Masuk"Apa masih sakit tangannya?" tanya Fajar yang pagi ini tampak sangat bersemangat ketika memasuki ruang tempat aku dirawat.Sudah lebih dari lima hari aku menghabiskan waktu di ruangan yang terkesan mewah dengan fasilitasnya yang lengkap ini, selama itu pula aku tak pernah bertemu putriku yang sekarang bahkan masih memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.Aku terus menatap lekat pada sosok yang pernah mengisi seluruh ruang hatiku itu saat Fajar menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter dengan memeriksa kondisiku."Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya ketika dia akhirnya menyadari tatapanku yang terus lekat memindai ke arahnya.Dengan sangat tenang dia kemudian mengambil posisi duduk di sisi ranjang, sangat dekat denganku yang sedang menyandarkan punggung pada sisi brankar yang ditinggikan."May, jangan banyak pikiran. Bahkan kamu tak perlu merisaukan soal suami kamu. Percayalah semua akan baik-baik saja."Fajar selalu saja berusaha untuk menjauhkan aku dari segala tekanan.
Ada rasa berat saat aku berusaha membuka mata. Semuanya terasa samar hanya remang-remang.Perlu beberapa lama aku beradaptasi sampai akhirnya aku menyadari keberadaanku.Langit-langit putih. Bau obat yang menyengat. Suara mesin yang berdetak pelan.Jelas sekarang aku sudah berada di rumah sakit.Aku mencoba mengingat… dan seketika tubuhku menegang.Rasa sakit itu masih ada. Menyebar di setiap inci tubuhku seperti sisa mimpi buruk yang tak benar-benar pergi.Aku menarik napas pelan, tapi terasa berat.Lalu—“Akhirnya kamu bangun…”Suara itu terasa terlalu familiar.Seketika mengusik dasar ingatanku.Sambil menahan nafas aku kemudian menoleh perlahan.Dan detik itu juga jantungku seperti berhenti.“Fa… Fajar?”Sosok pria itu bangkit dari kursi di samping ranjangku. Wajahnya yang dulu sering menghiasi hari-hariku… kini berdiri di hadapanku lagi.Lebih dewasa.Lebih tegas.Tapi sorot matanya… masih sama.Hangat.Penuh perhatian.“Iya… aku di sini, May.”Air mataku langsung menggenang. Gel
"Sekarang siapkan dirimu." Bisikan Beny di telingaku terdengar terlalu seduktif.Bahkan detik berikutnya tangannya mulai menjamah kedua asetku yang terlihat membusung dengan gaun belahan dada rendah yang saat ini aku pakai.Beny meremasnya dengan kasar seakan milikku adalah obyek mainannya.Ingin aku meronta, tapi dia terus mengintimidasiku dengan kalimat yang sangat merendahkan."Ingat aku sudah membelimu jadi aku bisa melakukan semua yang aku suka."Aku terhenyak kelu.Tapi aku hanya bisa pasrah bahkan saat dia merobek dengan tak sabar gaun yang aku pakai.Sungguh aku merasa sangat dipermalukan, walau ini bukan untuk yang pertama kalinya aku menjual diri.Nyatanya Beny malah tergelak lebar saat melihat ketidakberdayaanku.Dia seperti seseorang yang sudah kehilangan akal saat mulai menindihku.Aku menjerit kesakitan karena dia memaksa dengan gerakan yang brutal.Tapi dia seakan menikmati jerit kesakitanku.Yang lebih brutal lagi, dengan tanpa belas kasihan dia kemudian mulai meraih
“Maya!”Langkahku terhenti.Suara itu… aku sangat mengenalnya.Perlahan aku menoleh.Dan benar saja.“Andien…”Dia berdiri beberapa meter dariku. Wajahnya jelas terkejut melihatku di tempat seperti ini. Tatapannya bergerak cepat—dari wajahku yang pucat, ke tangan Mas Angga yang mencengkeram lenganku terlalu erat.“May… kamu ngapain di sini?” tanyanya, bingung. Lalu matanya menyipit, seperti mencoba memahami sesuatu yang janggal. “Dita gimana? Bukannya kamu tadi bilang dia masih di rumah sakit?”Aku membuka mulut.Tapi tak ada satu kata pun yang keluar.Semua terasa tercekat di tenggorokan.Aku ingin menjawab. Ingin berteriak. Ingin bilang kalau aku tidak baik-baik saja.Tapi aku tidak bisa.Tanganku justru semakin erat dicengkeram oleh Mas Angga.“Kalian mau nginep di sini? Atau kalian mau ada acara?" Andien kini mengalihkan pertanyaannya pada suamiku.Namun saat tatapan Andien mulai menelisikku. Sekerat gelisah langsung menjerat. Jelas aku merasa rikuh, dengan penampilanku yang serba
“Kalau boleh… aku cuma ingin minta satu hal.”Suaraku lirih, tapi kali ini tidak ragu. Tidak lagi setengah tertahan seperti sebelumnya. Tapi tetap aku tak bisa mengabaikan rasa takut yang sejak awal telah menyusupi batin.Andien mengangguk pelan, matanya lembut namun penuh perhatian.“Katakan saja, May… apa itu?”Aku menarik napas panjang. Dadaku terasa sesak, tapi aku dorongan rasa takut ini yang membuatku membuka suara.“Jangan tinggalin aku…”Hening.Kalimat itu keluar begitu saja, tapi merupakan ungkapan isi hatiku yang terdalam.“Apa pun yang terjadi nanti… seburuk apa pun aku…” suaraku mulai bergetar, “tolong… jangan pergi dari aku, Ndien.”Air mataku jatuh lagi. Kali ini lebih deras.Aku tak lagi peduli dengan apa yang ada di pikiran Andien saat ini. Mungkin saja dia akan menganggapku sangat janggal.“Aku tahu aku mungkin udah berubah… aku udah nggak punya apa-apa lagi dan mungkin udah nggak layak ditemenin siapa-siapa…” aku menunduk, menggigit bibirku, “tapi aku… aku butuh kam
Pertanyaan Andien seperti tertahan di udara, menekan dadaku tanpa ampun.“May, andai kamu bisa pisah dari suami kamu yang brengsek itu, apa kamu mau balik lagi sama Fajar?”Aku terdiam.Lama.Bukan karena aku tak punya jawaban… tapi karena terlalu banyak yang ingin aku jawab, hingga semuanya terasa menyesakkan.Aku menunduk, menatap jemariku sendiri yang kini tampak asing. Jemari yang dulu pernah digenggam dengan penuh hati-hati… seolah aku ini sesuatu yang rapuh dan berharga.Fajar.Nama itu seperti membuka pintu lama yang selama ini mati-matian aku kunci.“Ndien…” suaraku lirih, nyaris tak terdengar, “nggak semua yang sudah hilang bisa kembali…”Andien tak langsung menyahut. Dia hanya menatapku dalam, seolah tahu aku sedang berperang dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kenangan.Dan tanpa kusadari… pikiranku mulai melayang.Kembali ke masa yang dulu.Masa yang sederhana.Masa yang… jujur.Aku masih ingat jelas bagaimana pertama kali aku benar-benar memperhatikan Fajar.







