Compartir

43. Penuh Simpati

last update Fecha de publicación: 2026-04-30 12:49:51

Ada rasa berat saat aku berusaha membuka mata. Semuanya terasa samar hanya remang-remang.

Perlu beberapa lama aku beradaptasi sampai akhirnya aku menyadari keberadaanku.

Langit-langit putih. Bau obat yang menyengat. Suara mesin yang berdetak pelan.

Jelas sekarang aku sudah berada di rumah sakit.

Aku mencoba mengingat… dan seketika tubuhku menegang.

Rasa sakit itu masih ada. Menyebar di setiap inci tubuhku seperti sisa mimpi buruk yang tak benar-benar pergi.

Aku menarik napas pelan, tapi terasa
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
duh Maya......silahkan samperin si terkutuk angga.buat apa kamu minta tolong Andien kalau mau balik lagi sama si bejat moral?
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    92. Pergi

    Maya POV"Fajar!"Suara Bu Halimah terdengar tegas hingga membuat kami berdua menoleh secara bersamaan.Aku langsung menundukkan kepala mulai merasa tak enak mendapati tatapan kecewa Bu Halimah pada putranya sesuatu yang sangat jarang terjadi."Kamu kok malah ngobrol sama Maya di sini? Katanya tadi cuma mau ambil minum sebentar?""Aku cuma cari angin di sini, Bu," jawab Fajar sekenanya.Sungguh aku tak pernah melihat Fajar membantah ibunya sendiri, sosok yang setahuku selalu dia hormati dan dia sayangi."Ayo temuin Anisa lagi," desak Bu Halimah sedikit memaksa."Anisa mau pulang sebentar lagi. Masa kamu malah ngobrol di belakang terus?" tegur Bu Halimah.Fajar mengusap tengkuknya pelan."Iya Bu, nanti aku ke depan," ucap Fajar dengan enggan."Bukan nanti. Sekarang."Nada suara Bu Halimah terdengar tak bisa dibantah.Aku bisa melihat rahang Fajar mengeras sesaat sebelum akhirnya ia berdiri."Oke, aku ke depan dulu."Sebelum pergi, Fajar sempat menatapku."Nanti kita ngobrol lagi."Aku

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    91. Kedatangan Anisa.

    Maya POV"Maukah kamu menikah denganku May?"Lamaran Fajar sontak mengagetkan aku. Keseriusannya malah menambah perih di hatiku.Aku sudah terlalu pesimis dengan kisah kami. Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan kembali terutama tentang perasaan Bu Halimah.Aku menatapnya lama yang kini justru juga diiringi dengan air mata.Fajar langsung mendekat tangannya segera terulur ia ingin menghapus jejak basah di mataku.Namun aku langsung berpaling dan menghapus air mataku sendiri."May ....?"Aku menggeleng dengan air mata yang kembali berderai."Aku masih berduka Jar, bahkan kuburan Dita masih basah, aku tak sanggup untuk ...."Aku tak melanjutkan kalimatku.Saat mengingat putriku aku kian tak bisa menyembunyikan kesedihanku. Nyatanya rasa dukaku bisa aku jadikan alasan untuk mengabaikan lamaran Fajar tanpa harus merasa bersalah karena menolaknya."Maafkan aku May, aku tak bermaksud untuk tak peduli dengan rasa duka kamu, aku terlalu emosional karena mendengar kehidupan kamu yang m

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    90. Lamaran Fajar

    Maya POVAku menatap Fajar cukup lama.Permintaannya menggantung di antara kami, membuat dadaku terasa sesak oleh berbagai perasaan yang bahkan sulit kujelaskan.Jujur saja, aku tidak ingin kembali bergantung pada siapa pun.Tapi dalam kondisi seperti sekarang, aku juga tidak memiliki tenaga untuk memulai semuanya dari awal.Aku terlalu lelah.Terlalu hancur.Pada akhirnya aku mengangguk pelan."Iya, Jar."Untuk pertama kalinya sejak pemakaman Dita, kulihat senyum tulus mengembang di wajah Fajar.Pria itu terlihat begitu lega."Sungguh?"Aku kembali mengangguk."Asal cuma sementara."Tatapan Fajar langsung melembut."Tidak masalah. Yang penting kamu tidak sendirian."Aku menundukkan kepala.Entah kenapa, mendengar kalimat itu justru membuat hatiku semakin perih.Karena orang yang paling ingin menemaniku saat ini sudah tidak ada lagi.Dita."Aku janji aku akan selalu menjagamu, May, dengan sepenuh hatiku."Aku termangu kelu mendengar janji Fajar yang terdengar terucap dengan begitu sun

