LOGINMaya POV"Katakan kamu mau ke mana memangnya?" tanya Fajar yang sudah penasaran.Tapi aku tersenyum kecil sebelum kemudian memandangi lembar akta cerai yang masih berada di tanganku.Namaku.Nama Mas Angga.Dan satu kalimat yang menandai berakhirnya ikatan yang selama ini begitu menyiksa.Rasanya aneh.Bukan bahagia yang meledak-ledak.Bukan pula sedih yang menghimpit.Melainkan... lega.Lega karena akhirnya aku tidak lagi hidup sebagai seseorang yang terus menunggu keajaiban dari orang yang tak pernah benar-benar menghargai keberadaanku.Aku menarik napas pelan."Bagaimana perasaanmu sekarang?"Aku menoleh untuk menatapnya."Hm?""Alhamdulillah ...," jawabku singkat sambil menghela nafas panjang.Fajar melirikku seraya mengulas senyuman tipis."Pasti kamu lega kan?"Aku mengangguk pelan."Kamu masih mau mengantarku kan?""Kemana?"Aku menggenggam erat map berisi akta cerai."Aku ingin menemui Mas Angga."Fajar tampak terdiam beberapa detik.Tatapannya menelusuri wajahku, seolah memas
Fajar POVKugenggam tangan Maya semakin erat."Jangan dengarkan satu kata pun dari mereka."Tangannya masih gemetar. Air mata terus mengalir tanpa mampu ia bendung. Melihat keadaannya seperti itu, dadaku terasa diremas begitu kuat.Aku menggeser tubuhku, berdiri sepenuhnya di depan Maya seolah menjadi tembok yang melindunginya."Aku bilang cukup," ucapku lagi dengan suara dingin.Raisa mendengus sinis."Wah... hebat sekali. Dokter Fajar sekarang jadi pahlawan perempuan murahan."Bella tertawa kecil."Yang kami katakan juga bukan fitnah. Videonya memang benar milik dia."Beberapa orang mulai berbisik-bisik. Sebagian mengeluarkan ponsel, merekam keributan yang terjadi.Aku menatap mereka satu per satu."Kalau kalian masih punya sedikit rasa malu, berhentilah mempermalukan seseorang yang sudah berusaha bangkit."Bella malah menggeleng."Aku benar-benar heran."Tatapannya berpindah kepada Maya, lalu kembali kepadaku."Apa sih istimewanya perempuan ini? Cantik? Di luar sana banyak wanita y
Fajar POV"Fajar!"Suara Maya terdengar penuh keterkejutan.Aku berhenti tepat di depan lapaknya. Tatapanku tak sedikit pun beralih dari pria berambut cokelat yang berdiri hanya beberapa langkah darinya."Siapa dia?"Pertanyaanku terdengar datar, tetapi rahangku mengeras.Maya tampak gugup."Fajar....""Aku tanya, siapa dia?"Pria itu justru melangkah maju dengan tenang."Aku—""Maaf."Maya buru-buru memotong ucapan pria itu.Tatapannya beralih kepadanya."Hans... tolong pulang dulu."Aku mengernyit.Jadi namanya Hans.Pria itu terlihat enggan bergerak. Tatapannya malah tajam memindaiku. Aku membalasnya dengan sorot mata yang sama tegasnya."Kenapa kamu memintaku pergi? Apa karena dia? Siapa lagi dia Maya?" tanya pria itu terasa seperti seseorang yang selalu ingin mengendalikan segalanya."Tak semua hal harus aku ceritakan sama kamu," ucap Maya lugas, "aku mohon pergilah jika kamu masih peduli sama aku."Suara Maya begitu pelan, namun penuh permintaan.Hans mengembuskan napas panjang.
