Home / Romansa / PEREMPUAN BERKALANG NODA / 3. Harga Diri Yang Tergadai

Share

3. Harga Diri Yang Tergadai

Author: Mastuti Rheny
last update publish date: 2026-02-25 18:37:37

Malam ini kehancuranku terasa terlalu nyata. Saat pria yang bukan suamiku menjelajah dengan sangat liar di atas tubuhku. Segalanya terpampang terlalu lugas. Sementara aku terlalu tak berdaya untuk bisa menghentikan kegilaan itu.

Air mataku mengalir deras. Aku tersedu sepanjang malam ditengah alunan dengkuran dari pria asing yang telah menjamahku dengan garang.

Setelah itu di pagi harinya selama berjam-jam aku mengurung diri di kamar mandi. Kuguyur tubuhku yang terasa penuh noda dengan air shower sampai pria itu mendobrak pintu kamar mandi dan menyeretku keluar.

Aku masih tergugu di hadapannya. Namun pria itu hanya memandangku datar.

"Aku tunggu kamu di meja makan," ucapnya tegas seraya berlalu pergi meninggalkan aku begitu saja dengan tubuhku yang masih basah kuyup dan bersimbah air mata.

Setelah mampu menegarkan diri kini aku telah duduk tepat di depannya hanya dipisahkan dengan sebuah meja makan panjang yang di atasnya telah terhidang aneka menu asing yang nyatanya sama sekali tak mampu membangkitkan seleraku.

"Makanlah!" ucapnya lebih terdengar seperti sebuah perintah.

Aku bergeming. Bahkan aku terlalu enggan untuk menentang tatapannya.

Aku bisa merasakan pandangannya yang intens di saat aku membuang muka darinya.

"Aku tak mengerti apa yang membuatmu bisa bertahan bersama pria semacam Angga."

Kali ini nada bicaranya dibuat terdengar seperti mengandung sebuah simpati.

Aku tertegun. Meski aku masih enggan untuk peduli dengan apa yang diucapkannya.

"Apa setelah yang dilakukannya padamu, kamu masih ingin tetap bersamanya?"

"Asal kamu tahu dia yang sudah mendesakku agar mau menerima tawarannya, yaitu menghabiskan malam denganmu."

"Dan kamu tahu berapa aku membayarnya atas tawarannya itu?"

"500 juta."

Aku terperangah kala lelaki itu menyebutkan nominal yang terasa sangat fantastis menurutku.

Segera aku alihkan tatapanku ke arahnya, memandangnya dengan sorot lugas.

"Dia menjadikan anak kalian sebagai pembenaran atas apa yang sudah dia lakukan ...."

Pria asing itu kemudian kian memindaiku lekat.

"Dia sudah menjualmu."

Kalimatnya telah sangat cukup melucuti harga diriku.

Aku hanya bisa membeku dengan hati memendam kelu.

"Saranku sebaiknya kamu tinggalkan lelaki seperti itu. Dia hanya akan memberimu masalah."

Aku memilih diam, meski hatiku tak bisa menyalahkan setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya.

"Bukan tidak mungkin, dia akan kembali mengulangi kebodohannya ini, dengan mengobralmu ke semua lelaki yang bisa memberinya uang."

"Kamu hanya diperlakukan sebagai komoditas, barang yang bisa dia jual, bukan seorang istri yang harus dijaga kehormatannya."

Pernyataannya segera membuka pandanganku namun sekaligus juga menelusupkan ketakutan.

"Apa kamu yakin tetap mau bersama lelaki semacam itu?"

Aku masih membisu. Beku.

Raut mukaku sudah menegang sementara bayangan dimana aku akan dilacurkan oleh suamiku sendiri semakin menekan diriku dalam momok yang menakutkan.

"Anda berkata seolah Anda lelaki suci, padahal justru Anda yang sudah membeliku lalu setelah itu Anda memperlakukan aku seperti seorang pelacur."

Pria bernama Hans itu malah terkekeh sarkas.

