LOGIN["Siapa ini?"] tanyaku lugas saat kudengar suara wanita asing ketika aku menghubungi ponsel suamiku.
Tapi sebelum aku mendengar penjelasan apapun dari perempuan itu segera kudengar suara Mas Angga dari seberang sana. ["Kamu kenapa nelpon aku? Apa Om Hans nggak sama kamu?"] Saat mendengar nada bicaranya yang terlalu santai seakan dia tak merasa bersalah sama sekali atas apa yang sudah dia lakukan padaku, hatiku langsung meradang. Rasa marahku tak lagi bisa aku tahan untuk aku luapkan. ["Kamu brengsek Mas, kamu sudah menjualku. Kamu gila!"] Kukeluarkan segala sumpah serapah. Kumaki semua kebejatannya yang sudah menjerumuskan istrinya sendiri untuk menjadi pelacur. ["Dan sekarang kamu bersenang-senang bersama wanita lain dengan uang yang sudah kamu dapatkan, kamu ...."] Aku sudah kehabisan kata-kata. Nyatanya setiap kata makian yang aku lontarkan sepertinya hanya akan dianggap sebagai angin lalu oleh pria yang sialnya masih berstatus sebagai suamiku itu. Kini aku hanya bisa tergugu kelu terlalu ragu untuk terus menyudutkan lelaki yang terasa terus menggerogoti kehidupanku. Dan sayangnya dia adalah ayah dari anakku sendiri yang segala perhatiannya selama ini begitu dibutuhkan oleh Dita, putriku. Terlepas dari semua kebrengsekannya nyatanya Mas Angga adalah sosok ayah yang baik. Perlakuannya selalu saja terlihat penuh kasih sayang walau dia tetap kurang tanggap dengan kesehatan Dita yang memang sejak awal kehadirannya di dunia sering sakit-sakitan. "Untuk apa kamu menghubungi lelaki itu?" Sebuah suara bariton yang terdengar di belakangku langsung menghentakkan aku dalam keterkejutan. Sontak aku menoleh ke belakang dan melihat Hans sudah bersandar di pintu kamar yang ternyata sudah dibuka. Aku termangu gelisah seraya memandang tatapan matanya yang sudah menelisikku penuh selidik. "Jika aku jadi kamu, aku tak akan menghubungi pria bajingan itu." Perlahan Hans lalu mendekat demi bisa mengambil ponsel dari tanganku dan mematikan panggilan telepon itu. "Kecuali kalau kamu memang cinta setengah mati sama pria tak berguna seperti itu dan bisa dengan senang hati untuk melacurkan dirimu." Aku menentang sorot matanya yang terlihat begitu menghina. Aku sudah terlalu geram dengan segala kalimatnya. "Dia masih suamiku," tukasku tanpa lagi merasa segan. "Suami macam apa yang sudah menjual istrinya sendiri?" Aku kini hanya bisa menunduk. Dia sudah menyudutkan aku dengan hanya memberikan tatapannya. "Apa kamu yakin akan terus bertahan dengan pria brengsek itu?" Hans kembali menegaskan kalimatnya. Sementara aku hanya bisa diam membisu dengan hati yang terus saja digerogoti kebimbangan. "Kukatakan sekali lagi, setelah ini bukan hanya aku pria yang akan menikmati tubuhmu tapi akan ada pria-pria lain yang dia datangkan dengan imbalan sejumlah uang." Aku langsung menggeleng ngeri membayangkan semua itu. Hans malah mencibir melihat pengingkaranku yang terlalu lemah. "Sudah kukatakan dia tak pernah menganggapmu sebagai istri tapi sebuah properti yang bisa diperjualbelikan." Kini aku tak lagi bisa menahan tangisku. Semua yang dikatakannya terasa terlalu benar walau pria itu tetap sama brengseknya dengan sosok yang mengaku sebagai suamiku. "Sekarang bagaimana jika aku memberimu penawaran?" Aku termangu kian memusatkan perhatian pada sosoknya yang sedang berdiri tepat di depanku, terasa begitu dominan. "Ikutlah denganku, jadilah wanitaku." Kedua mataku membeliak resah memandangnya. "Aku bukan hanya