Share

92. Pergi

Author: Mastuti Rheny
last update publish date: 2026-06-24 21:00:34

Maya POV

"Fajar!"

Suara Bu Halimah terdengar tegas hingga membuat kami berdua menoleh secara bersamaan.

Aku langsung menundukkan kepala mulai merasa tak enak mendapati tatapan kecewa Bu Halimah pada putranya sesuatu yang sangat jarang terjadi.

"Kamu kok malah ngobrol sama Maya di sini? Katanya tadi cuma mau ambil minum sebentar?"

"Aku cuma cari angin di sini, Bu," jawab Fajar sekenanya.

Sungguh aku tak pernah melihat Fajar membantah ibunya sendiri, sosok yang setahuku selalu dia hormati dan dia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
ribet ya .....kasihan Maya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    92. Pergi

    Maya POV"Fajar!"Suara Bu Halimah terdengar tegas hingga membuat kami berdua menoleh secara bersamaan.Aku langsung menundukkan kepala mulai merasa tak enak mendapati tatapan kecewa Bu Halimah pada putranya sesuatu yang sangat jarang terjadi."Kamu kok malah ngobrol sama Maya di sini? Katanya tadi cuma mau ambil minum sebentar?""Aku cuma cari angin di sini, Bu," jawab Fajar sekenanya.Sungguh aku tak pernah melihat Fajar membantah ibunya sendiri, sosok yang setahuku selalu dia hormati dan dia sayangi."Ayo temuin Anisa lagi," desak Bu Halimah sedikit memaksa."Anisa mau pulang sebentar lagi. Masa kamu malah ngobrol di belakang terus?" tegur Bu Halimah.Fajar mengusap tengkuknya pelan."Iya Bu, nanti aku ke depan," ucap Fajar dengan enggan."Bukan nanti. Sekarang."Nada suara Bu Halimah terdengar tak bisa dibantah.Aku bisa melihat rahang Fajar mengeras sesaat sebelum akhirnya ia berdiri."Oke, aku ke depan dulu."Sebelum pergi, Fajar sempat menatapku."Nanti kita ngobrol lagi."Aku

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    91. Kedatangan Anisa.

    Maya POV"Maukah kamu menikah denganku May?"Lamaran Fajar sontak mengagetkan aku. Keseriusannya malah menambah perih di hatiku.Aku sudah terlalu pesimis dengan kisah kami. Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan kembali terutama tentang perasaan Bu Halimah.Aku menatapnya lama yang kini justru juga diiringi dengan air mata.Fajar langsung mendekat tangannya segera terulur ia ingin menghapus jejak basah di mataku.Namun aku langsung berpaling dan menghapus air mataku sendiri."May ....?"Aku menggeleng dengan air mata yang kembali berderai."Aku masih berduka Jar, bahkan kuburan Dita masih basah, aku tak sanggup untuk ...."Aku tak melanjutkan kalimatku.Saat mengingat putriku aku kian tak bisa menyembunyikan kesedihanku. Nyatanya rasa dukaku bisa aku jadikan alasan untuk mengabaikan lamaran Fajar tanpa harus merasa bersalah karena menolaknya."Maafkan aku May, aku tak bermaksud untuk tak peduli dengan rasa duka kamu, aku terlalu emosional karena mendengar kehidupan kamu yang m

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    90. Lamaran Fajar

    Maya POVAku menatap Fajar cukup lama.Permintaannya menggantung di antara kami, membuat dadaku terasa sesak oleh berbagai perasaan yang bahkan sulit kujelaskan.Jujur saja, aku tidak ingin kembali bergantung pada siapa pun.Tapi dalam kondisi seperti sekarang, aku juga tidak memiliki tenaga untuk memulai semuanya dari awal.Aku terlalu lelah.Terlalu hancur.Pada akhirnya aku mengangguk pelan."Iya, Jar."Untuk pertama kalinya sejak pemakaman Dita, kulihat senyum tulus mengembang di wajah Fajar.Pria itu terlihat begitu lega."Sungguh?"Aku kembali mengangguk."Asal cuma sementara."Tatapan Fajar langsung melembut."Tidak masalah. Yang penting kamu tidak sendirian."Aku menundukkan kepala.Entah kenapa, mendengar kalimat itu justru membuat hatiku semakin perih.Karena orang yang paling ingin menemaniku saat ini sudah tidak ada lagi.Dita."Aku janji aku akan selalu menjagamu, May, dengan sepenuh hatiku."Aku termangu kelu mendengar janji Fajar yang terdengar terucap dengan begitu sun