"Anggap saja aku salah, tapi suamimu jauh lebih salah."

Hans kembali memindaiku dengan tatapan yang lekat.

Kali ini aku menentang sorot matanya. Aku memilih menunjukkan ketegaranku meski saat ini dari dalam aku sudah hancur lebur.

"Aku kasihan denganmu. Kesalahan terbesar kamu adalah kamu terlalu pasrah saat dijodohkan oleh orang tuamu dengan pria pemalas seperti dia."

"Anda terlalu sok tahu."

Pria yang kuperkirakan telah berusia 30 tahunan itu malah berdecih sinis saat aku mengunggah sebentuk ketegasan.

"Nyatanya aku terlalu tahu tentang sejarah hidupmu, dan aku yakin perempuan muda seperti kamu yang dulu hanya anak manja dari sebuah keluarga kaya tak pernah peduli pada apapun atau pada siapapun kecuali hanya kesenangannya sendiri."

"Apa maksud kamu?"

"Kalau begitu aku tanya apa kamu pernah peduli dengan tamu-tamu yang dijamu oleh orang tuamu di rumah mewah mereka yang sayangnya sudah dijual oleh suamimu itu?"

Aku memilih tak menjawab pertanyaannya dan mengambil kesimpulan sendiri.

"Apa Mas Angga yang sudah menceritakan semuanya padamu?"

Hans terkekeh lagi tapi kali ini terdengar lebih nyaring.

"Jadi kamu berpikir jika aku mengetahui semua itu dari Angga?"

Aku kembali terdiam.

"Bagaimana kalau aku katakan jika dulu aku dan orang tuamu saling mengenal akrab?"

Aku kembali dibuat terperanjat mendengar pengakuannya.

Tanpa sadar aku menggeleng pelan, berusaha mengingkari pengakuannya yang mengejutkan.

"Aku cukup mengenalnya lebih dari yang kamu bayangkan walau ...."

Pria itu menjeda kalimatnya demi memindai wajahku dengan tatapannya yang beku.

Aku membeku, sorot matanya terlalu tajam untuk aku tentang.

".... akhirnya aku menjadi begitu kecewa."

Aku semakin tak bisa memahami arah pembicaraan nya.

"Sudahlah, semua sudah masa lalu, dan Tuhan sudah merencanakan yang terbaik untukku."

Hans kembali menekuni piringnya. Tangannya mulai meraih garpu untuk bisa melahap omellete, menu pilihan sarapannya meski saat ini tersaji juga macam hidangan yang lain.

"Sekarang makanlah, kamu harus mengisi tenagamu. Kita masih memiliki satu malam yang masih harus dilewati dengan penuh gairah."

Dadaku terasa bergemuruh ketika mendengar kalimatnya yang terakhir. Tapi nyatanya lelaki itu terlalu tenang ketika aku menyergapnya dengan tatapan nyalang. Aku mengumbar aura kebencianku padanya dengan terlalu terang. Meski amarahku yang sesungguhnya lebih mengarah pada Mas Angga, sosok suamiku sendiri yang dengan tega telah menjualku.

***

Menjelang siang aku memutuskan masuk ke dalam kamar, kala Hans sedang sibuk di ruang kerjanya.

Seusai sarapan dia masih sempat memaksaku untuk mengikutinya menjelajahi rumah besarnya seakan dia ingin menunjukkan kekayaannya yang melimpah, meski selama berjalan-jalan dia menjadi lebih banyak diam daripada saat di meja makan tadi.

Setelah itu aku dibiarkan sendiri segera aku mengurung diri di dalam kamar demi bisa menelpon Mas Angga dan menumpahkan segala amarah padanya.

Namun ketika akhirnya panggilanku diangkat, telingaku malah mendengar suara asing yang segera memancing kecurigaan. Suara seorang wanita.

["Halo?!"]

