Share

120. Perhatian Hans

Penulis: Mastuti Rheny
last update Tanggal publikasi: 2026-08-01 18:34:51

PBN 120

Maya POV

Aku memejamkan mata, berusaha meredam isak yang kembali memenuhi dada.

Suara Fajar terdengar pelan dari seberang sana.

["May... boleh aku meminta satu hal padamu? Anggap saja ini permintaan terakhirku."]

Jantungku kembali berdegup tak beraturan.

Aku menggenggam ponsel semakin erat.

["Katakan... apa permintaanmu, Jar?"]

Hening beberapa saat.

Seolah Fajar sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya.

Lalu...

["Datanglah ke pernikahanku."]

Aku membeku.

["Aku ingin... kamu m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    144. Tamu Di Pagi Hari

    Aku masih berdiri di dekat jendela ketika akhirnya melihat Hans melangkah pergi meninggalkan Carie. Pria itu tampak begitu marah. Bahkan, dari cara dia mengayunkan langkah, aku bisa merasakan bahwa kesabarannya benar-benar sudah mencapai batas.Sementara Carie masih berdiri di dekat gazebo. Perempuan itu terlihat tidak terima dengan keputusan Hans. Namun, beberapa saat kemudian, dia akhirnya berbalik dan berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.Aku segera menutup jendela.Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.Ada begitu banyak pertanyaan yang mendadak memenuhi kepalaku. Tentang perceraian mereka, tentang separuh kekayaan yang disebutkan Carie, juga tentang alasan Hans sampai harus mengorbankan harta sebanyak itu.Apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka?Dan mengapa aku merasa bahwa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan dariku?Aku mengembuskan napas panjang, lalu kembali ke tempat tidur. Namun, percuma saja. Mataku sudah telanjur sulit terpejam.Kalimat Carie

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    143. Perdebatan Tengah Malam

    Maya POV"Telepon dari siapa, Hans?"Pertanyaanku membuat pria itu terdiam sejenak. Matanya masih tertuju pada layar ponsel yang menyala di atas meja makan. Ada perubahan kecil pada raut wajahnya yang sejak tadi berusaha dia sembunyikan.Namun, alih-alih menjawab, Hans justru mengambil ponsel itu dan menekan sesuatu di layarnya.Panggilan tersebut ditolak.Aku mengerjapkan mata."Kenapa tidak diangkat?"Hans meletakkan ponselnya kembali, kemudian mengangkat wajah dengan senyum tipis yang terlihat dipaksakan."Nothing important."Aku mengernyit."Kalau memang tidak penting, kenapa wajahmu tiba-tiba berubah seperti itu?"Hans terkekeh pelan. Dia kemudian mengambil gelas berisi minuman dan menyesapnya sebelum kembali menatapku."Jangan biarkan urusan pekerjaan merusak makan malam kita, May. Malam ini adalah hari istimewamu."Aku mengembuskan napas."Tapi kalau memang ada sesuatu yang harus kamu urus, tidak apa-apa. Aku bisa makan sendiri."Hans menggeleng."No way. Aku sudah menghabiskan

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    142. Kejutan Ultah

    Maya POV"Maya, tunggu dulu ...."Cekalan tangan Hans membuatku terpaksa menghentikan langkah. Aku menoleh dengan alis sedikit bertaut, masih menyimpan kekesalan atas sikapnya yang selalu saja berhasil membuatku kehilangan kendali."Apa lagi?"Hans tersenyum tipis. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya. Dia terlihat seperti sedang menahan sesuatu yang sejak tadi ingin disampaikan."Kenapa kamu buru-buru sekali? Aku bahkan belum selesai bicara.""Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.""Benarkah?"Aku mengembuskan napas panjang. "Hans, jangan mulai lagi dengan rayuan-rayuanmu. Aku sudah cukup pusing menghadapi sikapmu."Alih-alih tersinggung, pria itu justru terkekeh."Baiklah. Kalau begitu, izinkan aku mengatakan sesuatu yang sebenarnya sudah ingin kusampaikan sejak tadi."Aku menatapnya dengan sedikit curiga."Apa?"Hans melepaskan cekalan tangannya, kemudian memasukkan sebelah tangan ke saku celana. Senyumnya semakin mengembang."Happy birthday, May