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    89. Permintaan Fajar

    Maya POVAku bahkan tidak ingat bagaimana caranya aku bisa kembali berdiri setelah mendengar vonis dokter malam itu.Semuanya terasa kosong.Suara-suara di sekitarku terdengar samar.Tangisku sudah tak lagi sekeras sebelumnya, tetapi rasa sakit yang menggerogoti dada justru semakin dalam.Seolah ada bagian dari diriku yang ikut mati bersama Dita.Aku hanya duduk di kursi rumah sakit sambil memandangi pintu ruangan tempat tubuh kecil putriku berada.Putriku.Anak yang selama ini kuperjuangkan. Hingga aku sanggup mengorbankan apapun demi kebahagiaannya.Tapi kini aku harus mengikhlaskan kepergiannya, padahal aku baru saja berhasil menemukan setelah sekian lama kami dipisahkan oleh keadaan yang sulit."Maya."Suara Fajar terdengar pelan.Aku tidak menjawab, masih termangu, hanyut dalam kesedihan.Aku bisa merasakan Fajar mulai mendekat, dia kemudian duduk di dekatku."May, ada beberapa hal yang harus segera diurus."Aku menoleh perlahan.Mataku terasa bengkak dan perih."Kuatkan dirimu M

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    88. Menemukan Dita

    Maya POV"Sudahlah sekarang cepat tunjukkan saja di mana kamu sembunyikan Dita?"Suara Fajar terdengar keras menggema di lorong apartemen mewah itu.Mama Asha mendengkus sinis."Kalian ini benar-benar merepotkan."Perempuan itu berjalan menuju lift tanpa menunggu kami. Aku segera mengikuti di belakangnya bersama Fajar dan Pak Dimas.Jantungku berdegup begitu cepat.Sebentar lagi aku akan bertemu Dita.Anakku.Putri kecil yang selama ini selalu kurindukan.Lift berhenti di salah satu lantai atas. Mama Asha keluar lebih dulu lalu berjalan menuju sebuah unit yang berada di ujung koridor.Tangannya memasukkan kode akses.Pintu terbuka perlahan."Masuklah kalau memang kalian tidak sabar sekali."Aku tak menunggu lebih lama.Begitu masuk, mataku langsung menyapu seluruh ruangan.Apartemen itu sangat luas dan mewah.Namun suasananya terasa dingin.Sepi.Tidak seperti rumah yang dihuni seorang anak kecil."Di mana Dita?" tanyaku tidak sabar.Mama Asha melipat kedua tangan di dada."Kamu meman

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    87. Kesombongan Asha

    "Jadi Dita ada sama Mama?" tanyaku penuh rasa ingin tahu.Mama Asha malah melengos saat aku menatapnya lurus."Dita jauh lebih terurus sama aku, malah rencananya aku akan membawanya ke Taiwan," tegas perempuan yang sudah melahirkan Mas Angga ke dunia itu.Aku terperangah kelu. Jelas aku akan menentang rencana itu. Dita adalah putriku dan harusnya aku yang mengasuh dan merawatnya."Aku tidak akan membiarkan Mama melakukan itu, Dita putriku dan seharusnya Dita tinggal bersamaku."Aku langsung menyela sengit."Jadi putri Mbak Maya ada bersama Nyonya?" tanya penyidik itu yang sejak tadi sudah mencecar Mas Angga untuk mengetahui keberadaan Dita.Mama Asha malah mengunggah tatapan yang tajam dengan gestur tubuh seperti menantang."Iya, memangnya salah seorang nenek merawat cucunya?""Ibunya yang lebih berhak untuk mengasuhnya, saya harap Nyonya bisa memahami itu.""Ndak, aku nggak mau menyerahkan cucuku pada pelacur seperti dia!" seru Mama Asha sembari jarinya menuding sengit ke arahku.Aku

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    52. Gadis Manja

    "Siapa wanita yang dimaksud Bella?" tanya ibu yang kini mulai menjadi penasaran.Aku melirik pada ibu yang terlihat sangat serius sekarang.Sedikit ragu untuk mengungkapkannya pada ibu, tapi aku juga tak sanggup untuk membohongi ibu."Jadi karena wanita itu kamu tadi siang menolak makan siang di ru

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    51. Makan Malam Dalam Rajukan

    Meski masih dipenuhi rasa ingin tahu, aku memilih mengabaikan rasa penasaranku dan fokus untuk bisa segera sampai di rumah ibu.Seperti biasa ibu menyambut kepulanganku dengan ekspresi beliau yang penuh rasa bahagia.Segera kucium punggung tangannya dengan takzim sebelum aku masuk dan melepas sepat

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    50. Menghabiskan Waktu Bersama

    "Mas Fajar?" Panggilan itu segera membuatku menoleh. Segera kulihat wajah Bella di sana, adik dari temanku Rizal yang selama ini terkesan selalu ingin menarik perhatianku."Bella," sebutku gamang pada sosok yang selalu menampakkan senyum lebarnya ketika di hadapanku."Lagi belanja Mas?""Iya," jaw

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    49. Bahagia Bersama

    POV Fajar["Bagaimana Jar, bisa kan kamu nanti makan siang di rumah?"]["Kamu mau dimasakin apa nanti?"]Nada bicara ibu sudah terdengar sangat antusias.Hati ini menjadi dilema. Rasanya aku akan sangat bersalah jika tak memenuhi keinginan ibu yang terasa sudah begitu merindukan aku, karena menging

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status