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    140. Berita Tentang Anisa

    Maya POV“Apa kabar?”Aku sontak menoleh ke arah suara yang menyapa kami. Senyum di bibirku seketika memudar ketika mendapati sosok Rizal berdiri tak jauh dari meja tempat aku dan Andien duduk.“Rizal?” sapaku dengan suara sedikit tercekat. Jelas aku kaget dengan pertemuan tak terduga ini. Kalau boleh memilih aku tak ingin lagi berjumpa dengan orang-orang dari masa laluku, terlebih para pria yang pernah membeli dan menyentuhku dulu, dan Rizal adalah salah satunya.Dia tersenyum santai. Aku tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.“Nggak nyangka banget aku bisa ketemu kamu di tempat ini.""Kamu lagi santai sama temen kamu?"Rizal melirik ke arah Andien dan mengangguk sebagai sebuah isyarat sapaan.Andien yang tak sepenuhnya tahu siapa Rizal membalasnya dengan segaris senyuman.“Boleh gabung?” tanyanya.“Tentu,” sahut Andien ramah. Andien mempersilakan begitu saja, dan aku tak bisa menampik.Rizal kemudian menarik kursi dan duduk bersama kami. Aku tak tahu apa yang harus dik

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    139. Stigma Dari Masa Lalu

    Maya POV“Ide apa?”Hans tersenyum tipis, lalu menatapku lekat-lekat.“Kamu menikah saja denganku. Kalau kamu sudah menjadi istriku, Fajar pasti akan berpikir dua kali sebelum mendekatimu.”Aku nyaris tersedak mendengar jawabannya.“Kamu pikir menikah itu sesederhana mengganti status di KTP?”“Tidak.” Senyumnya memudar. “Justru karena pernikahan bukan perkara sederhana, aku ingin menjalaninya denganmu.”Aku terdiam. Meski mengatakannya dengan nada santai, aku tahu Hans serius. Lelaki itu selalu begitu. Dia bisa menyampaikan perasaannya seolah sedang bercanda, tetapi sorot matanya tak pernah menyembunyikan kesungguhan.“Aku serius, Maya.”“Aku tahu. Itulah masalahnya.”Hans mengernyit. “Kenapa?”Aku menghela napas panjang. “Karena aku belum bisa menerima perasaanmu.”“Apa kamu masih belum percaya kepadaku?”Aku menunduk. Bukan semata-mata karena tidak percaya, tetapi karena masih ada kekecewaan yang belum sepenuhnya hilang di antara kami. Ditambah lagi, pengalaman pernikahanku dengan M

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    138. Menjauhi Fajar

    Maya POV"Maya!"Aku dan Fajar sontak menoleh ke arah suara yang memanggilku. Kulihat Hans berjalan mendekat dengan langkah mantap. Namun, begitu pandangannya beralih kepada Fajar, raut wajahnya seketika berubah dingin."Kamu sudah dari tadi keluarnya?" tanyanya kepadaku, tetapi matanya tetap tertuju pada lelaki di sampingku.Aku segera mengangkat bingkisan di tanganku."Iya," jawabku sewajar mungkin meski sekarang aku sudah mulai resah saat melihat tatapan Hans yang begitu menelisik pada Fajar.Sementara balasan sorot mata Fajar menjadi kian menajam."Ada apa?" Hans kembali bertanya."Tidak ada apa-apa. Fajar hanya memberikan oleh-oleh karena kebetulan baru pulang dari Yogyakarta."Aku menunjukkan kotak pia yang diberikan Fajar tadi. Aku berharap penjelasan sederhana itu cukup untuk menghilangkan kecurigaan Hans.Sayangnya, tatapan lelaki itu masih terasa tajam."Oh, begitu." Hans mengangguk tipis. "Saya kira ada urusan lain yang membuat seorang dokter rela meluangkan waktu untuk da

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    137. Membatasi Pertemuan

