LOGINMaya POVAku menatap Fajar cukup lama.Permintaannya menggantung di antara kami, membuat dadaku terasa sesak oleh berbagai perasaan yang bahkan sulit kujelaskan.Jujur saja, aku tidak ingin kembali bergantung pada siapa pun.Tapi dalam kondisi seperti sekarang, aku juga tidak memiliki tenaga untuk memulai semuanya dari awal.Aku terlalu lelah.Terlalu hancur.Pada akhirnya aku mengangguk pelan."Iya, Jar."Untuk pertama kalinya sejak pemakaman Dita, kulihat senyum tulus mengembang di wajah Fajar.Pria itu terlihat begitu lega."Sungguh?"Aku kembali mengangguk."Asal cuma sementara."Tatapan Fajar langsung melembut."Tidak masalah. Yang penting kamu tidak sendirian."Aku menundukkan kepala.Entah kenapa, mendengar kalimat itu justru membuat hatiku semakin perih.Karena orang yang paling ingin menemaniku saat ini sudah tidak ada lagi.Dita."Aku janji aku akan selalu menjagamu, May, dengan sepenuh hatiku."Aku termangu kelu mendengar janji Fajar yang terdengar terucap dengan begitu sun
Maya POVAku bahkan tidak ingat bagaimana caranya aku bisa kembali berdiri setelah mendengar vonis dokter malam itu.Semuanya terasa kosong.Suara-suara di sekitarku terdengar samar.Tangisku sudah tak lagi sekeras sebelumnya, tetapi rasa sakit yang menggerogoti dada justru semakin dalam.Seolah ada bagian dari diriku yang ikut mati bersama Dita.Aku hanya duduk di kursi rumah sakit sambil memandangi pintu ruangan tempat tubuh kecil putriku berada.Putriku.Anak yang selama ini kuperjuangkan. Hingga aku sanggup mengorbankan apapun demi kebahagiaannya.Tapi kini aku harus mengikhlaskan kepergiannya, padahal aku baru saja berhasil menemukan setelah sekian lama kami dipisahkan oleh keadaan yang sulit."Maya."Suara Fajar terdengar pelan.Aku tidak menjawab, masih termangu, hanyut dalam kesedihan.Aku bisa merasakan Fajar mulai mendekat, dia kemudian duduk di dekatku."May, ada beberapa hal yang harus segera diurus."Aku menoleh perlahan.Mataku terasa bengkak dan perih."Kuatkan dirimu M
Maya POV"Sudahlah sekarang cepat tunjukkan saja di mana kamu sembunyikan Dita?"Suara Fajar terdengar keras menggema di lorong apartemen mewah itu.Mama Asha mendengkus sinis."Kalian ini benar-benar merepotkan."Perempuan itu berjalan menuju lift tanpa menunggu kami. Aku segera mengikuti di belakangnya bersama Fajar dan Pak Dimas.Jantungku berdegup begitu cepat.Sebentar lagi aku akan bertemu Dita.Anakku.Putri kecil yang selama ini selalu kurindukan.Lift berhenti di salah satu lantai atas. Mama Asha keluar lebih dulu lalu berjalan menuju sebuah unit yang berada di ujung koridor.Tangannya memasukkan kode akses.Pintu terbuka perlahan."Masuklah kalau memang kalian tidak sabar sekali."Aku tak menunggu lebih lama.Begitu masuk, mataku langsung menyapu seluruh ruangan.Apartemen itu sangat luas dan mewah.Namun suasananya terasa dingin.Sepi.Tidak seperti rumah yang dihuni seorang anak kecil."Di mana Dita?" tanyaku tidak sabar.Mama Asha melipat kedua tangan di dada."Kamu meman
"Jadi Dita ada sama Mama?" tanyaku penuh rasa ingin tahu.Mama Asha malah melengos saat aku menatapnya lurus."Dita jauh lebih terurus sama aku, malah rencananya aku akan membawanya ke Taiwan," tegas perempuan yang sudah melahirkan Mas Angga ke dunia itu.Aku terperangah kelu. Jelas aku akan menentang rencana itu. Dita adalah putriku dan harusnya aku yang mengasuh dan merawatnya."Aku tidak akan membiarkan Mama melakukan itu, Dita putriku dan seharusnya Dita tinggal bersamaku."Aku langsung menyela sengit."Jadi putri Mbak Maya ada bersama Nyonya?" tanya penyidik itu yang sejak tadi sudah mencecar Mas Angga untuk mengetahui keberadaan Dita.Mama Asha malah mengunggah tatapan yang tajam dengan gestur tubuh seperti menantang."Iya, memangnya salah seorang nenek merawat cucunya?""Ibunya yang lebih berhak untuk mengasuhnya, saya harap Nyonya bisa memahami itu.""Ndak, aku nggak mau menyerahkan cucuku pada pelacur seperti dia!" seru Mama Asha sembari jarinya menuding sengit ke arahku.Aku
