkan mata, berusaha meredam isak yang kembali memenuhi dada.Suara Fajar terdengar pelan dari seberang sana.["May... boleh aku meminta satu hal padamu? Anggap saja ini permintaan terakhirku."]Jantungku kembali berdegup tak beraturan.Aku menggenggam ponsel semakin erat.["Katakan... apa permintaanmu, Jar?"]Hening beberapa saat.Seolah Fajar sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya.Lalu...["Datanglah ke pernikahanku."]Aku membeku.["Aku ingin... kamu mendampingiku sebelum akad dimulai."]Napas seolah berhenti."Apa?"Kalimat itu nyaris lolos dari bibirku.["Aku tahu permintaan ini egois."]["Tapi aku benar-benar ingin kamu dampingi demi meyakinkan diriku sendiri jika apa yang sudah aku pilih ini adalah sesuatu yang benar."]Aku membeku mendengar permintaan Fajar yang terasa sulit untuk dikabulkan.Saat ini aku bahkan menjadi kian sulit untuk menahan laju air mataku."Jar..."["Tolong..."]Suaranya mulai bergetar.["Aku ingin orang terakhir ya
Maya POV"Hans... lepaskan aku."Aku kembali berusaha menarik pergelangan tanganku, tetapi cengkeramannya justru semakin erat."Aku nggak akan membiarkan kamu pergi menemui Fajar."Nada suaranya terdengar tenang, tetapi ketegasan di dalamnya membuatku semakin marah."Kamu nggak berhak mengatur hidupku!""Aku memang belum berhak."Hans menatapku tanpa berkedip."Tapi aku hanya ingin menenangkan diriku saja."Aku langsung membeliak kesal."Maksud kamu?"Beberapa pasang mata mulai memperhatikan kami.Hans seolah tak peduli.Ia justru menarikku berdiri. Dia sama sekali tak menjelaskan kalimatnya tadi."Ayo pulang.""Pulang?"Aku mengernyit."Ke mana?""Ke rumah.""Aku punya rumah sendiri!""Bukan rumah itu."Hans berjalan sambil tetap menggenggam tanganku."Rumah yang kubelikan untukmu."Aku spontan menghentikan langkah."Aku nggak mau!""Kamu boleh marah.""Tapi hari ini kamu tetap ikut denganku."Aku benar-benar kehilangan kesabaran."Hans! Jangan paksa aku!"Namun semua protesku sama s
Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata le
Angga POV“Ke mana perempuan itu pergi sialan!”Aku membanting pintu kamar hotel hingga bergetar keras. Napasku memburu saat mendapati kamar itu kosong. Selimut berantakan. Gelas minuman masih tersisa di meja. Tapi Maya tidak ada.Padahal beberapa jam lalu aku sendiri yang mengantarnya ke sini.Tan
Maya POV“Kamu…?!”Aku memegang dada yang berdebar kencang saat melihat Andien berdiri di belakangku sambil mendelik kesal.“Ya Allah Andien, aku kira siapa. Aku sampai mau pingsan,” desisku setengah kesal.Andien malah terkekeh melihat ekspresi kekagetanku.“Ngapain kamu berdiri di sini kayak mali
Ada rasa berat saat aku berusaha membuka mata. Semuanya terasa samar hanya remang-remang.Perlu beberapa lama aku beradaptasi sampai akhirnya aku menyadari keberadaanku.Langit-langit putih. Bau obat yang menyengat. Suara mesin yang berdetak pelan.Jelas sekarang aku sudah berada di rumah sakit.Ak