akan menjamin semua kebutuhanmu tapi juga akan memberikan kemewahan yang bahkan lebih dari yang pernah kamu dapatkan saat kedua orang tuamu masih hidup." Tanpa sadar aku malah ternganga. Sebuah ekspresi yang harusnya tak boleh aku tunjukkan kepada pria oportunis seperti dirinya. "Tapi ada syaratnya." Aku masih terdiam beku. "Tinggalkan anakmu yang sakit-sakitan itu. Biar Angga yang merawatnya karena kulihat dia cukup sayang sama anaknya." Sontak aku menggeleng. Setelah itu aku memalingkan muka, menjadi terlalu muak untuk sekedar melihat wajahnya yang sebenarnya tergolong tampan itu. "Kamu gila," desisku geram. "Lebih gila suamimu yang sudah tidak punya otak itu," bantah Hans tegas. Aku memilih diam daripada menanggapi kata-katanya yang selalu saja terdengar menyakitkan. Tapi ketika aku hendak berbalik dan meninggalkannya, Hans malah menarik tanganku, dan dengan sekali hentakan dia membawa tubuhku langsung masuk ke dalam dekapannya. Tenaga pria itu terlalu kuat untuk bisa aku lawan. Meski aku meronta keras dalam dekapannya yang erat. Hans tetap bergeming malah kali ini tangannya mulai bergerak mengelus punggungku. "Kamu tahu perlawanan kamu yang setengah hati seperti ini malah membuatmu terlihat semakin menarik." Hans kemudian mendekatkan bibirnya di telingaku. "Kamu membuatku bergairah," bisiknya seduktif. Aku terhenyak gerah namun sebelum aku menyadari apapun, kedua tangannya yang kuat sudah mengangkat tubuhku. Dengan gampangnya dia menggendongku lalu meletakkan tubuhku dengan hati-hati di atas tempat tidur. Aku kian gelisah. Dengan segala ucapannya juga saat melihat tatapannya yang seperti singa lapar sebagai wanita dewasa aku sangat tahu apa yang akan dilakukannya. Namun aku tetap tak mau pasrah. Aku akan merasa kian terhina jika pasrah begitu saja. Aku kembali meronta berusaha membebaskan diri dari kuasanya. Akan tetapi sekali lagi tenagaku selalu tak sebanding. Pada akhirnya aku dibuatnya tak berdaya dibawah kukungannya yang terus memacu tubuhku dengan segala hasratnya yang selalu saja begitu besar nyaris tak sanggup untuk aku imbangi. *** Tubuhku terasa begitu remuk. Namun hingga tengah malam aku masih terjaga. Aku masih belum beranjak dari ranjang meski aku bisa merasakan Hans telah bangkit bahkan meninggalkan kamar. Sampai beberapa menit kemudian aku memutuskan untuk menurunkan kedua kakiku di lantai dekat ranjang sambil meraih sehelai jubah tidur di dekat ranjang, sebelum akhirnya berdiri. Aku berniat untuk membersihkan tubuhku yang terasa begitu kotor ke kamar mandi. Namun sebelum mencapai kamar mandi mendadak mataku menangkap sebuah foto di layar monitor laptop yang pastinya milik Hans yang ternyata masih menyala. Foto itu langsung menarik perhatianku. Sebuah foto yang memampang wajah Hans yang kulihat masih lebih muda dengan seseorang yang begitu aku kenal, yang kini bahkan hanya bisa aku rindukan, foto Hans bersama papaku. 'Papa?' ***Maya POVLangkahku terasa jauh lebih ringan pagi itu.Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku berjalan keluar dari kawasan perumahan tanpa ditemani siapa pun. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahku, membuatku mengembuskan napas panjang.Rasanya menyenangkan.Bebas.Aku terus berjalan hingga tiba di jalan raya, lalu mengangkat tangan memanggil sebuah taksi."Ke Jalan Melati, Pak.""Baik, Bu."Mobil melaju membelah jalanan kota.Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang ke kontrakan kecil yang pernah kutinggali.Masih ada beberapa pakaian.Album foto Dita.Beberapa buku.Dan sebuah kotak kecil berisi kenangan yang belum sempat kubawa.Aku hanya ingin mengambil semuanya, lalu kembali sebelum Hans mengetahui aku keluar rumah.Mungkin...Dia bahkan tidak akan sadar.Sekitar tiga puluh menit kemudian...Taksi berhenti tepat di depan gang menuju kontrakanku."Terima kasih, Pak."Aku membayar ongkos lalu turun.Baru beberapa langkah aku berjalan...Sebuah mobil hitam berhenti mendadak tepa
