ANMELDENPOV Fajar Aku sempat mengira Maya akan meminta sesuatu yang sulit atau bahkan aneh. Tapi ketika jawabannya keluar dari bibirnya, justru sesuatu yang sederhana—terlalu sederhana untuk seseorang seperti dia. "Nasi Padang... di dekat sekolah kita dulu." Aku terdiam sesaat. Lalu tanpa sadar sudut bibirku terangkat. Tempat itu. Tempat penuh kenangan. Tempat di mana dulu kami sering berdebat soal lauk mana yang paling enak, di mana Maya selalu mencuri sambal di piringku dan berpura-pura tidak bersalah. "Masih inget tempatnya?" tanyaku pelan. Maya mengangguk, matanya berbinar. "Aku pengen ke sana lagi." "Ya udah," jawabku mantap. "Nanti siang aku ajak kamu ke sana." Entah kenapa, hanya dengan mengatakan itu saja sudah membuat dadaku terasa hangat. Seolah aku sedang memperbaiki sesuatu yang dulu pernah hancur. Sungguh aku selalu ingin mengembalikan senyumnya seperti dulu. Senyum indah yang selalu mampu memberikan semangat untukku. "Beneran? Apa kamu nggak sibuk, Jar?"
"Aku takut Jar, aku takut ...."Maya kian mengeratkan dekapannya. Kulitnya yang sehalus sutera mendistraksi tubuhku.Kain tipis yang membungkus tubuhnya hanya menambah sensasi menggetarkan untukku.Selama ini aku berusaha menjaga diri dan apa yang terjadi sekarang kuanggap sebagai godaan terhebat apalagi datang dari sosok yang selama ini selalu memenuhi isi pikiran nyaris menjadi obsesi yang sulit dilawan.Tubuhku seketika menegang. Namun ketika aku mendapati kedua mata Maya yang kembali terpejam disertai dengan badannya yang terlihat menggigil semua distraksi itu seketika menguap, berubah menjadi kecemasan yang pekat."May, aku akan ambilkan obat dulu, kamu demam."Dengan cepat aku mengambil tasku di ruang depan dan segera kukeluarkan satu tablet paracetamol.Kuraih segelas air putih yang tersedia di atas nakas. Setelah itu dengan hati-hati aku kembali merengkuh tubuh ringkihnya dan kuminta Maya untuk membuka matanya sebentar agar aku bisa meminumkan paracetamol itu.Maya meminum oba
"Jadi Benny yang sudah melakukan penyiksaan itu pada Maya?"Aku tersentak kaget saat mendengar penjelasan Andien yang pada akhirnya bisa mengorek keterangan dari Maya, yang sebelumnya masih saja tutup mulut enggan mengungkap sosok pria yang sudah melakukan penyiksaan padanya."Benny, teman kuliahnya Maya yang satu kampus dulu?"Aku memperjelas keterangan yang sudah aku dengar dari Andien.Segera aku teringat jika dulu Benny pernah mengejar Maya. Lelaki itu juga dulu yang selalu mengejekku karena dia tahu aku menjalin kedekatan dengan Maya. Lelaki yang dulu sering menyebutku sebagai orang miskin yang tak pantas untuk bisa bersanding dengan Maya."Iya, Maya yang sudah mengatakannya sendiri padaku," ucap Andien dengan sangat yakin."Kalau begitu aku akan segera membuat laporan ke kepolisian. Kedua pria brengsek itu harus mendekam di penjara."Tanpa sadar aku mengepalkan kedua tangan, menjadi terlalu geram bila mengingat apa yang sudah mereka lakukan terhadap Maya."Bagus, aku akan dukung
POV Fajar Wajah cantik yang sekian tahun hanya bisa aku rindukan itu, kini tampak luruh di hadapanku.Aku bisa merasakan dengan sangat lugas kehancurannya. Sebuah kehancuran yang hanya menerbitkan bara amarah di hatiku.Sudah terlalu lama aku berdamai dengan takdir perpisahan kami, dan hati ini kupaksa untuk merelakan sosok yang paling berarti di hidupku menjadi milik lelaki lain yang aku pikir akan bisa membahagiakannya.Tapi nyatanya apa yang kudapati saat ini sangat jauh berbeda.Rentetan kepahitan itu kini hanya menyisakan keraguan, sesuatu yang kini bahkan sedang aku saksikan pada kedua matanya yang dulu selalu tampak berbinar.Perlahan aku melangkah mendekatinya. Jarak kami hanya sejengkal, cukup untuk melihat jelas bagaimana matanya berusaha menyembunyikan luka yang belum benar-benar sembuh.“Sekarang kamu yang jadi orang kayanya, Jar.”Ucapan itu terdengar sendu menguarkan sebuah kerapuhan yang justru menyiksaku.Aku menggeleng pelan, lalu menghela napas panjang.“Semua penca
"Apa masih sakit tangannya?" tanya Fajar yang pagi ini tampak sangat bersemangat ketika memasuki ruang tempat aku dirawat.Sudah lebih dari lima hari aku menghabiskan waktu di ruangan yang terkesan mewah dengan fasilitasnya yang lengkap ini, selama itu pula aku tak pernah bertemu putriku yang sekarang bahkan masih memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.Aku terus menatap lekat pada sosok yang pernah mengisi seluruh ruang hatiku itu saat Fajar menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter dengan memeriksa kondisiku."Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya ketika dia akhirnya menyadari tatapanku yang terus lekat memindai ke arahnya.Dengan sangat tenang dia kemudian mengambil posisi duduk di sisi ranjang, sangat dekat denganku yang sedang menyandarkan punggung pada sisi brankar yang ditinggikan."May, jangan banyak pikiran. Bahkan kamu tak perlu merisaukan soal suami kamu. Percayalah semua akan baik-baik saja."Fajar selalu saja berusaha untuk menjauhkan aku dari segala tekanan.
Ada rasa berat saat aku berusaha membuka mata. Semuanya terasa samar hanya remang-remang.Perlu beberapa lama aku beradaptasi sampai akhirnya aku menyadari keberadaanku.Langit-langit putih. Bau obat yang menyengat. Suara mesin yang berdetak pelan.Jelas sekarang aku sudah berada di rumah sakit.Aku mencoba mengingat… dan seketika tubuhku menegang.Rasa sakit itu masih ada. Menyebar di setiap inci tubuhku seperti sisa mimpi buruk yang tak benar-benar pergi.Aku menarik napas pelan, tapi terasa berat.Lalu—“Akhirnya kamu bangun…”Suara itu terasa terlalu familiar.Seketika mengusik dasar ingatanku.Sambil menahan nafas aku kemudian menoleh perlahan.Dan detik itu juga jantungku seperti berhenti.“Fa… Fajar?”Sosok pria itu bangkit dari kursi di samping ranjangku. Wajahnya yang dulu sering menghiasi hari-hariku… kini berdiri di hadapanku lagi.Lebih dewasa.Lebih tegas.Tapi sorot matanya… masih sama.Hangat.Penuh perhatian.“Iya… aku di sini, May.”Air mataku langsung menggenang. Gel







