Home / Romansa / PEREMPUAN BERKALANG NODA / 96. Kepergian Maya

Share

96. Kepergian Maya

Author: Mastuti Rheny
last update publish date: 2026-06-29 18:32:35

Fajar POV

"Jadi kamu akan menceraikan aku?"

Suara Raisa bergetar, tetapi bukan karena sedih.

Melainkan karena amarah yang mulai meledak tanpa kendali.

Aku menoleh ke arah Rizal. Wajah sahabatku itu langsung mengeras. Tatapannya tampak pasrah, seolah tak pernah membayangkan rahasia itu akan terbongkar dengan cara seperti ini.

"Zal... jawab aku!" bentak Raisa sambil mencengkeram lengan suaminya.

Rizal melepaskan tangan itu perlahan.

"Aku memang berniat mengajukan gugatan cerai."

Kalimat itu terde
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
belibet banget cerita nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    126. "Will You Marry Me, Maya?"

    "Maya, tolong terimalah lamaranku."Aku terdiam.Tatapan Hans masih tertuju kepadaku. Ada kesungguhan yang begitu nyata di sana, membuat dadaku kembali terasa sesak.Namun kali ini bukan karena ketakutan.Melainkan karena aku tidak tahu harus memberikan jawaban apa.Di satu sisi, aku ingin percaya bahwa perasaan Hans benar-benar tulus. Aku ingin percaya bahwa lelaki yang berdiri di hadapanku sekarang bukan lagi orang yang sama seperti dulu.Namun di sisi lain, masa lalu terus menarikku kembali.Aku menundukkan kepala."Hans...""Ya?""Maaf aku belum bisa."Senyum di wajahnya perlahan menghilang."Aku tahu kamu pasti menjawab seperti ini."Dia mengedikkan kedua pundaknya."Dan aku tahu apa alasannya."Aku langsung mengerutkan kening memandang ke arahnya yang kembali fokus menyetir."Alasannya pasti karena dokter itu, kan?"Hans menjawab dengan sekenanya.Aku bisa melihat rahangnya mengeras, seolah berusaha menahan sesuatu yang terasa berat di dalam hatinya."Tapi kamu nggak usah khawat

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    125. Lamaran Yang Ke Sekian Kalinya

    “Sejak kapan Maya menjadi calon istrimu?”Pertanyaan Salman membuat tubuhku seketika menegang.Aku menatap Hans.Pria itu masih berdiri beberapa meter di hadapanku dengan sorot mata yang sulit kubaca. Namun satu hal yang bisa kurasakan dengan jelas adalah kemarahannya.Kemarahannya bukan hanya karena aku diculik.Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari itu.“Sejak kapan itu bukan urusanmu?” balas Hans dingin.Salman terkekeh.“Jangan mengalihkan pembicaraan, Hans.”“Aku tidak datang untuk berbicara denganmu.”Tatapan Hans beralih kepadaku.“Maya, kemari.”Aku refleks ingin melangkah.Namun Salman bergerak lebih cepat.Dalam sekejap, lengannya meraih tubuhku lalu menarikku ke dalam pelukannya.“Tidak.”Aku membeku.“Lepaskan aku!”Aku berusaha melepaskan diri, tetapi pelukannya justru semakin erat.“Salman!”Hans langsung melangkah maju.“Lepaskan Maya.”Nada suaranya terdengar begitu tenang.Justru ketenangan itulah yang membuatku semakin takut.“Aku tidak mau.”Salman menjawab tanpa s

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    124. Calon Istri

    Maya POVLangkahku terasa jauh lebih ringan pagi itu.Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku berjalan keluar dari kawasan perumahan tanpa ditemani siapa pun. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahku, membuatku mengembuskan napas panjang.Rasanya menyenangkan.Bebas.Aku terus berjalan hingga tiba di jalan raya, lalu mengangkat tangan memanggil sebuah taksi."Ke Jalan Melati, Pak.""Baik, Bu."Mobil melaju membelah jalanan kota.Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang ke kontrakan kecil yang pernah kutinggali.Masih ada beberapa pakaian.Album foto Dita.Beberapa buku.Dan sebuah kotak kecil berisi kenangan yang belum sempat kubawa.Aku hanya ingin mengambil semuanya, lalu kembali sebelum Hans mengetahui aku keluar rumah.Mungkin...Dia bahkan tidak akan sadar.Sekitar tiga puluh menit kemudian...Taksi berhenti tepat di depan gang menuju kontrakanku."Terima kasih, Pak."Aku membayar ongkos lalu turun.Baru beberapa langkah aku berjalan...Sebuah mobil hitam berhenti mendadak tepa

