Home / Romansa / PEREMPUAN DI BALIK LENTERA / BAB 28 - Kesetiaan yang Diuji

Share

BAB 28 - Kesetiaan yang Diuji

Author: Y. Rs
last update Last Updated: 2026-01-03 21:40:07

Ada kesepian yang tidak datang karena ditinggalkan secara terang-terangan, melainkan karena orang-orang perlahan memilih menjauh—bukan karena membenci, melainkan karena takut ikut tenggelam dalam sesuatu yang belum tentu bisa mereka pahami.

Ia merasakannya sejak pagi itu.

Bukan dari satu sikap mencolok, bukan pula dari kata-kata kasar atau perintah terbuka, melainkan dari perubahan kecil yang terlalu seragam untuk dianggap kebetulan. Tatapan yang dulu sekadar lewat kini cepat dialihkan. Percakapan yang biasanya terhenti karena kesibukan, kini berhenti sebelum sempat dimulai.

Seolah keberadaannya mulai dianggap sebagai sesuatu yang perlu dihindari dengan sopan. Ia tidak menanyakan apa pun.

Pengalamannya mengajarkan bahwa pertanyaan sering kali mempercepat kehancuran. Terlalu banyak jawaban yang justru membuka pintu pada prasangka baru. Maka ia memilih diam, seperti yang selalu ia lakukan ketika dunia mulai menguji b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 32 - Getar yang Tidak Diakui

    Pagi itu tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya di kediaman utama. Langit cerah, taman dirawat seperti biasa, dan pelayan bergerak mengikuti pola yang telah dihafal tubuh mereka sejak lama. Namun bagi ia, ada sesuatu yang terasa bergeser—bukan pada tempatnya, melainkan pada caranya dipandang. Ia menyadarinya sejak langkah pertama di lorong timur. Sapaan yang biasanya singkat kini menjadi terlalu kaku, atau justru terlalu berhati-hati. Beberapa pelayan menunduk lebih cepat dari seharusnya, sementara yang lain pura-pura sibuk agar tidak perlu berpapasan. Tidak ada sikap terbuka yang kasar, tetapi jarak itu nyata—terbentang halus, dingin, dan disengaja. Ia memahami itu sebagai kelanjutan dari keputusan beberapa waktu lalu. Pemindahan tugas tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu membawa gema. Ia tetap berjalan dengan langkah terukur. Tidak lebih cepat, tidak lebih lambat. Ia tidak mengubah sikap. Jika dunia di sekitarnya sedang menilai, maka ia tidak akan memberi mereka baha

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 31 - Setelah yang Tidak Diucapkan

    Pagi datang tanpa perubahan yang berarti. Langit di atas kediaman utama tetap kelabu pucat, seolah menahan cahaya agar tidak jatuh sepenuhnya. Udara masih dingin, dan rumah besar itu kembali bergerak dalam keteraturan yang sama—seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Namun ia tahu, sesuatu telah bergeser, sedikit. Ia bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena tugas, melainkan karena pikirannya tidak benar-benar beristirahat. Tubuhnya mungkin diam semalam, tetapi ingatan bekerja dengan cara yang sunyi dan melelahkan. Ia duduk sejenak di tepi ranjang sempitnya, merapikan napas sebelum berdiri. Tidak ada gelisah berlebihan. Tidak pula harapan yang tumbuh tiba-tiba. Hanya kesadaran yang lebih tajam—bahwa setelah kemarin, ia tidak lagi berada di titik yang sama. Ia berjalan menyusuri lorong samping seperti biasa. Langkahnya terukur, punggungnya tegak, wajahnya tenang. Namun pagi itu, beberapa pasang mata kembali memperhatikannya dengan cara yang berbeda. Bukan tajam. Bukan terang

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 30 - Retakan yang Tak Disadari

