Share

19. Aroma Maksiat

Penulis: Mastuti Rheny
last update Tanggal publikasi: 2026-04-08 13:08:13

“Selamat malam.”

Aku dan Hans sama-sama menoleh.

Seorang wanita paruh baya berdiri tak jauh dari meja kami. Penampilannya sederhana, namun elegan. Sorot matanya hangat, seolah membawa cerita panjang yang tidak semua orang bisa pahami.

Namun yang paling mengejutkanku adalah… cara dia memandang Hans.

Bukan dengan takut.

Bukan dengan tunduk.

Melainkan… penuh rasa hormat.

“Hans… aku hampir tidak percaya itu kamu,” ucapnya pelan, suaranya bergetar tipis.

Hans berdiri. Untuk pertama kalinya sejak aku
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
Maya....setelah kamu merasa tenang dengan tobatmu..kini semua sia sia...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    65. Kebejatan Rizal

    Maya POV"Bagaimana ..., kamu mau menerima tawaranku kan?"Rizal bertanya dengan terlalu tenang. Nadanya terkesan membujuk tapi juga disertai keyakinan seakan aku bisa mudah menerima tawarannya.Rizal kian mendekatkan dirinya.Tapi aku segera menggeser tubuhku sedikit menjauh.“Kumohon jangan berpikiran buruk dulu, Maya,” ujar Rizal pelan sambil dia mengambil duduk tepat di sampingku.“Aku justru ingin menyelamatkan kamu.”Aku menggenggam kedua tangan sendiri erat-erat di atas pangkuan.Tatapan lelaki itu terasa semakin membuatku tak nyaman.“Aku akan berusaha untuk melindungi kamu. Yang jelas aku tak akan seperti suami kamu yang tidak punya nurani itu, bukankah dia yang selama ini sudah memaksamu menjual diri?"Suaranya merendah, terdengar lembut. “Aku akan jadikan kamu hanya sebagai milikku."Aku diam. Tapi setelah itu aku mulai menoleh dan memandangnya lekat."Sebagai apa?" tanyaku memastikan.“Aku bisa memberi kehidupan yang layak buat kamu dan anakmu.” Rizal tersenyum tipis. “K

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    64. Tawaran Yang Merendahkan

    Maya POVTanganku gemetar saat akhirnya membuka kunci pintu itu.Pintu kayu terbuka perlahan, menampilkan sosok Rizal yang berdiri tegap di hadapanku. Aroma parfum mahalnya langsung menyeruak masuk bersama udara malam.Aku mundur satu langkah memberi jarak.“Aku cuma ingin bicara,” katanya tenang.Sorot matanya jauh berbeda dibanding malam pertama saat aku mengenalnya dulu. Kali ini tak ada senyum santai ataupun guratan menggoda. Wajahnya terlihat serius.Aku menelan ludah pelan.Meski begitu aku mulai menggeser tubuhku, memberinya ruang untuk lewat.Rizal melangkah masuk. Matanya menyapu ke dalam rumah seolah ingin memastikan sesuatu sebelum akhirnya kembali menatapku.“Katakan padaku apa yang ingin kamu katakan tentang Fajar?" Aku mulai bertanya. Sementara gelisahku sudah menggantung di ujung hati. Entah mengapa aku merasa telah mengambil keputusan yang salah dengan membiarkan pria yang aku tahu adalah juga teman Fajar itu, masuk ke dalam rumah ini."Tapi sebelumnya apakah aku bole

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    63. Bimbang

    Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata lewat semua bukti yang sudah dikumpulkan.Meski begitu aku masih belum bisa menghilangkan ganjalan di hati atas keberadaan Mas Angga juga putriku Dita. Aku sangat berharap jika pria yang masih menjadi suamiku itu bisa memperlakukan putri kami dengan baik."Benny pasti akan mendapat hukuman yang setimpal," ucap Fajar sebelum dia menyalakan mesin mobilnya.Wajahnya menunjukkan ekspresi penuh keyakinan kepadaku.Bibirku melengkungkan senyuman samar.Sungguh aku sangat menghargai segala usahanya demi bisa menuntaskan semua persoalanku.Berkali-kali aku telah membebani Fajar dengan permasalahanku. Entah sampai kapan aku akan menjadi bebannya. Kuharap tidak akan terlalu lama karena aku ingin Fajar b