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    123. Sangkar Emas

    Maya POVAku masih menatap Hans dengan bingung."Memangnya apa yang lebih seru?"Sudut bibirnya terangkat tipis."Kamu akan tahu sendiri."Tanpa menjelaskan apa pun, Hans kembali berjalan menuju mobil. Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya mengikuti langkahnya.Sekitar tiga puluh menit kemudian mobil berhenti di sebuah taman bermain yang cukup ramai.Aku menoleh heran."Kita ke sini?"Hans mengangguk santai."Iya.""Aku bukan anak kecil.""Memangnya yang boleh main di sini cuma anak kecil?"Aku terdiam.Hans sudah lebih dulu berjalan menuju loket pembelian tiket.Beberapa menit kemudian ia kembali sambil menyerahkan satu gelang masuk kepadaku."Pakai."Aku menerima gelang itu dengan ragu."Serius?""Kalau nggak serius, buat apa aku bayar mahal?"Aku hanya mendengus pelan.Entah sejak kapan pria itu selalu punya cara membuatku kehabisan kata-kata.Begitu memasuki area taman bermain, suara tawa para pengunjung memenuhi udara.Anak-anak berlarian.Musik ceria terdengar dari berbagai

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    122. Lebih Seru

    Maya POV"Maya."Suara itu membuatku spontan menoleh.Jantungku langsung berdebar keras.Fajar berdiri beberapa meter di depanku dengan balutan jas pengantin berwarna putih gading. Senyum hangat masih menghiasi wajahnya, tetapi sorot matanya menyimpan haru yang begitu dalam.Untuk sesaat, dunia di sekelilingku seperti berhenti.Aku sudah mempersiapkan diri selama seminggu penuh untuk menghadapi hari ini.Namun semua ketegaran yang kubangun seolah runtuh hanya karena melihatnya.Hari ini...Fajar benar-benar menjadi mempelai pria.Langkahnya mendekat."Maya..."Nada suaranya tetap sama seperti dulu. Hangat. Menenangkan."Aku senang kamu datang."Aku memaksakan senyum meski terasa begitu berat."Selamat, Jar."Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibirku.Fajar tersenyum tipis."Terima kasih."Tatapannya sempat bergetar."Aku tahu datang ke sini pasti nggak mudah buat kamu."Aku hanya mengangguk pelan.Tak ada gunanya lagi mengungkapkan apa yang kurasakan.Semuanya sudah terlambat.

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    121. Hari Pernikahan

    Maya POVAku masih berdiri membelakanginya.Ruangan kembali sunyi.Hans tak lagi memaksaku bicara. Ia hanya berdiri beberapa langkah di belakangku, seolah menungguku membuka hati dengan kemauanku sendiri.Entah kenapa, justru sikap diamnya membuat dadaku terasa semakin sesak.Aku menarik napas panjang."Ada yang mau kuceritakan."Suara itu akhirnya keluar, meski terdengar begitu lirih.Hans langsung mengangkat wajah. Tatapannya segera memindaiku.Aku menelan ludah."Tadi... Fajar menelepon."Sorot mata Hans berubah."Jadi dia yang sudah membuat kamu menangis."Hans melemparkan dugaannya dengan nada yang terdengar datar.Aku membisu sesaat sambil membalas tatapannya."Dia akan menikah minggu depan."Aku kembali merasakan sesak yang sama seperti beberapa jam lalu."Dia memintaku datang."Hans mencebik tipis."Dia sudah membuat pilihan yang tepat."Aku terperangah menjadi tak bisa menyembunyikan kekesalanku. Kedua mataku sedikit membeliak padanya.Hans malah mengedikkan kedua bahu tipis.

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    63. Bimbang

    Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata le

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    38. Dukungan Andien

    Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    6. Memperpanjang Waktu

    "Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah."Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur."Aku mengunggah keberania

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    5. Rahasia Hans

    Kupandangi foto itu dengan hati memendam gundah sekaligus rasa penasaran.Gambar di layar itu memampang terlalu lugas sebuah keakraban. Pelukan erat mereka semakin menegaskan tentang interaksi yang terunggah hangat. Ditambah dengan senyuman lebar keduanya kian memancing rasa ingin tahuku, sebenarny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status