LOGINResepsi digelar di Jakarta, di sebuah ballroom mewah yang menghadap gemerlap lampu ibu kota. Dekorasi didominasi warna putih dan silver, elegan tanpa kesan berlebihan. Rangkaian bunga segar tersusun rapi di setiap meja, sementara lampu kristal menggantung tinggi memantulkan cahaya lembut di atas lantai marmer.
Jumlah tamu tidak banyak, namun hampir seluruhnya berasal dari kalangan pebisnis besar dan relasi keluarga–yah, kalian tahu, deretan wajah-wajah yang akrab menghiasi majalah akhir pekan. Suasananya terasa eksklusif, lebih menyerupai pertemuan prestisius daripada pesta yang ramai dan hingar-bingar.
Ada permintaan khusus dari Rajendra yang disetujui Karuna, selain tidak diundangnya media elektronik–yang sebetulnya dijunjung oleh Hartono juga Winanto–adalah bahwa tamu tidak diperkenankan melakukan dokumentasi dalam bentuk apapun.
Biarlah pernikahan ini jadi cerita hanya bagi yang datang.
“Papi percayakan Karuna padamu, Rajendra. Jaga baik-baik, ya?”
Dengan begitu, telapak putih Karuna diserahkan pada jemari besar berkulit tan milik Rajendra. Saat kulit mereka bersentuhan, ada getar kecil yang terlalu cepat untuk diakui–namun terlalu jelas untuk diabaikan.
“Iya, Pi. Saya jaga Karuna baik-baik.”
Pembohong.
Karuna mengolok dalam batinnya, sambil berusaha menarik tangannya sedikit–yang sayangnya tidak dilepas Rajendra secepat yang ia harapkan.
Winanto mundur, kembali bergabung dengan Marlina di sudut kiri. Karuna dan Rajendra diminta berdiri berdampingan, menghadap pastor yang tersenyum tulus, terlalu tulus, seolah yakin pernikahan ini dipenuhi cinta besar dan bukan hasil negosiasi keluarga.
Andai saja pastor tahu, bibir Karuna menekuk.
Setelah lantunan musik menyurut, pastor tadi memimpin doa dan kesaksian.
Tentang kudus. Tentang hubungan seumur hidup. Tentang janji yang terdengar jauh lebih serius dari yang Karuna bayangkan.
Hening memeluk.
Ketika mereka diminta saling memandang, Karuna memilih kompromi paling aman–menatap tepat di area pundak Rajendra. Cukup dekat untuk terlihat sopan, cukup jauh untuk tidak tenggelam.
Janji itu dituntun lewat pengeras suara.
Rajendra lebih dulu.
“Saya, Rajendra, menerima engkau, Karuna, menjadi istri. Untuk saling memiliki dan saling menjaga, mulai hari ini dan selama-lamanya. Dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam sehat maupun sakit.”
“Saya berjanji untuk setia, mengasihi, dan menghargai engkau, sampai maut memisahkan kita–sesuai dengan hukum Allah yang kudus.”
Detik terus bergelinding, kini giliran Karuna. Dengan jemari yang terasa basah di atas pelat mikrofon, ia akhirnya memulai, “Saya, Karuna, menerima engkau, Rajendra–”
“Menerima engkau, Rajendra, sebagai suami,” Karuna menarik nafasnya pendek, “Mulai hari ini dan selama-lamanya, saya berjanji untuk setia, saling memiliki dan menjaga, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai … maut memisahkan kita.”
Baru saat ia mendongak pelan, semesta seperti mencekiknya–ia memberi kejutan di ruang kosong dadanya dari mata Rajendra yang menatapnya.
Teduh. Familiar. Sama seperti tujuh tahun lalu.
“–sesuai dengan hukum Allah yang kudus,” lanjutnya lebih pelan, hampir seperti bisikan.
Lalu semuanya kembali normal terlalu cepat. Tatapan itu menghilang digantikan ekspresi datar yang kelewat tenang.
Rajendra benar-benar pandai berakting.
kemudian, mereka akhirnya bertukar cincin.
Rajendra menggenggam jemarinya sedikit lebih lama dari yang diperlukan saat memasangkan cincin bermata berlian itu. Entah ini halusinasi Karuna atau tidak, ibu jari Rajendra telah tanpa sengaja–atau mungkin sengaja–menyapu buku jari Karuna.
Sialnya, jantung Karuna langsung berkhianat.
Lagi-lagi.
Rajendra Berengsek, sumpah serapah itu terus ada dalam batinnya.
Giliran Karuna memasangkan cincin, tangannya hampir salah tempat kalau saja Rajendra tidak menahan pelan.
