MasukMalam ini kehancuranku terasa terlalu nyata. Saat pria yang bukan suamiku menjelajah dengan sangat liar di atad tubuhku. Segalanya terpampang terlalu lugas. Sementara aku terlalu tak berdaya untuk bisa menghentikan kegilaan itu.
Air mataku mengalir deras. Aku tersedu sepanjang malam ditengah alunan dengkuran dari pria asing yang telah menjamahku dengan garang. Setelah itu di pagi harinya selama berjam-jam aku mengurung diri di kamar mandi. Kuguyur tubuhku yang terasa penuh noda dengan air shower sampai pria itu mendobrak pintu kamar mandi dan menyeretku keluar. Aku masih tergugu di hadapannya. Namun pria itu hanya memandangku datar. "Aku tunggu kamu di meja makan," ucapnya tegas seraya berlalu pergi meninggalkan aku begitu saja dengan tubuhku yang masih basah kuyup dan bersimbah air mata. Setelah mampu menegarkan diri kini aku telah duduk tepat di depannya hanya dipisahkan dengan sebuah meja makan panjang yang di atasnya telah terhidang aneka menu asing yang nyatanya sama sekali tak mampu membangkitkan seleraku. "Makanlah!" ucapnya lebih terdengar seperti sebuah perintah. Aku bergeming. Bahkan aku terlalu enggan untuk menentang tatapannya. Aku bisa merasakan pandangannya yang intens di saat aku membuang muka darinya. "Aku tak mengerti apa yang membuatmu bisa bertahan bersama pria semacam Angga." Kali ini nada bicaranya dibuat terdengar seperti mengandung sebuah simpati. Aku tertegun. Meski aku masih enggan untuk peduli dengan apa yang diucapkannya. "Apa setelah yang dilakukannya padamu, kamu masih ingin tetap bersamanya?" "Asal kamu tahu dia yang sudah mendesakku agar mau menerima tawarannya, yaitu menghabiskan malam denganmu." "Dan kamu tahu berapa aku membayarnya atas tawarannya itu?" "500 juta." Aku terperangah kala lelaki itu menyebutkan nominal yang terasa sangat fantastis menurutku. Segera aku alihkan tatapanku ke arahnya, memandangnya dengan sorot lugas. "Dia menjadikan anak kalian sebagai pembenaran atas apa yang sudah dia lakukan ...." Pria asing itu kemudian kian memindaiku lekat. "Dia sudah menjualmu." Kalimatnya telah sangat cukup melucuti harga diriku. Aku hanya bisa membeku dengan hati memendam kelu. "Saranku sebaiknya kamu tinggalkan lelaki seperti itu. Dia hanya akan memberimu masalah." Aku memilih diam, meski hatiku tak bisa menyalahkan setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya. "Bukan tidak mungkin, dia akan kembali mengulangi kebodohannya ini, dengan mengobralmu ke semua lelaki yang bisa memberinya uang." "Kamu hanya diperlakukan sebagai komoditas, barang yang bisa dia jual, bukan seorang istri yang harus dijaga kehormatannya." Pernyataannya segera membuka pandanganku namun sekaligus juga menelusupkan ketakutan. "Apa kamu yakin tetap mau bersama lelaki semacam itu?" Aku masih membisu. Beku. Raut mukaku sudah menegang sementara bayangan dimana aku akan dilacurkan oleh suamiku sendiri semakin menekan diriku dalam momok yang menakutkan. "Anda berkata seolah Anda lelaki suci, padahal justru Anda yang sudah membeliku lalu setelah itu Anda memperlakukan aku seperti seorang pelacur." Pria bernama Hans itu malah terkekeh sarkas. "Anggap saja aku salah, tapi suamimu jauh lebih salah." Hans kembali memindaiku dengan tatapan yang lekat. Kali ini aku menentang sorot matanya. Aku memilih menunjukkan ketegaranku meski saat ini dari dalam aku sudah hancur lebur. "Aku kasihan denganmu. Kesalahan terbesar kamu adalah kamu terlalu pasrah saat dijodohkan oleh orang tuamu dengan pria pemalas seperti Angga." "Anda terlalu sok tahu." Pria yang kuperkirakan telah berusia 40 tahunan itu malah berdecih sinis saat aku mengunggah sebentuk ketegasan. "Nyatanya aku terlalu tahu tentang sejarah hidupmu, dan aku yakin perempuan muda seperti kamu yang dulu hanya anak manja dari sebuah keluarga kaya tak pernah peduli pada apapun atau pada siapapun kecuali hanya kesenangannya sendiri." "Apa maksud kamu?" "Kalau begitu aku tanya apa kamu pernah peduli dengan tamu-tamu yang dijamu oleh orang tuamu di rumah mewah mereka yang sayangnya sudah