تسجيل الدخولFajar POV"Jadi kamu akan menceraikan aku?"Suara Raisa bergetar, tetapi bukan karena sedih.Melainkan karena amarah yang mulai meledak tanpa kendali.Aku menoleh ke arah Rizal. Wajah sahabatku itu langsung mengeras. Tatapannya tampak pasrah, seolah tak pernah membayangkan rahasia itu akan terbongkar dengan cara seperti ini."Zal... jawab aku!" bentak Raisa sambil mencengkeram lengan suaminya.Rizal melepaskan tangan itu perlahan."Aku memang berniat mengajukan gugatan cerai."Kalimat itu terdengar pelan.Namun cukup untuk membuat dunia Raisa seakan runtuh."Apa?"Raisa mundur beberapa langkah sambil menggeleng keras."Kamu bohong... kamu pasti bohong!""Aku tidak sedang bercanda.""Tidak!" teriak Raisa histeris. "Aku selama ini jadi istri yang selalu menemani kamu! Apa kurangnya aku?"Rizal menarik napas panjang."Kamu pikir saja sendiri," sergah Rizal geram."Pasti karena perempuan itu, kan!" tuduh Raisa histeris."Kamu benar-benar sangat menyebalkan, kenapa kamu tak mau introspeksi
"Apa kamu yakin akan menikahi Maya?"Pertanyaan Rizal menyiratkan sebuah keingintahuan yang menggelisahkan."Aku merasa pertanyaan kamu mengandung sebuah kesinisan, apa kamu mulai ikut menghakimi Maya juga?"Rizal menggeleng gundah."Jangan salah paham, aku hanya tak ingin kamu menyesali keputusan yang kamu buat.""Apa yang terjadi tak pernah benar-benar menjadi pilihannya, kamu pasti sudah tahu bagaimana ceritanya Maya sampai terjerumus dalam dunia kotor itu.""Semua karena suaminya, pria brengsek yang tak punya hati itu.""Aku tak pernah menghakimi Maya, kalau saat ini dia tak bersamamu, aku yang akan melindunginya dan aku selalu bisa seluruh dirinya secara utuh tanpa mempedulikan masa lalunya."Rizal langsung menimpali."Jangan bilang kalau kamu menunggu aku menyerah."Rizal menggeleng pelan."Aku hanya tak mau kamu menghancurkan kehidupan kamu, setelah perjuangan kamu selama ini."Rizal memandangku lurus."Lalu bagaimana dengan ibu kamu? Apa kamu sudah mengatakan pada beliau tenta
Fajar POVAku hanya bisa menatap Maya tanpa berkedip.Di bawah cahaya lampu ruang keluarga yang redup, wajahnya tampak begitu tenang. Hijab berwarna lembut membingkai wajahnya yang sejak dulu selalu berhasil membuatku lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal.Bahkan setelah semua yang kami lalui...Bahkan setelah begitu banyak air mata yang jatuh...Bagiku Maya tetap perempuan paling cantik yang pernah kutemui."Memangnya apa yang nggak bisa kamu dapatkan?" tanyanya pelan.Aku tersenyum hambar."Kamu."Seketika senyumnya memudar.Tatapan kami bertemu.Aku bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca."Nyatanya sampai sekarang aku masih begitu sulit untuk meyakinkan kamu."Suasana kembali sunyi.Hanya suara jam dinding yang terdengar berdetak pelan."Sebelumnya aku sudah berusaha menerima semuanya," lanjutku lirih. "Aku berharap kamu bisa menjalani hidup kamu dengan bahagia dan aku bisa melanjutkan hidupku dengan tenang."Aku menarik napas panjang."Nyatanya yang kulihat sekarang ... k
Maya POV Sejak keluar dari rumah Bu Halimah, suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi. Aku duduk memandangi jalanan di luar jendela, sementara Fajar fokus menyetir tanpa banyak bicara. Awalnya aku mengira kami benar-benar sedang menuju kontrakanku. Namun setelah beberapa puluh menit berlalu, aku mulai menyadari ada yang tidak beres. "Jar." "Hm?" Aku menoleh ke arahnya. "Ini bukan jalan ke kontrakanku." Fajar tidak langsung menjawab. Tangannya tetap menggenggam kemudi dengan erat. "Jar?" "Aku tahu." Aku langsung mengernyit. "Kamu mau bawa aku ke mana?" "Ke tempat yang lebih baik daripada kontrakan kamu," tegas Fajar dingin. Aku menatapnya tidak percaya. "Jar, cepat putar balik, antar aku ke kontrakan saja." Aku mulai mendesaknya dengan mengunggah nada jengkel. Fajar mengembuskan napas panjang. "Sudah aku bilang aku nggak akan mengantarkan kamu ke kontrakan itu." Seketika emosiku tersulut. "Fajar!" "Aku serius." "Aku juga serius." Aku l