Maya POVAku masih menatap Hans dengan bingung."Memangnya apa yang lebih seru?"Sudut bibirnya terangkat tipis."Kamu akan tahu sendiri."Tanpa menjelaskan apa pun, Hans kembali berjalan menuju mobil. Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya mengikuti langkahnya.Sekitar tiga puluh menit kemudian mobil berhenti di sebuah taman bermain yang cukup ramai.Aku menoleh heran."Kita ke sini?"Hans mengangguk santai."Iya.""Aku bukan anak kecil.""Memangnya yang boleh main di sini cuma anak kecil?"Aku terdiam.Hans sudah lebih dulu berjalan menuju loket pembelian tiket.Beberapa menit kemudian ia kembali sambil menyerahkan satu gelang masuk kepadaku."Pakai."Aku menerima gelang itu dengan ragu."Serius?""Kalau nggak serius, buat apa aku bayar mahal?"Aku hanya mendengus pelan.Entah sejak kapan pria itu selalu punya cara membuatku kehabisan kata-kata.Begitu memasuki area taman bermain, suara tawa para pengunjung memenuhi udara.Anak-anak berlarian.Musik ceria terdengar dari berbagai
Maya POV"Maya."Suara itu membuatku spontan menoleh.Jantungku langsung berdebar keras.Fajar berdiri beberapa meter di depanku dengan balutan jas pengantin berwarna putih gading. Senyum hangat masih menghiasi wajahnya, tetapi sorot matanya menyimpan haru yang begitu dalam.Untuk sesaat, dunia di sekelilingku seperti berhenti.Aku sudah mempersiapkan diri selama seminggu penuh untuk menghadapi hari ini.Namun semua ketegaran yang kubangun seolah runtuh hanya karena melihatnya.Hari ini...Fajar benar-benar menjadi mempelai pria.Langkahnya mendekat."Maya..."Nada suaranya tetap sama seperti dulu. Hangat. Menenangkan."Aku senang kamu datang."Aku memaksakan senyum meski terasa begitu berat."Selamat, Jar."Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibirku.Fajar tersenyum tipis."Terima kasih."Tatapannya sempat bergetar."Aku tahu datang ke sini pasti nggak mudah buat kamu."Aku hanya mengangguk pelan.Tak ada gunanya lagi mengungkapkan apa yang kurasakan.Semuanya sudah terlambat.
Maya POVAku masih berdiri membelakanginya.Ruangan kembali sunyi.Hans tak lagi memaksaku bicara. Ia hanya berdiri beberapa langkah di belakangku, seolah menungguku membuka hati dengan kemauanku sendiri.Entah kenapa, justru sikap diamnya membuat dadaku terasa semakin sesak.Aku menarik napas panjang."Ada yang mau kuceritakan."Suara itu akhirnya keluar, meski terdengar begitu lirih.Hans langsung mengangkat wajah. Tatapannya segera memindaiku.Aku menelan ludah."Tadi... Fajar menelepon."Sorot mata Hans berubah."Jadi dia yang sudah membuat kamu menangis."Hans melemparkan dugaannya dengan nada yang terdengar datar.Aku membisu sesaat sambil membalas tatapannya."Dia akan menikah minggu depan."Aku kembali merasakan sesak yang sama seperti beberapa jam lalu."Dia memintaku datang."Hans mencebik tipis."Dia sudah membuat pilihan yang tepat."Aku terperangah menjadi tak bisa menyembunyikan kekesalanku. Kedua mataku sedikit membeliak padanya.Hans malah mengedikkan kedua bahu tipis.