    Tidak semua perubahan datang dengan suara. Sebagian hadir sebagai pengulangan—hari yang tampak sama, tugas yang kembali berjalan seperti biasa, dan wajah-wajah yang berusaha meyakinkan diri bahwa jarak telah cukup untuk meredam segalanya. Namun, bagi ia yang terbiasa membaca keadaan, ada sesuatu yang terasa berbeda pagi itu. Bukan pada perintah. Bukan pada nada bicara. Melainkan pada cara orang-orang berhenti sejenak sebelum menyebut namanya—lalu melanjutkan seolah tidak terjadi apa-apa. Ia memahami pola itu. Ketika seseorang tidak lagi dipinggirkan secara terang-terangan, melainkan mulai diperhatikan dengan terlalu hati-hati, itu berarti ia tidak lagi dianggap kecil. Dan kesadaran itu tidak membawa rasa lega. Ia hanya membawa satu pemahaman sunyi: bahwa ia sedang berdiri di ambang sesuatu yang tidak bisa ia tolak, dan tidak bisa ia sambut dengan gegabah. Di rumah besar ini, perhatian adalah mata uang yang mahal— dan sering kali harus dibayar dengan ketenangan. Tidak ada

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 29 - Harga Dari Diam

    Sementara itu, di sayap lain rumah besar, diam yang sama sedang dipikul dengan cara yang berbeda.Ada keputusan yang tidak diambil karena ragu, melainkan karena terlalu banyak hal yang harus dilindungi sekaligus.Dan di rumah besar itu, tuan muda memahami satu hal sejak lama: setiap langkah yang tampak sederhana bisa berubah menjadi alasan untuk menghancurkan seseorang—terutama mereka yang tidak memiliki nama besar sebagai pelindung.Pagi itu, ia berdiri di beranda samping, memandangi halaman yang mulai dipenuhi aktivitas. Segalanya tampak berjalan seperti biasa. Terlalu biasa, hingga justru terasa mencurigakan.Ia tahu, perintah pemindahan tugas telah dijalankan. Ia juga tahu, keputusan itu tidak sepenuhnya berasal darinya.Beberapa hari terakhir, tekanan datang tanpa harus diucapkan keras-keras. Dari tatapan para bangsawan yang lebih tua. Dari percakapan singkat yang berhenti ketika ia mendekat. Dari ka

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 28 - Kesetiaan yang Diuji

    Ada kesepian yang tidak datang karena ditinggalkan secara terang-terangan, melainkan karena orang-orang perlahan memilih menjauh—bukan karena membenci, melainkan karena takut ikut tenggelam dalam sesuatu yang belum tentu bisa mereka pahami. Ia merasakannya sejak pagi itu.Bukan dari satu sikap mencolok, bukan pula dari kata-kata kasar atau perintah terbuka, melainkan dari perubahan kecil yang terlalu seragam untuk dianggap kebetulan. Tatapan yang dulu sekadar lewat kini cepat dialihkan. Percakapan yang biasanya terhenti karena kesibukan, kini berhenti sebelum sempat dimulai.Seolah keberadaannya mulai dianggap sebagai sesuatu yang perlu dihindari dengan sopan. Ia tidak menanyakan apa pun.Pengalamannya mengajarkan bahwa pertanyaan sering kali mempercepat kehancuran. Terlalu banyak jawaban yang justru membuka pintu pada prasangka baru. Maka ia memilih diam, seperti yang selalu ia lakukan ketika dunia mulai menguji b

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 27 - Yang Tidak Diucapkan

    Jarak tidak selalu diciptakan dengan langkah mundur. Kadang ia lahir dari ketepatan—dari pilihan untuk tidak berhenti, dari keputusan untuk tidak menoleh, dari kesadaran bahwa terlalu dekat justru akan membuat sesuatu runtuh sebelum waktunya. Dan di rumah besar ini, jarak yang paling berbahaya adalah yang tidak pernah diumumkan. Ia merasakannya sejak pagi itu. Bukan dari satu kejadian besar, melainkan dari rangkaian hal kecil yang terlalu rapi untuk dianggap kebetulan. Jam kerja yang sedikit bergeser. Jalur tugas yang disusun ulang. Lorong-lorong yang sebelumnya bersilangan kini seolah dihindari tanpa instruksi. Tuan muda tidak lagi melintasi lorong samping pada waktu yang sama. Ia mencatatnya tanpa ekspresi. Tidak ada perintah. Tidak ada larangan. Tidak pula sikap dingin yang terang-terangan. Justru sebaliknya—semuanya terlalu tenang. Terlalu terkendali. Seperti jarak yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status