LOGINKilauan jingga memantul tipis di permukaan laut yang membentang di sisi jalan. Julian memegang setir dengan satu tangan. Ponsel berada di dekat dashboard. Layar yang sempat padam menyala lagi saat mobil melewati guncangan kecil. Jemput aku di pelabuhan. Matanya turun sekilas. Kembali ke jalan. Lampu lalu lintas berubah merah. Mobil berhenti. Jari telunjuknya mengetuk lingkar kemudi satu kali. Berhenti. Hijau. Mobil bergerak lagi. Gudang-gudang pelabuhan mulai muncul di kejauhan. Crane tinggi berdiri membelah langit seperti rangka besi hitam. Semakin dekat, buku-buku jarinya memucat di atas setir. Pintu masuk area pelabuhan terbuka. Kerum
Suara klakson kapal masih menggantung jauh di udara.Tak ada yang bergerak.Elena menatap Adriano.Matanya tak berkedip.Di belakang pria itu, staf tadi menundukkan kepala pada map di tangannya. Pulpen masih berada di atas kertas. Tinta belum mengering.Angka itu masih ada di sana.Deretan nol yang bahkan gagal dipahami kepalanya.Matanya turun.Ke ujung pena.Ke jemari yang menulis.Ke tinta hitam yang baru saja memindahkan sesuatu ke namanya.Bukan uang.Bukan angka.Sesuatu yang terasa lebih berat.Pikirannya melayang pada gerbang putih Stella Maris.Pada jendela lantai dua.Pada laut yang terlihat dari belakang bangunan tua itu.Lalu Julian.Pada pesan yang dikirim dari ponselnya.Aku aman.Semuanya berjalan sesuai rencana.Napasnya terasa pendek.Mulai sekarang setiap keputusanmu punya alamat.Dan kau sudah tahu alamatnya.Jemarinya mengencang pada kain gaun.Tatapannya terangkat kembali."Kalau aku berhenti melawan..."Suara itu terdengar asing di telinganya sendiri.Tak ada per
Adriano kembali berjalan.Langkahnya memantul pendek di lantai beton gudang.Elena mengikuti tanpa suara.Udara di dalam terasa lebih dingin dibanding luar. Langit-langit tinggi membentang jauh di atas kepala, dipenuhi rangka besi dan lampu industri yang menggantung dalam deretan panjang. Rak logam berdiri di sisi kanan dan kiri. Peti kayu besar tersusun bertingkat. Sebagian tertutup kain putih. Sebagian lain masih ditempeli label pengiriman.Forklift diam di dekat jalur kontainer.Mesinnya mati.Garpu besinya masih terangkat beberapa sentimeter dari lantai.Rantai logam menggantung di atas kepala, berayun pelan. Sesekali bunyi gesekan tipis terdengar sebelum kembali tenggelam dalam sunyi.Matanya bergerak ke sekitar.Dua pria berdiri dekat peti besar sambil memegang tablet. Salah satunya memeriksa jam tangan. Di dekat area kontainer, seseorang menatap crane di ujung dermaga.Tak ada suara mesin.Tak ada instruksi yang diteriakkan.Tak ada orang yang berlari.Tempat sebesar ini seharu
Elena berdiri di depan lift.Pintu logam masih terbuka.Adriano sudah berada di dalam. Satu tangan masuk ke saku celana, yang lain menyentuh ujung manset hitam di pergelangan tangannya.Menunggu.Tidak mendesak.Elena melangkah masuk.Pintu menutup di belakang mereka.Ruang sempit itu tenggelam dalam dengung mesin halus di balik dinding baja.Tak ada suara lain.Angka di atas pintu menyala.3. Adriano berdiri menghadap depan.2. Pantulan mereka muncul samar di pintu logam mengilap.Elena menatapnya sekilas.Pria itu bahkan tidak melihat ke arahnya.1. Ding.Pintu terbuka.Adriano keluar lebih dulu.Elena mengikuti beberapa langkah di belakang.Lobby mansion sudah bergerak hidup sejak pagi.Seseorang menyeberang membawa map setebal lengan. Dua staf berhenti dekat meja resepsionis, menun
Pagi turun tipis di halaman mansion Moretti.Dari jendela tinggi ruang keluarga, gerbang utama terlihat di antara deretan cemara dan pagar besi hitam.Mobil berjejer di luar.Hitam.Putih.Beberapa dengan logo stasiun berita menempel di sisi pintu.Kilatan kamera menyala bergantian.Mikrofon terangkat di antara kerumunan.Mulut para reporter bergerak cepat.Tangan menunjuk ke arah mansion.Tak ada yang pergi.Di dekat jendela, Valerius mengangkat cangkir tehnya.Uapnya sudah menipis.Tatapannya tetap berada di luar."Mereka masih di sana."Elias berdiri di belakang kursi roda dengan tablet di tangannya."Ya, Signore."Di luar, seorang reporter berpindah posisi.Mencari sudut yang lebih baik.Dua penjaga Moretti berdiri dekat gerbang.Diam.Tidak bergerak."Moretti jarang membiarkan orang
Malam menempel di balik kaca jendela.Elena berdiri di depannya sejak entah kapan.Tirai yang biasanya tertutup rapat terbuka sedikit di ujung jari.Cukup untuk melihat taman.Lampu-lampu batu menyala di sepanjang jalur pejalan kaki. Bayangan cemara membentang gelap di atas rumput. Sesekali seorang penjaga melintas di kejauhan, langkahnya teratur, kepala menoleh ke titik-titik yang sudah ditentukan.Gerbang utama terlihat samar dari sayap kamar ini.Terlalu jauh.Terlalu terang.Tak pernah benar-benar kosong.Matanya mengikuti jalur itu.Dari taman.Ke pagar besi.Ke gerbang utama.Seorang penjaga menghilang di balik bayangan pohon.Beberapa detik kemudian, penjaga lain muncul dari arah berbeda.Rute yang sama.Pola yang sama.Jari Elena mengendur.Tirai kembali jatuh menutupi kaca.Pantulannya muncul di permukaan
Pagi datang tanpa suara. Elena tidak tahu apa yang membangunkannya lebih dulu—dinginnya sisi ranjang yang kosong, atau hilangnya sesuatu yang semalam terasa terlalu dekat. Matanya terbuka perlahan. Cahaya di balik tirai masih pucat. Belum cukup terang untuk disebut pagi. Aroma kopi sudah lebih
Mobil itu sudah menyala saat mereka mendekat. Mesinnya tidak meraung—hanya bergetar pelan, seperti sesuatu yang hidup… dan memilih untuk menahan diri. Para pengawal bergerak lebih dulu. Pintu dibuka. Jalur dibentuk. Rapi. Tanpa celah. Adriano masuk tanpa menoleh. Elena menyusul. Pintu
Ruang makan sudah siap sebelum siapa pun masuk. Cahaya pagi jatuh lurus dari jendela tinggi, membelah meja panjang menjadi dua sisi yang terlalu rapi untuk disentuh. Piring porselen tersusun presisi. Sendok dan garpu sejajar seperti garis komando. Cangkir kopi mengepul tipis—hangat, tapi tidak m
Pintu kamar menutup pelan di belakang Adriano. Bunyinya kecil— tapi cukup untuk mengubah udara di dalam ruangan. Elena langsung berdiri. Gerakannya terlalu cepat untuk disebut kebetulan. Seolah tubuhnya sudah lebih dulu mengambil keputusan sebelum pikirannya sempat menyusul. Mangkuk sup hangat i