PBN 120Maya POVAku memejamkan mata, berusaha meredam isak yang kembali memenuhi dada.Suara Fajar terdengar pelan dari seberang sana.["May... boleh aku meminta satu hal padamu? Anggap saja ini permintaan terakhirku."]Jantungku kembali berdegup tak beraturan.Aku menggenggam ponsel semakin erat.["Katakan... apa permintaanmu, Jar?"]Hening beberapa saat.Seolah Fajar sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya.Lalu...["Datanglah ke pernikahanku."]Aku membeku.["Aku ingin... kamu mendampingiku sebelum akad dimulai."]Napas seolah berhenti."Apa?"Kalimat itu nyaris lolos dari bibirku.["Aku tahu permintaan ini egois."]["Tapi aku benar-benar ingin kamu dampingi demi meyakinkan diriku sendiri jika apa yang sudah aku pilih ini adalah sesuatu yang benar."]Aku membeku mendengar permintaan Fajar yang terasa sulit untuk dikabulkan.Saat ini aku bahkan menjadi kian sulit untuk menahan laju air mataku."Jar..."["Tolong..."]Suaranya mulai bergetar.["Aku ingin orang terakhir ya
Maya POV"Hans... lepaskan aku."Aku kembali berusaha menarik pergelangan tanganku, tetapi cengkeramannya justru semakin erat."Aku nggak akan membiarkan kamu pergi menemui Fajar."Nada suaranya terdengar tenang, tetapi ketegasan di dalamnya membuatku semakin marah."Kamu nggak berhak mengatur hidupku!""Aku memang belum berhak."Hans menatapku tanpa berkedip."Tapi aku hanya ingin menenangkan diriku saja."Aku langsung membeliak kesal."Maksud kamu?"Beberapa pasang mata mulai memperhatikan kami.Hans seolah tak peduli.Ia justru menarikku berdiri. Dia sama sekali tak menjelaskan kalimatnya tadi."Ayo pulang.""Pulang?"Aku mengernyit."Ke mana?""Ke rumah.""Aku punya rumah sendiri!""Bukan rumah itu."Hans berjalan sambil tetap menggenggam tanganku."Rumah yang kubelikan untukmu."Aku spontan menghentikan langkah."Aku nggak mau!""Kamu boleh marah.""Tapi hari ini kamu tetap ikut denganku."Aku benar-benar kehilangan kesabaran."Hans! Jangan paksa aku!"Namun semua protesku sama s
Angga POV“Ke mana perempuan itu pergi sialan!”Aku membanting pintu kamar hotel hingga bergetar keras. Napasku memburu saat mendapati kamar itu kosong. Selimut berantakan. Gelas minuman masih tersisa di meja. Tapi Maya tidak ada.Padahal beberapa jam lalu aku sendiri yang mengantarnya ke sini.Tan
Maya POV“Kamu…?!”Aku memegang dada yang berdebar kencang saat melihat Andien berdiri di belakangku sambil mendelik kesal.“Ya Allah Andien, aku kira siapa. Aku sampai mau pingsan,” desisku setengah kesal.Andien malah terkekeh melihat ekspresi kekagetanku.“Ngapain kamu berdiri di sini kayak mali
Ada rasa berat saat aku berusaha membuka mata. Semuanya terasa samar hanya remang-remang.Perlu beberapa lama aku beradaptasi sampai akhirnya aku menyadari keberadaanku.Langit-langit putih. Bau obat yang menyengat. Suara mesin yang berdetak pelan.Jelas sekarang aku sudah berada di rumah sakit.Ak
Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se