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    62. Janji Fajar

    Maya POV“POLISI! JANGAN BERGERAK!”Suara bentakan itu mengguncang seluruh isi kamar.Aku langsung jatuh terduduk di lantai sambil menangis terisak. Tubuhku gemetar hebat. Napasku tersengal tak karuan.Sebisa mungkin aku berusaha meraih apapun yang ada di dekatku demi bisa menutup tubuhku, karena pakaianku terkoyak karena kebrutalan Benny tadi.Sementara Benny yang sempat memegang rambutku spontan melepaskan cengkeramannya.Dia kemudian bergegas bangkit dari ranjang.“Apa-apaan ini?!” bentaknya panik. Dia masih saja mempertahankan kepindahannya.Dua polisi segera menerjang tubuh Benny dan membekuk kedua tangannya ke belakang.“Lepas! Kalian salah orang!” Benny meronta brutal.“Diam!” bentak salah satu polisi sambil menekan tubuhnya ke lantai.Aku memeluk diriku sendiri. Kepalaku terasa berputar. Air mata terus jatuh tanpa bisa kuhentikan.Dan di tengah kekacauan itu, Aku melihat seseorang berdiri di ambang pintu.Dadaku langsung terasa sesak.“F-Fajar…”Pria itu menatapku dengan waja

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    61. Melawan

    Maya POV"Sebentar lagi Benny akan datang, aku sudah menelponnya."Aku menggeleng panik.Bayangan menyeramkan malam itu kian memberiku siksaan."Mas, aku benar-benar tidak akan memaafkan kamu. Sejak awal memang tak seharusnya aku menyetujui perjodohan kita dulu, harusnya saat itu aku kabur, agar aku tak perlu menikah dengan pria kejam seperti kamu."Mas Angga langsung mencengkeram daguku hingga membuat wajahku mendongak ke atas."Apa kamu berniat kabur bersama Fajar yang miskin itu?"Aku menentang sorot matanya dengan segala keberanian."Nyatanya kamu yang miskin Mas, kamu miskin moral dan miskin rasa peduli, bahkan saat bersamamu kamulah yang sudah membuatku jatuh miskin."Ekspresi Mas Angga segera berubah garang. Dia seperti sudah kehilangan kendali.Melihat kedua matanya yang seakan menyala oleh amarah, aku berpikir dia akan menamparku lagi.Tapi sebelum dia sempat mendekat, dari arah depan telinga kami segera mendengar suara mobil yang berhenti. Detik selanjutnya disusul suara ser

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    60. Terancam

    Maya POVBrak!Tubuhku terhempas ke lantai begitu Mas Angga menyeretku masuk ke rumah tua itu. Napasku memburu. Pergelangan tanganku terasa nyeri karena sejak dari rumah sakit tadi dia mencengkeramku tanpa belas kasihan.“Aku bilang jangan teriak!” bentaknya sambil membanting pintu.Aku memegangi sisi meja untuk berdiri. Rumah ini gelap, lembab, dan terasa asing. Cat dindingnya kusam. Bau rokok dan alkohol bercampur jadi satu."Papa, jangan sakiti Mama!" teriak Dita ketakutan.Jelas Dita takut karena selama ini dia tak pernah melihat kemarahan papanya segarang ini.Segera aku memeluk anakku untuk menenangkannya.Tapi semua itu justru membuat suamiku kian kalap. Pria yang selama hampir satu minggu ini aku hindari sepertinya sudah kehilangan kesabarannya. Selama ini aku yang nyaris tak pernah membantahnya nyatanya sempat melarikan diri darinya.Aku masih berusaha tenang dan berharap Mas Angga juga dapat menenangkan dirinya.Tapi beberapa saat kemudian mendadak ponselku berdering dari d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status