Fajar POVAku masih berdiri mematung di tengah rumahku yang kini terasa kosong.Pandanganku menyapu setiap sudut ruangan, masih berharap jika bayangan Maya akan berkelebat di ruangan ini.Nyatanya suara panggilanku tetap saja tak ada sahutan. Maya sudah benar-benar pergi.Aku merasa dipecundangi. Maya telah membohongiku. Dia seperti sudah tak mengindahkan aku lagi.Dadaku mulai terasa semakin sesak."Ke mana kamu pergi, May?" gumamku lirih.Aku langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor Maya.Satu kali.Dua kali.Tiga kali.Tetap tidak diangkat.Aku mengusap wajah dengan kasar.Berbagai kemungkinan mulai memenuhi kepalaku.Apa yang membuat Maya mendadak pergi? Padahal semalam kami mengobrol panjang dan dia tak ada tanda-tanda akan pergi.Aku sedikit menyesal kenapa tadi tak berpamitan pada Maya saat akan pergi ke rumah sakit. Karena tadi pagi pintu kamar Maya masih tertutup dan aku pikir dia masih tidur.Jika tahu begini seharusnya aku mengunci pintu rumah ini, dan mengurung M
Fajar POV"Jadi kamu akan menceraikan aku?"Suara Raisa bergetar, tetapi bukan karena sedih.Melainkan karena amarah yang mulai meledak tanpa kendali.Aku menoleh ke arah Rizal. Wajah sahabatku itu langsung mengeras. Tatapannya tampak pasrah, seolah tak pernah membayangkan rahasia itu akan terbongkar dengan cara seperti ini."Zal... jawab aku!" bentak Raisa sambil mencengkeram lengan suaminya.Rizal melepaskan tangan itu perlahan."Aku memang berniat mengajukan gugatan cerai."Kalimat itu terdengar pelan.Namun cukup untuk membuat dunia Raisa seakan runtuh."Apa?"Raisa mundur beberapa langkah sambil menggeleng keras."Kamu bohong... kamu pasti bohong!""Aku tidak sedang bercanda.""Tidak!" teriak Raisa histeris. "Aku selama ini jadi istri yang selalu menemani kamu! Apa kurangnya aku?"Rizal menarik napas panjang."Kamu pikir saja sendiri," sergah Rizal geram."Pasti karena perempuan itu, kan!" tuduh Raisa histeris."Kamu benar-benar sangat menyebalkan, kenapa kamu tak mau introspeksi
"Apa kamu yakin akan menikahi Maya?"Pertanyaan Rizal menyiratkan sebuah keingintahuan yang menggelisahkan."Aku merasa pertanyaan kamu mengandung sebuah kesinisan, apa kamu mulai ikut menghakimi Maya juga?"Rizal menggeleng gundah."Jangan salah paham, aku hanya tak ingin kamu menyesali keputusan yang kamu buat.""Apa yang terjadi tak pernah benar-benar menjadi pilihannya, kamu pasti sudah tahu bagaimana ceritanya Maya sampai terjerumus dalam dunia kotor itu.""Semua karena suaminya, pria brengsek yang tak punya hati itu.""Aku tak pernah menghakimi Maya, kalau saat ini dia tak bersamamu, aku yang akan melindunginya dan aku selalu bisa seluruh dirinya secara utuh tanpa mempedulikan masa lalunya."Rizal langsung menimpali."Jangan bilang kalau kamu menunggu aku menyerah."Rizal menggeleng pelan."Aku hanya tak mau kamu menghancurkan kehidupan kamu, setelah perjuangan kamu selama ini."Rizal memandangku lurus."Lalu bagaimana dengan ibu kamu? Apa kamu sudah mengatakan pada beliau tenta
Angga POV“Ke mana perempuan itu pergi sialan!”Aku membanting pintu kamar hotel hingga bergetar keras. Napasku memburu saat mendapati kamar itu kosong. Selimut berantakan. Gelas minuman masih tersisa di meja. Tapi Maya tidak ada.Padahal beberapa jam lalu aku sendiri yang mengantarnya ke sini.Tan
Maya POV“Kamu…?!”Aku memegang dada yang berdebar kencang saat melihat Andien berdiri di belakangku sambil mendelik kesal.“Ya Allah Andien, aku kira siapa. Aku sampai mau pingsan,” desisku setengah kesal.Andien malah terkekeh melihat ekspresi kekagetanku.“Ngapain kamu berdiri di sini kayak mali
Meski masih dipenuhi rasa ingin tahu, aku memilih mengabaikan rasa penasaranku dan fokus untuk bisa segera sampai di rumah ibu.Seperti biasa ibu menyambut kepulanganku dengan ekspresi beliau yang penuh rasa bahagia.Segera kucium punggung tangannya dengan takzim sebelum aku masuk dan melepas sepat
POV Fajar["Bagaimana Jar, bisa kan kamu nanti makan siang di rumah?"]["Kamu mau dimasakin apa nanti?"]Nada bicara ibu sudah terdengar sangat antusias.Hati ini menjadi dilema. Rasanya aku akan sangat bersalah jika tak memenuhi keinginan ibu yang terasa sudah begitu merindukan aku, karena menging