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    89. Permintaan Fajar

    Maya POVAku bahkan tidak ingat bagaimana caranya aku bisa kembali berdiri setelah mendengar vonis dokter malam itu.Semuanya terasa kosong.Suara-suara di sekitarku terdengar samar.Tangisku sudah tak lagi sekeras sebelumnya, tetapi rasa sakit yang menggerogoti dada justru semakin dalam.Seolah ada bagian dari diriku yang ikut mati bersama Dita.Aku hanya duduk di kursi rumah sakit sambil memandangi pintu ruangan tempat tubuh kecil putriku berada.Putriku.Anak yang selama ini kuperjuangkan. Hingga aku sanggup mengorbankan apapun demi kebahagiaannya.Tapi kini aku harus mengikhlaskan kepergiannya, padahal aku baru saja berhasil menemukan setelah sekian lama kami dipisahkan oleh keadaan yang sulit."Maya."Suara Fajar terdengar pelan.Aku tidak menjawab, masih termangu, hanyut dalam kesedihan.Aku bisa merasakan Fajar mulai mendekat, dia kemudian duduk di dekatku."May, ada beberapa hal yang harus segera diurus."Aku menoleh perlahan.Mataku terasa bengkak dan perih."Kuatkan dirimu M

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    88. Menemukan Dita

    Maya POV"Sudahlah sekarang cepat tunjukkan saja di mana kamu sembunyikan Dita?"Suara Fajar terdengar keras menggema di lorong apartemen mewah itu.Mama Asha mendengkus sinis."Kalian ini benar-benar merepotkan."Perempuan itu berjalan menuju lift tanpa menunggu kami. Aku segera mengikuti di belakangnya bersama Fajar dan Pak Dimas.Jantungku berdegup begitu cepat.Sebentar lagi aku akan bertemu Dita.Anakku.Putri kecil yang selama ini selalu kurindukan.Lift berhenti di salah satu lantai atas. Mama Asha keluar lebih dulu lalu berjalan menuju sebuah unit yang berada di ujung koridor.Tangannya memasukkan kode akses.Pintu terbuka perlahan."Masuklah kalau memang kalian tidak sabar sekali."Aku tak menunggu lebih lama.Begitu masuk, mataku langsung menyapu seluruh ruangan.Apartemen itu sangat luas dan mewah.Namun suasananya terasa dingin.Sepi.Tidak seperti rumah yang dihuni seorang anak kecil."Di mana Dita?" tanyaku tidak sabar.Mama Asha melipat kedua tangan di dada."Kamu meman

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    87. Kesombongan Asha

    "Jadi Dita ada sama Mama?" tanyaku penuh rasa ingin tahu.Mama Asha malah melengos saat aku menatapnya lurus."Dita jauh lebih terurus sama aku, malah rencananya aku akan membawanya ke Taiwan," tegas perempuan yang sudah melahirkan Mas Angga ke dunia itu.Aku terperangah kelu. Jelas aku akan menentang rencana itu. Dita adalah putriku dan harusnya aku yang mengasuh dan merawatnya."Aku tidak akan membiarkan Mama melakukan itu, Dita putriku dan seharusnya Dita tinggal bersamaku."Aku langsung menyela sengit."Jadi putri Mbak Maya ada bersama Nyonya?" tanya penyidik itu yang sejak tadi sudah mencecar Mas Angga untuk mengetahui keberadaan Dita.Mama Asha malah mengunggah tatapan yang tajam dengan gestur tubuh seperti menantang."Iya, memangnya salah seorang nenek merawat cucunya?""Ibunya yang lebih berhak untuk mengasuhnya, saya harap Nyonya bisa memahami itu.""Ndak, aku nggak mau menyerahkan cucuku pada pelacur seperti dia!" seru Mama Asha sembari jarinya menuding sengit ke arahku.Aku

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    4. Dalam Kuasa Pria Dominan

    ["Siapa ini?"] tanyaku lugas saat kudengar suara wanita asing ketika aku menghubungi ponsel suamiku.Tapi sebelum aku mendengar penjelasan apapun dari perempuan itu segera kudengar suara Mas Angga dari seberang sana.["Kamu kenapa nelpon aku? Apa Om Hans nggak sama kamu?"]Saat mendengar nada bicar

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    3. Harga Diri Yang Tergadai

    Malam ini kehancuranku terasa terlalu nyata. Saat pria yang bukan suamiku menjelajah dengan sangat liar di atad tubuhku. Segalanya terpampang terlalu lugas. Sementara aku terlalu tak berdaya untuk bisa menghentikan kegilaan itu. Air mataku mengalir deras. Aku tersedu sepanjang malam ditengah aluna

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    2. Jebakan Suamiku

    "Rumah siapa ini Mas?""Untuk apa kita ke sini?" tanyaku dipenuhi rasa penasaran, ada gelisah yang semakin tak bisa kutulis kala memasuki daerah asing ini.Entah mengapa perasaanku seperti memendam sesuatu yang buruk sekarang.Tapi nyatanya saat kulihat Mas Angga mengukir segaris senyuman serta men

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    1. Keinginan Gelap Suamiku

    “Dita sakit, Mas,” ucapku tertahan seraya mendekap erat putriku yang malam ini suhu tubuhnya naik lagi.Lelaki yang sudah menikahiku enam tahun silam itu hanya melirikku, malas, sebelum perhatiannya kembali fokus pada layar ponsel di tangannya.Aku merangsek mendekat kian mengunggah kecemasan yang

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status