    Maya POVAku menatap Fajar dengan sungguh-sungguh. Inilah kesempatan yang kutunggu untuk membuatnya memahami bahwa pernikahannya dengan Anisa bukan sesuatu yang bisa diperlakukan sesuka hati."Aku ingin kamu membuka hati untuk Anisa, Jar. Dia istrimu. Dia mencintaimu dan ingin mendapatkan cinta yang sama darimu."Fajar menghela napas panjang."Aku sudah berusaha, May. Tapi, aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri.""Maksudmu?""Aku selalu membandingkan Anisa denganmu. Saat dia memperhatikanku, aku teringat caramu memperlakukanku dulu. Bahkan ketika kami bersama, pikiranku sering kembali kepadamu."Aku menggeleng tak percaya."Jar, berhenti membicarakan hal seperti itu.""Aku hanya ingin jujur. Aku merasa tersiksa menjalani pernikahan ini. Kadang-kadang aku menyesal telah mengambil keputusan untuk menikahi Anisa."Fajar terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan."Aku tahu dia perempuan baik. Tapi, aku tidak bisa memberikan cinta yang seharusnya dia dapatkan."Aku menggeleng gundah. Je

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    136. Pertemuan Dengan Fajar

    Maya POV"Mbak maukah kamu menemui Mas Fajar?"Aku terdiam mendengar permintaan Anisa. Perempuan berhijab itu menatapku dengan mata berkaca-kaca, seolah aku adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya."Aku ingin Mbak menemui Mas Fajar. Tolong bicara dengannya dari hati ke hati. Yakinkan dia agar mau membuka hatinya untukku."Aku menghela napas panjang."Anisa, aku dan Fajar sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku juga tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga kalian. Bagaimana kalau pertemuan kami justru menimbulkan salah paham?""Aku tidak akan menyalahkan Mbak.""Tapi, kamu harus mengerti bahwa perasaan Fajar bukan tanggung jawabku."Anisa menunduk. Air matanya mulai berjatuhan."Aku tahu, Mbak. Tapi, aku sudah berusaha menjadi istri yang baik. Aku selalu mencoba memahami dia, tetapi ternyata hatinya masih tertinggal pada perempuan lain."Suaranya bergetar."Bayangkan bagaimana perasaanku ketika suamiku sendiri mengakui bahwa dia masih mencintai perempuan yang pernah menjad

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    135. Permintaan Anisa

    Maya POVHari-hariku di kampus mulai dipenuhi kesibukan. Tugas-tugas yang menumpuk, diskusi kelompok, serta materi perkuliahan yang harus kupelajari kembali membuatku nyaris tak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain.Meski usiaku lebih tua dibandingkan sebagian besar teman seangkatan, perlahan aku mulai terbiasa. Awalnya, aku sempat merasa canggung berada di antara mereka yang masih berusia awal dua puluhan. Namun, seiring waktu, aku menyadari bahwa usia bukanlah penghalang untuk kembali belajar dan meraih impian yang sempat tertunda.Aku menikmati setiap prosesnya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika akhirnya aku bisa kembali melakukan sesuatu untuk diriku sendiri setelah sekian lama hidupku hanya berkutat pada persoalan rumah tangga dan luka masa lalu.Setidaknya, kini aku memiliki kesibukan yang membuatku tidak terus-menerus memikirkan hal-hal yang belum tentu bisa kuubah.Namun akhir-akhir ini ada yang bergayut di pikiranku. Apalagi jika bukan Hans, dan yang lebih mengerikan Andi

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    1. Keinginan Gelap Suamiku

    “Dita sakit, Mas,” ucapku tertahan seraya mendekap erat putriku yang malam ini suhu tubuhnya naik lagi.Lelaki yang sudah menikahiku enam tahun silam itu hanya melirikku, malas, sebelum perhatiannya kembali fokus pada layar ponsel di tangannya.Aku merangsek mendekat kian mengunggah kecemasan yang

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    63. Bimbang

    Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata le

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    38. Dukungan Andien

    Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    6. Memperpanjang Waktu

    "Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah."Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur."Aku mengunggah keberania

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status