Share

56. Melarikan Diri

Penulis: Mastuti Rheny
last update Tanggal publikasi: 2026-05-15 08:45:00

Angga POV

“Ke mana perempuan itu pergi sialan!”

Aku membanting pintu kamar hotel hingga bergetar keras. Napasku memburu saat mendapati kamar itu kosong. Selimut berantakan. Gelas minuman masih tersisa di meja. Tapi Maya tidak ada.

Padahal beberapa jam lalu aku sendiri yang mengantarnya ke sini.

Tanganku gemetar saat kembali menghubungi Benny.

["Apa Maya bersamamu?"] tanyaku mencecarnya.

["Bukannya dia di hotel? Tidak, aku tidak mengajak Maya."]

[“Tadi bukannya masih sama kamu?”] tanyaku gusar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
kurang canggih polisinya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    86. Mendesak Angga

    Maya POV"Masih berani kamu menampakkan diri di hadapanku, Maya?"Suara tajam itu membuat langkahku berhenti.Aku menatap wanita paruh baya yang duduk di ruang tunggu kantor polisi.Dialah wanita yang sebentar lagi hanya akan menjadi mantan mertuaku.Wanita yang sejak awal tidak pernah benar-benar menyukaiku.Aku menarik napas pelan."Mama di sini juga?""Jangan panggil aku, mama ....!"Nada suaranya langsung meninggi.Beberapa orang yang berada di sekitar kami mulai melirik.Namun dia tampaknya sama sekali tidak peduli.Tatapannya penuh kemarahan."Kamu puas sekarang?" tanyanya sinis.Aku mengernyit."Maksud Mama?""Angga ditahan polisi. Semua gara-gara kamu yang sok-sokan merasa menjadi korban padahal aku yakin kamu juga menikmati pekerjaan kotor itu, kan?"Dadaku terasa sesak. Tuduhannya terasa sangat menusuk hati.Namun aku memilih diam.Karena aku tahu apa pun yang kukatakan hanya akan memperuncing perdebatan."Sejak kamu masuk ke kehidupan Angga, hidupnya tidak pernah tenang."M

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    85. Kabar Tentang Dita

    Maya POV"Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau kamu tahu tentang diriku?"Pertanyaanku membuat Hans terdiam beberapa saat.Pria itu masih menatapku lekat seolah sedang menimbang sesuatu."Aku akan memastikan kamu baik-baik saja."Aku tersenyum tipis."Kenapa?"Hans mengernyit."Apa maksudmu?""Kenapa kamu masih peduli?"Pertanyaan itu membuat suasana di antara kami mendadak canggung.Aku segera mengalihkan pandangan.Tak ingin kembali mengingat momen kebersamaan kami yang sepenuhnya salah itu.Hans menghela napas panjang."Kamu tak perlu tahu alasanku," jawab Hans selalu saja dengan sikapnya yang begitu penuh percaya diri dan cenderung memaksa."Dengan keadaan kamu yang seperti ini, aku sarankan kamu untuk menerima bantuanku."Aku mengernyit gusar."Bantuan seperti apa?"Hans memindaiku dengan ekspresinya yang begitu penuh keyakinan."Ikutlah bersamaku.""Jadi kamu masih berminat untuk menjadikan aku sebagai simpanan kamu?"Hans memandangku kian tajam.Aku tersenyum hambar."Kamu ing

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    84. Pertemuan Kembali Dengan Hans

    "Maya?!"Aku spontan menoleh.Nafasku seketika tertahan saat melihat sosok pria tinggi berambut coklat yang berdiri beberapa meter di depanku."Hans?"Pria itu menatapku dengan ekspresi tak percaya.Aku sendiri hampir tidak yakin dengan apa yang kulihat.Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.Hans berjalan mendekat sambil terus memandangi lapak sederhana milikku.Meja lipat kecil.Spanduk seadanya.Dan beberapa wadah rice bowl yang tersusun rapi."Aku tidak salah lihat, kan?" tanyanya pelan.Aku berusaha tersenyum."Ternyata kamu ada di Indonesia."Hans masih tampak syok."Aku memang sedang mengurus beberapa urusan bisnis di sini," jawab Hans masih saja dengan sorot matanya yang tampak terkaget-kaget melihatku.Tatapannya kembali beralih ke lapak jualanku.Lalu kepadaku.Dan kembali lagi ke lapak itu.Seolah dia masih berusaha mencerna apa yang sedang dilihatnya."Kamu... berjualan di sini?"Aku mengangguk."Iya."Kening Hans berkerut."Tapi kenapa?"Aku menghela napas pelan.