“Jari manis bukan tengah.”
“Y-ya–ya!”
Saat penandatanganan buku pernikahan, Karuna juga nyaris menandatangani kolom yang salah kalau saja Rajendra tidak berdeham pelan. Suaranya stabil. “Salah kolom.”
Ya Tuhan.
Cuma dua kata. Juga dua kali kesalahan.
Tapi cukup membuat harga diri Karuna tergelincir dan menggelinding entah ke mana.
Ingin menghilang.
Bibirnya mencebik malu, Karuna ingin pulang.
Namun, sepertinya, bumi belum puas mengerjai Karuna. “Sebagai suami dan istri yang sah, Anda dipersilakan mencium pasangan Anda.”
Sorakan langsung pecah, keningnya berkerut apalagi saat melihat Winanto ikut berteriak heboh. “Cium, cium, cium!”
Karuna baru sempat menarik napas–
–ketika lengan Rajendra sudah melingkar di pinggangnya, menariknya mendekat dengan gerakan tenang yang terlalu alami untuk seseorang yang katanya menikah tanpa cinta.
Matanya membelalak.
Sesuatu yang lembab menyentuh bibirnya.
Singkat dan tepat.
Justru itu masalahnya.
Karena Rajendra melakukannya seolah ini hal paling normal di dunia, sementara otak Karuna berhenti bekerja total.
Merasa dikelabui, bola matanya naik hanya untuk menemukan netra hitam milik Rajendra yang terbuka. Menatapnya terlalu dekat. Juga ujung hidung mancungnya yang sempat menyentuh pipi. Tanpa sadar jemari Karuna meremas erat ujung jas milik Rajendra yang mendadak bersisihan dengan telapaknya.
“Tenang.”
Wah, manusia gila.
Disuruh ‘tenang’, katanya?
Karuna lebih ingin menjambaknya!
Sore itu, Karuna sebenarnya tidak punya alasan jelas untuk terlihat sibuk. Rumah itu sudah terlalu bersih sejak pagi–lantainya mengkilap, meja-meja bebas debu, bahkan bunga di sudut ruang tamu tampak seperti baru diganti setiap hari.“Bosen,” adunya, entah pada siapa. Ia masih duduk bersandar di atas sofa, sambil memeluk bantal dengan bibir mencebik. Oh, gadis itu memang belum kembali ke kamarnya sejak makan siang. Ia menghabiskan harinya dengan menonton drama korea di ruang tamu, dengan televisi besar di sana. Sekarang sudah pukul empat sore.“Rumah segede ini masa nggak ada kerjaan,” gumamnya sendiri.Tanpa sadar maniknya menjelajah, kemudian menemukan satu alat yang ukurannya sedang hingga selutut. Senyumanya naik, menghampiri robot vacuum itu. Dinyalakan dengan pengetahuan sekadarnya–ya, di rumahnya yang meski sudah besar itu, mereka tidak punya alat-alat seperti ini. “Woah, woah, nyala!”Robot vacuum itu mulai bergerak, berputar patuh di dekat kakinya. Karuna jelas tidak menga
Karuna terbangun dengan kepala berat, sisa kantuk masih menempel di pelupuk matanya. Ia mengucek wajah pelan–tidurnya baru benar-benar lelap sekitar pukul dua pagi. Saat melirik jam di atas nakas, jarumnya sudah menunjuk pukul delapan.Delapan.Angka itu langsung menampar kesadarannya.Isteri.Karuna mendengus kecil sambil mendudukkan badan. Tidak ada suara berisik dari dapur–atau memang tidak cukup dekat untuk terdengar? Tetapi yang jelas, tidak ada yang mengetuk pintu atau menyuruhnya bangun.Karuna turun ke lantai bawah masih mengenakan piyama–ia hanya mencuci muka dan menggosok gigi sebelumnya. Rambutnya bahkan belum sempat dirapikan.Baru dua langkah memasuki ruang makan, ia mengerjap saat seorang wanita paruh baya keluar dari dapur.“Selamat pagi, Nyonya. Saya Natri, asisten rumah tangga di rumah ini.”Senyumnya teduh–anehnya itu mengingatkan Karuna pada Marlina. Sosok cerewet yang baru sehari tidak ia temui tapi sudah ia rindukan.Karuna langsung mengibaskan tangan kecil. “Jang
