Share

8. Dilelang

Author: Mastuti Rheny
last update publish date: 2026-03-31 14:11:18

"Kamu akan membawaku ke mana?"

Hans tidak langsung menjawab. Pria itu justru berdiri di belakangku, menatap pantulan tubuhku di cermin besar butik itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.

“Ke tempat di mana kamu akan mulai mengerti posisi kamu sekarang,” ucapnya akhirnya, tenang… terlalu tenang hingga membuat bulu kudukku meremang.

Aku menoleh cepat. “Apa maksudmu?”

Hans mengangkat satu gaun berwarna hitam dengan potongan elegan, lalu menempelkannya di tubuhku, seolah sedang menilai barang d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    10. Di Bawah Kendali Hans

    Aku langsung mengunci pintu kamar begitu sampai di rumah megah milik Hans.Klik.Suara kunci itu terdengar seperti satu-satunya perlindungan yang kumiliki malam ini. Napasku masih memburu, tubuhku gemetar, dan pikiranku kacau oleh ucapan Hans di dalam mobil tadi.Dia akan memberikanku pada pria itu.Aku memeluk tubuhku sendiri, berjalan mundur hingga punggungku menabrak dinding. Air mata jatuh lagi tanpa bisa kutahan.“Tidak… tidak… aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”Aku menggeleng keras, mencoba meyakinkan diriku sendiri. Kamar ini… setidaknya tempat ini masih bisa menjadi bentengku.Aku mengunci pintu sekali lagi, memastikan semuanya benar-benar rapat. Bahkan aku mendorong kursi ke depan pintu, meski aku tahu… itu mungkin sia-sia.Hans bukan pria biasa.Dia bukan tipe yang bisa dihentikan hanya dengan kunci dan kayu.Tapi aku tetap mencoba.Karena itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan.Aku merosot ke lantai, memeluk lututku, mencoba menenangkan diri. Waktu berjalan lambat. S

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    9. Terjebak Di Antara Dua Serigala

    Suasana ruangan mendadak sunyi.Semua kepala menoleh ke arah Hans.Aku ikut terpaku. Jantungku berdegup kencang saat pria itu menyebut angka fantastis dengan nada yang begitu santai, seolah satu miliar hanyalah angka kecil baginya.Pembawa acara tampak tersenyum lebar.“Apakah ada yang lebih tinggi dari satu miliar?”Beberapa detik berlalu.Tak ada yang bergerak.Hingga akhirnya—“Dua miliar.”Suara itu berat. Dalam. Dan… asing.Aku refleks menoleh.Di sisi lain ruangan, duduk seorang pria dengan aura yang begitu kuat. Kulitnya eksotis, sorot matanya tajam, dan cara duduknya… penuh kuasa.Seolah dunia ini memang miliknya.Dia menatap lurus ke arah kami.Lebih tepatnya… ke arahku.Aku tercekat.Tatapan itu tidak biasa. Bukan sekadar penasaran… tapi seperti sedang menilai.Dengan penampilanku yang kelewat terbuka seperti ini rasa risih segera menjalar. Tapi aku tak berdaya untuk menutupi apapun.Pada akhirnya aku memilih memalingkan muka.Namun aku bisa merasakan sosok misterius itu mas

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    8. Dilelang

    "Kamu akan membawaku ke mana?"Hans tidak langsung menjawab. Pria itu justru berdiri di belakangku, menatap pantulan tubuhku di cermin besar butik itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.“Ke tempat di mana kamu akan mulai mengerti posisi kamu sekarang,” ucapnya akhirnya, tenang… terlalu tenang hingga membuat bulu kudukku meremang.Aku menoleh cepat. “Apa maksudmu?”Hans mengangkat satu gaun berwarna hitam dengan potongan elegan, lalu menempelkannya di tubuhku, seolah sedang menilai barang dagangan.“Pakai yang ini. Kamu akan terlihat… pantas,” katanya dingin.Aku menepis tangannya. “Aku bukan boneka yang bisa kamu dandani sesukamu.”Tatapan Hans langsung berubah tajam. Dalam satu gerakan cepat, dia kembali mencengkeram lenganku, kali ini lebih kuat.“Jangan pernah lupa siapa yang memegang kendali di sini,” desisnya rendah di telingaku. “Semakin kamu melawan, semakin sulit semuanya untuk kamu.”Aku menahan napas. Rasa takut perlahan merayap, tapi aku menolak untuk terlihat lemah di