Maya POV"Fajar!"Suara Bu Halimah terdengar tegas hingga membuat kami berdua menoleh secara bersamaan.Aku langsung menundukkan kepala mulai merasa tak enak mendapati tatapan kecewa Bu Halimah pada putranya sesuatu yang sangat jarang terjadi."Kamu kok malah ngobrol sama Maya di sini? Katanya tadi cuma mau ambil minum sebentar?""Aku cuma cari angin di sini, Bu," jawab Fajar sekenanya.Sungguh aku tak pernah melihat Fajar membantah ibunya sendiri, sosok yang setahuku selalu dia hormati dan dia sayangi."Ayo temuin Anisa lagi," desak Bu Halimah sedikit memaksa."Anisa mau pulang sebentar lagi. Masa kamu malah ngobrol di belakang terus?" tegur Bu Halimah.Fajar mengusap tengkuknya pelan."Iya Bu, nanti aku ke depan," ucap Fajar dengan enggan."Bukan nanti. Sekarang."Nada suara Bu Halimah terdengar tak bisa dibantah.Aku bisa melihat rahang Fajar mengeras sesaat sebelum akhirnya ia berdiri."Oke, aku ke depan dulu."Sebelum pergi, Fajar sempat menatapku."Nanti kita ngobrol lagi."Aku
Maya POV"Maukah kamu menikah denganku May?"Lamaran Fajar sontak mengagetkan aku. Keseriusannya malah menambah perih di hatiku.Aku sudah terlalu pesimis dengan kisah kami. Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan kembali terutama tentang perasaan Bu Halimah.Aku menatapnya lama yang kini justru juga diiringi dengan air mata.Fajar langsung mendekat tangannya segera terulur ia ingin menghapus jejak basah di mataku.Namun aku langsung berpaling dan menghapus air mataku sendiri."May ....?"Aku menggeleng dengan air mata yang kembali berderai."Aku masih berduka Jar, bahkan kuburan Dita masih basah, aku tak sanggup untuk ...."Aku tak melanjutkan kalimatku.Saat mengingat putriku aku kian tak bisa menyembunyikan kesedihanku. Nyatanya rasa dukaku bisa aku jadikan alasan untuk mengabaikan lamaran Fajar tanpa harus merasa bersalah karena menolaknya."Maafkan aku May, aku tak bermaksud untuk tak peduli dengan rasa duka kamu, aku terlalu emosional karena mendengar kehidupan kamu yang m
Angga POV“Ke mana perempuan itu pergi sialan!”Aku membanting pintu kamar hotel hingga bergetar keras. Napasku memburu saat mendapati kamar itu kosong. Selimut berantakan. Gelas minuman masih tersisa di meja. Tapi Maya tidak ada.Padahal beberapa jam lalu aku sendiri yang mengantarnya ke sini.Tan
Maya POV“Kamu…?!”Aku memegang dada yang berdebar kencang saat melihat Andien berdiri di belakangku sambil mendelik kesal.“Ya Allah Andien, aku kira siapa. Aku sampai mau pingsan,” desisku setengah kesal.Andien malah terkekeh melihat ekspresi kekagetanku.“Ngapain kamu berdiri di sini kayak mali
Maya POVAda sebuah kelegaan ketika akhirnya telingaku sayup-sayup mendengar suara Fajar di luar sana.Segera aku membuka tirai dan mengintip dari balik jendela, dan ternyata sosok yang aku tunggu itu sudah memasuki halaman.Tapi bersamaan dengan itu kudengar juga suara keributan yang membuatku ber
Meski masih dipenuhi rasa ingin tahu, aku memilih mengabaikan rasa penasaranku dan fokus untuk bisa segera sampai di rumah ibu.Seperti biasa ibu menyambut kepulanganku dengan ekspresi beliau yang penuh rasa bahagia.Segera kucium punggung tangannya dengan takzim sebelum aku masuk dan melepas sepat