Begitu pintu utama terbuka, Karuna refleks merapatkan bibir. Karuna tahu betul dirinya bukan orang susah. Rumah keluarganya juga besar, warisannya banyak. Pantas.Namun, sejak pajero Rajendra berbelok masuk ke dalam kompleks mewah ini saja, Karuna paham satu hal. Gerbang hitam menjulang, lengkap dengan petugas keamanan, hunian ini meninggalkan kesan mewah lewat standar yang berbeda. Lalu garasi yang luas–ini bahkan bukan rumah utama keluarga Witjaksana, akan tetapi, setelah Karuna hitung cepat, bisa menampung empat mobil tanpa saling senggol. “Semuanya ini … kamu bayar sendiri?” Jangan salahkan Karuna yang tak bisa menahan rasa penasarannya.Rajendra tidak terlihat terganggu, ia menutup pintu, geraknya efisien. “Sebagian warisan,” katanya singkat. Karuna ber-oh-ria saja. Ruang tamu itu lagi-lagi sukses membuat Karuna merasa sedang berada di katalog interior kelas atas. Lantai marmer mengilap, sofa besar, lampu gantung kristal, hingga tangga siku yang menghubungkan lantai satu dan
Resepsi digelar di Jakarta, di sebuah ballroom mewah yang menghadap gemerlap lampu ibu kota. Dekorasi didominasi warna putih dan silver, elegan tanpa kesan berlebihan. Rangkaian bunga segar tersusun rapi di setiap meja, sementara lampu kristal menggantung tinggi memantulkan cahaya lembut di atas lantai marmer.Jumlah tamu tidak banyak, namun hampir seluruhnya berasal dari kalangan pebisnis besar dan relasi keluarga–yah, kalian tahu, deretan wajah-wajah yang akrab menghiasi majalah akhir pekan. Suasananya terasa eksklusif, lebih menyerupai pertemuan prestisius daripada pesta yang ramai dan hingar-bingar.Ada permintaan khusus dari Rajendra yang disetujui Karuna, selain tidak diundangnya media elektronik–yang sebetulnya dijunjung oleh Hartono juga Winanto–adalah bahwa tamu tidak diperkenankan melakukan dokumentasi dalam bentuk apapun. Biarlah pernikahan ini jadi cerita hanya bagi yang datang. “Papi percayakan Karuna padamu, Rajendra. Jaga baik-baik, ya?”Dengan begitu, telapak putih K
Sisa dingin selepas hujan masih tersisa di kulit. Jalan setapak taman restoran memantulkan cahaya lampu kekuningan, membuat permukaannya berkilau basah seperti kaca tipis. Karuna yang mengenakan sebuah gaun satin mahogani selutut berlengan pendek itu mengusap siku telanjangnya pelan, mencoba terlihat tenang meski sebenarnya menggigil.Matanya jatuh pada patung air mancur yang terpahat cantik, berbentuk sepasang kekasih yang saling memeluk mesra.Ironis sekali.Bahkan patung pun punya hubungan yang lebih jelas daripada dirinya sekarang.Karuna bukan sosok yang pendiam. Ia banyak bicara, penuh rasa penasaran, dan selalu sibuk. Kalendernya jarang kosong. Pekerjaan menumpuk, rapat menyambung, dikerjarnya investor untuk suntikan dana secara terus-menerus. Apakah ia lelah? Tentu.Sayangnya, ia justru menyukai kesibukan itu. Karena hanya saat sibuk, pikirannya tidak kembali pada hal-hal yang pernah menghancurkannya.“Saya nggak berencana jebak kamu.” Suara berat dari arah belakang membuat K
Kawasan Diponegoro pada sore hari selalu ramai. Di ujung ruangan private Plataran Bandung, dua keluarga duduk dalam lingkar tawa yang terdengar terlalu hangat untuk situasi Karuna.“Nggak nyangka lho kita serius jadi besan begini,” suara lembut itu berasal dari Dahlia Kumala Witjaksana. Nyonya besar keluarga Witjaksana itu selalu anggun dan terdengar tulus. “Rasanya baru kemarin Karuna masih sering mampir ke rumah kami di Bandung, cuma buat minta diajarin Matematika sama Rajendra.”“Tante senang bisa ketemu Karuna lagi.”Nama dan cerita lamanya disebut. Karuna mendongak setelah sejak tadi hanya menunduk, mencoba tersenyum sebisanya. Jemarinya sibuk merapikan serbet di pangkuan, sesuatu yang bahkan tidak perlu dirapikan.“Kerjaannya sekarang di Kantor Resto Dago, ya?” tanya Dahlia ramah.“Iya, Tante,” jawab Karuna singkat.“Rajendra juga keliatan gigih banget sekarang, ya, Har?”Hartono, calon mertuanya tersenyum bangga, menoleh pada putera bungsunya sesekali. “Dia memang lagi sibuk se







