Share

54. Impian Bersama

Penulis: Mastuti Rheny
last update Tanggal publikasi: 2026-05-12 19:01:40

"May, maukah kamu menikah denganku?"

Aku terkesiap mendengar permintaannya.

Pada akhirnya aku menunduk dan tanpa sadar menarik tanganku dari genggamannya.

Aku mendesah panjang sebelum kemudian kembali menatap wajah Fajar kembali yang terlihat memendam harapan besar.

"Jar, kamu terlalu emosional, dan rasanya semua sangat tak adil untuk kamu, Jar," jawabku dengan hati-hati.

Fajar mendengus berat. Keningnya langsung mengernyit lugas.

"Tak adil apa maksud kamu?"

"Jar, kumohon bukalah mata kamu, lih
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
duh Maya. hati hati ..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    95. Cerai.

    "Apa kamu yakin akan menikahi Maya?"Pertanyaan Rizal menyiratkan sebuah keingintahuan yang menggelisahkan."Aku merasa pertanyaan kamu mengandung sebuah kesinisan, apa kamu mulai ikut menghakimi Maya juga?"Rizal menggeleng gundah."Jangan salah paham, aku hanya tak ingin kamu menyesali keputusan yang kamu buat.""Apa yang terjadi tak pernah benar-benar menjadi pilihannya, kamu pasti sudah tahu bagaimana ceritanya Maya sampai terjerumus dalam dunia kotor itu.""Semua karena suaminya, pria brengsek yang tak punya hati itu.""Aku tak pernah menghakimi Maya, kalau saat ini dia tak bersamamu, aku yang akan melindunginya dan aku selalu bisa seluruh dirinya secara utuh tanpa mempedulikan masa lalunya."Rizal langsung menimpali."Jangan bilang kalau kamu menunggu aku menyerah."Rizal menggeleng pelan."Aku hanya tak mau kamu menghancurkan kehidupan kamu, setelah perjuangan kamu selama ini."Rizal memandangku lurus."Lalu bagaimana dengan ibu kamu? Apa kamu sudah mengatakan pada beliau tenta

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    94. Curhatan Rizal

    Fajar POVAku hanya bisa menatap Maya tanpa berkedip.Di bawah cahaya lampu ruang keluarga yang redup, wajahnya tampak begitu tenang. Hijab berwarna lembut membingkai wajahnya yang sejak dulu selalu berhasil membuatku lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal.Bahkan setelah semua yang kami lalui...Bahkan setelah begitu banyak air mata yang jatuh...Bagiku Maya tetap perempuan paling cantik yang pernah kutemui."Memangnya apa yang nggak bisa kamu dapatkan?" tanyanya pelan.Aku tersenyum hambar."Kamu."Seketika senyumnya memudar.Tatapan kami bertemu.Aku bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca."Nyatanya sampai sekarang aku masih begitu sulit untuk meyakinkan kamu."Suasana kembali sunyi.Hanya suara jam dinding yang terdengar berdetak pelan."Sebelumnya aku sudah berusaha menerima semuanya," lanjutku lirih. "Aku berharap kamu bisa menjalani hidup kamu dengan bahagia dan aku bisa melanjutkan hidupku dengan tenang."Aku menarik napas panjang."Nyatanya yang kulihat sekarang ... k

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    93. Fajar Yang Keras Kepala

    Maya POV Sejak keluar dari rumah Bu Halimah, suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi. Aku duduk memandangi jalanan di luar jendela, sementara Fajar fokus menyetir tanpa banyak bicara. Awalnya aku mengira kami benar-benar sedang menuju kontrakanku. Namun setelah beberapa puluh menit berlalu, aku mulai menyadari ada yang tidak beres. "Jar." "Hm?" Aku menoleh ke arahnya. "Ini bukan jalan ke kontrakanku." Fajar tidak langsung menjawab. Tangannya tetap menggenggam kemudi dengan erat. "Jar?" "Aku tahu." Aku langsung mengernyit. "Kamu mau bawa aku ke mana?" "Ke tempat yang lebih baik daripada kontrakan kamu," tegas Fajar dingin. Aku menatapnya tidak percaya. "Jar, cepat putar balik, antar aku ke kontrakan saja." Aku mulai mendesaknya dengan mengunggah nada jengkel. Fajar mengembuskan napas panjang. "Sudah aku bilang aku nggak akan mengantarkan kamu ke kontrakan itu." Seketika emosiku tersulut. "Fajar!" "Aku serius." "Aku juga serius." Aku l