dijual oleh suamimu itu?" Aku memilih tak menjawab pertanyaannya dan mengambil kesimpulan sendiri. "Apa Mas Angga yang sudah menceritakan semuanya padamu?" Hans terkekeh lagi tapi kali ini terdengar lebih nyaring. "Jadi kamu berpikir jika aku mengetahui semua itu dari Angga?" Aku kembali terdiam. "Bagaimana kalau aku katakan jika dulu aku dan orang tuamu saling mengenal akrab?" Aku kembali dibuat terperanjat mendengar pengakuannya. Tanpa sadar aku menggeleng pelan, berusaha mengingkari pengakuannya yang mengejutkan. "Kami sempat melakukan kerjasama walaupun ...." Pria itu menjeda kalimatnya demi memindai wajahku dengan tatapannya yang beku. Aku membeku, sorot matanya terlalu tajam untuk aku tentang. "Semuanya tidak berjalan baik." "Sudahlah, semua sudah masa lalu, dan Tuhan sudah merencanakan yang terbaik untukku." Hans kembali menekuni piringnya. Tangannya mulai meraih garpu untuk bisa melahap omellete, menu pilihan sarapannya meski saat ini tersaji juga macam hidangan yang lain. "Sekarang makanlah, kamu harus mengisi tenagamu. Kita masih memiliki satu malam yang masih harus dilewati dengan penuh gairah." Dadaku terasa bergemuruh ketika mendengar kalimatnya yang terakhir. Tapi nyatanya lelaki itu terlalu tenang ketika aku menyergapnya dengan tatapan nyalang. Aku mengumbar aura kebencianku padanya dengan terlalu terang. Meski amarahku yang sesungguhnya lebih mengarah pada Mas Angga, sosok suamiku sendiri yang dengan tega telah menjualku. *** Menjelang siang aku memutuskan masuk ke dalam kamar, kala Hans sedang sibuk di ruang kerjanya. Seusai sarapan dia masih sempat memaksaku untuk mengikutinya menjelajahi rumah besarnya seakan dia ingin menunjukkan kekayaannya yang melimpah, meski selama berjalan-jalan dia menjadi lebih banyak diam daripada saat di meja makan tadi. Setelah itu aku dibiarkan sendiri segera aku mengurung diri di dalam kamar demi bisa menelpon Mas Angga dan menumpahkan segala amarah padanya. Namun ketika akhirnya panggilanku diangkat, telingaku malah mendengar suara asing yang segera memancing kecurigaan. Suara seorang wanita. ["Halo?!"] ***Maya POVPonselku kembali bergetar di atas kasur.Nama Fajar muncul di layar.Untuk kesekian kalinya hari ini.Aku menatap layar beberapa saat sebelum akhirnya membiarkannya kembali berhenti sendiri.Hatiku terasa sesak.Sejak meninggalkan rumah Bu Halimah dua hari lalu, Fajar terus menghubungiku tanpa henti.Telepon.Pesan.Bahkan beberapa kali panggilan video.Namun aku belum siap menghadapi semua itu.Aku hanya ingin menenangkan diri.Mencoba berdiri dengan kakiku sendiri.Ponselku kembali berbunyi.Kali ini sebuah pesan masuk.[Kamu di mana?][Tolong kasih tahu aku.][Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja. May, tolong balas pesanku.]Aku menggigit bibir. Kubaca pesannya dengan perasaan tak menentu.Rasa bersalah mulai menggerogoti.Pada akhirnya aku membalas singkat.[Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.]Tak sampai satu menit kemudian telepon kembali masuk.Aku menghela napas panjang.Aku memutuskan mengangkatnya agar Fajar bisa berhenti mengkhawatirkan aku.["Halo."]Ter
"Sudah cukup!"Suara Bu Halimah terdengar lantang memecah keributan.Wanita paruh baya itu segera berdiri di antara aku dan perempuan yang baru saja menamparku."Raisa, jaga bicaramu!" tegurnya tegas.Aku mengerjap bingung.Raisa?Bu Halimah mendekat sedikit kepadaku lalu berbisik pelan."Itu Raisa, istrinya Rizal."Aku membeku, meski perempuan yang memakai outfit mewah di sekujur tubuhnya itu sempat menegaskan tentang status Rizal sebagai suaminya, tapi penjelasan dari Bu Halimah segera menyentak kegelisahanku.Pantas saja dia datang dengan kemarahan seperti itu.Namun aku tetap tidak mengerti.Kenapa dia bisa semarah ini sampai membuatnya nekat mempermalukanku di depan banyak orang?Kalau cuma mendengar suaminya terus menyebutku dalam igauan tidurnya, rasanya alasan itu kurang begitu logis.Raisa mendengus kasar."Bu Halimah jangan ikut campur!""Aku justru harus ikut campur karena kamu sedang membuat fitnah.""Fitnah?" Raisa tertawa sinis. "Suami saya setiap malam menyebut nama per