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    141. Godaan Hans

    Maya POV "Kamu mau bicara soal apa?" tanyaku jengah.Fajar malah menatapku lekat sebelum kemudian dia melirik ke arah dalam rumah."Jadi selama ini kamu tinggal di rumah mewah ini, May?"Aku berdecih tipis.Tapi aku malah tak tahu harus menanggapi seperti apa kalimat Fajar itu."Apa pria itu memperlakukan kamu dengan baik?"Fajar kembali menelisikku.Aku termangu kelu sembari menarik nafas panjang."Apa kamu sekarang sedang berpikir jika aku sudah menjadi simpanan seorang pria kaya?"Fajar hanya terdiam dengan sorot matanya yang serasa tajam memyergapku."Kalau aku katakan hubunganku dengan Hans saat ini hanya sebatas sahabat apa kamu akan percaya?""Yang aku yakini tak pernah ada hubungan persahabatan murni antara pria dan wanita, dan pastinya perasaan lelaki itu ke kamu tak akan pernah seperti itu."Aku membalas tatapan Fajar dengan lebih intens, dan aku masih berdiri di ambang pintu tanpa mempersilakan Fajar untuk masuk ke dalam rumah."Aku dengar sekarang Anisa sedang hamil, kena

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    140. Berita Tentang Anisa

    Maya POV“Apa kabar?”Aku sontak menoleh ke arah suara yang menyapa kami. Senyum di bibirku seketika memudar ketika mendapati sosok Rizal berdiri tak jauh dari meja tempat aku dan Andien duduk.“Rizal?” sapaku dengan suara sedikit tercekat. Jelas aku kaget dengan pertemuan tak terduga ini. Kalau boleh memilih aku tak ingin lagi berjumpa dengan orang-orang dari masa laluku, terlebih para pria yang pernah membeli dan menyentuhku dulu, dan Rizal adalah salah satunya.Dia tersenyum santai. Aku tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.“Nggak nyangka banget aku bisa ketemu kamu di tempat ini.""Kamu lagi santai sama temen kamu?"Rizal melirik ke arah Andien dan mengangguk sebagai sebuah isyarat sapaan.Andien yang tak sepenuhnya tahu siapa Rizal membalasnya dengan segaris senyuman.“Boleh gabung?” tanyanya.“Tentu,” sahut Andien ramah. Andien mempersilakan begitu saja, dan aku tak bisa menampik.Rizal kemudian menarik kursi dan duduk bersama kami. Aku tak tahu apa yang harus dik

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    139. Stigma Dari Masa Lalu

    Maya POV“Ide apa?”Hans tersenyum tipis, lalu menatapku lekat-lekat.“Kamu menikah saja denganku. Kalau kamu sudah menjadi istriku, Fajar pasti akan berpikir dua kali sebelum mendekatimu.”Aku nyaris tersedak mendengar jawabannya.“Kamu pikir menikah itu sesederhana mengganti status di KTP?”“Tidak.” Senyumnya memudar. “Justru karena pernikahan bukan perkara sederhana, aku ingin menjalaninya denganmu.”Aku terdiam. Meski mengatakannya dengan nada santai, aku tahu Hans serius. Lelaki itu selalu begitu. Dia bisa menyampaikan perasaannya seolah sedang bercanda, tetapi sorot matanya tak pernah menyembunyikan kesungguhan.“Aku serius, Maya.”“Aku tahu. Itulah masalahnya.”Hans mengernyit. “Kenapa?”Aku menghela napas panjang. “Karena aku belum bisa menerima perasaanmu.”“Apa kamu masih belum percaya kepadaku?”Aku menunduk. Bukan semata-mata karena tidak percaya, tetapi karena masih ada kekecewaan yang belum sepenuhnya hilang di antara kami. Ditambah lagi, pengalaman pernikahanku dengan M

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    4. Dalam Kuasa Pria Dominan

    ["Siapa ini?"] tanyaku lugas saat kudengar suara wanita asing ketika aku menghubungi ponsel suamiku.Tapi sebelum aku mendengar penjelasan apapun dari perempuan itu segera kudengar suara Mas Angga dari seberang sana.["Kamu kenapa nelpon aku? Apa Om Hans nggak sama kamu?"]Saat mendengar nada bicar

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    3. Harga Diri Yang Tergadai

    Malam ini kehancuranku terasa terlalu nyata. Saat pria yang bukan suamiku menjelajah dengan sangat liar di atad tubuhku. Segalanya terpampang terlalu lugas. Sementara aku terlalu tak berdaya untuk bisa menghentikan kegilaan itu. Air mataku mengalir deras. Aku tersedu sepanjang malam ditengah aluna

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    2. Jebakan Suamiku

    "Rumah siapa ini Mas?""Untuk apa kita ke sini?" tanyaku dipenuhi rasa penasaran, ada gelisah yang semakin tak bisa kutulis kala memasuki daerah asing ini.Entah mengapa perasaanku seperti memendam sesuatu yang buruk sekarang.Tapi nyatanya saat kulihat Mas Angga mengukir segaris senyuman serta men

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    1. Keinginan Gelap Suamiku

    “Dita sakit, Mas,” ucapku tertahan seraya mendekap erat putriku yang malam ini suhu tubuhnya naik lagi.Lelaki yang sudah menikahiku enam tahun silam itu hanya melirikku, malas, sebelum perhatiannya kembali fokus pada layar ponsel di tangannya.Aku merangsek mendekat kian mengunggah kecemasan yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status