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    92. Pergi

    Maya POV"Fajar!"Suara Bu Halimah terdengar tegas hingga membuat kami berdua menoleh secara bersamaan.Aku langsung menundukkan kepala mulai merasa tak enak mendapati tatapan kecewa Bu Halimah pada putranya sesuatu yang sangat jarang terjadi."Kamu kok malah ngobrol sama Maya di sini? Katanya tadi cuma mau ambil minum sebentar?""Aku cuma cari angin di sini, Bu," jawab Fajar sekenanya.Sungguh aku tak pernah melihat Fajar membantah ibunya sendiri, sosok yang setahuku selalu dia hormati dan dia sayangi."Ayo temuin Anisa lagi," desak Bu Halimah sedikit memaksa."Anisa mau pulang sebentar lagi. Masa kamu malah ngobrol di belakang terus?" tegur Bu Halimah.Fajar mengusap tengkuknya pelan."Iya Bu, nanti aku ke depan," ucap Fajar dengan enggan."Bukan nanti. Sekarang."Nada suara Bu Halimah terdengar tak bisa dibantah.Aku bisa melihat rahang Fajar mengeras sesaat sebelum akhirnya ia berdiri."Oke, aku ke depan dulu."Sebelum pergi, Fajar sempat menatapku."Nanti kita ngobrol lagi."Aku

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    91. Kedatangan Anisa.

    Maya POV"Maukah kamu menikah denganku May?"Lamaran Fajar sontak mengagetkan aku. Keseriusannya malah menambah perih di hatiku.Aku sudah terlalu pesimis dengan kisah kami. Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan kembali terutama tentang perasaan Bu Halimah.Aku menatapnya lama yang kini justru juga diiringi dengan air mata.Fajar langsung mendekat tangannya segera terulur ia ingin menghapus jejak basah di mataku.Namun aku langsung berpaling dan menghapus air mataku sendiri."May ....?"Aku menggeleng dengan air mata yang kembali berderai."Aku masih berduka Jar, bahkan kuburan Dita masih basah, aku tak sanggup untuk ...."Aku tak melanjutkan kalimatku.Saat mengingat putriku aku kian tak bisa menyembunyikan kesedihanku. Nyatanya rasa dukaku bisa aku jadikan alasan untuk mengabaikan lamaran Fajar tanpa harus merasa bersalah karena menolaknya."Maafkan aku May, aku tak bermaksud untuk tak peduli dengan rasa duka kamu, aku terlalu emosional karena mendengar kehidupan kamu yang m

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    90. Lamaran Fajar

    Maya POVAku menatap Fajar cukup lama.Permintaannya menggantung di antara kami, membuat dadaku terasa sesak oleh berbagai perasaan yang bahkan sulit kujelaskan.Jujur saja, aku tidak ingin kembali bergantung pada siapa pun.Tapi dalam kondisi seperti sekarang, aku juga tidak memiliki tenaga untuk memulai semuanya dari awal.Aku terlalu lelah.Terlalu hancur.Pada akhirnya aku mengangguk pelan."Iya, Jar."Untuk pertama kalinya sejak pemakaman Dita, kulihat senyum tulus mengembang di wajah Fajar.Pria itu terlihat begitu lega."Sungguh?"Aku kembali mengangguk."Asal cuma sementara."Tatapan Fajar langsung melembut."Tidak masalah. Yang penting kamu tidak sendirian."Aku menundukkan kepala.Entah kenapa, mendengar kalimat itu justru membuat hatiku semakin perih.Karena orang yang paling ingin menemaniku saat ini sudah tidak ada lagi.Dita."Aku janji aku akan selalu menjagamu, May, dengan sepenuh hatiku."Aku termangu kelu mendengar janji Fajar yang terdengar terucap dengan begitu sun

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    34. Tak Ingin Lagi Bertahan

    “Jelas kamu sedang membayangkan pria itu!”Suara Mas Angga terdengar tajam, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimutiku.Aku menoleh perlahan.Dia berdiri di ambang pintu kamar, tatapannya jatuh tepat ke arah gaun yang masih kupeluk. Wajahnya keras, rahangnya mengatup, dan matanya… penuh sesua

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    33. Hanyut Dalam Kenangan

    “Sekarang aku mau tanya, bagaimana caranya kita membayar tagihan rumah sakit nanti?”Pertanyaanku menggantung di udara, berat, menekan, dan menuntut jawaban yang tak bisa lagi ditunda.Mas Angga tidak langsung menjawab.Dia hanya diam. Terlalu lama.Dan dari diamnya itu… aku sudah tahu.“Aku lagi u

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    32. Bukan Kepala Keluarga Yang Bertanggung Jawab

    Aku menatap wajah Mas Angga tanpa ekspresi.Tak ada lagi amarah yang meledak-ledak seperti sebelumnya.Tak ada lagi air mata yang ingin jatuh.Yang tersisa… hanya beku, saat akhirnya dia berdiri di hadapanku, setelah aku mengirimkan padanya video yang sudah aku dapat dari Nelly.“Maya, aku bisa jel

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    31. Fakta Yang Dibawa Nelly

    “Aku dapat dari mana?” ulang wanita itu—Nelly—dengan nada datar, seolah pertanyaanku terlalu sederhana untuk dijawab.Aku menatapnya tajam. “Jawab.”Dia tidak tersenyum lagi. Kali ini wajahnya serius, bahkan cenderung dingin.“Aku punya akses ke restoran itu,” ucapnya tenang. “Bahkan tempat yang se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status