Maya POVSuara azan Subuh masih belum terdengar.Malam berada di penghujungnya ketika aku masih bersimpuh di atas sajadah.Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan."Ya Allah... lindungilah Dita di mana pun dia berada. Jika memang dia masih hidup, pertemukanlah kami secepatnya."Suaraku lirih.Nyaris seperti bisikan.Aku mengangkat kedua tangan lebih tinggi."Dan jika semua ini adalah ujian, tolong kuatkan aku menjalaninya."Tangisku pecah lagi.Sudah beberapa hari ini aku terbiasa bangun sebelum fajar.Salat tahajud menjadi tempatku mencurahkan semua rasa takut yang selama ini kusimpan sendiri.Saat aku menundukkan kepala, tiba-tiba terdengar suara langkah pelan dari arah pintu.Aku menoleh.Fajar berdiri di sana.Pria itu mengenakan kaus rumah sederhana dengan rambut yang masih sedikit berantakan.Entah sejak kapan dia berdiri memperhatikanku.Aku buru-buru mengusap air mata."Ada apa, Jar?" tanyaku menjadi penasaran dengan keberadaannya di depan kamarku sepagi ini.Fajar menggeleng.Tat
Maya POV"Jar, anakku masih belum aku temukan."Suaraku terdengar pecah.Meski Salman dan Angga sudah tertangkap, kenyataannya Dita masih belum ada di hadapanku.Itulah yang membuat dadaku tetap terasa sesak.Fajar mengusap puncak kepalaku perlahan."Polisi sudah menangkap mereka, May. Sekarang mereka tidak punya banyak pilihan selain bicara.""Tapi kalau mereka tetap diam?""Aku akan cari Dita sampai ketemu."Aku mengangkat wajah.Tatapan Fajar begitu tegas.Tidak ada keraguan sedikit pun di sana."Aku janji."Entah kenapa, hanya dua kata sederhana itu saja sudah cukup membuatku sedikit lebih tenang.Tak lama kemudian polisi mulai meminta keterangan dari semua orang yang berada di lokasi.Aku menjawab pertanyaan demi pertanyaan sambil berusaha mengendalikan emosiku.Setelah semuanya selesai, kami akhirnya keluar dari apartemen mewah yang sejak awal terasa seperti neraka itu.Udara malam langsung menyambut wajahku.Aku menarik napas panjang.Namun baru beberapa langkah menuju area par
Maya POVAku menatap Angga dengan penuh murka.Rasa takut yang tadi memenuhi dadaku perlahan berubah menjadi kemarahan yang membakar."Kurang ajar kamu, Mas!"Suaraku menggema di koridor apartemen."Kamu bohong lagi! Kamu bilang Dita ada di sini!"Angga hanya menyeringai.Senyum licik yang selama ini sangat kubenci."Kalau aku nggak bohong, apa kamu mau ikut?"Aku benar-benar ingin menampar wajahnya saat itu juga."Kamu menjual aku, lagi?" tanyaku dengan suara bergetar."Kamu memang bukan manusia!"Angga mengangkat bahu seolah semua itu bukan masalah besar."Kamu terlalu berlebihan.""Berlebihan?"Air mataku hampir jatuh."Kamu menculik anakmu sendiri, lalu menjadikan aku umpan untuk orang lain!"Angga justru tertawa kecil.Sementara itu Salman melangkah mendekat.Berbeda dengan dulu, kini pria itu berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang cukup lancar."Kamu masih secantik yang aku ingat."Tatapannya membuat bulu kudukku meremang.Aku langsung mundur.Namun sebelum sempat melangkah
Maya POV"Bagaimana?"Aku hampir tak sabar menunggu jawaban dari Fajar.Fajar menaruh ponselnya di atas meja lalu menatapku dengan sorot yang sedikit lebih tenang dibanding beberapa menit lalu."Rizal akan datang ke sini."Aku terdiam sejenak.Nama itu masih mampu membuat perasaanku tidak nyaman.Meski kejadian buruk yang pernah hampir menimpaku sudah berlalu, aku tetap belum bisa melupakan bagaimana Rizal nyaris menghancurkan hidupku saat itu.Namun Fajar tampak yakin."Dia bilang akan membantu."Aku langsung menarik nafas dalam.Fajar segera menatapku lembut."Kamu tak usah khawatir, Rizal sudah aku peringatkan dan aku yakin dia tidak akan bertindak bodoh lagi, jika dia tidak ingin kehilangan segalanya."Fajar berusaha menenangkan aku sembari dia melirik ke arah Bu Halimah yang saat ini masih berada di tengah-tengah kami.Fajar terasa sangat memilih kata-katanya agar tak sampai memantik kecurigaan ibunya sendiri.Sementara saat ini Bu Halimah terlihat mengobrol serius dengan Andien.