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    7. Ajakan Hans

    "Apa yang kamu bilang?"Sontak aku menggeleng tegas. Sungguh aku tak pernah menghendaki kebersamaan dengan pria asing itu lebih lama."Tidak, aku harus pulang sekarang!" tegasku tanpa merasa perlu mempedulikan tentang tambahan waktu yang sudah disepakati dengan suamiku yang brengsek itu.Tanpa menunggu persetujuannya aku segera bangkit dan meninggalkan sarapanku.Sementara Hans hanya menatapku datar. Responnya terlalu tenang yang langsung memancing kecurigaan.Tapi aku memilih mengacuhkan semua itu. Tetap melanjutkan langkahku ke arah depan. Namun sebelum aku mencapai ruang tamu, mendadak Hans menghentikan aku dengan kalimatnya yang terdengar mengancam."Kamu tak akan bisa meninggalkan rumah ini tanpa persetujuanku."Sontak aku menoleh dan menghunjamnya dengan tatapan geram."Apa kamu sudah lupa dengan kalimat yang aku katakan padamu kemarin jika Angga sekarang hanya menganggapmu sebagai sebuah properti yang bisa dengan mudah dia sewakan?"Tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku sampa

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    6. Memperpanjang Waktu

    "Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah."Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur."Aku mengunggah keberanian untuk mendebatnya.Tapi pria berambut coklat itu malah berdecih sinis."Kamu salah, bukan seperti tapi sekarang kamu sudah benar-benar menjadi seorang pelacur."Hatiku seketika pedih ketika mendengar kalimatnya yang begitu menghina. Walau semua yang dikatakannya sepenuhnya fakta tapi batin ini seketika terkoyak saat mendengar ucapannya.Tapi aku menolak pasrah di hadapan seorang pria arogan sepertinya."Aku tak pernah menginginkan menjadi pelacur. Aku sudah dijual dan kamu pria brengsek yang sudah membeliku."Pria itu malah tersenyum mengejek."Kenapa kamu tak sadar juga? Tak ada lelaki yang lebih brengsek daripada suami kamu. Aku cukup dermawan karena sudah memberikan uang yang begitu bes

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    5. Rahasia Hans

    Kupandangi foto itu dengan hati memendam gundah sekaligus rasa penasaran.Gambar di layar itu memampang terlalu lugas sebuah keakraban. Pelukan erat mereka semakin menegaskan tentang interaksi yang terunggah hangat. Ditambah dengan senyuman lebar keduanya kian memancing rasa ingin tahuku, sebenarnya seberapa dekat pria bernama Hans ini dengan papaku.Apa mungkin mereka sebelumnya adalah rekan bisnis karena nyatanya dulu papa membangun relasi bisnis secara luas, bukan hanya terbatas di lingkup kota asal kami saja?.Aku semakin mendekat agar aku bisa mendapatkan lebih banyak informasi tentang foto yang sempat kulihat itu yang tersimpan di dalam laptop.Nyatanya aku kemudian menemukan beberapa foto yang lain. Foto yang kuperkirakan sudah cukup lawas, foto-foto Hans bersama papaku.Terlalu banyak. Dengan latar belakang di berbagai tempat.Namun aku tetap tak merasa leluasa untuk bisa menjelajah pada setiap file di dalam laptop itu. Beberapa diantaranya terkunci dengan sandi. Lagipula aku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status