تسجيل الدخولMaya POV"Sudahlah sekarang cepat tunjukkan saja di mana kamu sembunyikan Dita?"Suara Fajar terdengar keras menggema di lorong apartemen mewah itu.Mama Asha mendengkus sinis."Kalian ini benar-benar merepotkan."Perempuan itu berjalan menuju lift tanpa menunggu kami. Aku segera mengikuti di belakangnya bersama Fajar dan Pak Dimas.Jantungku berdegup begitu cepat.Sebentar lagi aku akan bertemu Dita.Anakku.Putri kecil yang selama ini selalu kurindukan.Lift berhenti di salah satu lantai atas. Mama Asha keluar lebih dulu lalu berjalan menuju sebuah unit yang berada di ujung koridor.Tangannya memasukkan kode akses.Pintu terbuka perlahan."Masuklah kalau memang kalian tidak sabar sekali."Aku tak menunggu lebih lama.Begitu masuk, mataku langsung menyapu seluruh ruangan.Apartemen itu sangat luas dan mewah.Namun suasananya terasa dingin.Sepi.Tidak seperti rumah yang dihuni seorang anak kecil."Di mana Dita?" tanyaku tidak sabar.Mama Asha melipat kedua tangan di dada."Kamu meman
"Jadi Dita ada sama Mama?" tanyaku penuh rasa ingin tahu.Mama Asha malah melengos saat aku menatapnya lurus."Dita jauh lebih terurus sama aku, malah rencananya aku akan membawanya ke Taiwan," tegas perempuan yang sudah melahirkan Mas Angga ke dunia itu.Aku terperangah kelu. Jelas aku akan menentang rencana itu. Dita adalah putriku dan harusnya aku yang mengasuh dan merawatnya."Aku tidak akan membiarkan Mama melakukan itu, Dita putriku dan seharusnya Dita tinggal bersamaku."Aku langsung menyela sengit."Jadi putri Mbak Maya ada bersama Nyonya?" tanya penyidik itu yang sejak tadi sudah mencecar Mas Angga untuk mengetahui keberadaan Dita.Mama Asha malah mengunggah tatapan yang tajam dengan gestur tubuh seperti menantang."Iya, memangnya salah seorang nenek merawat cucunya?""Ibunya yang lebih berhak untuk mengasuhnya, saya harap Nyonya bisa memahami itu.""Ndak, aku nggak mau menyerahkan cucuku pada pelacur seperti dia!" seru Mama Asha sembari jarinya menuding sengit ke arahku.Aku
Maya POV"Masih berani kamu menampakkan diri di hadapanku, Maya?"Suara tajam itu membuat langkahku berhenti.Aku menatap wanita paruh baya yang duduk di ruang tunggu kantor polisi.Dialah wanita yang sebentar lagi hanya akan menjadi mantan mertuaku.Wanita yang sejak awal tidak pernah benar-benar menyukaiku.Aku menarik napas pelan."Mama di sini juga?""Jangan panggil aku, mama ....!"Nada suaranya langsung meninggi.Beberapa orang yang berada di sekitar kami mulai melirik.Namun dia tampaknya sama sekali tidak peduli.Tatapannya penuh kemarahan."Kamu puas sekarang?" tanyanya sinis.Aku mengernyit."Maksud Mama?""Angga ditahan polisi. Semua gara-gara kamu yang sok-sokan merasa menjadi korban padahal aku yakin kamu juga menikmati pekerjaan kotor itu, kan?"Dadaku terasa sesak. Tuduhannya terasa sangat menusuk hati.Namun aku memilih diam.Karena aku tahu apa pun yang kukatakan hanya akan memperuncing perdebatan."Sejak kamu masuk ke kehidupan Angga, hidupnya tidak pernah tenang."M
Maya POV"Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau kamu tahu tentang diriku?"Pertanyaanku membuat Hans terdiam beberapa saat.Pria itu masih menatapku lekat seolah sedang menimbang sesuatu."Aku akan memastikan kamu baik-baik saja."Aku tersenyum tipis."Kenapa?"Hans mengernyit."Apa maksudmu?""Kenapa kamu masih peduli?"Pertanyaan itu membuat suasana di antara kami mendadak canggung.Aku segera mengalihkan pandangan.Tak ingin kembali mengingat momen kebersamaan kami yang sepenuhnya salah itu.Hans menghela napas panjang."Kamu tak perlu tahu alasanku," jawab Hans selalu saja dengan sikapnya yang begitu penuh percaya diri dan cenderung memaksa."Dengan keadaan kamu yang seperti ini, aku sarankan kamu untuk menerima bantuanku."Aku mengernyit gusar."Bantuan seperti apa?"Hans memindaiku dengan ekspresinya yang begitu penuh keyakinan."Ikutlah bersamaku.""Jadi kamu masih berminat untuk menjadikan aku sebagai simpanan kamu?"Hans memandangku kian tajam.Aku tersenyum hambar."Kamu ing
"Maya?!"Aku spontan menoleh.Nafasku seketika tertahan saat melihat sosok pria tinggi berambut coklat yang berdiri beberapa meter di depanku."Hans?"Pria itu menatapku dengan ekspresi tak percaya.Aku sendiri hampir tidak yakin dengan apa yang kulihat.Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.Hans berjalan mendekat sambil terus memandangi lapak sederhana milikku.Meja lipat kecil.Spanduk seadanya.Dan beberapa wadah rice bowl yang tersusun rapi."Aku tidak salah lihat, kan?" tanyanya pelan.Aku berusaha tersenyum."Ternyata kamu ada di Indonesia."Hans masih tampak syok."Aku memang sedang mengurus beberapa urusan bisnis di sini," jawab Hans masih saja dengan sorot matanya yang tampak terkaget-kaget melihatku.Tatapannya kembali beralih ke lapak jualanku.Lalu kepadaku.Dan kembali lagi ke lapak itu.Seolah dia masih berusaha mencerna apa yang sedang dilihatnya."Kamu... berjualan di sini?"Aku mengangguk."Iya."Kening Hans berkerut."Tapi kenapa?"Aku menghela napas pelan.
Maya POVPonselku kembali bergetar di atas kasur.Nama Fajar muncul di layar.Untuk kesekian kalinya hari ini.Aku menatap layar beberapa saat sebelum akhirnya membiarkannya kembali berhenti sendiri.Hatiku terasa sesak.Sejak meninggalkan rumah Bu Halimah dua hari lalu, Fajar terus menghubungiku tanpa henti.Telepon.Pesan.Bahkan beberapa kali panggilan video.Namun aku belum siap menghadapi semua itu.Aku hanya ingin menenangkan diri.Mencoba berdiri dengan kakiku sendiri.Ponselku kembali berbunyi.Kali ini sebuah pesan masuk.[Kamu di mana?][Tolong kasih tahu aku.][Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja. May, tolong balas pesanku.]Aku menggigit bibir. Kubaca pesannya dengan perasaan tak menentu.Rasa bersalah mulai menggerogoti.Pada akhirnya aku membalas singkat.[Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.]Tak sampai satu menit kemudian telepon kembali masuk.Aku menghela napas panjang.Aku memutuskan mengangkatnya agar Fajar bisa berhenti mengkhawatirkan aku.["Halo."]Ter