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    83. Melangkah Lagi

    Maya POVPonselku kembali bergetar di atas kasur.Nama Fajar muncul di layar.Untuk kesekian kalinya hari ini.Aku menatap layar beberapa saat sebelum akhirnya membiarkannya kembali berhenti sendiri.Hatiku terasa sesak.Sejak meninggalkan rumah Bu Halimah dua hari lalu, Fajar terus menghubungiku tanpa henti.Telepon.Pesan.Bahkan beberapa kali panggilan video.Namun aku belum siap menghadapi semua itu.Aku hanya ingin menenangkan diri.Mencoba berdiri dengan kakiku sendiri.Ponselku kembali berbunyi.Kali ini sebuah pesan masuk.[Kamu di mana?][Tolong kasih tahu aku.][Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja. May, tolong balas pesanku.]Aku menggigit bibir. Kubaca pesannya dengan perasaan tak menentu.Rasa bersalah mulai menggerogoti.Pada akhirnya aku membalas singkat.[Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.]Tak sampai satu menit kemudian telepon kembali masuk.Aku menghela napas panjang.Aku memutuskan mengangkatnya agar Fajar bisa berhenti mengkhawatirkan aku.["Halo."]Ter

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    82. Memilih Pergi

    "Sudah cukup!"Suara Bu Halimah terdengar lantang memecah keributan.Wanita paruh baya itu segera berdiri di antara aku dan perempuan yang baru saja menamparku."Raisa, jaga bicaramu!" tegurnya tegas.Aku mengerjap bingung.Raisa?Bu Halimah mendekat sedikit kepadaku lalu berbisik pelan."Itu Raisa, istrinya Rizal."Aku membeku, meski perempuan yang memakai outfit mewah di sekujur tubuhnya itu sempat menegaskan tentang status Rizal sebagai suaminya, tapi penjelasan dari Bu Halimah segera menyentak kegelisahanku.Pantas saja dia datang dengan kemarahan seperti itu.Namun aku tetap tidak mengerti.Kenapa dia bisa semarah ini sampai membuatnya nekat mempermalukanku di depan banyak orang?Kalau cuma mendengar suaminya terus menyebutku dalam igauan tidurnya, rasanya alasan itu kurang begitu logis.Raisa mendengus kasar."Bu Halimah jangan ikut campur!""Aku justru harus ikut campur karena kamu sedang membuat fitnah.""Fitnah?" Raisa tertawa sinis. "Suami saya setiap malam menyebut nama per

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    81. Dilabrak

    Maya POVSuara azan Subuh masih belum terdengar.Malam berada di penghujungnya ketika aku masih bersimpuh di atas sajadah.Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan."Ya Allah... lindungilah Dita di mana pun dia berada. Jika memang dia masih hidup, pertemukanlah kami secepatnya."Suaraku lirih.Nyaris seperti bisikan.Aku mengangkat kedua tangan lebih tinggi."Dan jika semua ini adalah ujian, tolong kuatkan aku menjalaninya."Tangisku pecah lagi.Sudah beberapa hari ini aku terbiasa bangun sebelum fajar.Salat tahajud menjadi tempatku mencurahkan semua rasa takut yang selama ini kusimpan sendiri.Saat aku menundukkan kepala, tiba-tiba terdengar suara langkah pelan dari arah pintu.Aku menoleh.Fajar berdiri di sana.Pria itu mengenakan kaus rumah sederhana dengan rambut yang masih sedikit berantakan.Entah sejak kapan dia berdiri memperhatikanku.Aku buru-buru mengusap air mata."Ada apa, Jar?" tanyaku menjadi penasaran dengan keberadaannya di depan kamarku sepagi ini.Fajar menggeleng.Tat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status