Maya POV"Masih berani kamu menampakkan diri di hadapanku, Maya?"Suara tajam itu membuat langkahku berhenti.Aku menatap wanita paruh baya yang duduk di ruang tunggu kantor polisi.Dialah wanita yang sebentar lagi hanya akan menjadi mantan mertuaku.Wanita yang sejak awal tidak pernah benar-benar menyukaiku.Aku menarik napas pelan."Mama di sini juga?""Jangan panggil aku, mama ....!"Nada suaranya langsung meninggi.Beberapa orang yang berada di sekitar kami mulai melirik.Namun dia tampaknya sama sekali tidak peduli.Tatapannya penuh kemarahan."Kamu puas sekarang?" tanyanya sinis.Aku mengernyit."Maksud Mama?""Angga ditahan polisi. Semua gara-gara kamu yang sok-sokan merasa menjadi korban padahal aku yakin kamu juga menikmati pekerjaan kotor itu, kan?"Dadaku terasa sesak. Tuduhannya terasa sangat menusuk hati.Namun aku memilih diam.Karena aku tahu apa pun yang kukatakan hanya akan memperuncing perdebatan."Sejak kamu masuk ke kehidupan Angga, hidupnya tidak pernah tenang."M
Maya POV"Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau kamu tahu tentang diriku?"Pertanyaanku membuat Hans terdiam beberapa saat.Pria itu masih menatapku lekat seolah sedang menimbang sesuatu."Aku akan memastikan kamu baik-baik saja."Aku tersenyum tipis."Kenapa?"Hans mengernyit."Apa maksudmu?""Kenapa kamu masih peduli?"Pertanyaan itu membuat suasana di antara kami mendadak canggung.Aku segera mengalihkan pandangan.Tak ingin kembali mengingat momen kebersamaan kami yang sepenuhnya salah itu.Hans menghela napas panjang."Kamu tak perlu tahu alasanku," jawab Hans selalu saja dengan sikapnya yang begitu penuh percaya diri dan cenderung memaksa."Dengan keadaan kamu yang seperti ini, aku sarankan kamu untuk menerima bantuanku."Aku mengernyit gusar."Bantuan seperti apa?"Hans memindaiku dengan ekspresinya yang begitu penuh keyakinan."Ikutlah bersamaku.""Jadi kamu masih berminat untuk menjadikan aku sebagai simpanan kamu?"Hans memandangku kian tajam.Aku tersenyum hambar."Kamu ing
Ada rasa berat saat aku berusaha membuka mata. Semuanya terasa samar hanya remang-remang.Perlu beberapa lama aku beradaptasi sampai akhirnya aku menyadari keberadaanku.Langit-langit putih. Bau obat yang menyengat. Suara mesin yang berdetak pelan.Jelas sekarang aku sudah berada di rumah sakit.Ak
"Sekarang siapkan dirimu." Bisikan Beny di telingaku terdengar terlalu seduktif.Bahkan detik berikutnya tangannya mulai menjamah kedua asetku yang terlihat membusung dengan gaun belahan dada rendah yang saat ini aku pakai.Beny meremasnya dengan kasar seakan milikku adalah obyek mainannya.Ingin
“Maya!”Langkahku terhenti.Suara itu… aku sangat mengenalnya.Perlahan aku menoleh.Dan benar saja.“Andien…”Dia berdiri beberapa meter dariku. Wajahnya jelas terkejut melihatku di tempat seperti ini. Tatapannya bergerak cepat—dari wajahku yang pucat, ke tangan Mas Angga yang mencengkeram lengank
“Kalau boleh… aku cuma ingin minta satu hal.”Suaraku lirih, tapi kali ini tidak ragu. Tidak lagi setengah tertahan seperti sebelumnya. Tapi tetap aku tak bisa mengabaikan rasa takut yang sejak awal telah menyusupi batin.Andien mengangguk pelan, matanya lembut namun penuh perhatian.“Katakan saja,







